HEALTHY SEXUAL LIFE

 MENYENTUH DAHULU BERGAIRAH KEMUDIAN

 

Setelah bertahun-tahun membina rumah tangga, pasutri Rudy dan Riri akhirnya menyadari, ternyata ada kejenuhan dalam hubungan intim mereka. Pasutri yang beberapa tahun lalu berjanji hidup bersama sampai mati itu tak lagi bergairah dalam percintaan mereka. Padahal dengan sedikit sentuhan sensual, api gairah bisa kembali berkobar.                     

 

Bicara tentang turunnya gairah dan merosotnya keinginan melakukan hubungan seksual, memang mengasyikkan sekaligus mengkhawatirkan. Banyak rumah tangga retak lantaran istri atau suami dianggap tak lagi menggairahkan. Euwww!
Sebelum sampai pada 'bab gairah', ada baiknya pasutri memahami dulu beragam dimensi yang ada dalam hubungan seksual suami-istri. Dimensi itu misalnya yang bersifat prokreasi (semata untuk mendapatkan keturunan), rekreasi (hanya untuk kesenangan, kenikmatan, dan ekspresi cinta), serta relasi (sebagai pengikat untuk mempererat hubungan pribadi suami-istri dalam institusi perkawinan).
Sayangnya, unsur rekreasi yang sebenarnya penting untuk memelihara kesinambungan gairah seksual suami-istri, justru lebih sering terpinggirkan. Banyak alasan dikemukakan, mulai kebosanan, kejenuhan, atau tidak ada lagi semangat. Padahal, setelah kontrasepsi dimasyarakatkan, kesempatan menikmati unsur rekreasi ini terbentang sangat luas.
Pasangan suami-istri pun dapat menikmati kehidupan seksual bersama tanpa istri harus menjadi hamil. "Setelah melahirkan anak yang kini rata-rata dua orang, suami-istri sesungguhnya memiliki waktu panjang untuk menikmati kehidupan seksual mereka", ujar dr. Anita Gunawan, androlog dan konsultan perkawinan yang berpraktik di RS Pertamina, Jakarta.
Masalahnya, banyak pasangan yang tidak menyadari hal itu. Termasuk menyadari bahwa tak hanya laki-laki, wanita pun punya hak untuk melewatkan hidup mereka dengan menikmati kesenangan seksual, tanpa harus dipusingkan soal hamil dan merawat anak.
Ketidaksadaran itu pada akhirnya menyebabkan terganggunya keharmonisan hubungan seksual mereka. Kehidupan seksual yang harmonis itu kehidupan seksual yang dapat dinikmati bersama oleh suami-istri. Hubungan itu menjadi tidak harmonis jika hanya dinikmati oleh satu pihak. Untuk itu suami dan istri tak boleh malu mengakui bahwa dalam hubungan seksual yang harmonis memang diperlukan proses belajar.
Ya, setiap pasangan suami-istri seyogianya mau mempelajari hal-hal baru untuk kelangsungan kehidupan seksual mereka. Selain karena faktor fisik, kehidupan seksual juga dipengaruhi oleh komunikasi pribadi suami-istri, sikap suami-istri pada saat akan melakukan hubungan seksual, rangsangan seksual yang diterima dan dilakukan, serta posisi saat berhubungan seksual.
Setiap gangguan pada faktor-faktor tersebut dipastikan mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap keharmonisan hubungan seksual. Kedengarannya ruwet, tapi pasti ada jalan keluarnya.
Kalau kejenuhan mulai terasa, saran Anita, sebaliknya masalah itu dikomunikasikan dengan pasangan. Untuk mengusirnya, cobalah melarikan diri dari rutinitas dan kesibukan kerja sehari-hari. Misalnya dengan melakukan hal-hal yang dulu membuat api cinta tetap membara saat masih pacaran. Bisa di rumah, tapi bisa juga di tempat lain. Kalau hal itu belum membantu, ada baiknya mulai menemui konsultan perkawinan.
Sekedar mengingatkan, ada perbedaan antara fase rangsang seks wanita dan pria, baik sebelum, ketika, maupun sesudah melakukan hubungan seksual (fase rangsang, fase plateau, dan fase resolusi). Pada wanita, fase rangsangan butuh waktu lebih lama. Untuk mencapai orgasme, ia membutuhkan banyak syarat. Sedangkan laki-laki, begitu terangsang, segera cepat mengatasinya. Namun, wanita bisa berorgasme beberapa kali, karena fase resolusinya singkat. Beda dengan fase resolusi pria yang cukup lama. Mulai dari beberapa menit hingga beberapa bulan, bagi mereka yang berusia lanjut.

