HEALTHY SEXUAL LIFE

         

DULU IMPOTENSI, KINI DISFUNGSI EREKSI

 

Jumlah pria penderita disfungsi ereksi di negeri kita kira-kira enam juta orang. Kebanyakan menganggap masalah seksual ini terkait dengan 'pikiran' alias sebab psikis semata. Kalau pikiran sudah baik, masalah pria yang berdampak pada wanita ini bakal beres. Padahal sejatinya 80% gangguan disebabkan oleh faktor organik, termasuk penyakit dan pengaruh obat.     

 

Sungguh banyak pengertian yang salah digunakan untuk menjelaskan soal berkurang atau hilangnya fungsi ereksi pada seorang pria. Dulu istilah impotensi sering dipakai untuk menunjukkan ketidakmampuan seorang pria dalam kehidupan seksualnya. Secara sosiobudaya istilah itu mempunyai implikasi yang lebih luas dari sekedar gangguan salah satu fungsi organ tubuh seorang pria, sehingga penderitanya dianggap tidak utuh di mata masyarakat.

Sudah tentu pandangan ini tidak tepat dan juga tidak sehat. Karena itu para ahli sepakat untuk segera mencari istilah yang lebih tepat dan tidak membuat stigma berlebihan bagi penderita disfungsi seksual. Maka digunakanlah istilah disfungsi ereksi (DE) untuk menggantikan istilah impotensi. Kesepakatan ini dilandasi perkembangan ilmu pengetahuan yang bisa lebih menjelaskan penyebab organik gangguan seksual pada pria.

Tak selalu karena tua
Ada empat hal yang berkaitan dengan fungsi seksual pria, yaitu libido (gairah), ereksi, ejakulasi, dan orgasme.

Gangguan terhadap salah satu atau lebih dari empat hal itu dinamai disfungsi seksual. Umumnya, siklus aktivitas seksual akan dimulai dengan timbulnya gairah, baik karena rangsang penglihatan, penciuman, pandangan, pendengaran, maupun karena fantasi. Selanjutnya akan terjadi proses ereksi yang bila rangsangan diteruskan akan terjadi ejakulasi yang biasanya bersamaan dengan orgasme.

Walaupun keempat hal itu saling berkaitan dan tidak mudah dipisahkan, gangguan dapat terjadi pada setiap hal secara terpisah, dan tentu saja bisa bersamaan. Seorang pria dapat berkurang atau kehilangan gairah seksualnya yang umumnya dapat disebabkan oleh berkurangnya kadar hormon testosteron. Dengan meningkatnya usia, kadar testosteron akan menurun, sehingga umumnya gairah seksual pada usia lanjut relatif lebih rendah dibandingkan dengan pria usia muda.

Tidak dapat dipungkiri, cukup banyak pria usia lanjut yang gairah seksualnya tidak menurun. Sebab, selain kadar testosteron, faktor budaya juga mempengaruhi gairah seksual seseorang. Dalam masyarakat dengan pajanan seksualitas yang lebih terbuka, orang cenderung memiliki gairah seksual lebih lama.

Selain itu faktor psikis juga sangat mempengaruhi libido. Mudah dimengerti jika seseorang yang sedang marah atau pun sedang tidak baik hubungannya dengan istri akan sulit terbangkitkan gairahnya. Tidak adanya gairah dengan sendirinya akan menyebabkan sulitnya ereksi, dan keadaan ini tidak dikategorikan sebagai gangguan ereksi, melainkan gangguan libido.

Disebut menderita gangguan ereksi bila seseorang tidak mampu ereksi padahal libidonya baik. Pria dikatakan mengalami disfungsi ereksi bila tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk sanggama yang memuaskan. Ereksi yang cukup baik, disertai rangsangan yang cukup, dan pada waktu serta tempat yang tepat akan berakhir dengan ejakulasi yang biasanya disertai rasa nikmat yang disebut orgasme. Gangguan yang sering ditemukan yaitu terjadinya ejakulasi lebih cepat dari yang diharapkan. Biasa disebut ejakulasi dini.         

