HEALTHY SEXUAL LIFE

         

JANGAN RISIH BICARA SEKS PADA ANAK

 

Pernikahan dini. Masih ingat sinetron yang dibintangi Agnes Monica dan Sahrul Gunawan itu? Begitulah yang bisa terjadi kalau sepasang remaja belum mendapatkan pengetahuan seksual yang cukup. Lewat pendidikan seks yang terbuka dan benar dari orangtua, 'kecelakaan seks' itu bisa dicegah.        

 

Sayang sekali, Kiki (nama samaran) bukanlah Dewi (juga nama alias). Jika Dewi sudah berusaha ke sana kemari agar bisa mengandung, Kiki malah kebingungan ketika tahu dirinya hamil! Ya, Kiki bukanlah Dewi yang sudah 10 tahun membina rumah tangga dengan Eko, namun belum diberi karunia seorang anak. Kiki seorang gadis muda usia sekolah menengah pertama.

Kebingungan Kiki bertambah runyam ketika sekolahnya memiliki peraturan tidak menerima siswi hamil. Terpaksa ia berhenti sekolah. Kekalutannya memuncak manakala kekasihnya tidak mau bertanggung jawab menikahinya. Alasannya klasik, masih ingin melanjutkan pendidikan. Kiki tak menyangka kalau kisah cinta yang indah bersama kekasih bisa berakhir demikian getirnya.

Kasus seperti Kiki memang cerita klasik. Toh sampai sekarang masih saja terjadi. Jika kita menyelam lebih jauh, akan kita temukan Kiki Kiki lain dan jumlahnya tidak sedikit. Mereka bernasib sama: mengandung pada masa usia sekolah. Adakah yang salah dalam sistem masyarakat kita?

 

Marah dan menyesal

Surat-surat kabar banyak mengungkapkan fenomena ini sebagai perilaku seks bebas, yang terutama ada di kota-kota besar di Indonesia. Suatu penelitian menemukan fakta 6-20% anak SMA dan mahasiswa di Jakarta pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Penelitian lainnya menyebutkan, dari 405 kehamilan yang tidak direncanakan, 95% dialami oleh pemudi berusia 15-25 tahun.

Kehamilan yang tak diinginkan hanyalah awal dari kesulitan bagi remaja-remaja ini. Di antara mereka memang ada yang beruntung bisa melanjutkan sekolah. Namun lebih banyak lagi yang hilang asa dalam menatap masa depan. Jika memilih aborsi, nyawa taruhannya. Di Indonesia, aborsi tanpa alasan medis yang kuat dilarang. Oleh karenanya, pilihan aborsi ada di tempat-tempat terlarang yang tak menjamin keselamatan jiwa mereka.

Angka aborsi di kalangan remaja tetap tinggi. Dari 2,5 juta kasus aborsi di Indonesia, 1,5 juta di antaranya dilakukan oleh remaja. Remaja yang hamil memang dihadapkan pada pilihan sulit. Jika tetap melahirkan anaknya, kelak ia kurang mampu berperan sebagai orangtua yang mumpuni. Akibat itu antara lain dapat ditinjau secara psikologis, sosial, dan finansial.

Pertama, secara psikologis ia dirundung perasaan negatif. Efek ini tergantung dari reaksi awalnya terhadap kejadian yang menimpanya. Jika ia merasa marah pada pria yang menghamilinya, sikapnya kelak sebagai orangtua adalah mengabaikan anaknya yang dianggap sebagai 'beban/tanggungan' dari pria itu. Jika ia merasa bersalah dan menyesali diri, ia akan bersikap terlalu protektif pada anaknya. Bisa dibayangkan bagaimana kualitas generasi mendatang yang diasuh orangtua seperti ini.

Kedua, secara sosial ia kurang matang untuk berperan sebagai orangtua bagi anaknya. Ia perlu beberapa waktu lagi menuju kedewasaan. Ia harus menyelesaikan dulu rasa harga diri (self esteem) yang rendah. Seandainya menikah dengan pasangan yang menghamilinya, belum tentu pula ia mampu berperan sebagai istri.

Ketiga, ia kurang dapat berperan sebagai orangtua karena secara finansial masih bergantung pada orangtua. Sekalipun keluarganya berkecukupan, tetap saja ia harus berperan sebagai orang dewasa yang menghidupi diri sendiri. Tanpa bekal pendidikan yang cukup, kebutuhan ekonomi sulit dipenuhi. Banyak hal yang harus diperjuangkan untuk bisa kembali bersekolah. Tak jarang ada yang memutuskan pindah ke kota lain dan membangun kehidupan baru.

