HEALTHY SEXUAL LIFE

         

SENYUM WINDA DI BALIK GANGGUAN SEKSUALNYA

 

Kasihan benar nasib kaum wanita dalam hal kehidupan seksual. Saat ini penelitian problem seksual pada mereka masih tertinggal 20-30 tahun di belakang pria! Namun seiring semakin terkuaknya disfungsi seksual pada mereka, terapi untuk mengatasinya mulai berkembang. Bagaimana mengenalinya?            

 

"Aku lagi punya masalah dengan suamiku nih", begitu jawab Winda kepada Thania ketika ditanya soal kegundahan yang tampak pada diri Winda. Kepada Thania, Winda mengeluhkan ketidaknyamanannya dalam berhubungan seksual. Meskipun sangat mencintai suaminya, saat berhubungan intim ia selalu berusaha agar kemesraan itu berlangsung secepat mungkin. Ia merasakan lubrikasi dalam organ seksualnya kurang memadai, sehingga terasa nyeri saat bersebadan. Ia juga tidak pernah memulai hubungan seksual, bahkan berusaha untuk sedapat mungkin menghindarinya. Ia pun hampir tak pernah merasakan dahsyatnya orgasme.

Wanita yang baru menikah tiga bulan ini merasakan suaminya, sebut saja Adi, memendam suatu perasaan. Pernah suatu ketika sang suami keceplosan menjulukinya sebagai 'biarawati bersuami' yang membuatnya marah. Ia mengaku enggan membicarakan persoalan ini dengan sang suami. Menurutnya, Adi memang pernah menyarankan Winda untuk bersama-sama berkonsultasi pada konsultan seks, namun ia belum siap.

Wanita muda dengan latar belakang keluarga yang menjunjung tinggi adat ketimuran ini merasa malu membicarakan masalah seksualnya pada Adi. Melihat gelagat yang kurang sehat itu, Thania menyatakan setuju pada saran Adi untuk segera berkonsultasi dengan seorang ahli. Mendengar dukungan dari sahabatnya sejak SMA itu, Winda pun memperlihatkan sinyal persetujuannya.

 

Yang terbanyak gangguan libido

Saat mengunjungi konsultan seks yang dipilihnya, Winda dan Adi menjadi tahu bahwa keengganan membicarakan problem seksual seperti yang dialami Winda saat ini masih banyak terjadi. Kungkungan tradisi membuat mereka masih menganggap tabu berbicara soal seks kepada suami mereka sekalipun. Masih banyak yang menganggap fungsi utama wanita hanya melahirkan, sehingga hanya pria yang dianggap bisa mengalami disfungsi seksual dan perlu mendapatkan pertolongan.

Akibatnya, kasus disfungsi seksual pada wanita amat jarang muncul ke permukaan. Bahkan penelitian tentang disfungsi seksual pada wanita pun masih sangat terbatas. Akibatnya, penelitian problem seksual pada wanita masih tertinggal 20-30 tahun di belakang pria. Nah lho!

Masih beruntung meski tertinggal jauh, masalah disfungsi seksual pada wanita mulai terkuak. Penelitian yang dilakukan The National Health and Social Life Survey di Amerika Serikat tahun 1999 terhadap 1622 wanita usia 18-59 tahun mendapatkan angka penderita disfungsi seksual wanita sekitar 43%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang 'cuma' 31%. Dari data itu diketahui, sebanyak 18,8% mengeluh berkurangnya lubrikasi pada vagina, dan 21,2% mengeluh rasa tidak nyaman saat bersenggama.

"Bagaimana dengan Indonesia?", begitu tanya Winda dan Adi serempak sebelum akhirnya mereka saling memandang.

Dalam penelitian awal mengenai disfungsi seksual pada wanita yang dilakukan oleh Subbagian Urologi FKUI/RSCM pada tahun 2002 terhadap 560 responden wanita dengan rentang usia 20-73 tahun didapatkan angka penderita disfungsi seksual wanita sebanyak 15,2%. Dari angka itu, gangguan terbanyak (berdasarkan urutan dari yang tertinggi) adalah gangguan libido (gairah), gangguan lubrikasi, gangguan orgasme, dan gangguan nyeri pada saat berhubungan.

 

Dari gangguan libido sampai nyeri

Melihat Winda dan Adi antusias mendengarkan penjelasan soal disfungsi seksual pada wanita, sang konsultan semakin bersemangat memperdalam pengetahuan mereka.

