HEALTHY SEXUAL LIFE

 


Jembatani PERBEDAAN Dengan KOMUNIKASI

Dalam kehidupan rumah tangga, adanya perbedaan persepsi, sikap, dan perilaku suami-istri merupakan hal yang wajar. Tak terkecuali dalam urusan seks. Layaknya perbedaan dalam urusan rumah tangga yang lain, jika dikelola dengan baik, perbedaan dalam perkara seks justru bisa menjadi penghubung untuk saling memahami. Tapi jika tidak dikelola dengan tepat, perbedaan bisa menjadi sumber ketidakharmonisan rumah tangga.         

 

Pada hakikatnya, hubungan suami istri merupakan penyatuan dari aneka perbedaan. Secara fisik maupun psikis, laki-laki jauh berbeda dari perempuan. Pada umumnya, laki-laki cenderung aktif sedangkan perempuan cenderung pasif. Laki-laki menghendaki seks, perempuan menghendaki kemesraan.

Itu baru perbedaan yang disebabkan oleh faktor alamiah antara laki-laki dan perempuan. Belum ditambah oleh faktor-faktor lain seperti latar belakang budaya, pendidikan, dan kepribadian. Tentu daftar perbedaan akan lebih panjang lagi. Suami terbuka, istri tertutup. Suami Batak, istri Jawa. Suami liberal, istri konservatif. Masih banyak lagi jika mau dijlentrehkan.

"Saya kadang ingin menikmati hubungan badan pada saat suami saya sedang capek kerja dan tidak bergairah. Biasanya saya tidak berani mengatakannya karena enggak enak ngomongnya," keluh seorang istri dalam sebuah rubrik konsultasi seks di koran nasional. "Saya sangat suka oral seks tapi istri saya tidak suka," keluh seorang suami dari pasangan lain di rubrik konsultasi yang lain. "Sampai sekarang saya belum paham betul semua bahasa isyarat istri saya saat di kamar tidur. Dia kayaknya malu kalau bicara tentang urusan seks," kata Amik, seorang suami yang mengaku sudah menikah selama lima tahun.

Tiga orang di atas hanyalah sedikit contoh dari sekian banyak pasangan yang punya masalah karena perbedaan sikap dan perilaku dalam urusan seks.

 

Harus dikelola

Dalam batas tertentu, perbedaan antara suami istri mungkin bisa menjadi sumber keindahan romantika rumah tangga. "Manusia itu kan beragam. Keberagaman itu menyebabkan dinamika. Tapi kalau perbedaan itu sampai menyebabkan tidak tercapainya kepuasan seksual secara bersama-sama, itu berarti sudah mengganggu. Sudah harus diatasi," kata Clara Kriswanto, konsultan keluarga dari Jagadnita Consulting, Jakarta.

Hubungan seks harus saling memuaskan, membahagiakan, dan membuat rileks pasangan. Perbedaan masih bisa dianggap wajar jika keduanya tetap bisa mengomunikasikan perbedaan tersebut secara sehat. Sehingga ia menjadi sumber variasi dan dinamika. Jika sudah sampai mengganggu, perbedaan bisa menjadi sumber ketidakharmonisan rumah tangga.

Sekalipun hanya perkara di atas ranjang, masalah ini sama sekali tidak bisa dianggap remeh. "Kehidupan seks yang tidak memuaskan bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga secara keseluruhan," kata Clara yang juga konsultan. Komunikasi yang macet di atas ranjang bisa berpengaruh terhadap komunikasi dalam semua urusan lain di luar kamar tidur.

Jika suami atau istri merasa tidak terpuaskan dalam urusan seks, maka di dalam dirinya ada kekosongan. Ada kebutuhan yang tidak terpenuhi dan harapan yang tidak tercapai. Kegagalan di atas ranjang bisa memunculkan konsep diri yang negatif. Karena itu, tandas Clara, jangan sekali-kali meremehkan komunikasi dalam urusan seks.

