HEALTHY SEXUAL LIFE

 

Buka-Bukaan Seks ala Singapura

Tak hanya orang Indonesia, khususnya yang tinggal di kota besar macam Jakarta, yang mulai terbuka untuk berdiskusi tentang masalah seksual dan komunikasi intim antar pasangan suami istri. Negara tetangga Singapura pun mulai melakukan hal yang sama. Lucunya, pertolongan untuk persoalan seksual semacam itu tak melulu datang dari kalangan medis, namun juga toko-toko penjual alat kenikmatan seksual. Hmmm.....bolehlah ini ditiru.          

 

Orang tua Singapura tentu masih ingat saat mereka membutuhkan kondom sebagai alat kontrasepsi, mereka akan membelinya dengan diam-diam. Umumnya kondom ditaruh di counter dekat kasir. Ketika ada yang membeli, petugas pun akan mengambilnya dengan hati-hati.

Namun, saat ini kondom sudah menjadi barang biasa yang kehadirannya tak memalukan lagi. Terlebih semenjak merebaknya virus HIV. Sejak empat atau lima tahun belakangan ini, di Singapura mulai muncul beberapa layanan dan toko khusus alat seks yang ditujukan untuk membantu pasangan suami istri memperbaiki kehidupan seksual mereka.

Toko-toko yang menjual alat bantu seks dan perlengkapan lain tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Menyebar di seantero negeri. Apakah ini pertanda era keterbukaan dalam hal seks antar pasutri?

Ginekolog dan seksolog yang dikutip Mind Your Body menyatakan bahwa ada kemauan kuat dari pasangan suami istri untuk membahas persoalan seksual mereka. Menurut dr. Peter Chew, ginekolog di Gleneagles Hospital, sekitar 20% sampai 30% pasiennya yang awalnya berkonsultasi soal ketidaksuburan ternyata memiliki persoalan seksual seperti disfungsi ereksi atau vaginismus - suatu kondisi yang tidak memungkinkan terjadinya hubungan seks.

"Pasangan-pasangan suami istri itu baru saja menikah. Banyak yang melakukan hubungan intim cuma sebulan sekali dan berharap untuk segera hamil", katanya. Survei yang dilakukan Durex menaruh Singapura sebagai satu dari beberapa negara yang aktivitas seksual pasangan suami istrinya sedikit alias jarang. Menurut dr. Chew, stress karena beban pekerjaan menjadi salah satu pemicu orang Singapura malas ngeseks.

Masalah lain adalah adanya permasalahan emosional atar pasangan suami istri. "Tidak semuanya berkaitan dengan persoalan seksual mereka. Jika pasangan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, kehidupan seks menjadi korban", tambah dr. Chew. Chew menambahkan bahwa satu dekade terakhir ini ia melihat ada kecenderungan meningkatnya pasangan muda yang kemudian berpisah, memilih jalan sendiri-sendiri setelah kelahiran anak pertama mereka. "Saya membantu melahirkan anak pasangan-pasangan ini dan beberapa tahun kemudian saat check-up, saya baru tahu mereka sudah bercerai".   

 

Realistislah

Menanggapi hal ini, Chew meyakinkan pasangan untuk memiliki komitmen dalam hal menyisihkan waktu buat berdua, saling mendengarkan, serta berusaha menjaga api romansa tetap menyala. Selain itu, sejak setahun silam Chew mengadakan loka latih bulanan bertajuk "Make Love Happen". Tujuannya membantu pasangan memperbarui hubungan mereka atau memperbaiki relasi mereka.

"Kegiatannya ringan-ringan saja. Semisal jalan-jalan bareng ke suatu tempat, nonton bareng-bareng sebuah film, atau berbagi cerita tentang pengalaman perkawinan mereka. Dalam setiap perjumpaan itu mereka bisa berbicara dengan psikiater atau narasumber terkait. Diharapkan mereka nantinya akan memperoleh gambaran menyeluruh tentang cinta, perkawinan, kehidupan seksual, dan kesuburan", kata Chew.

