HEALTHY SEXUAL LIFE

 

 

Karet Ketemu Kulit - Enak Juga Tuh

"Enggak ada enaknya kulit ketemu karet. Sekali karet, ya tetap karet", sela seorang teman, ketika Jeremy menceritakan hobi barunya: memakai kondom saat berhubungan intim dengan istri. Jeremy berusaha menjelaskan, kondom sekarang banyak macamnya, dan begitu kaya sensasi. Tapi percuma, sang teman yang sejak awal sudah ngeyel, tetap saja ngeyel.          

 

Dalam kehidupan nyata, memang masih banyak orang (pria maupun wanita) beropini seperti kawan Jeremy tadi, dan menganggap alat kontrasepsi sebagai kendala dalam asyik masyuknya pasangan suami istri (pasutri). Bukan hanya kondom yang kena tuding, spiral, bahkan pil pun bernasib sama. "Sudah beberapa bulan ini suami mendesak saya mencabut spiral yang baru tiga bulan dipasang. Dia bilang, spiralnya 'terasa' saat berhubungan", curhat Yanti di sebuah milis kesehatan.

Padahal, baik Jeremy maupun Yanti mengakui kesadaran untuk menggunakan kontrasepsi kini motifnya tak melulu sama dengan yang dilakukan ibu-bapak mereka dulu. "Bapak dan ibu saya pegawai negeri. Kata mereka sih dulu ikut program Keluarga Berencana karena 'diperintah' atasan", tegas Yanti, masih di milis. Jadi, saat itu alat kontrasepsi benar-benar digunakan sesuai khitahnya.

"Pada dasarnya, alat kontrasepsi memang dibuat untuk menunda atau mengatur kehamilan", tegas dr. J.M. Seno Adjie, SpOG(K), staf pengajar Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, merumuskan khitah alat kontrasepsi. "Kalaupun ada yang berfungsi ganda, kondom misalnya, ya sebagai alat pencegah penularan penyakit menular seksual", tambah Seno. Dengan kata lain, keberadaan alat kontrasepsi sebetulnya tidak berkaitan langsung dengan aktivitas seksual.

Dalam konteks ini, alasan Yanti - umurnya kini 23 tahun - terasa menarik. "Tujuan utama saya ber-KB bukan untuk mengatur kelahiran. Saya kan masih muda. Masih ingin bereksperimenlah sama suami. Masih banyak lo posisi-posisi yang kelihatannya oke, tapi belum kami coba", akunya terus terang. Yanti seperti Jeremy, barangkali termasuk generasi terkini yang memandang seks sebagai salah satu ajang rekreasi, pengusir stress dan kepenatan sehari-hari. "Sejak kawin tiga tahun lalu, kami rutin berhubungan intim 4 sampai 5 kali seminggu", cetus Jeremy, menyoal aktivitas seksualnya yang begitu hot.

Selain pernyataan Yanti, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di forum-forum konsultasi seks - baik di internet, media cetak, maupun beragam talk show radio - pun kini tak lagi didominasi manfaat kontrasepsi untuk menunda datangnya si buyung dan si upik. Lebih banyak muncul persoalan-persoalan mirip punya Yanti atau Jeremy.

 

Bebas takut dan stress

Dalam berbagai tulisan yang hendak menyingkap perilaku seksual manusia, alat kontrasepsi bahkan disebut-sebut sebagai salah satu temuan yang berperan besar dalam memelopori perubahan makna seks, dari tak sekedar prokreasi (hubungan seksual untuk bikin anak), tapi juga rekreasi. Kian menjamurnya produk-produk kontrasepsi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan farmasi belakangan ini bak menguatkan teori tadi.

Hadirnya beragam kontrasepsi memang membuat banyak pasangan bebas bereksplorasi tanpa rasa takut. Terutama takut hamil (lagi). Boyke Dian Nugraha, dalam acara talk show di sebuah radio swasta di Jakarta pernah mendapat pertanyaan dari seorang bapak (sebut saja Bustaman) yang sedang gundah gulana.

