HEALTHY SEXUAL LIFE

 

 

Kreatif Kelola SEKS Rekreatif

Menganggap seks sebagai kegiatan rekreatif, membutuhkan beragam kreativitas. Tak sedikit yang menggunakan alat bantu. Tapi ingat, jangan keterusan.         

 

Sulit menebak senyum Henry (34). Mungkin suasana kantin kantor yang siang itu penuh sesak, dianggap staf akunting suatu perusahaan ekspor impor ini seperti taman bunga. Ia menebar senyum ke mana-mana. Pria yang identitasnya minta disamarkan itu setengah berbisik, "Aku sudah temukan cara".

Cara? Ah rupanya, ia menjawab sendiri keluhannya sebulan lalu. Saat itu ia mengeluh. Setelah lahir anaknya yang kedua, ia merasa suhu ranjangnya agak mendingin. Ia merasa libidonya sedikit anjlok.

Bukan lantaran Ratih istrinya sudah menggelambir, sebab toh ia rajin fitness. Bukan juga karena telah melahirkan dua anak, sebab toh keduanya lahir lewat operasi caesar, sehingga 'milik Ratih' tetap utuh. Lalu apa dong?

 

Hanya variasi

Harus disadari apapun bentuknya, alat yang dipakai itu hanya untuk variasi saja. Jangan keseringan dipakai, sebab akan menyebabkan ketagihan. Misal si istri lebih menyukai dildo daripada penis suami. Atau suami merasa lebih puas dengan vagina getar ketimbang milik istrinya sendiri.

 

Sex toy bicara

Henry menemukan sendiri bahwa hubungan seks selama tujuh tahun perkawinan ternyata menjadi rutin baginya. Padahal segala posisi telah diuji, frekuensi dan durasi telah dibuat serasi, tapi tetap saja kegiatan satu itu semakin menjemukan. Seolah kewajiban semata. Sebagai istri Ratih wajib menyiapkan kebun, dan sebagai suami Henry wajib mencangkulinya. Akibatnya, kepuasan hanya meletup di bibir, sama sekali tak menukik ke kedalaman batin. Akhirnya, dari membaca sebuah majalah bulanan Henry jadi memahami kedua fungsi seks, yakni fungsi prokreasi dan prorekreasi. kegiatan seks sebagai prokreasi telah membuahkan bagi Henry dua orang anak. Mereka berdua telah menuai hasil dan sepakat tak akan menambah anak lagi.

Lalu Henry tersadar, mengapa ia dan istrinya tak menganggap seks sebagai kegiatan rekreasi? Sehingga mereka berdua bisa mendapatkan kesenangan dan kenyamanan darinya. Siapa tahu, ia dan istrinya bisa memperoleh sensasi seks yang berbeda, sehingga pupuslah rasa bosan itu.

"Pertama kali mencoba risih sekali dan agak lucu", cerita Henry sambil mengunyah ayam rica. Entah terpengaruh rasa pedas, Henry jadi hot bercerita. Ia sengaja membeli dildo produksi Amerika yang ukurannya disesuaikan dengan kondisi pria bule.

Karena sebelumnya belum pernah, lanjut Henry, istrinya agak bingung. Benda berukuran satu berbanding satu itu hanya diurut-urut saja. Henry memberi pelatihan singkat. Ia membantu Ratih mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari benda berwarna pink sepanjang 20 cm dan diameter 10 cm itu, yang terbuat dari jeli silikon sehingga bisa dibengkokan sesuai kebutuhan.

Diakui Henry, benda itu membuat foreplay jadi terarah, mematangkan situasi sebelum akhirnya ia melakukan eksekusi. Sang istri pun merasakan 'puncak' yang berbeda dengan yang sudah-sudah.

 

Saling mengontrol

Hampir dua bulan mempraktikkan temuan barunya, Henry merasa sebaiknya bukan hanya istrinya yang memperoleh 'kenikmatan awal'. Dirinya pun ingin pula dijadikan objek foreplay. Dengan cara biasa, seks oral misalnya, Henry merasakan sensasi yang 'sudah pernah'. Ia ingin yang belum pernah.