 

Sering karena diabetes

Di Indonesia belum ada survei berskala nasional yang dapat memperlihatkan jumlah sebenarnya penderita DE di masyarakat. Namun, dengan mengacu pada jumlah pasien yang berkunjung ke rumah sakit di kota besar, tampaknya jumlah pasien DE tidak berbeda dengan di negara maju. Salah satu survei masyarakat yang dipercaya ketepatannya adalah Massachussetts Male Aging Study. Dalam studi itu didapatkan jumlah penderita DE sebanyak 10 juta dari 250 juta penduduk AS. Mengacu pada data itu, diperkirakan jumlah pasien DE di Indonesia mencapai enam juta orang; suatu jumlah yang cukup besar.

Pasien DE akan meningkat mulai usia 50 tahun. Peningkatan ini makin tajam pada usia 60-65 tahun. Pada tingkat usia ini, persentase pria penderita DE mencapai 30-40%.

Kebanyakan penderita tidak meminta pertolongan dokter. Rasa malu menghambat mereka untuk mencari pertolongan. Selain itu, pandangan bahwa tidak ada cara efektif yang dapat membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi juga menjadi hambatan untuk mengunjungi dokter.

Hal lain adalah anggapan bahwa DE semata-mata disebabkan oleh faktor pikiran. Mereka berharap, ketika masalah pikiran selesai, maka kemampuan ereksi akan pulih dengan sendirinya. Padahal diketahui, pada pasien di atas 40 tahun faktor psikis hanya berperan sebagai penyebab utama pada 20% kasus. Delapan puluh persen sisanya disebabkan oleh faktor organik.

Penyebab lain keengganan untuk berobat yaitu pandangan bahwa DE merupakan konsekuensi normal dari usia lanjut. Sebenarnya DE yang terjadi pada usia lanjut lebih banyak karena faktor resiko yang meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Bila faktor resiko terjadinya DE tidak ada, maka tidak ada alasan terjadi DE walaupun pada usia yang sangat lanjut.

Ereksi adalah mekanisme yang terjadi karena darah terperangkap di dalam penis. Aliran darah yang bertambah tidak dibarengi dengan berkurangnya darah yang keluar dari tempat itu. Maka setiap faktor yang menyebabkan gangguan aliran darah ke penis akan berpotensi menyebabkan gangguan ereksi. Biasanya itu terjadi dalam bentuk penyempitan pembuluh darah atau gangguan persarafan yang menyebabkan mengecilnya pembuluh darah kapiler.

Gangguan psikis seperti kegelisahan, depresi, stress, maupun hubungan yang tidak harmonis melalui proses tertentu juga mengakibatkan gangguan ereksi. Pada kenyataannya, penderita DE akibat gangguan pembuluh darah misalnya, akan mengalami stress atau gelisah. Kegelisahan itu dapat memperberat kondisi DE, sehingga faktor psikis hampir selalu ada pada setiap penderita DE.

Beberapa penyakit diketahui sangat berperan sebagai faktor penyebab atau faktor resiko DE. Diabetes mellitus merupakan salah satu penyebab tersering. Lebih dari 50% penderita diabetes mellitus yang datang ke RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta mengalami DE dengan berbagai derajat. Hipertensi, kebiasaan merokok, kegemukan, dan kadar kolesterol yang tinggi juga merupakan faktor resiko yang serius. Sekitar 40% penderita hipertensi mengalami gangguan ereksi. Sebagai patokan dapat dikatakan setiap faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner juga merupakan faktor resiko terjadinya DE.

Beberapa jenis obat-obatan misalnya obat hipertensi atau penurun kadar kolesterol juga bisa menjadi penyebab DE. Kadang-kadang DE dapat diatasi hanya dengan mengganti obat tersebut.    