Komunikasi adalah kunci utama untuk menyelesaikan masalah ini. Suami istri harus jujur dan terbuka terhadap keinginan dan harapannya. Tujuannya jelas, supaya keduanya bisa saling membahagiakan sebagaimana tujuan awal hubungan seks. Kedua pihak harus saling menghargai dan menghormati perbedaan dengan pasangannya. "Bagaimana bisa saling membahagiakan, kalau suami istri tidak saling terbuka? Keduanya harus mau mendengarkan masukan dari pasangan tentang kebutuhannya. Jika didiamkan saja kan enggak akan ketemu," kata Clara.

Komunikasi ini bukan hanya solusi untuk memecahkan masalah seksual, tapi juga semua problem rumah tangga yang lain. John Gray, penulis buku Mars and Venus in the Bedroom, bahkan berani mengatakan jika suami istri bisa mengomunikasikan masalah seksual, biasanya keduanya tidak menghadapi kesulitan berarti ketika mengomunikasikan masalah rumah tangga yang lain. Ia menyebut solusi ini dengan istilah lugas: komunikasi seks. Teknik yang ia anjurkan berjenjang.

Pertama, sebisa mungkin suami istri harus menyelesaikan masalah ini cukup berdua saja. Baik suami maupun istri memerlukan masukan dari pasangannya. Tak peduli bagaimanapun dominannya suami atau istri dalam urusan lain, ia tetap perlu mendengar pendapat pasangannya. Masukan itu harus jelas dan positif supaya keduanya bisa tahu apa yang dirasakan dan diinginkan oleh pasangannya.

Bagaimana cara menyampaikan? Jelas ini tergantung pasangan yang bersangkutan karena merekalah yang lebih tahu kapan saat mengobrol yang paling nyaman. Caranya terserah pasangan yang bersangkutan. Tapi John Gray memberi saran umum, luangkan waktu setengah jam untuk bicara tentang seks ketika kita sedang merasa nyaman membicarakannya. "Bicara tentang seks sangatlah rawan," katanya.

Suami istri juga dianjurkan meluangkan waktu untuk bersama-sama membaca buku-buku tentang seks.

 

Butuh proses

Jika cara berdua sudah mentok, pasangan bisa minta bantuan kepada pihak ketiga. Pihak ketiga bisa seorang yang dihormati dan dipercaya oleh kedua pihak, misalnya dari keluarga sendiri, bisa juga seorang konsultan masalah keluarga. Jika datang ke pihak ketiga, suami istri harus datang bersama. Bukan suami saja atau istri saja, seperti yang kadang terjadi di masyarakat Indonesia.

Setelah itu kedua pihak harus melakukan penyesuaian diri. Jangan ada pihak yang merasa lebih benar. Kedua pihak harus membuka diri. Dalam komunikasi seks, pada umumnya semua orang tidak ingin membuat pasangan kecewa, tapi pada saat yang sama mereka biasanya juga tidak ingin diminta melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Karena itu, keduanya harus bersedia membuka diri terhadap masukan dari pasangannya.

Ketika pasangan tetap tidak mau terbuka, suami atau istri harus menerima perasaan pasangannya itu. Jika pasangan terbuka dan menginginkan sesuatu yang sulit dilakukan, jangan membantah atau menolak dulu. Sebaiknya terimalah dulu, buka pikiran dengan berjanji untuk mempertimbangkannya.

Setelah proses penyesuaian diri ini, biasanya, kata Clara, hasilnya tidak langsung kelihatan. Butuh proses. Tidak bisa seketika. Hari ini bicara, besok masalah sudah selesai.

Jika kedua pihak bisa menyelesaikan masalah di kamar tidur ini dengan komunikasi yang efektif, maka dijamin keduanya pun akan terlatih untuk mengomunikasikan masalah mereka di luar urusan seks.       

                                                             

 

(M. Sholekhudin)


 

Saya kira seks itu lebih baik ketimbang logika, tapi saya tidak bisa membuktikannya. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.