HEALTHY SEXUAL LIFE

 

 

 Film Biru Yang Mencandu

Pada kadar tertentu bisa menyehatkan, tapi jika berlebihan malah menjadi racun.

Begitu kira-kira efek pornografi terhadap kesehatan kejiwaankita. Masalahnya, tidak semua orang bisa menerima kebiasaan yang dianggap tidak normal ini. Padahal kalau sudah mencandu, akan sulit melepaskan kebiasaan ini dalam waktu singkat. Haruskah pasangan melarangnya?         

 

Perempuan bertubuh seksi berambut pirang itu melepaskan bajunya satu persatu, mulai blazer, blus, rok mini, hingga akhirnya ia tinggal berpakaian dalam saja. Selanjutnya, astaga! Tubuh yang nyaris telanjang itu rupanya digunakan untuk menggoda seorang pria yang sebenarnya sedang sibuk bekerja mengecat dinding!

Awalnya si tukang cat yang untungnya gagah dan ganteng itu tak mengacuhkan, tapi karena si pirang terus memancing dengan gerakan dan sentuhan-sentuhannya yang agresif, akhirnya pria ini luluh juga. Ia meladeni ajakan bermain cinta, yang rupanya semakin lama semakin menyulut api gairahnya.

Kedua manusia itu lalu bergumul seru di atas meja tempat sejumlah perkakas tukang. Suasana begitu gaduh, karena desah napas perempuan itu terdengar menderu sambil sesekali disertai teriakan-teriakan yang tertahan. Untunglah saat itu mereka ada di sebuah gudang kosong, jadi tak ada orang lain yang tahu.

Setelah waktu berjalan sekitar tiga menit, kini gantian si pirang yang mengontrol keadaan. Ia aktif menciumi pria yang seolah cuma bisa pasrah tak berdaya. Bermenit-menit pergumulan itu berlangsung sampai pada puncaknya mereka melakukan perbuatan yang sayangnya tidak bisa dituliskan lebih detail. Intinya, penuh gairah dan begitu intim.

Begitu kira-kira sebuah film porno, sering disebut juga blue film atau film biru, menggambarkan sebuah permainan cinta antara pria dan wanita. Tokoh-tokoh bertubuh sempurna, hasrat bercinta yang cling!....terjadi begitu saja, kaya dengan variasi permainan yang sangat lama. Semua terasa berlebihan. Wajar jika ada saja orang yang merasa minder ketika menonton, karena merasa tidak bisa mengimbangi stamina kuda dari para aktor itu.

Meski tahu cuma akal-akalan, tapi film-film minim busana itu rupanya tetap laris dan terus dicari para penggemarnya. Untuk mendapatkannya ternyata juga tidak terlalu sulit, meski resminya dilarang. Di tempat-tempat tertentu selalu ada yang menyediakannya dalam bentuk VCD / DVD. Atau kalau mau yang gratis, silakan cari di internet atau cukup meng-copy saja dari mereka yang mengoleksi.

Sebagian ahli menyebut kecenderungan untuk terus mengonsumsi film-film biru atau materi pornografi lain sebagai kecanduan. 'Zat adiktif' pornografi membuat pecandunya selalu kepingin terus mengonsumsinya dan berusaha mencari yang baru. Mirip efek narkoba.

 

Kategori imajinatif

Soal pornografi ini juga sempat menjadi keprihatinan tersendiri di Amerika Serikat (AS) yang notabene sebuah negri industri porno terbesar di dunia. Para ahli mempersamakan efek pornografi dengan efek racun terhadap otak. Orang yang sering terpapar akan terstimulasi kelainan-kelainan seksnya. Akhirnya bisa muncul hal-hal seperti keinginan bercinta dalam kelompok, perilaku sadomasokis (bercinta secara kasar) atau kecenderungan berhubungan seks dengan binatang.

