HEALTHY SEXUAL LIFE

         

 HABIS TRAUMA TERBITLAH CERIA

 

Pelecehan seksual adalah salah satu musuh besar perempuan. Tak jarang, kurbannya terperangkap dalam ketakutan menahun, terlalu berhati-hati memilih pasangan, atau kerjanya hanya mengutuk kaum lelaki seumur hidupnya. Sebuah dampak yang pasti tak pernah terpikirkan oleh pria pelaku pelecehan.               

 

Seorang wanita sebut saja Nani (29), jebolan sebuah perguruan tinggi terkenal. Ia merasa ragu, apakah masih dapat berhubungan seksual secara normal. Nani juga khawatir dengan kondisinya sekarang apakah ia juga masih bisa punya anak. Di tengah keputusasaan, karyawati lajang itu memberanikan diri berkonsultasi ke sebuah klinik konsultasi khusus soal seks.

Konon ceritanya, Nani mempunyai pengalaman kurang menyenangkan ketika masih kecil. Saat duduk di Taman Kanak-kanak berulang kali ia mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh saudara jauh yang menumpang di rumahnya. Meski tidak sampai dipaksa melakukan hubungan intim, tapi diraba-raba oleh sepupunya itu.

Beranjak Sekolah Dasar, ia mengalami pelecehan yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Sepupunya memaksa Nani melakukan hubungan intim. Waktu itu ia belum menyadari apa yang sebetulnya terjadi. Sialnya, ia pun tidak punya keberanian untuk menceritakan perlakuan sepupunya itu kepada orang lain. Nani baru mengetahui apa yang 'diterimanya' selama ini ternyata salah satu bentuk pelecehan seksual lewat mata pelajaran biologi yang diterimanya saat duduk di bangku SMP.

Nani makin terpuruk karena dalam keluarga, masalah yang berkaitan dengan seks hampir tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Ayahnya selalu mengingatkan, seorang gadis harus dengan gigih mempertahankan kegadisannya hingga ke jenjang perkawinan. Sebuah nasihat yang sangat menusuk hati Nani. Belakangan, ia berpacaran dengan seorang pria. Meski belum menikah, mereka pernah melakukan hubungan seksual.

Namun dengan jujur Nani mengakui hubungan badan yang dilakukan atas dasar suka sama suka itu tak pernah bisa ia nikmati. Keraguan dan rasa bersalah selalu muncul bergantian setiap kali berhadapan dengan lawan jenis di atas ranjang. Huru-hara di masa lalu membuat Nani tak pernah hidup tenteram di masa kini. Apakah ia harus juga mengurbankan masa depannya?

 

Alam nirsadar

Nani sebenarnya sedang mengalami salah satu dari beberapa macam disfungsi seksual, yaitu tidak mampu berfungsi dan menikmati respons seksual yang bersifat fisiologis. Disfungsi seksual jenis ini ada beberapa macam penyebabnya. Ada yang muncul karena faktor biologis, yakni ketika keadaan organ reproduksi secara fisik mengalami gangguan, misalnya kelainan bentuk sejak lahir, gangguan hormon, atau mengidap penyakit tertentu semisal infeksi atau tumor.

Penyebab lainnya bisa datang dari faktor psikologis yang dialami tiap individu. Antara lain pernah mengalami trauma fisik (kekerasan fisik, psikologis maupun seksual) di masa lalu, kepribadian yang tidak fleksibel, persepsi yang keliru tentang seks, ketidakharmonisan hubungan interpersonal dengan pasangan (menyangkut komunikasi, perbedaan sifat dan kebiasaan yang saling sulit mentoleransi, atau bentuk hubungan yang berubah menjadi persaingan, dendam, dan sejenisnya).

Salah satu penyebab disfungsi seksual yang cukup sering terjadi pada perempuan adalah faktor psikologis yang disebabkan trauma masa lalu. Yaitu pengalaman tidak menyenangkan atau menakutkan yang dibuang ke nirsadar (unconscious mind), sehingga dilupakan. Peristiwa itu suatu waktu dapat muncul kembali ke alam sadar, bila dipicu oleh hal-hal tertentu.

Misalnya mengalami keadaan yang mirip dengan situasi seperti dulu, pengalaman menakutkan lain yang membangkitkan rasa takut atau mengalami ketegangan yang sangat tinggi. Tak jarang, si pemilik pengalaman tak menyenangkan itu telah berusaha sekuat tenaga melupakan kepedihannya. Namun, lama kelamaan egonya lelah, sehingga trauma itu muncul dan muncul kembali.

Apa yang dialami Nani bisa disebut sebagai trauma psikologis, karena mengalami perlakuan tidak semestinya pada saat ia belum memahami makna dan fungsi seks dalam kehidupan manusia. Pada saat peristiwa itu terjadi, Nani merasa takut, cemas, tegang, bingung, dan tidak mengerti apa maksud dan tujuan perlakuan yang dialaminya.