 

Obat oral sampai protese

Jadi disfungsi ereksi bukan saja masalah bagi si pasien, tapi juga berakibat bagi istrinya. Karena itu DE harus dilihat sebagai masalah pasangan. Diperlukan kerja sama suami-istri untuk mengatasinya.

Menarik untuk dikemukakan bahwa sejumlah pasien yang datang dengan keluhan DE tidak mengetahui kalau dirinya menderita diabetes, hipertensi, ataupun penyakit lainnya. Dengan kata lain, disfungsi ereksi dapat merupakan gejala pertama dari penyakit tersebut, sehingga tidak boleh disepelekan.

Pada kebanyakan kasus, usaha mengendalikan penyebab dilakukan bersamaan dengan pemberian obat yang langsung ditujukan untuk melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah ke penis akan bertambah. Obat ini biasanya digunakan hanya bila akan melakukan sanggama, jadi tidak digunakan setiap hari.

Para ahli sepakat, obat minum adalah obat yang pertama kali harus ditawarkan kepada penderita DE karena relatif mudah, cukup efektif, dengan efek sampingan yang bisa ditoleransi dengan cukup baik. Di Indonesia terdapat tiga macam obat jenis ini yaitu sildenafil (Viagra), tadalafil (Cialis), dan vardenafil (Levitra). Ketiganya mempunyai efektivitas yang sebanding, yaitu berkisar 70%.

Bila obat minum tidak berhasil, pilihan selanjutnya adalah obat injeksi. Angka keberhasilannya lebih tinggi 75-80%. Namun, karena harus diinjeksikan, maka digunakan sebagai pilihan kedua bila obat oral gagal atau efek sampingannya tidak dapat ditoleransi.

Cara lain dengan memakai pompa vakum. Alat ini berupa sungkup yang berfungsi membuat tekanan negatif di sekitar penis sehingga darah akan 'terisap' ke kemaluan dan menimbulkan ereksi. Cara ini cukup aman dengan efek sampingan yang minimal, tapi mempunyai keberhasilan yang sebanding dengan suntikan.

Sekitar 75% istri penderita merasa puas dengan menggunakan alat itu. Penerimaan penderita terhadap cara ini cukup beragam. Di AS pompa vakum cukup banyak diminati dibandingkan dengan di Eropa, sementara di Indonesia kecenderungan untuk menggunakan alat ini mulai meningkat. Alat ini tidak memerlukan pemeliharaan dan juga tidak menggunakan obat-obatan sehingga sebenarnya cukup ekonomis.

Cara yang mungkin paling tidak disenangi oleh pasien adalah tindakan operasi. Pasien muda yang mengalami kecelakaan yang disertai rusaknya pembuluh darah penis dapat dibantu dengan mengalihkan pembuluh darah baru seperti halnya operasi penyakit jantung koroner. Keberhasilan cara ini cukup baik, yaitu sekitar 70% dan tidak memerlukan obat atau alat bila ingin bersanggama.

Bila semua cara di atas tidak berhasil, dapat dilakukan pemasangan protese dari silikon ke dalam penis. Cara ini tidak memperbesar penis seperti halnya waktu ereksi, tapi membuat penyangga sehingga penis bisa penetrasi. Lebih dari 80% pasien dan pasangannya menyatakan puas dengan cara ini. Kekurangannya adalah kegagalan mekanik yang terjadi mencapai angka 5%. Selain itu, protese yang dipasang akan merusak jaringan yang mengembang pada saat ereksi alamiah. Apa boleh buat, cara ini harus dianggap sebagai upaya terakhir.                    

         

 

(Akmal Taher - Urolog dari Klinik Impotensi RSCM, Jakarta)


 

Buah zakar sebelah kiri selalu tergantung lebih tinggi daripada yang kanan pada pria kidal, dan sebaliknya pada pria yang lebih banyak menggunakan tangan kanannya 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.