Pada remaja pria, kehamilan sang pacar juga berdampak secara psikologis, sosial, dan finansial. Dia dituntut untuk menikah di usia muda tanpa persiapan bagaimana harus berperan sebagai ayah dan suami. Kebutuhan nafkah yang harus ia penuhi sebagai kepala keluarga juga sulit ia lakukan tanpa pendidikan memadai. Ia juga kesulitan dalam mengelola hidupnya: mencari nafkah, bersekolah, dan menjadi orangtua.

Namun, menikahi atau tidak tetap membawa akibat yang tak enak baginya: marah dan menyesal. Jika dampak ini tak diselesaikan secara sehat, maka pelarian yang dilakukan akan menambah kemelut. Misalnya, ia akan bergonta-ganti pasangan yang beresiko tertular penyakit kelamin. Di usia mudanya itu, dorongan aktif secara seksual sangat tinggi. Apalagi hormon endokrin yang berperan di dalamnya memberikan efek adiktif untuk terus melakukannya lagi.

 

Banyak diatur hormon

Mengapa para remaja sering terjerumus dalam perilaku seks bebas? Penyebab perilaku seks bebas dapat dibagi dalam dua kategori: internal dan eksternal diri remaja. Kedua faktor itu berinteraksi satu sama lain dalam memberikan pengaruhnya.

Secara internal, di usia remaja mereka tengah mengalami masa pergolakan transisi menuju dewasa, baik secara fisik maupun kepribadian. Kondisi fisik mengalami perubahan saat hormon-hormon banyak berperan 'mengatur' perilakunya.

Sebagai pribadi ia ingin memiliki identitas sendiri tanpa dicampuri oleh figur otoritas tertentu. Untuk itu ia berusaha mencarinya melalui hal-hal baru yang belum pernah ia lakukan. Umumnya remaja lebih sering melakukan kegiatan bersama teman-temannya sebagai kelompok yang ia kenali.

Pergaulan itulah pemicu awal munculnya pengaruh dari kekuatan eksternal. Lingkungan pergaulan yang menganut nilai-nilai kebebasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis akan ia turuti demi memperoleh pengakuan dan penerimaan dari kelompoknya. Mereka takut dianggap 'tidak keren' karena belum mencium atau berciuman dengan gadis, misalnya.

Faktor eksternal lain adalah derasnya arus informasi berkat teknologi canggih. Pesan-pesan seks kini mengelilingi dunia kita mulai dari internet, radio, TV, film-film, majalah, dan juga musik. Dari internet saja remaja dapat secara gratis mengakses situs pornografi. Tanpa pengetahuan yang memadai mengenai konsekuensi negatif yang timbul, ia dengan mudah dapat menirunya.

Di sinilah saatnya nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya berperan: apakah ia akan memilih untuk mengikuti atau menjauhi jenis pergaulan seperti itu. Kekuatan dari dalam dirinya akan menentukan sikapnya dalam memilih pergaulan.

Lantas dari mana remaja mendapatkan nilai-nilai yang menentukan itu? Jawabannya yang pertama adalah dari orangtua. Merekalah yang memiliki peran besar dalam membekali nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang perlu ditanamkan antara lain batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Penanaman nilai-nilai itu tak akan berhasil tanpa kedekatan dan hubungan yang harmonis dengan anak.

 

Jangan pakai istilah slank

Banyak fakta menunjukkan sebagian besar remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah berasal dari keluarga yang kurang harmonis atau orangtua yang abai (neglect).

Mereka menganggap hubungan seksual sebagai sarana untuk memperoleh perhatian yang tak ia dapatkan dari orangtua.

Keterbukaan komunikasi dapat mudah terjalin dalam keluarga harmonis. Informasi seks yang benar pun dapat disampaikan secara mulus kepada anak. Sayangnya, banyak orangtua merasa risih dan sungkan bila membicarakan masalah seks pada anaknya. Hal itu terjadi karena adanya anggapan seks itu kotor dan tabu untuk dibicarakan. Padahal perilaku seks adalah hal yang normal karena kita memang mahluk seksual demi kelangsungan hidup manusia sendiri.

 

 

(Tati Mulyawati - Konselor di Associates Jagadnita Consulting, Jakarta)


 

Untuk memikat pasangannya, 4% wanita Amerika Serikat tak mengenakan pakaian dalam  

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.