Akhirnya dengan menyisihkan sebagian bonus akhir tahun, Henry diam-diam membeli sex toy vagina getar. Ketika ia tunjukkan itu pada suatu malam yang syahdu dan menjanjikan, Ratih terheran-heran. Benda mirip 'miliknya' itu berukuran panjang 18 cm dan diameter lingkar 20 cm.

Dengan penuh pengertian, Ratih memasangkannya pada Henry. Dengan memasangkan dua buah baterai AA, benda seharga Rp 350.000,- itu bergetar dengan kecepatan yang bisa diatur dengan remote control. Henry terlonjak kaget. Tapi secara refleks ia mencegah ketika Ratih ingin mencabut dari dirinya.

"Getarannya itu mak, melintir aku dibuatnya", sergah pria kelahiran Medan itu. Sebagai kegiatan foreplay, keinginan Henry tercapai, yakni ingin menjadi objek dengan istrinya yang memimpin aktivitas itu. Pergantian peran ini berdampak besar. Bagi Henry, dengan bersikap pasif selama pemanasan itu, ia justru mengalami pola perangsangan yang berpusat pada diri sendiri. Pola ini biasa terjadi pada pelaku masturbasi.

Pada pola ini, aktivitas mentalnya terhisap pada rasa nikmat berkelanjutan pada alat vitalnya. Jika dilakukan dalam durasi tak terkontrol, kegiatan ini bisa menyebabkan ejakulasi sebelum penetrasi. Sehingga gagallah tujuannya sebagai acara foreplay.

Untunglah Ratih menyadari hal itu. Ketika Henry melayang tinggi, dan secara tak langsung dirinya pun ikut terbawa, pelan-pelan ia mengarahkan Henry untuk juga memanfaatkan dildo untuk dirinya. Sehingga di saat mereka berdua terhanyut gelombang menuju puncak, kegiatan itu diakhiri dengan permainan sesungguhnya. Tak jarang skor berakhir draw, atau jika mood-nya sedang in, ia merelakan Henry mengatur skor kemenangan. Ia biarkan Henry memenangkan permainan dengan skor telak!

Untuk menciptakan atmosfer yang kondusif, mereka berdua sepakat merawat suasana dengan misalnya memutar musik romantis. Lampu kamar pun diremangkan. Bahkan sesekali Ratih yang berkulit bersih itu memakai lingerie. Atau Henry mengenakan celana dalam G-string. Kenapa tidak?   

 

Tipis saja

Pemakaian stroberi, keju, cokelat, atau alat bantu lainnya janganlah terlalu banyak. Ala kadarnya saja, atau tipis-tipis saja. Yang penting, jilatan lidah dalam membersihkannya bisa menimbulkan sensasi yang menyenangkan pasangan, sehingga membuat dirinya terangsang.

 

Giliran stroberi

Henry dan Ratih telah menemukan cara kreatif dalam mengelola kegiatan seks sebagai rekreasi. Meski mungkin pada sebagian besar pasangan hal itu bukan hal baru, namun setidaknya mereka berdua sama-sama proaktif membuat ranjang hangat kembali, sembari berdansa poco-poco dipadu goyang salsa.

Pasangan Dewi dan Tatang berbeda lagi. Kendati baru setahun menikah, Maret 2007 di Bandung, pasangan yang sama-sama bekerja ini bekerja sama dalam memperpanjang masa bulan madu. Karena masih sama-sama muda, 24 dan 27 tahun, tentunya mereka lebih berani mencoba bereksperimen.

Walau mulanya malu-malu, secara tersamar Dewi mau juga bercerita dengan syarat jati diri dia dan suami disembunyikan. Sebenarnya mereka tak punya masalah dalam hubungan seks. Bagai sekam, keduanya menyimpan api, yang mudah berkobar. Sekali tersulut, mereka saling membakar.

Hampir segala posisi telah dijelajah. Diakui, tak semua enak terasa. Ada yang menguras stamina, ada juga yang bikin kapok. Di kala semua jurus telah habis dicoba, maka timbul keinginan mencari lebih rekreatif. Artinya, menyenangkan kedua pihak.

Suatu saat timbul ide gila. Tatang mencoba menaburkan selai stroberi di perut Dewi. Ketika ia coba menyeruput dan menjilati selai kesukaannya itu, istrinya merasakan sensasi luar biasa, hingga menggelepar beberapa saat.

