HEALTHY SEXUAL LIFE

 

 

Pengurbanan Demi Bara Asmara

Aktivitas seksual yang bersifat rekreatif dapat saja terganggu manakala hubungan anda dengan pasangan - lantaran satu dan lain masalah - sedang memanas. Untuk memulai kembali hubungan pasca-gencatan senjata itu, perlu pengurbanan pasangan. Masalahnya, siapa yang harus berkurban?          

Pernah menonton acara Infotainment di televisi? Coba perhatikan bagaimana pasangan selebriti yang sedang saling jatuh cinta atau baru jadi pengantin baru. Seakan-akan Surga diturunkan Tuhan ke bumi. Semuanya serba indah. Kata-kata indah, genggaman tangan indah, lirikan mata indah, masa depan indah. Pokoknya tiada yang lebih indah dari indahnya cinta.

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di tempat tidur pada malam harinya (atau kalau sudah tak sabar, sore harinya pun boleh). Gelora cinta yang membara, diembuskan, disalurkan, dibisikkan, dipancarkan.....dan semua berakhir dengan indah (lagi lagi indah). Tubuh berbalut tubuh, mata terpejam, napas satu-satu.....tetapi indaaaah......

Tetapi cobalah tunggu beberapa bulan atau setahun dua tahun lagi. Bahkan ada yang 10 tahun. Pasangan yang sama, dengan berbagai alasan masing-masing, juga di depan kamera infotainment, saling bertukar kata yang sama sekali tidak indah. Kata-kata yang keluar penuh nada benci dan dengki; dibumbui dengan kasus perebutan anak dan harta gono-gini. Bagaimana kalau sudah beginiii?

Saya memang belum pernah masuk ke kamar selebriti yang habis saling berantem, tetapi saya bisa membayangkan bahwa tidak ada lagi keindahan di tempat tidur mereka. Yang ada barangkali hanya tempat tidur berantakan yang jarang dibersihkan, bahkan suami istri mungkin sudah tidak tidur sekamar lagi.

Masalahnya sekarang, bagaimana ya membangkitkan kembali bara api cinta yang sudah terlanjur padam itu?

 

Skakmat suami

Saya sengaja menyebutkan contoh infotainment, karena saya tahu bahwa hampir semua orang Indonesia menonton infotainment. Jadi, tanpa menyebut nama, kita semua tahu siapa yang dimaksud. Tetapi dalam tulisan ini saya tidak akan mengajak anda untuk membahas gosip tentang para selebriti itu. Saya justru ingin mengajak pembaca untuk menengok ke diri anda sendiri, ke lingkungan terdekat anda.

Semua yang terjadi dalam acara infotainment itu terjadi juga di luar layar kaca, di lingkungan kehidupan kita sehari-hari, bahkan mungkin terjadi pada diri anda atau pasangan. Alasannya bisa macam-macam. Bisa karena ada wanita/pria idaman lain (wil/pil, ini yang paling sering), atau karena istri lebih bagus kariernya daripada suami, atau campur tangan mertua terlalu banyak, atau memang fisik sudah tidak elok lagi.

Namun apa pun alasannya, kalau hubungan sudah mulai renggang tidak akan ada lagi api cinta yang membara di antara kita. Kalau dipaksakan, dampaknya pada istri adalah rasa tidak senang, mual, muak, mau muntah (apalagi kalau ada wil dan teringat bagaimana sang suami yang sedang berada di atasku ini, melakukannya dengan sang perempuan itu), atau sakit hati karena terpaksa atau dipaksa.

Jika mau, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk seorang istri melayani suami. Cukup dengan menyediakan tubuhnya saja untuk suami. Boleh dengan berpura-pura menikmati bara api cinta itu, tetapi kalau anda memilih pasif pun tak apa, karena setelah suami puas, maka semua persoalan selesailah buat sang suami.

Lain halnya kalau yang terpaksa atau dipaksa itu sang suami. Misalnya istri meminta bukti bahwa suami masih mencintainya. Nah, di sinilah suami akan mati langkah, atau skakmat (meminjam istilah catur). Pasalnya untuk bisa membuktikan cintanya itu, suami haruslah berereksi, yang artinya pembuluh-pembuluh darah di bagian bawah badan laki-laki itu harus terbuka lebar semua, sehingga darah bisa mengalir deras ke dalamnya, dan membuat bagian itu bisa sekeras tiang listrik.

Padahal untuk tujuan tadi sang suami harus punya bara api cinta yang benar-benar menyala di otaknya, sehingga otak mampu memberi perintah-perintah tertentu kepada saraf, pembuluh darah di bagian tertentu itu. Tanpa bara api yang benar-benar menyala di otak sang suami, ereksi tidak akan mungkin terjadi, dan tidak mungkinlah ada damai antara kita (suami istri). Ereksi tidak bisa dibuat-buat, sehingga tidak mungkinlah seorang lelaki berpura-pura ereksi.

 

Istri yang sulit

Anehnya, dalam ruang praktik saya, jarang ada suami yang minta nasihat bagaimana caranya untuk bisa memenuhi hasrat istrinya. Walaupun mungkin mereka ada wil, tetapi dengan istrinya juga masih mampu ereksi. Mungkin benar kata beberapa pakar seksologi yang menganut aliran Darwinian (teori evolusi Charles Darwin), yaitu manusia tergolong jenis hewan primata (golongan kera) dan primata jantan memang bersifat poligini (mampu berhubungan seks dengan lebih dari satu betina).