Sebagian ilmuwan AS boleh saja berpendapat begitu, tapi sebenarnya masih terjadi silang pendapat. Kasandra Putranto, psikolog keluarga dan perkawinan dari Jakarta, salah satu yang bersikap moderat. Katanya, kesenangan seseorang terhadap materi-materi pornografi - apapun bentuknya - erat kaitannya dengan perilaku seksual seseorang yang kadarnya berbeda-beda pada setiap orang.

Perilaku seksual seseorang bisa saja konvensional, tradisional, imajinatif, avonturir, sampai yang masuk kategori menyimpang. Sifat dari perilaku ini sangat pribadi dan menjadi pilihan masing-masing orang. Pornografi sendiri sampai saat ini masih termasuk dalam kategori imajinatif karena media film memang cenderung membangkitkan imajinasi penonton, dalam hal ini seputar seks.

Saat ini masyarakat memang belum bisa menerima perilaku para pecandu pornografi, tapi bukan berarti tidak bisa terjadi perubahan. Beberapa puluh tahun lalu, kata Sandra, homoseksual misalnya sempat dianggap sebagai semacam kelainan atau penyakit. Tapi pada akhirnya beberapa tahun belakangan dunia psikologi bisa 'memahaminya' sebagai sesuatu yang wajar.

"Bisa saja suatu saat, orang yang senang pornografi dan disebut kecanduan itu, akan dianggap sebagai kondisi yang wajar juga. Terutama kalau masyarakat ternyata bisa menerimanya", jelas psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1991 ini.

Pornografi sendiri juga bisa menjadi bagian dari hubungan yang sehat, setidaknya begitu diyakini Dr. Louanne Cole Weston, terapis seks dari AS. Tapi dengan catatan jika dilakukan dalam kadar yang sedang-sedang saja. Kalau berlebih, tetap saja bisa berubah menjadi racun. Orang berpaling ke pornografi karena merasa kesulitan menjaga keintiman dan mempertahankan hubungannya dengan pasangan. Akhirnya mereka menikmatinya secara rahasia, karena tidak mendapatkannya di kehidupan nyata.

Alasan utama seseorang menyukai hal-hal porno, lanjut Weston, adalah untuk memuaskan fantasinya. Lalu bisa juga karena mereka cenderung menghindari keintiman dan hubungan dalam kehidupan nyata. Pornografi pun umumnya dijadikan teman sebelum masturbasi. "Cap kecanduan itu diberikan karena masyarakat tidak setuju dengan perilaku semacam itu. Masih banyak yang malu dengan masturbasi", tuturnya berterus terang.

 

Jangan dilarang!

Jika di mata para ahli, pornografi bukanlah sebuah masalah, ceritanya lain ketika masuk ke wilayah domestik atau rumah tangga. Problem akan muncul jika kebiasaan itu diketahui atau malah dilakukan di depan orang lain, seperti misalnya pasangan hidup.

Penyuka pornografi sampai sejauh ini memang mayoritas pria. Lalu pasangan mereka yaitu istri bisa sangat terganggu kebiasaan pasangannya yang menghabiskan waktu untuk melihat film-film biru atau situs-situs porno di internet. Masalahnya kebiasaan semacam ini tidak mudah dihilangkan.

"Kalau kebetulan bertemu pasangan yang sesuai, tentu tidak masalah", tutur Sandra, "Tapi kan tidak selalu orang punya nilai-nilai yang sama, karena latar belakang agama, budaya, faktor keluarga, dan sebagainya. Istri bisa saja keberatan karena kebiasaan itu dianggap tidak pantas".

Bagi istri, mengoreksi keadaan ini juga tidak mudah. "Dan atas nama apa istri merasa harus memperbaikinya?", Sandra mempertanyakan. Menurutnya, tidak pernah ada aturan yang secara tegas mengharuskan istri untuk mengingatkan suaminya dari perbuatan menyimpang seperti kecanduan pornografi. "Tidak ada di aturan negara, masyarakat, bahkan agama juga tidak", katanya.

