HEALTHY SEXUAL LIFE        

 

INFORMASI BENAR, REKREASI LANCAR

 

Ibarat mau bepergian, tentu kita perlu mendapatkan informasi selengkapnya dan tentu dapat dipercaya - soal tempat tujuan kita. Begitu pula dengan aktivitas seksual sebagai sebuah tujuan bagi pasangan suami-istri. Informasi yang benar dan lengkap bisa menjadi bekal untuk menjelajahi wilayah-wilayah aktivitas seksual, khususnya dimensi rekreasi.

 

Seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Ada dua alasan yang sangat jelas mengapa seksualitas selalu menarik untuk dibicarakan. Pertama, karena semua orang merasa berkepentingan dengan seksualitas. Kedua, ada sensasi yang menyenangkan pada seksualitas. Karena itu kemudian media masa selalu berminat menjadikan topik seksualitas sebagai salah satu daya pikat yang kuat.

Maka bukan sebuah keanehan kalau banyak orang dari berbagai latar belakang ingin berbicara tentang seksualitas. Padahal mereka tidak punya latar belakang pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Tetapi karena paling tidak pernah mengalami apa yang berkaitan dengan seksualitas, maka mereka merasa mampu menyampaikan informasi tentang seksualitas. Nah, alasan inilah yang kemudian menjadi salah satu sebab terjadinya misinformasi tentang seksualitas, yang lebih jauh dapat menimbulkan akibat buruk.

Di pihak lain, di masyarakat kita mitos tentang seks telah beredar sangat luas, yang diterima sejak masih usia anak atau remaja. Pengertian yang salah dari mitos seks tetap mewarnai persepsi mereka tentang seks, yang kemudian mempengaruhi perilaku seksual mereka kemudian.

Berbekal mitos yang membawa pengertian yang salah tentang seks, tidak sedikit orang kemudian menyampaikan dalam bentuk informasi kepada masyarakat. Akhirnya mitos seks terus dilestarikan melalui pemberian informasi, antara lain melalui media masa dan seminar kepada publik.

Pengamatan yang saya lakukan selama ini terhadap sejumlah media masa yang menyampaikan informasi tentang seksualitas, ternyata tetap saja termuat informasi yang tidak ilmiah, yang hanya mitos, atau hanya berdasarkan common sense dan pengalaman pribadi. Bahkan pada acara seminar atau talk show untuk publik, ternyata masih saja ada informasi tidak ilmiah yang disampaikan oleh nara sumber. Di pihak lain, publik kita yang belum mengerti benar hanya menelan begitu saja informasi yang disampaikan oleh nara sumber. Mereka juga belum mengerti sejauh mana sebenarnya latar belakang keahlian nara sumber untuk mendukung informasi yang diberikan itu.

Saya pernah terkaget-kaget ketika secara tidak sengaja mendengar uraian salah seorang tokoh agama yang dengan percaya diri berbicara tentang seksualitas. Padahal apa yang dia sampaikan sama sekali tidak benar secara ilmiah, sementara publik yang mendengar mungkin mencerna begitu saja. Kasihan sekali. Semestinya lebih baik kalau dia uraikan saja sisi agama yang memang menjadi bidang kajian dan tugasnya.

Banyak orang menganggap seseorang dengan pendidikan dokter atau psikolog pasti menguasai pengetahuan tentang seksualitas. Ini sebuah anggapan yang salah sekali. Pengalaman saya sekian lama menyelenggarakan Pendidikan Intensif Seksologi yang satu-satunya di Indonesia, menunjukkan bahwa pengetahuan tentang seksualitas para dokter dan psikolog tidaklah memadai. Alasannya jelas, karena selama kuliah pengetahuan tentang seksualitas (Seksologi) tidak atau hanya sedikit mereka dapatkan.

Tetapi pengetahuan mereka segera meningkat setelah menerima pendidikan yang benar.

Masalahnya, tidak sedikit dokter, psikolog, bahkan profesional lain yang merasa mengerti tentang seksualitas, lalu berani memberikan informasi kepada publik. Bahkan ada yang tanpa merasa bersalah menyebut diri Seksolog padahal tidak pernah mendapat pendidikan Seksologi yang benar, kecuali hanya berkeliling menghadiri simposium dan kongres. Karena itulah kemudian kita jumpai banyak informasi yang salah dan menyesatkan diterima oleh masyarakat. Di kalangan dokter, mereka dijuluki "Seksoloid", yang berarti tiruan Seksolog. Acapkali saya merasa sedih dan kecewa karena mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan sebenarnya tidak ilmiah, hanya berdasarkan mitos atau common sense atau pengalaman pribadi.

Di sisi lain, akibat pengetahuan yang kurang, maka penanganan kasus dengan masalah seksual menjadi tidak benar.