Atas kesepakatan berdua, radius penstrobeian diperluas ke arah atas. Dewi makin blingsatan. Ia balas dendam, melumurkan selai coklat kegemarannya di tempat yang sama di tubuh Tatang. Giliran Tatang kerasukan sensasi. Akhirnya, permainan penuh canda itu diselesaikan secara suami istri.

 

Eksplorasi imajinasi

Dalam sesi yang lain, permainan lumur melumur itu lebih dieksplorasi. Materialnya tetap selai atau bahan lain yang masing-masing sukai. Terkadang dibutuhkan tisu basah antibakterial untuk menghapus rasa lengket. Sebab, diakui konsentrasi suka terganggu karenanya. Lagipula sebelum Tatang melakukan tugas primer, peralatan kerjanya harus hiegenis.

Lokasi pelumuran berpindah-pindah, tapi akhirnya secara naluriah mereka berdua menempatkannya pada posisi-posisi vital. Dampaknya bisa diduga. Sedangkan terhadap Dewi, Tatang amat hati-hati untuk tidak menempatkannya pada kawasan yang bila saat dibutuhkan bisa menghambat kelancaran tugasnya. Apalagi jika harus dibersihkan dulu, bisa-bisa titik didih anjlok ke titik nol.

Eksplorasi yang mereka lakukan terus terang agak risih bila dilakukan oleh pasangan dengan jam terbang tinggi. Selain dibutuhkan intensitas total, sebelum bermain pasangan itu harus membersihkan diri dulu, setidaknya mandi bersih, menghindari terjilatnya bakteri ke dalam mulut pasangan.

Prinsip kesehatan sebaiknya memang menjadi pertimbangan utama sebelum berkreasi. Seliar apapun imajinasi dalam menciptakan jurus baru rekreasi, hendaknya tak mengabaikan faktor kebersihan. Sehingga tak merugikan kesehatan salah satu pihak atau bahkan keduanya.

Untunglah pasangan anyar ini tetap menyadari tak mau tergantung pada alat bantu itu. Fungsinya hanya sekedar suplemen saja. Kegiatan utama tak boleh digantikan dengan apapun juga. Disadari, dengan usia biologis mereka yang masih muda, memungkinkan eksplorasi bakal berjalan langgeng dan berani.

 

Jangan berlebihan

Betapapun penggunaan peralatan seks di saat foreplay, misal memakai dildo sebelum hubungan dimulai adalah merupakan variasi dalam menikmati seks sebagai rekreasi. Seorang pengamat masalah seksual berpendapat, setiap pasangan boleh secara kreatif mengeksplorasi berbagai variasi untuk mendapatkan kesenangan, baik dalam foreplay maupun selama coitus berlangsung.

Batasannya, apa yang dilakukan sama-sama disukai oleh pasangan itu berdua, dan tidak menyakiti atau berakibat efek samping. Apapun bisa dipakai asal tidak menyakiti. Misalnya bahan yang dipakai menyebabkan alergi bagi pasangannya, atau permukaannya kasar sehingga menyakiti pihak perempuan.

Pemakaian stroberi misalnya, tidaklah berlebihan. Karena tergolong relatif rendah zat penyebab alerginya. Memang teknik stroberi biasa digunakan oleh banyak pasangan. Tak sedikit yang merasa nyaman karenanya. Namun tetap pada asas keadilan dan keseimbangan berbagi kenikmatan hendaknya jangan ada pihak yang egois, hanya memikirkan kesenangannya sendiri saja.

Seberapa menolong alat bantu itu, kegunaannya tetap sebagai pelengkap. Jangan menjadikannya sebagai kegiatan primer, yakni hubungan seks itu sendiri. Pemakaian dildo, misalnya jika berlebihan dikhawatirkan kelak justru si perempuan lebih menyukai dildo ketimbang penis suami. Dampak seperti inilah yang harus dikendalikan, sebab namanya juga variasi, jadi bukan yang utama. Hubungan seks itulah tujuan utamanya.

Jadi batasnya, asal gairah pasangan atau kedua pihak sudah berada dekat titik kulminasi, hubungan seks sebaiknya segera dimulai. Apa yang dirasakan jangan diceritakan pada siapa-siapa.

                                                                    

 

(Dharnoto)


 

Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.