HEALTHY SEXUAL LIFE

 


SEX - Kewajiban atau Kebutuhan

Aktivitas seksual sebagai kewajiban atau kebutuhan? Pertanyaan ini lebih ditujukan ke pihak perempuan sebab jika ditanya ke para lelaki kebanyakan akan bilang ya wajib, ya butuh! Ah, soal urusan itu lelaki memang selalu on, sedangkan perempuan sulit untuk selalu menjaga on.

Bicara soal seks memang gampang-gampang susah. Di satu sisi seks dan permasalahannya telah dibawa ke ruang umum melalui diskusi-diskusi atau berbagai seminar. Namun tak bisa dipungkiri masih ada sisi kegamangan terkait dengan sikap tradisional dan konvensional serta norma agama yang menyelubunginya. Padahal, berkaca dari ruang praktik, justru kegamangan ini memberikan kontribusi yang besar terhadap persoalan psikologis pada pasangan suami istri, atau pasangan yang masih berpacaran.

Di pihak lain, perkembangan ilmu dan teknologi informasi telah membuat banjirnya stimulasi dan informasi berunsur erotik-seksual yang mengundang beragam respons emosi. Hal yang menjadi masalah krusial terutama dalam budaya kita adalah sering masuknya emosi negatif saat mendengar informasi tentang seks dan permasalahannya, walaupun informasi tadi didapat dari para pakar sekalipun. Membaca artikel soal seks cs pun sering kita lakukan secara sembunyi-sembunyi demi menutupi rasa malu dan takut. Kondisi ini disebabkan oleh tatanan budaya yang menempatkan seks sebagai suatu misteri, penuh tabu, dan memalukan untuk didiskusikan secara umum. Agar terhindar dari tekanan mental akibat konflik antara kebutuhan erotisme yang manusiawi dengan tatanan moral yang terlampau ketat dalam pengendalian kebutuhan erotik-seksual, maka sudah sepatutnya kita membekali diri dengan sikap seksual yang positif dan keterbukaan diri terhadap informasi seks dan permasalahannya, sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Yah, mirip saat kita membahas bagian tubuh lain (seperti jantung, paru-paru, dan hati) secara ilmiah, bukankah tanpa membawa emosi tertentu? Seharusnyalah seperti itu kala kita membuka diri terhadap informasi tentang organ seks dan fungsinya. Positif dan objektif. Seperti halnya organ tubuh lain, seksualitas juga memiliki sistem anatomi dan fisiologi yang spesifik, yang seyogyanya ditempatkan sejajar dengan sistem anatomi dan fisiologi organ tubuh manusia lainnya.

 

Prokreatif, rekreatif, well-being

Saddok etal (1976) membagi sistem seksualitas manusia menjadi empat subsistem: seks biologis (kromosom, hormon, karakteristik primer, dan sekunder), identitas seksual (sering disebut inti identitas jender yaitu rasa kelaki-lakian dan keperempuanan), identitas jender (rasa maskulinitas dan feminitas), peranan tingkah laku seksual (mencakup 2 hal: tingkah laku seks yang didasari oleh keinginan mencapai kenikmatan seksual dan tingkah laku jender yakni tingkah laku dengan konotasi maskulin dan feminin).

Pada orang dewasa yang telah mencapai identitas diri yang optimal, keempat subsistem tadi berkembang dan berfungsi dengan maksimal. Dalam arti individu tersebut berperilaku sesuai dengan kodrat jenis kelamin biologisnya, dengan identitas seksual yang sesuai dan wajar dalam fungsinya. Dalam hal ini minat heteroseksualnya diikuti dengan kemampuan menjalin relasi heterososial yang sehat. Jadi, laki-laki dewasa membutuhkan pasangan perempuan yang dewasa serta selaras dengan tatanan norma yang berlaku, demikian pula sebaliknya.

Tercapainya identitas diri pada fase seksualitas dewasa ditandai oleh beberapa karakteristik. Pertama, mampu menerima kekurangan dan kelebihan diri serta kekurangan dan kelebihan orang lain - baik fisik, intelektual, emosional - dengan jiwa besar, sehingga ia mampu menempatkan diri secara wajar dalam lingkungan sosial tempat ia berada.

Kedua, memiliki sikap seksual yang positif, artinya ia mampu menempatkan masalah seks dan seksualitas secara proporsional dalam kerangka normatif yang berlaku. Sikap seksual yang positif ini merupakan perolehan integratif dari perkembangan psikoseksual yang sehat pada fase seksualitas infantil dan remaja. Dalam hal ini, pola asuh serta bagaimana keluarga pada umumnya menanamkan aturan normatif yang terkait dengan seks dan seksualitas sangat memegang peranan penting.

Dengan menempatkan sistem seksualitas secara berimbang dan setara dengan sistem organ tubuh yang lain, maka anak-anak dan remaja tidak perlu risi saat membutuhkan informasi soal itu. Alhasil, suatu hari nanti akan terbentuk sikap seksual yang positif. Sebaliknya, bila masalah seks ditempatkan sebagai sesuatu yang tabu, menjijikkan, dan tidak layak diskusi, yang timbul adalah sikap seksual negatif yang justru dapat menghambat proses menuju fase seksualitas dewasa.