Ditambah dengan sifatnya yang tidak terbuka, termasuk terhadap kedua orangtuanya, disertai peringatan terus menerus oleh ayah yang sebenarnya bermaksud baik untuk menjaga anak, maka Nani mempunyai 'persepsi' yang berbeda atau bahkan salah tentang seks. Baginya, seks itu sesuatu yang membuatnya takut, tegang, bingung.

Ketika melakukan hubungan seksual dengan pacar, mungkin hati nuraninya juga memperingatkan bahwa hal itu belum boleh dilakukan. Sehingga perasaan-perasaan tadi ditambah dengan rasa bersalah membuatnya tidak dapat menikmati hubungan seksual yang dilakukan.

Pada seorang perempuan yang mengalami hal yang sama dengan Nani ketika masih kecil, tapi tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dan tidak mendapat pengetahuan yang proporsional tentang fungsi seks dalam kehidupan perkawinan, mungkin saja juga mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi seksnya dalam kehidupan rumah tangganya.

Pasalnya, persepsi yang 'keliru' itu terus ada di dalam alam nirsadarnya.

Tak heran, setiap kali akan atau sedang melakukan hubungan seksual, perasaan tidak nyaman tentang seks akan muncul, sehingga ia tidak dapat melakukannya dengan perasaan nyaman.

 

 Jangan tunggu mengganggu

Jadi, apa yang harus dilakukan Nani untuk mengembalikan keceriaannya di atas ranjang? Adakah terapi yang tepat untuknya?

Pertama-tama mesti ditelisik terlebih dahulu secara klinis, sampai di mana derajat disfungsi yang menimpa Nani. Baru kemudian ditentukan, apakah pasien memerlukan juga obat, karena terapi utamanya adalah psikoterapi.

Jenis psikoterapi yang diberikan tergantung pada kepribadian kurban serta preferensi dokter. Dari situ kemudian direkomendasikan, apakah kurban lebih baik diberi terapi perilaku (behaviour therapy), hipnoterapi, atau psikoterapi yang berorientasi tilikan. Namun apa pun pilihannya, sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Artinya, segera setelah diketahui ada disfungsi seksual, jangan tunggu sampai masalahnya mengganggu kehidupan perkawinan.

Terapi perilaku dan dipnoterapi biasanya dilakukan pada pasien yang kepribadiannya mudah menerima sesuatu dari luar, mudah dipengaruhi, dan gampang menerima pengaruh dari orang lain. Juga berpikiran simpel dan suka pada hal-hal praktis.

Sedangkan terapi orientasi tilikan membutuhkan motivasi tinggi dari pasien yang akan diobati. Karena dalam terapi ini, akan banyak terjadi diskusi dua arah untuk memecahkan beragam masalah yang dihadapi pasien. Pasien akan diajak menggali lebih dalam dan lebih mengenal dirinya sendiri. Misalnya diajak melihat masa lalu (secara tidak langsung tentunya) untuk menjawab pertanyaan mendasar, mengapa disfungsi seksual itu bisa terjadi.

Karena lebih rumit dan lebih panjang prosesnya, terapi orientasi tilikan diyakini memiliki daya sembuh lebih permanen ketimbang terapi lainnya. Untuk mempercepat proses penyembuhan, suami sebaiknya turut serta dalam proses terapi. Selain mengetahui tujuan terapi, serta hal apa saja yang akan dilakukan dalam terapi, suami juga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap istri dan membantu sepenuhnya proses penyembuhan yang sedang dilakukan.

Namun sekali lagi, tingkat keberhasilan terapi amat tergantung pada kepribadian dan motivasi yang dimiliki pasien, serta tingkat kepatuhan mereka dalam menjalankan anjuran dokter. Plus, tentu saja kerja sama yang baik dari suami.

Lalu bagaimana dengan Nani? Terapi apa yang cocok diterapkan buat wanita lajang yang punya kepribadian tertutup itu? Rasanya terapi orientasi tilikan lebih cocok. Dengan orientasi tilikan, Nani berpeluang menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal yang selama ini terpendam di alam bawah sadarnya. Sehingga perlahan-lahan, masalah yang selama ini mengganjal kenikmatan hubungan seksualnya dapat terkikis.

Jadi, bila ada seorang istri yang mengalami trauma di masa silam mirip dengan yang dialami Nani, suami tidak perlu berkecil hati. Masih banyak jalan untuk menghapus rekaman buruk dalam memori sang istri agar kehidupan seksual menjadi ceria.

 

 

(Sylvia DE - Psikiater Klinik Terpadu Pusat Kesehatan Seksual Wanita EDELWEIS FKUI/RSCM, Jakarta)


 

Malam pertama membuat pria dan wanita sama-sama merasakan ketegangan 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.