Di ujung telepon, dengan lemas Bustaman curhat: "Dok, sudah enam bulan terakhir ini saya selalu bingung dan stress jika diajak berhubungan seksual oleh istri. Sering kali saya menolak, dengan berbagai alasan. Sakit perutlah, sakit pingganglah. Padahal alasan saya sebenarnya takut punya anak lagi. Bener, Dok. Anak kami sudah tiga, dan saya enggak mau tambah lagi. Beban ekonomi kami saat ini sudah berat, Dok. Kalau tambah anak, pasti tambah berat lagi. Karena rasa takut itu, berhubungan seksual tidak lagi bisa saya nikmati. Apalagi istri saya enggak mau pakai alat kontrasepsi. Apa yang harus saya lakukan, Dok?"

Saat itu dr. Boyke menjawab bahwa dalam hubungan seksual memang ada yang namanya kesenangan alias rekreasi. Nah, untuk menikmati rekreasi bebas stress, pasutri bisa memanfaatkan beragam pilihan alat kontrasepsi yang kini banyak tersedia. Bisa pil, IUD, susuk, suntik (untuk istri), atau kondom (untuk suami, meski belakangan ada juga kondom untuk perempuan). Tanpa alat kontrasepsi, rekreasi akan terus diselimuti rasa takut dan was-was, yang jelas-jelas bisa bikin stress. Nah, pada bagian ini kita mesti hati-hati. Stress yang berkelanjutan dapat mematikan 'potensi seksual' seseorang.

Selain takut hamil, alat kontrasepsi tertentu, sebut saja kondom juga memungkinkan suami atau istri terbebas dari rasa takut tertular penyakit menular. Ingat, AIDS/HIV, salah satu penyakit yang diprediksi bakal menimpa jutaan umat manusia di masa depan, salah satunya bisa datang dari hubungan seksual. Data terbaru Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, hingga September 2007 sebanyak 53,8% penderita dari 16.288 kasus HIV/AIDS di Indonesia adalah penderita dari usia produktif atau 20-29 tahun. Sayang kan jika masa-masa hot ini justru diisi dengan penyakit.

Tanpa harus mengedepankan prasangka terhadap pasangan, seks rekreasi mestinya memang tak hanya mengutamakan kenikmatan, tapi juga keselamatan. Dalam hal ini, kondom menjadi pilihan paling realistis. Apalagi sekarang banyak macamnya, tinggal pilih mau yang tebal, agak tebal, tipis, atau supertipis? Semuanya dijamin sehalus sutera dan sudah diperhitungkan tidak akan membuat pemakainya iritasi. Jika mau sensasi lebih, pasutri bisa memilih kondom yang punya rancang bangun tak biasa, misalnya yang bisa menyala dalam gelap, bergerigi, berwarna-warni, dan banyak lagi.

Belakangan tak hanya pria, wanita pun dibikinkan kondom. Jika kondom pria disarungkan langsung di tubuh 'tuan P', kondom wanita yang mempunyai dua cincin berbentuk sarung mirip diafragma diletakkan di sekitar rahim. Satu cincinnya berukuran pas dengan leher rahim, sedangkan satunya lagi melingkari bibir kemaluan. Nah, 'tuan P' akan bermain di dalam sarung yang telah dilapisi pelumas tersebut. Pasangan suami istri yang selama ini lebih banyak berekreasi dengan kondom pria, sekali waktu bisa mencoba yang satu ini.

 

Soal taste dan pilihan

Bagaimana dengan anggapan alat kontrasepsi berpotensi mengurangi kenikmatan dan acara rekreasi di atas ranjang? Seperti ucapan kawan Jeremy yang menganggap karet (baca: kondom) tak akan pernah bisa menandingi sensasi kulit, atau suami Yanti yang kecewa pada spiral sang istri?

