HEALTHY SEXUAL LIFE

         

 MAU YANG MENYALA ATAU YANG BIASA

 

Coba bayangkan bagaimana rasanya melakukan hubungan seksual dengan perasaan waswas. Khawatir mendapatkan kehamilan yang tidak dikehendaki atau tertular penyakit menular seksual, bahkan HIV/AIDS. Pasti hubungan seksual anda jadi terasa tidak nyaman. Beda kalau anda pakai kondom. Apalagi saat ini tersedia banyak pilihan kondom, dari bentuk, warna, hingga rasa. Mau kondom yang bisa menyala pun ada.              

 

"Berhubungan seksual yang enak dan aman itu ya pakai kondom", begitu ungkap Richard S. Howard, PhD dari ASA (Aksi Stop Aids) Program, sebuah LSM di bidang penanggulangan AIDS di Indonesia. Dari sisi pencegahan kehamilan atau penularan penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS pada suami-istri, apa yang dikatakan Richard itu benar.

Pemakaian kondom bagi pria memang menjadi pilihan banyak pasangan untuk membatasi jumlah anak. Benda berbahan lateks ini juga bisa melindungi seseorang terutama wanita, dari kemungkinan tertular PMS bila pasangannya pernah atau bahkan sering berhubungan seksual selain dengan pasangan sahnya.

Mungkin lalu ada pertanyaan, "Lho, dengan pasangan sendiri kok perlu pakai kondom?"

Para istri mungkin terkejut kalau mengetahui hasil survei perilaku di beberapa kota di Indonesia pada 2004. Hasil survei yang disusun Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dalam bentuk fakta singkat itu menunjukkan lebih dari separuh kelompok lelaki dengan mobilitas tinggi membeli jasa penjaja seks untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Diperkirakan, di Indonesia ada sekitar 7-10 juta lelaki pelanggan penjaja seks itu. Celakanya, sebagian besar dari mereka sudah beristri. Celakanya lagi, ternyata tidak sampai 10%-nya mau melindungi diri dari resiko tertular PMS dan HIV/AIDS dengan menggunakan kondom secara teratur setiap melakukan kegiatan seksual komersial itu.

Hasil survei lain menunjukkan, dari 4-5 juta laki-laki Indonesia yang suka 'jajan', hanya 13% yang konsisten mengenakan kondom. Jumlah itu pun masih sangat kecil jika dibandingkan dengan Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau ternyata sang lelaki membawa pulang 'oleh-oleh' tak diharapkan untuk para istri mereka di rumah. Hal itu bukannya tak mungkin. Dalam fakta singkat yang disusun Pandu Riono disebutkan pula kalau di beberapa wilayah di DKI Jakarta, penularan HIV sudah masuk ke pasangan dari kelompok berisiko. Sekitar 3% dari 500 ibu hamil yang dites secara suka rela ternyata telah terinfeksi HIV.

"Untuk menghindari penyakit kelamin dan tertular virus HIV/AIDS, kondom terbilang efektif", jelas Richard.  

 

Kurangi Resiko penularan

Memang pencegahan penularan PMS dan HIV/AIDS yang paling tepat tidak lain tetap setia pada pasangan. Selain keluarga tetap utuh, tidak ada resiko sama sekali tertular PMS dan HIV/AIDS (tentu bila keduanya bersih dari PMS dan HIV/AIDS). Kalau sudah begitu, kondom tak diperlukan lagi, kecuali bertujuan untuk menunda kehamilan.

Yang termasuk PMS di antaranya, gonore (GO), sifilis, dan herpes kelamin. Dengan menggunakan kondom memang tidak menjamin 100% aman dari PMS dan infeksi HIV/AIDS. Menurut Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater yang juga pemerhati masalah AIDS, penggunaan kondom untuk pencegahan HIV/AIDS tidak 100% melindungi seseorang tertular penyakit itu. Kondom hanya mengurangi risiko penularan hingga tinggal 30%, dengan catatan kondom dalam keadaan baik, tidak bocor, dan benar cara mengenakannya.

Sementara terhadap PMS, kondom bisa menurunkan risiko hingga menjadi 50-70%. Namun, siapa yang menjamin kalau risiko yang tersisa itu tidak singgah pada diri kita? Jadi, jangan kaget lagi kalau di antara penyuka plesir seksual ternyata juga tertular PMS atau HIV/AIDS, meskipun selalu mengenakan kondom setiap kali berhubungan seksual.