Sebagai contoh, seorang perempuan yang secara seksual merasa tidak puas dengan suaminya tentu tidak cukup diatasi dengan nasihat agar menjadi istri yang tidak menuntut. Dia harus mendapat penanganan yang profesional berdasarkan apa penyebabnya dan bagaimana mengatasi penyebab itu.

Maka mempelajari Seksologi secara benar mutlak diperlukan bagi mereka yang ingin ikut menangani berbagai masalah seksual yang muncul di masyarakat.

 

 Partisipasi dan kepuasan bersama

Kita sering mendengar kata seks, seksualitas, reproduksi, dan jender. Bahkan mungkin kita sering mengucapkan itu walaupun mungkin tidak tahu dengan benar apa arti yang sebenarnya. Bahkan tidak sedikit orang yang menyamakan seks dengan jender.

Seks dapat berarti jenis kelamin. Seksualitas mempunyai arti yang lebih luas karena meliputi semua aspek yang berhubungan dengan seks, meliputi orientasi, sikap, dan perilaku. Reproduksi erat kaitannya dengan seks dan seksualitas tetapi tidak sama persis. Reproduksi lebih menunjuk kepada menghasilkan keturunan. Tetapi untuk menghasilkan keturunan tentu saja diperlukan organ seks juga.

Jender menunjukkan suatu status sosial atau peran yang diberikan oleh masyarakat berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Berdasarkan pengertian ini, maka seks tidak dapat berubah kecuali sengaja melalui tindakan operasi. Tetapi seksualitas dan jender dapat berubah.

Seksualitas dapat ditinjau dari lima dimensi, yaitu dimensi biologik, dimensi psikososial, dimensi perilaku, dimensi kultural, dan dimensi klinis. Dimensi biologik merupakan dimensi dasar seksualitas manusia yang selanjutnya dipengaruhi oleh dimensi psikososial dan kultural, yang diekspresikan dalam dimensi perilaku dan berujung pada dimensi klinis.

Perubahan perilaku seksual yang terjadi di mana-mana termasuk Indonesia tidak terlepas dari dimensi kultural. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan itu.

Pertama, perubahan peran jender. Secara tradisional, perempuan diperlakukan sebagai mahluk yang pasif dan tidak responsif secara seksual, sedangkan pria dianggap sebagai agresor secara seksual. Sesuai dengan pandangan ini pria diharapkan menjadi pengambil inisiatif dan pintar dalam urusan seksual, dan perempuan yang agresif atau sangat menikmati seks dianggap aneh. Pandangan ini kini telah diganti oleh suatu konsep partisipasi dan kepuasan bersama.

Kedua, semakin terbukanya segala sesuatu tentang seksualitas. Semua bentuk media, dari media cetak, televisi sampai bioskop merupakan refleksi perubahan ini, dan akibatnya seks semakin tidak dianggap sebagai sesuatu yang menimbulkan rasa malu dan misterius.

Ketiga, semakin diterima seks untuk tujuan rekreasi dan relasi sebagai lawan dari reproduksi. Perubahan ini terutama disebabkan oleh beredarnya kontrasepsi. Munculnya filosofi seks yang positif ini juga berkaitan erat dengan emansipasi seksual wanita dan keterbukaan masyarakat terhadap seks.

Masalah seksual dapat muncul dalam berbagai dimensi, tetapi bukan berarti hanya dimensi tertentu saja yang harus dipelajari dan melupakan dimensi dasar seksualitas manusia. Sebagai contoh, kalau di suatu masyarakat masih diberlakukan budaya "sunat" pada perempuan dengan memotong klitoris, kita tidak boleh hanya meninjau dari dimensi budaya lalu harus mempertahankan budaya itu. Kita harus secara mutlak melarang budaya itu berdasarkan dimensi biologik dan klinis seksualitas yang hakiki. Pada contoh ini, jelas sekali dimensi budaya tidak perlu dipertahankan karena tidak ilmiah dan merugikan masyarakat perempuan sebagai mahluk seksual.

Dimensi klinis pada akhirnya mendapat banyak masalah seksual diungkapkan untuk mendapat penanganan. Pada dimensi inilah banyak masalah seksual memerlukan penanganan secara profesional ilmiah. Tetapi penanganan yang tidak profesional ilmiah justru akan menimbulkan akibat yang lebih buruk. Untuk itulah dituntut sebuah pengetahuan yang benar dan ketrampilan yang baik untuk memberikan penanganan terhadap berbagai kasus masalah seksual.

 

Perlu second opinion

Pemberian informasi tentang seksualitas seperti artikel-artikel yang akan kita baca ini jelas sangat diperlukan, sepanjang isinya benar. Pertanyaan yang muncul, benar menurut siapa? Jawabnya, benar secara ilmiah. Mungkin masih banyak orang bertanya-tanya ketika informasi seksualitas dikaitkan dengan ilmiah. Bagi banyak orang, seksualitas mungkin masih dikaitkan dengan mitos, apa yang dialami, apa yang didengar dari cerita orang lain, atau apa yang dilihat dalam VCD porno. Maka sulit mengaitkan seksualitas dengan sisi ilmiah. Padahal sejak ilmu seksologi berkembang, sejak itulah sebenarnya tinjauan ilmiah tentang seksualitas mulai berkembang.