 Learning by doing
Sebetulnya keinginan seksual wanita dan pria sama. Wanita di kota-kota besar sudah aware bahwa mereka berhak menuntut kegiatan seksual yang maksimal, optimal, dan berkualitas serta menimbulkan kenikmatan seksual sama dengan pria. Dahulu sebagai orang timur, wanita pasrah terhadap keinginan seksual laki-laki. Namun sekarang tidak lagi. Kini seorang wanita tak sungkan lagi meminta jika libidonya meninggi.
Suami-istri juga harus bisa berkomunikasi tentang apa yang disukai dan tidak disukai. Misalnya tentang bagian-bagian erotis yang peka. Baik wanita maupun pria memiliki daerah-daerah erotik tertentu, selain organ genital yang merupakan erotic zone paling maksimal. Hubungan seksual itu learning by doing. Walaupun dengan pasangan tetap, setiap hubungan seksual yang satu dengan yang lain tidak akan sama.
Keinginan satu orang dengan yang lain tidak sama. Misalnya, tergantung mood. Pada wanita mood atau suasana hati sangat berpengaruh. Hati, emosi, dan perasaan pada pasangan akan menentukan kualitas hubungan seksualnya. Ketika letih atau kesal pada suami, kualitas hubungan seksualnya niscaya akan berkurang.
Karena itu Anita menyarankan agar wanita tidak melakukan hubungan seksual pada saat capek, walaupun di dalam hati ngebet sekali. Sebaliknya, ada juga laki-laki tertentu yang justru lebih bergairah saat capek. "Jadi, berlawanan dengan wanita. Padahal hubungan seksual harmonis harus diinginkan dua belah pihak", jelas Anita. Waktu yang paling pas konon di pagi hari saat badan segar dan pikiran belum terpolusi. Selain itu hormon estrogen berada pada titik puncak saat pagi hari.

Suksesnya sebuah hubungan seksual juga berawal dari rangsangan yang diterima. Rangsangan itu bisa muncul lewat lima panca indera. Rangsangan dari luar itu ditangkap otak sebelum sinyalnya kemudian ke organ genital. Wanita terangsang lewat sentuhan dan pendengaran. Kata-kata manis, kata-kata menghibur yang disertai sentuhan, juga akan menimbulkan rangsangan.

Beda dengan laki-laki yang cenderung terangsang lewat visual. Begitu liat wanita cantik, langsung bereaksi, terutama ketika usia muda. Istilahnya, 'pandangan hidup', baru dipandang saja sudah hidup. "Yang jadi masalah, karena gairah laki-laki hanya muncul oleh rangsangan visual, umumnya ia cuek pada pasangan", jelas androlog yang praktik di RS Husada dan RS Graha Medika itu.

Lelaki asyik menuntut pasangan agar menyenangkan matanya, tetapi tidak memperhatikan kebutuhan pasangan. Padahal istri ingin dibelai, dicumbu, dan dirayu dengan kata-kata mesra.

"Kepedulian suami itu sangat penting, supaya istri timbul gairahnya saat ia tidak sedang terangsang", terang Anita lagi.    
 

 Ciumlah secara berbeda

Sementara itu dr. Naek L. Tobing menambahkan, selain terstimulasi oleh mata, pria juga gampang terangsang lewat indera penciuman. Artinya, bau parfum istri saja sudah cukup untuk membawa alam pikir suami ke 'arah sana'. Sebaliknya, "Wanita lebih sulit, karena sentuhan macam mana yang mereka tuntut susah ditebak, karena sangat spesifik", jelas Naek.