Mencoba mengubah perilaku pasangan dengan cara-cara yang keras juga bukan tindakan bijaksana. Apalagi perubahan perilaku seseorang tentu tidak bisa dilakukan sekejab. Seandainya dilarang sama sekali, juga tidak mungkin, karena suami nantinya akan membentengi diri. Malah jika dilarang, ada kemungkinan ia justru tidak melakukannya di rumah, tapi di tempat lain, seperti di kantor atau malah mungkin di rumah orang lain.

Tapi jika istri sudah benar-benar risih akan kondisi ini, Sandra menawarkan sebuah strategi. "Katakan saja terus terang kalau tidak bisa menerima kebiasaan itu. Boleh saja suami mengerjakannya asal tidak di depan istri. Ini lebih efektif daripada menuding menyalahkannya".

Bagi suami, simpan baik-baik semua film atau barang-barang porno lainnya di tempat tersembunyi dan tidak diketahui istri.

Dengan cara cerdas seperti itu, istri bisa menuntut suatu permintaan tanpa suami harus kehilangan kesenangan atau harga dirinya. Tapi sebaiknya jangan menuntut untuk menghentikan sama sekali. Kesadaran harus datang dari suami itu sendiri. "Lagi pula kenapa perempuannya saja yang harus menang?", tanya Sandra, "Harus sama-sama dong".

Jika kebetulan istri bisa menikmati hal-hal semacam itu, tentu akan lebih baik. Malah kalau perlu bisa mendampingi suaminya saat menonton dan menjadi teman mengobrol yang menyenangkan seputar seks. Tindakan semacam ini justru bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan dari pasangan. Berawal dari menonton film bersama, timbul rasa penasaran, berlanjut menuju ranjang yang penuh kehangatan untuk dipraktikkan. Kurang apa lagi?

 

Kondisi naik-turun

Antara film biru dan aktivitas seksual di ranjang memang saling dikaitkan satu sama lain. Para pecandu pornografi akhirnya juga memakai isu ini sebagai alasan bahwa hobinya itu dilakukan untuk meningkatkan gairah seksual. Menurut mereka, menonton film-film biru akan membuat mereka dapat berfantasi sehingga keinginan bercinta akan terus menyala-nyala. Cara ini juga merupakan bentuk variasi saat berhubungan seksual dengan pasangan.

Sandra berhati-hati menanggapi dalih itu. Segala bentuk pornografi, katanya, memang bisa dipakai untuk memancing gairah bercinta. "Jangankan benda-benda yang dibuat khusus untuk itu, orang dengan kelainan fetisisme seksual saja bisa terangsang cuma dengan benda tertentu. Cuma apakah nantinya penyuka pornografi ini tidak akan membayangkan orang lain ketika berhubungan seks dengan istrinya?".

Apalagi dalam sebuah hubungan suami istri, bukan berarti suaminya yang harus terus hot, sementara istri cuma bisa pasrah menerima keadaan. Sebaiknya suami juga harus memperhitungkan bahwa kondisi seksualitas istri tidak selalu baik. Berbeda dengan lelaki yang gairah seksnya konstan.

Menurut Sandra, kondisi seksual perempuan dalam hidupnya selalu mengalami perubahan naik turun. Terutama setelah perempuan melahirkan anak, bakal terjadi penurunan hormon besar-besaran. Belum lagi kesibukannya mengurus anak, rumah tangga, atau pekerjaan, akan sangat berpengaruh pada keinginannya untuk bercinta. Bayangkan jika kondisi dingin semacam itu bertemu dengan suami yang sedang 'panas' akibat blue film.

It takes two to tango! Dibutuhkan dua orang yang saling mengerti pula agar menghasilkan hubungan perkawinan yang harmonis. Termasuk untuk urusan ranjang tentunya.

                                                                                   

 

(Tjahjo Widyasmoro)


Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.