Sisi ilmiah inilah yang tidak dimengerti oleh banyak orang, khususnya di negara kita yang sebagian besar masyarakatnya tidak terdidik dengan baik. Maka selain informasi yang salah masih gencar beredar, iklan yang menyesatkan juga tidak kalah gencarnya, bahkan sudah tergolong kriminal.

Iklan 'menambah ukuran penis' yang masih banyak dijumpai di media masa, ternyata telah menelan banyak kurban pria yang tidak mengerti. Banyak kurban iklan seperti itu datang kepada saya dengan penis yang rusak secara anatomik dan fisiologik. Penis mereka disuntik dengan silikon cair atau bahan ramuan lain oleh orang yang sebenarnya tidak berhak melakukan itu. Tindakan ini jelas tidak ilmiah, apalagi dilakukan oleh orang yang tidak berhak sama sekali. Inilah yang saya maksud dengan tindakan kriminal itu.

Kurban berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari yang kurang berpendidikan sampai sarjana, mulai dari pekerja kasar sampai profesional, pejabat, dan anggota Polri serta TNI. Bahkan ada seorang kurban yang mau bunuh diri karena merasa tidak berharga lagi dengan penis yang rusak, dan ditolak oleh istrinya setiap ingin melakukan hubungan seksual. Kurban yang konyol seperti ini tidak akan terjadi kalau orang mengerti sedikit saja adanya sisi ilmiah dalam seksualitas.

Kasus disfungsi seksual, baik perempuan maupun pria, jelas memerlukan penanganan yang ilmiah. Sebut saja kasus disfungsi ereksi yang acapkali memberikan akibat buruk bagi yang bersangkutan dan pasangannya. Penanganan kasus seperti ini harus dilakukan secara ilmiah kalau menginginkan hasil yang benar. Demikian juga dengan kasus disfungsi seksual yang lain pada pria maupun perempuan.

Diketahui masih terjadi penanganan disfungsi seksual yang tidak profesional ilmiah, tidak sesuai dengan standar penanganan yang telah ditetapkan secara internasional. Di sisi lain, masyarakat yang tidak mengerti tentu tidak mengetahui terjadinya penyelewengan terhadap prosedur penanganan yang benar. Karena itu budaya mencari informasi atau pendapat dari ahli lain (second opinion) perlu ditanamkan kepada masyarakat yang menggunakan jasa profesional dalam penanganan disfungsi seksual.

Kasus disfungsi seksual juga mengundang berbagai tindakan tidak terpuji dari pihak tertentu yang ingin mengeruk keuntungan materi. Sebagai contoh, penjualan obat untuk disfungsi ereksi di pinggir jalan yang seharusnya dijual sesuai resep dokter, adalah perbuatan kriminal yang berisiko bagi keselamatan masyarakat.

Beredarnya obat yang terdaftar sebagai suplemen tetapi ternyata dicampur hormon testosteron atau bahan lain yang seharusnya tidak dijual bebas, tentu juga sangat berisiko. Masalahnya suplemen boleh dijual bebas karena dianggap aman, padahal dicampur hormon testosteron atau bahan lain yang hanya boleh dijual dengan resep dokter. Dapat dibayangkan akibat yang muncul bila dikonsumsi oleh orang yang tidak boleh mengonsumsi atau tidak memerlukan hormon testosteron.

Jadi, pemberian informasi yang benar secara ilmiah mutlak diperlukan karena empat alasan. Pertama, kita ingin meningkatkan pengetahuan seksual masyarakat sebagai bagian dari upaya mencerdaskan bangsa. Kedua, kita ingin melindungi masyarakat dari pembodohan melalui informasi dan iklan yang menyesatkan. Ketiga, menyadarkan semua orang bahwa untuk memberikan informasi tentang seksualitas memerlukan pengetahuan yang benar. Keempat, penanganan kasus masalah seksual hanya dapat dilakukan secara ilmiah.

Mudah-mudahan tulisan-tulisan mengenai "Healthy Sexual Life" ini memberikan informasi yang benar sehingga membawa manfaat bagi peningkatan pengetahuan tentang seksualitas.

         

 

(Wimpie Pangkahila - Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana)


 

 

The G-Spot is an area of sensitive tissue located behind the pubic bone and around the urethra. It can be massaged or stimulated by reaching up about two finger joints distance on the upper surface of the vagina. The area may be located by massaging (with your finger) the wall of the vagina between the pubic bone and the cervix. It is often necessary to press firmly into the area to reach the spot. If already aroused, some women will find that stimulation of this area leads to an intense orgasm 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.