"Itu sebabnya, kadang penampilan seorang pria tidak lagi penting buat seorang wanita. Asalkan sikapnya santun, ngobrolnya enak, dan yang terpenting tahu cara memperlakukan wanita, itu saja sudah cukup sebagai modal", terang Naek. Hal itu menjelaskan, mengapa banyak wanita memutuskan bersedia menikah dengan seorang pria, hanya lantaran jatuh hati pada kebaikan-kebaikan di luar fisik.

Bahkan walaupun sudah menjalani pernikahan cukup lama, wanita tetap membutuhkan sentuhan. Makin bertambah umur, sentuhan itu harus makin istimewa, lebih bagus lebih lama, dan meninggalkan kesan lebih mendalam. Misalnya, ketika meraba payudara, jangan terkesan seperti asal pegang saja. Namun, perlakukan dengan penuh perasaan. "Jangan asal just go saja", saran Naek.

Selain itu masih tambah Naek, "Jangan hanya fokus pada satu 'titik' saja". Ketika meraba payudara misalnya, rambah juga daerah sensitif lainnya, seperti bibir dan lidah. Jadikan momen itu saat-saat yang begitu istimewa buat wanita, sehingga menjadi awal bagus untuk proses hubungan selanjutnya. Bila pria hanya memberi sentuhan biasa-biasa saja, otomatis wanita akan bosan. Begitu wanita bosan, pria pula yang kena dampaknya. Hubungan seksual jadi hambar.

Wanita juga membutuhkan cumbuan. Pada wanita yang makin tua, cumbuan yang dibutuhkan harus lebih lama. Seperti sentuhan, pasangan sendirilah yang harus bisa merasakan bagaimana ciuman dapat menggairahkan istri. Ciuman yang selama ini dilakukan jangan rutin dan itu-itu saja. Diperlukan ciuman berbeda yang dapat membuat istri bergairah kembali. Pada wanita-wanita modern, mereka bahkan membutuhkan french kissing (ciuman menggunakan lidah).

Sayangnya, masih banyak pria yang tak tahu, sentuhan dan cumbuan tadi besar nilainya buat wanita. Terutama sentuhan yang berbentuk belaian dan pijatan. Anita menawarkan variasi sentuhan yang disebutnya sensual massage alias kegiatan saling memijat sebagai terapi yang asyik dilakukan pasangan suami-istri. Dijamin, jika dilakukan dengan benar, aksi ini bakal membuat gairah pasangan melesat setinggi langit.

Jangan menunggu sampai suami atau istri terserang penyakit degeneratif, yang kabarnya tak lagi monopoli pria dan wanita usia 50-an tahun ke atas. Belakangan banyak pria dan wanita terserang penyakit degeneratif di usia 35-an tahun. Lebih baik lagi jika langkah ini dibiasakan sejak awal hubungan suami-istri. Sebab pada dasarnya sentuhan itu kepedulian. Lewat sentuhan, seseorang ingin mengungkapkan bahwa dirinya care pada orang lain.

"Ini lho bukti peduliku padamu. Ekspresi cintaku padamu", tegas Anita memberi contoh. Kegiatan saling memijat juga dapat mendekatkan hubungan batin pasangan, selain berfungsi sebagai foreplay. Bila dilakukan di tempat yang tepat, mood yang tepat, pijatan akan otomatis memperlancar hubungan seksual. Pijatan pun melatih kesabaran, terutama pihak pria agar tidak to the point dalam melakukan hubungan intim.

Kesabaran itu ujung-ujungnya juga akan meningkatkan kualitas hubungan seksual. Jangan lupa, wanita umumnya menyukai hubungan yang perlahan tapi pasti. Sampai detik ini, bagi sebagian pria, wanita tetap menjadi misteri, termasuk dalam sisi seksualitasnya. Namun, hal itu sebenarnya lebih karena pria masih belum memahami bagaimana cara merawat perasaan dan emosi mereka, setelah memasuki jenjang rumah tangga.

Makanya, belajar terus dan terus belajar.                                            

         

 

(Nis Antari)


 

G-spot adalah julukan bagi The Grafenberg Spot. Sebutan ini diambil dari nama pria yang pada 1950-an mulai memperhatikan betapa pentingnya titik-titik erotis. Merangsang bagian ini terus menerus bisa memicu orgasme 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.