Gangguan seksual yang diklasifikasikan sebagai disfungsi seksual pada wanita meliputi gangguan libido (gairah), gangguan arousal (rangsangan), gangguan orgasme, dan nyeri. Klasifikasi itu didasarkan pada konsensus internasional yang disponsori oleh The Sexual Function Health Council of The American Foundation for Urologic Disease (AFUD) tahun 1999 di Boston.

Ada dua macam disfungsi seksual yang termasuk dalam gangguan libido pada wanita, yakni hipoaktif dan gangguan aversi. Seseorang dinyatakan menderita hipoaktif bila dia merasakan kekurangan atau kehilangan fantasi atau pikiran tentang seks, keinginan untuk melakukan aktivitas seksual, dan reaksi terhadap rangsangan seksual yang menyebabkan 'stress' pada yang bersangkutan.

Gangguan hipoaktif ini bisa disebabkan oleh faktor medis, emosi (depresi), atau menopause (karena proses alami atau tindakan operasi). Sementara kalau mengalami ketakutan atau menghindar dari kontak seksual dengan pasangan yang bersifat menetap atau berulang sehingga mengganggu, seseorang dinyatakan menderita gangguan aversi. Gangguan ini juga diklasifikasikan sebagai gangguan fobia yang dapat disebabkan faktor fisik atau sexual abuse atau trauma masa kecil.

Mendengar penjelasan ini dahi Winda berkernyit. "Jangan jangan saya mengalami gangguan jenis ini", ujarnya dalam hati. Namun ia tetap ingin mendengarkan 'ceramah' konsultan di hadapannya yang masih berlanjut.

Pada gangguan arousal, penderita tidak mampu mencapai atau mempertahankan lubrikasi genital yang adekuat (cukup) atau swelling dan respons tubuh lainnya (seperti sensitivitas puting payudara) yang bersifat menetap atau berulang, yang menyebabkan stress pada yang bersangkutan. Termasuk di dalam gangguan arousal ini di antaranya berkurangnya lubrikasi vagina, penurunan sensasi pada klitoris dan labial, berkurangnya engorgement (pembesaran atau pembengkakan) klitoris dan labial, atau berkurangnya perpanjangan, dilatasi atau rangsang seksual pada vagina.

Walaupun gangguan itu disebabkan faktor berulang yang dapat menyebabkan depresi, namun dapat juga disebabkan faktor medis seperti berkurangnya aliran darah menuju vagina atau klitoris. Beberapa wanita dengan problem seksualnya berasal dari faktor yang bersifat fisik dapat berkembang menjadi problem yang bersifat psikologis dan gangguan ini termasuk juga dalam kategori ini.

Bila terjadi kesukaran atau ketidakmampuan mencapai 'orgasme' itu artinya terjadi gangguan orgasme. Gangguan orgasme dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu primer dan sekunder. Disebut gangguan orgasme primer jika penderita tidak pernah mencapai orgasme. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor emosional atau trauma seksual. Beberapa faktor medis seperti kerusakan persarafan di daerah pelvis akibat tindakan operasi juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan orgasme primer ini.

Sementara pada gangguan orgasme sekunder penderita tidak mencapai waktu orgasme yang panjang. Penyebabnya antara lain tindakan operasi, kekurangan hormon, atau trauma. Tindakan clitoridectomy pada beberapa budaya di Afrika, Timur Tengah, dan Asia diduga mempunyai peran terhadap terjadinya disfungsi seksual pada wanita ini.

Gangguan orgasme juga dapat disebabkan oleh faktor seperti usia, biasanya timbul pada masa postmenopause. Perubahan yang terjadi pada uterus dan labia mayor menyebabkan orgasme menjadi singkat dan kontraksinya lemah. Kadang-kadang orgasme menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Faktor psikologis juga dianggap sebagai faktor yang paling berperan pada terjadinya gangguan orgasme. Faktor-faktor itu adalah depresi, rasa cemas, konflik dengan pasangan, perasaan takut ditinggalkan, dan lain-lain.

Lalu Winda dan Adi dihadapkan pada istilah dyspreunia, vaginismus, dan gangguan nyeri seksual. Kalau nyeri terjadi saat bersenggama, bersifat berulang atau menetap, gangguan ini disebut dyspreunia. Penyebabnya dapat faktor medis (infeksi atau penipisan vagina selama menopause) atau akibat tindakan operasi di daerah vagina dan vulva. Dapat juga disebabkan faktor psikologis atau refleks akibat konflik emosional dengan pasangan.

Pada vaginismus terjadi spasme (kejang) otot pada sepertiga bawah vagina di luar kesadaran sehingga menghalangi penetrasi ke dalam vagina. Vaginismus biasanya terjadi akibat respons dari penetrasi yang sangat nyeri. Namun dapat juga disebabkan faktor emosional atau problem interpersonal.