Kemungkinan lain adalah lelaki tidak mau susah. Kalau benar dia tak sanggup ereksi dengan istrinya, ia cari saja 1001 alasan untuk pergi ke tempat lain. Bisa ke tempat wil-nya, atau ke panti pijat komplet, tetapi tak jarang hanya ngobrol dengan teman-teman di cafe, atau kembali ke kantor dan bekerja sampai larut malam. Buat laki-laki, seks memang perlu tetapi tidak penting dan mudah didapat. Cepat lagi! Seperti bunyi iklan minuman: dengan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Bahkan bisa dengan melakukannya sendiri.

Lain halnya dengan perempuan. Buat perempuan (saya berbicara tentang perempuan pada umumnya, rata-rata ibu rumah tangga dan sejenisnya) seks adalah cinta dan cinta adalah seks. Jadi kalau mau berhubungan cinta (bahasa gaulnya ML, berasal dari kata Make Love) ia all out. Tumpahkan semua cintanya. Dia tidak perlu seorang pria bertubuh seperti David Beckham. Suami yang perutnya mulai membuncit dan kepalanya botak, tidak jadi masalah. Sekali dia sudah cinta, maka dia akan melakukan apa saja untuk menyalakan bara api cinta dengan suaminya.

Tidak mengherankan, jika ada pertengkaran hebat macam di infotainment itu, dan mereka ingin mencoba untuk balik lagi (biasanya demi anak-anak), justru pihak istri yang kesulitan untuk menerima suaminya lagi secara fisik. Ada saja penghalangnya. Ada yang tiba-tiba merasa jijik. Ada yang terbayang wajah perempuan itu. Ada seorang istri yang minta lampu dipadamkan, karena ia terbayang wajah wil itu, tetapi ketika lampu padam, malah wajah si wil itu makin jelas terbayang. Khususnya kalau suami sudah bersumpah bahwa ia sudah tidak berhubungan lagi, ternyata masih ada saja pesan pendek (sms) dari si wil di ponsel suami. Pokoknya persis seperti syair lagu 'sms' yang dipopulerkan oleh Trio Macan.

Jadi, bertanyalah seorang istri kepada saya di ruang praktik, "Bagaimana caranya menghadapi suami tipe SGBSP macam dia, Prof?"

Maka saya pun balik bertanya, "Loh, apa itu SGBSP, bu?"

"Sudah Gendut, Botak, Selingkuh Pula", jawab sang istri gemas.

 

Belajar dari cerita

Memang di sinilah kuncinya. Selama istri itu menganggap suaminya SGBSP, maka tidak akan ia bisa membangkitkan bara api cintanya dalam dirinya, dan sampai kapan jua dia tidak akan bisa menggairahkan suaminya.

Hubungan seks memang harus dari kedua pihak. Bukan hanya istri yang harus memuaskan suami, tetapi juga sebaliknya. Dalam kisah selebriti infotainment yang sedang mabuk cinta, hal ini tidak akan menjadi masalah. Berbagai buku sejenis Karma Sutra bisa menambah kualitas dan gairah hubungan mereka. Kalau perlu ditambah dengan Karma Nylon atau Karma Katun. Tetapi pada kasus SGBSP, jauh lebih sukar, dan bagian yang lebih sukar adalah membuang stigma SGBSP itu dari benak sang istri.

Artinya, walaupun masih ada sms, istri pura-pura saja tidak tahu. Terus saja layani suami, kalau perlu dengan pura-pura saja. Yang penting suami puas dan senang pada anda.

Mengapa si wil selalu menyenangkan suami anda (seringkali bahkan si wil lebih jelek wajahnya daripada istri yang sebenarnya)? Karena dia tidak pernah bertanya-tanya seperti anda, karena dia tidak cerewet dan tidak suka membantah, karena dia melepaskan sepatu suami anda dan melipatkan bajunya. Jadi anda harus lebih menarik dan lebih baik daripada si wil yang mana pun.

Dalam proses tarik menarik ini, kalau anda sabar, pasti akhirnya andalah (istri yang sah) yang akan menang. Mengapa? Karena anda punya kelebihan yang tidak dipunyai si wil, seperti anak-anak, martabat keluarga, dikenal baik di lingkungan kerja suami, di sekolah anak-anak, maupun di lingkungan tetangga.

Nah, di sini saya tahu banyak ibu atau istri atau wanita, khususnya para aktivis perempuan yang protes. Bagaimana mungkin perempuan saja yang disuruh mengalah sementara si laki-laki enak-enak saja dengan dua perempuan. Di mana letak keadilan?

Masalahnya, hubungan cinta tidak sama dengan mengurus negara, yang mengartikan keadilan sebagai sama rata sama rasa. Kalau saya diberi banyak, bolehlah saya pun memberi lebih banyak sedikit. Hubungan cinta adalah seperti bara api. Makin diembus, makin besar nyala api itu. Makin banyak anda memberi, makin banyak anda berkurban, makin besar anda memperoleh dari suami. Apalagi dalam hal bercinta, manusia memang tergolong primata. Primata jantan akan memilih yang terbaik dari betina-betinanya, dan seharusnya andalah yang terbaik itu.

Cobalah simak cerita-cerita klasik seperti Rama - Sita, Roro Mendut - Prono Citro, Sam Pek - Eng Tay, dan Romeo - Juliet. Kisah-kisah cinta yang dibaca orang berulang dan berulang, tidak pernah membosankan karena sangat menyentuh hati, dengan pesan bahwa semua cinta itu perlu pengurbanan.

Nah, mengapa ketika membaca buku-buku itu kita terlarut, sementara dalam kehidupan sesungguhnya kita hanya mau menangnya saja, tanpa pengurbanan?      

 

 

(Sarlito Wirawan Sarwono)


 

Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.