Tingkat keamanan yang tidak 100% itu tak lepas dari faktor bahan pembuat kondom itu sendiri. Lateks (karet) sebagai bahan kondom merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi. Artinya, kondom itu berserat dan berpori seperti tenunan kain. Ukuran pori-pori kondom dalam keadaan tidak meregang sekitar 1/60 mikron. Kalau meregang menjadi 10 kali lebih besar.

Sementara itu ukuran virus HIV/AIDS lebih kecil, yakni 1/250 mikron, dan ukuran diameter virus herpes kelamin 0,2 mikron; lalu bakteri gonorrhea dan sifilis sekitar 0,5 mikron. Begitu reniknya sehingga pori-pori kondom maupun virus HIV/AIDS hanya dapat dilihat melalui mikroskop elektron.

Deassy Mariska, Product Manager Durex di Indonesia, tidak menyangkal fakta itu. Menurut dia, kondom memang dapat membantu mengurangi risiko penularan PMS dan HIV/AIDS. "Asal mengikuti aturan pakai (risiko itu bisa ditekan). Yang perlu digarisbawahi, tak ada satu pun metode yang mampu menangkal 100% penularan penyakit menular seksual", tegasnya.

Namun, kenapa masih banyak lelaki yang tidak suka mengenakan kondom? Sebagian besar lelaki bisa langsung menjawab dan seragam. "Enggak enak pakai kondom. Karena kulit kelamin tidak langsung bersentuhan dengan pasangan", begitu ujar mereka. Apakah faktanya memang begitu?

Saat penis disarungi kondom, memang benar kulit kelamin jadi tidak langsung bersentuhan dengan dinding vagina pasangan. Namun, soal enak tidak enak, tak semua lelaki sepaham. "Pakai kondom justru ada yang bikin tambah lama ngeseksnya dan juga bikin tambah enak buat kedua pasangan. Contohnya, kondom yang bergerigi. Yang ini enak buat suami maupun istri", ujar penggemar kondom, Jacky (sebut saja begitu).

Jacky memang termasuk penikmat kondom. Hampir semua merek dan jenis kondom ia beli dan kenakan saat bercinta dengan istrinya. "Saya beli kondom dengan harga sekitar Rp 5000,- isi tiga sampai yang mahal sekitar Rp 30.000,- per kemasan isi 12", ujarnya enteng. Pria muda ini mengenakan kondom saat berhubungan intim dengan istri tercintanya lantaran tak ingin pendamping hidupnya itu hamil. Selain itu mereka juga suka akan sensasi yang ditimbulkan ketika mengenakan kondom, meskipun yang tersedia di pasaran saat ini sangat tipis.

"Saya suka yang terbuat dari sheerlon (lateks supertipis) buatan Okamoto, Jepang. Selain lebih tipis dari kondom lateks biasa, (kondom ini juga) ada yang ribbed (berulir atau bergerigi). Rasanya seperti tidak pakai kondom", aku Jacky. Menurut dia, ia tidak begitu suka jenis kondom yang beraroma dan berasa seperti rasa buah-buahan (stroberi, pisang, jeruk) dan coklat. Selain untuk sensasi, kondom beraroma juga berfungsi mengaburkan bau lateks yang khas. Banyak orang tidak suka pada bau lateks yang khas itu.

"Sebagian besar dari mereka yang bilang pakai kondom tidak enak, justru mereka yang belum pernah mencoba pakai kondom. Jadi, mereka bicara begitu hanya berdasarkan mitos", ungkap Richard.

Sesungguhnya, kenikmatan hubungan seksual itu tidak hanya ditentukan alat kelamin, tapi juga merupakan buah kerja otak atau pikiran. Hubungan seksual tetap bisa memuaskan walaupun mengenakan kondom. Hakikatnya, hubungan seksual itu bersifat menyeluruh, tidak hanya berupa penetrasi alat kelamin. Komunikasi yang baik juga penting.

Lalu, mengapa timbul pendapat mengenakan kondom tidak nyaman? Anggapan ini muncul karena pola berpikir yang salah. Seperti anggapan bahwa alat kelaminlah yang menjadi faktor utama kenikmatan seks. Atas dasar itu, sebagian orang lalu berupaya memperbesar atau memberi aksesori pada penisnya. Hasilnya, bukan menambah kenikmatan seksual tapi malah membuat pasangan merasa sakit saat berhubungan intim. Padahal dengan kondom sensasi itu tetap dapat diperoleh.     