Persoalan Jeremy sepertinya soal sepele. Jika memang yakin kondom yang dipakainya tidak mengurangi kenikmatan di atas ranjang, mestinya tak usah didengarkan ucapan sang teman. Tapi buat laki-laki yang terlanjur punya 'beban' untuk tak hanya memuaskan diri sendiri, tapi juga pasangan, soal 'enak - enggak enak' di kasur memang bisa bikin tak nyenyak tidur. Beberapa kali survei yang dilakukan BKKBN membuktikan stereotip 'kondom mengurangi kenikmatan' membuat banyak orang menjauhi alat kontrasepsi berbentuk sarung itu.

akhirnya mereka menjauhi kondom tanpa sempat mengenal dan memahami manfaatnya. Lantas seenaknya berkomentar negatif. Jadi, cara untuk mengeliminir anggapan negatif kawan Jeremy tadi, ya dengan mencoba sensasi kondom itu sendiri. Jangan belum-belum sudah apriori. Ibarat pakai helm, mula-mula terasa enggak enak enak: panas dan bikin keringatan. Tapi lama-lama jadi ketagihan terutama setelah tahu nikmatnya dan tentu saja manfaatnya buat melindungi kepala dari benturan kala kecelakaan.

Sementara pada kasus Yanti, sebenarnya lebih pada soal memilih alat kontrasepsi yang sesuai. Sekedar tambahan info, selain alat-alat kontrasepsi konvensional, perempuan aktif zaman ini sebenarnya punya pilihan lain yang tak kalah menarik, karena alat kontrasepsi ini bisa mengurangi jadwal menstruasi yang buat banyak perempuan terasa menyakitkan jika harus datang saban bulan.

Perusahaan farmasi terkemuka, Bayer contohnya, beberapa tahun terakhir gencar mengampanyekan Mirena (lihat www.mirenaus.com), alat kontrasepsi yang bekerja langsung pada rahim dengan menggunakan metode intrauterine system. Bukan barang baru memang, karena di Indonesia sendiri produk ini sejatinya sudah ada sejak 1990-an. Namun karena harganya mahal, kepopulerannya jadi berkurang.

Alat yang pemasangannya mesti dilakukan oleh dokter ini menggabungkan kegunaan yang selama ini ditawarkan kontrasepsi IUD dan pil KB. Ia diklaim bisa mencegah kehamilan lantaran setiap harinya melepaskan sekitar 20 mikrogram hormon levonorgesfrel. Levonorgesfrel adalah hormon yang dapat bekerja mengentalkan lendir rahim dan mencegah pergerakan sperma, sehingga dapat mencegah terjadinya proses pembuahan dan pencegahan pengembangbiakan endometriosis.

Jika anda perempuan yang sangat suka berekreasi seperti Yanti, Mirena sangat cocok karena pasti tidak akan 'tersundul' oleh 'tuan P' suami. Apalagi masa berlakunya cukup panjang sekitar lima tahun. Setelah itu anda bisa memutuskan: melepas sama sekali atau ganti dengan yang baru.

Namun ketimbang terus mengambinghitamkan alat, Seno Adjie sedikit meluruskan, "Pada umumnya kenikmatan berhubungan seksual tidak tergantung dengan memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi, tapi berhubungan dengan kualitas hubungan antar pasangan seksual tersebut. Bahkan kadang-kadang pasangan dapat menikmati hubungan seksual tanpa penetrasi atau petting. Memang ada sebagian kecil pasangan mengeluh dengan alat kontrasepsi karena beberapa efek sampingan yang ditimbulkannya. Tapi sebagian besar pasangan tidak mempunyai keluhan apa-apa".

Dengan kata lain, buat Seno, kalau pun ada gangguan yang dirasakan, biasanya itu hanya persoalan taste atau selera penikmat seks. Ya, cocok dengan teori: sukses-tidaknya sebuah hubungan seksual tidak tergantung pada mobil, melainkan kelihaian sopirnya. Klise, tapi betul kok.

Kalau sudah begini, karet atau kulit sama saja toh!    

          

 

(Muhammad Sulhi)


Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.