Sementara, dinamakan gangguan nyeri seksual bila nyeri timbul akibat rangsangan seksual tanpa senggama. Walaupun rangsangan seksual menjadi pemicu terjadinya nyeri ini, tetapi infeksi pada vagina, mutilasi genital (upacara ritual pada beberapa negara seperti upacara sunat pada wanita Asia dan Afrika) atau vestibulitis, proses peradangan atau rasa terbakar pada mulut vagina, juga dapat menjadi penyebabnya.

 

Yang konsultasi kebanyakan suami

Wawasan Winda dan Adi soal disfungsi seksual pada wanita semakin bertambah. Namun mereka tetap mengonsentrasikan indera pendengaran mereka pada setiap ucapan sang konsultan yang ingin pasiennya memiliki pengetahuan seks cukup untuk kebahagiaan mereka.

Sang konsultan melanjutkan penjelasannya bahwa penyebab disfungsi seksual pada wanita memang sangat kompleks: dapat berupa psikis, fisik, atau keduanya (tipe campuran). Salah satu penyakit yang dianggap berperan dalam terjadinya disfungsi seksual yang bersifat organik adalah penyakit diabetes mellitus (DM) atau kencing manis. Pada penyakit ini dapat terjadi komplikasi yang bersifat vaskuler (pembuluh darah) maupun neurologis (persarafan), yang selanjutnya menyebabkan gangguan seksual pada wanita.

Beberapa obat psikotropika seperti monoamine oxidase inhibitors dan tricyclic antidepressants juga punya peranan terhadap terjadinya gangguan seksual. Obat-obatan penghilang rasa sakit dan penyalahgunaan obat juga dianggap ikut berperan. Walaupun gangguan seksual kadang merupakan gejala depresi, tetapi dapat juga sebagai efek sampingan dari obat-obatan psikotropika.

Diperkirakan hampir 50% wanita dan pria yang menggunakan obat-obatan antidepressan mengalami gangguan seksual. Gangguan yang ditimbulkan bervariasi pada setiap individu dan kadang-kadang tumpang tindih. Misalnya gangguan orgasme yang merupakan akibat dari kegagalan mencapai fase arousal; jika keadaan ini bersifat menetap, maka dapat menyebabkan gangguan libido (hipoaktif). Sampai saat ini belum ada obat pencegahnya.

Tidak mudah memang untuk mencari faktor penyebab disfungsi seksual pada wanita. Sangat sulit untuk dapat membuat wanita mau berterus terang akan gangguan seksualnya. Mungkin mereka lebih suka bercerita kepada teman sesama wanita dibandingkan dengan kepada suami. Hal ini dapat dimaklumi mengingat mereka sering terperangkap oleh rasa malu bila harus mengungkapkan keluhan dan keinginan tentang seks mereka kepada pasangannya.

Budaya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita tidak memungkinkan untuk itu. Malah kebanyakan pasien yang datang pertama kali ke konsultan seks adalah para suami. Dari keadaan ini dapat disimpulkan, ternyata saat ini sudah terjadi pergeseran ke arah yang lebih positif di mana kesadaran kaum pria untuk membawa pasangannya ke konsultan seks merupakan langkah awal untuk membawa masalah disfungsi seksual wanita keluar dari ketertutupannya.

Peranan pasangan dalam pengobatan disfungsi seksual wanita ikut memberi andil besar untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dari survei yang dilakukan ternyata wanita yang dicintai oleh pasangannya lebih mudah mencapai orgasme daripada wanita yang kurang dicintai oleh pasangannya.

Sampai saat ini para pakar seks masih terus melakukan studi untuk terapi disfungsi seksual pada wanita. Terapi-terapi yang diberikan hingga saat ini masih perlu evaluasi lebih lanjut.

"Jadi apa yang istri saya alami ini tidak bisa disembuhkan?", tanya Adi yang kali ini justru mengalami kegundahan.

"Oh, enggak usah khawatir, ada beberapa pasien saya yang pada konsultasi terakhirnya pada saya menunjukkan mimik bahagia dan menyampaikan terima kasih saat bersalaman untuk berpamitan", jawabnya.

Kali ini wajah Winda dan Adi kembali ceria.

                    

 

(DR. Laura Sitanggo Mavendry)


 

Ciuman mesra merupakan salah satu pengalaman yang dirasakan paling menyenangkan bagi banyak pasangan. Wanita biasanya sangat suka disentuh bagian tubuh lainnya ketika berciuman 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.