 

 Lepas ketika masih tegak

Kelihatannya memakai kondom yang bentuknya mirip balon tiup mainan anak-anak itu mudah dan sederhana. Namun masih banyak pemakai yang keliru mengenakannya. Misalnya saja memasang lipatannya terbalik sehingga kondom tidak bisa terpasang. Supaya bisa dikenakan dengan mudah, gulungannya mesti berada di luar.

Seandainya terjadi salah pasang, segeralah ganti dengan yang baru untuk mencegah kemungkinan adanya cairan sperma yang sudah menempel pada kondom. Kalau penggantian tidak dilakukan, dikhawatirkan kehamilan atau penularan penyakit bisa terjadi.

Kekeliruan lain yang sering terjadi adalah si pria tidak langsung mencabut kondomnya ketika penis masih dalam keadaan ereksi atau tegang. Bila pelepasan kondom dilakukan setelah ereksinya sudah loyo, fungsi kondom sebagai penangkal kehamilan dan penularan penyakit bisa tak tercapai.  

 

Dari pisang sampai stroberi

Di pasaran saat ini beredar banyak macam kondom, dari bentuk, warna, hingga rasa (beraroma dan tidak). Dari sisi bentuk ada dua macam, kondom yang lurus seperti tabung dan kondom yang mengikuti lekuk bentuk penis. Variasinya ada yang berkontur (garis-garis, titik-titik, atau kombinasi garis dan titik) atau polos saja.

Dari aspek warna, tersedia kondom dalam beragam warna yang transparan. Warnanya ada yang disesuaikan dengan aroma, ada pula yang tidak. Contohnya, kondom beraroma stoberi berwarna merah, yang beraroma pisang warnanya kuning, kemudian yang beraroma jeruk berwarna oranye. Namun, ada pula kondom berwarna merah muda meski aromanya beragam.

Aromanya sendiri umumnya aroma buah, seperti pisang, coklat, jeruk, stroberi, leci, mangga, dan durian. Namun, ada juga rasa mint yang sedikit pedas. Jumlah kondom setiap kemasannya pun bervariasi dari 3-12 kondom. "Spesifikasi semua kondom itu tertera jelas di kemasan, sehingga konsumen mudah memilih", terang Deassy.

Kondom dipasarkan dengan rentang harga antara Rp 1300 - Rp 5000,-per kondom. Sebagai contoh, kondom merek Sutra merah isi tiga buah seharga Rp 3900,-, Simplex Rp 5500,- per kemasan isi tiga dan Durex Featherlite Rp 26.000,- per kemasan berisi 12 kondom. Ada juga yang relatif lebih mahal, seperti yang bermerek Okamoto Ribbed bikinan Jepang. Kondom ini dijual dengan harga Rp 15.000,- per kemasan isi tiga.

Kalau mau mencari kondom yang 'aneh-aneh' pun ada. Misalnya, kondom yang bisa menyala di tempat gelap, kondom musikal (ada musiknya ketika bersenggama), kondom vibrator (bergetar), large size (berukuran besar), super sensitif (sangat tipis), bertekstur seperti ikan lele (di ujungnya terdapat semacam sungut ikan lele), berbulu, seperti belalai gajah, atau berulir seperti bor.

"Untuk kondom yang model seperti ini sebaiknya kita perlu berhati-hati. Memang fungsinya untuk variasi, tapi dari aspek keamanan terhadap penularan PMS dan HIV/AIDS tidak ada jaminan bisa mengurangi risiko penularan. (Karena itu) pilih kondom yang aman dan terjamin kualitasnya. Kondom yang bentuknya aneh-aneh tapi kualitasnya diragukan sebaiknya jangan (dikenakan)", anjur Richard.

 

 

(Bimo Wijoseno)


 

 

Kondom wanita diluncurkan pertama kali pada 1992 di Swiss, terbuat dari bahan polyurethane. Dari hasil survei di beberapa negara, 10% responden menyatakan bahwa kondom mengurangi kenikmatan. Sementara 15% lainnya bilang kondom menambah kenikmatan!  

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.