Sejauh ini sudah sekitar 1000 pasangan mengikuti loka latih yang diselenggarakan di seluruh negeri itu. Chew berharap loka latih ini akan menjadi sebuah ritual yang membuat pasangan memperbarui komitmen mereka. "Ada suatu masa dalam kehidupan berkeluarga masing-masing pasangan tidak lagi bergairah melakukan hubungan seksual. Itu bukan berarti mereka sudah tidak saling cinta lagi", kata dr. Chew.

Hal itu juga dipercayai oleh psikiater dr. Calvin Fones yang menjadi pembicara di loka latih. "Ada banyak hubungan intim, dan sanggama hanyalah salah satu aspeknya". Fones percaya bahwa sekarang ini muncul kesadaran di kalangan pasangan muda untuk menata kehidupan seksual mereka lebih baik. Dr. Fones sering menjadi rujukan bagi pasangan yang mengalami persoalan seksual seperti disfungsi ereksi.

Loka latih diselenggarakan di tempat yang informal sehingga pasangan yang datang tidak merasa sungkan. "Di satu sisi ada banyak persoalan seksual dibuka, tapi di sisi lain masih ada yang ditutupi karena didikan orangtua, pengetahuan salah orangtua soal seksual, persoalan agama, dan lain sebagainya. Di loka latih ini mereka dibebaskan untuk mengeluarkan semua unek-unek seksual mereka", ujar dr. Fones.

Akan tetapi, berkembangnya konsep 'seks yang lebih baik' dan 'orgasme' tidak serta merta mendorong pasangan suami istri untuk meraihnya. Banyak dari mereka yang bersikap realistis. "Ada banyak alasan mengapa seks perlu diperhatikan atau diabaikan dalam sebuah hubungan. Hal itu penting untuk meyakinkan orang bahwa tidak masalah sebenarnya untuk memasuki fase tidak membutuhkan seks", Fones menambahkan.   

 

Ejakulasi prematur

Menurut survei Durex soal Sexual Wellbeing tahun 2007/2008: 62% responden dari Singapura yang disurvei menyatakan melakukan aktivitas aktivitas seksual setidaknya sekali seminggu, dibandingkan dengan Jepang yang 34% dan Amerika Serikat 53%.

Layanan seperti yang digagas dr. Chew memberi inspirasi bagi dr. Wei Siang Wu yang dikenal dengan julukan dr. Love. Ia membikin 'Love Playroom', layanan terapi seks bagi pasangan suami istri yang dilakukan di sebuah ruangan yang diatur secara informal. Pengaturan ruangan yang bukan seperti ruang dokter ini diharapkan membuat obrolan seputar kemaluan tidak sungkan dan malu. Di sini pula pasutri bisa mencari alat bantu seks. Tentu saja akan dijelaskan bagaimana menggunakan hal itu secara medis.

Beberapa pasangan juga mencari cara alternatif untuk memperbaiki kehidupan seksual mereka. Salah satu tempat tujuan itu adalah Christina Low, terapis seks aliran Tantra, yang membuka layanan Tantrapath. Low membuka kartu bahwa persoalan seksual yang menyerang pasangan muda kebanyakan adalah tidak bisa mengatasi ejakulasi dini.

Menurut para ahli, kondisi ini disebabkan para pria begitu cemas soal hubungan seks sampai malah mulai menghindarinya. Banyak pasangan mendatangi terapis-terapis seks macam Low dan berharap mereka memperoleh kehidupan seks yang lebih baik.

Sedangkan perempuan usia 40-an dan 50-an yang sudah kawin, berkonsultasi kepadanya untuk mengembalikan kembali kehidupan seksualitas masa mudanya. Sering, seiring munculnya anak membuat mereka meredam gairah seksual dan akibatnya malah kehilangan total gairah mereka dalam hal seksual. Padahal saat itu mereka sudah tidak direpotkan lagi dengan pengasuhan anak. "Beberapa di antara mereka ingin tahu bagaimana caranya kembali seksi atau apakah mungkin mereka memperoleh orgasme kembali", kata Low.

Jadi, apakah survei Durex tadi akan berubah tahun depan? Soalnya terlihat bahwa pasangan berkeluarga di Singapura mulai bebenah agar aktivitas seksualnya meningkat. Bisa jadi tidak lagi sekali seminggu, tapi sekali sehari.

Bagaimana di Indonesia?                

                                                       

 

(Agus Surono)


 

3 dari 4 istri pernah merasakan orgasme 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.