Ketiga, memiliki orientasi masa depan yang relatif jelas disertai oleh sikap hidup yang optimistik. Keempat, memiliki rasa kecukupan diri, kepekaan sosial, dan tanggap terhadap perubahan lingkungan dengan sikap yang realistik. Kelima, memiliki kedewasaan sosial, yakni mampu menghidupi diri sendiri secara ekonomis. Keenam, mampu menentukan pilihan untuk tetap hidup hidup sendiri atau mengikatkan diri dalam ikatan perkawinan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Kadar optimasi pencapaian identitas diri tidak dapat dipisahkan dari ketangguhan identitas seksual serta identitas jender yang diperoleh seseorang. Oleh karenanya, kehidupan seksual dewasa sering dikaitkan dengan perkawinan, walaupun tidak berarti bahwa orang dewasa, baik laki-laki atau perempuan, yang memilih untuk tidak terikat pada perkawinan adalah seseorang yang terhambat dalam fase seksualitas dewasa. Karena perkawinan itu sendiri adalah suatu pilihan, setiap individu berhak memilih hidup sendiri atau berkeluarga.

Ada tiga fungsi seks pada fase seksualitas dewasa bagi pasangan perkawinan. Pertama, untuk tujuan prokreatif, artinya dengan kesepakatan untuk membina rumah tangga, pasangan perkawinan pada umumnya menginginkan keturunan, sebagai buah kasih sayang di antara pasangan perkawinan. Kedua, untuk tujuan rekreatif, artinya dengan melalui hubungan intim antar suami istri maka kedua pasangan mendapatkan kesempatan memperoleh efek rekreatif yang menyenangkan kedua pasangan. Tujuan rekreatif dari hubungan suami istri baru dapat dihayati kedua pasangan, apabila penyesuaian kehidupan seksual antar pasangan tercapai dengan optimal. Dalam hal ini, bekal sikap seksual yang positif pada kedua pasangan merupakan persyaratan yang tidak dapat dipungkiri.

Ketiga, untuk tujuan well-being. Artinya, kedua pasangan merasa berbahagia dalam kebersamaannya karena tercapainya tujuan prokreatif sekaligus rekreatif. Kondisi relaksasi emosional sebagai hasil tercapainya tujuan ketiga ini akan sangat berpengaruh bagi optimasi fungsi mental secara menyeluruh, sehingga pasangan merasa berbahagia dalam ikatan perkawinan yang selama ini mereka jalin.

Untuk aspek well-being tadi, rupanya kita perlu menyempurnakan pemahaman melalui ungkapan filosofis dari seksualitas manusia. Makna filosofis dari seksualitas manusia adalah ekspresi pribadi secara total, suatu bentuk khusus dari komunikasi. Seksualitas membawa kebutuhan untuk menikmati diri, untuk mencintai dan dicintai, serta berbagi cinta. Sebenarnya dalam relasi seks kita menyertakan keakuan kita, total ego kita. Hubungan seksual sinonim dengan komunikasi tubuh-jiwa. Dalam bercinta, kita menciptakan keindahan cinta dengan jiwa serta seluruh organ-organ tubuh melalui hubungan seks yang terjalin antara kita dengan pasangan.

Kebutuhan untuk mencintai telah ada dalam diri kita. Jika kita mencintai diri kita, kita pun akan mampu mencintai orang lain, dalam hal ini pasangan kita. Untuk mengharapkan cinta dari pasangan kita, kita harus dapat membuat diri kita dapat dicintai. Untuk itu suatu citra diri yang positif adalah kunci untuk menikmati hidup.

Untuk menikmati diri sendiri dibutuhkan sikap yang benar terhadap diri sendiri, suatu sikap percaya diri sendiri. Artinya, kita telah mencapai identitas diri yang optimal, yaitu saat keempat subsistem seksualitas berkembang dan berfungsi dengan optimal pula. Bercinta adalah ilmu sekaligus seni. Kita semua butuh mempelajari seks dan permasalahannya, karena kebahagiaan seksual adalah bagian dari kebahagiaan total dalam hidup kita.

 

Sikap seksual negatif

Dari landasan filosofis dasar pemaknaan seksualitas manusia maka kita benar-benar memahami bahwa seksualitas adalah kebutuhan hakiki manusia yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Kasus-kasus berikut bisa menjadi contoh.

"Saya tidak membutuhkan seks, bu. Kalaupun saya lakukan, itu karena kewajiban saja. Apalagi suami saya sama sekali tidak memperhatikan keadaan saya. Dia tidak pernah tahu apakah saya memperoleh kepuasan atau tidak. Dia tipe suami yang saat membutuhkan hubungan seksual, tanpa basa basi, langsung saja melakukannya. Tidak ada yang namanya cumbu rayu. Setelah selesai melakukannya, ia akan membalikkan badan dan langsung ngorok. Terkadang saya kesal, karena saya baru mulai terangsang.

"Akhirnya saya pasif. Diam saja, meski saya tidak pernah memperoleh 'kenikmatan seksual' seperti yang saya dengar dari teman sesama ibu rumah tangga lain. Ya sudahlah, apalah artinya seks bagi saya. Yang penting saya telah melayani kebutuhan seks suami, sehingga minimal saya tidak berdosa. Saya takut pada Allah SWT, karena dalam kitab suci dinyatakan bahwa adalah kewajiban seorang istri yang solehah untuk melayani kebutuhan seksual suaminya.

"Yang saya butuhkan saat ini adalah perhatian suami pada anak-anak, terutama tentang pendidikan mereka. Dia begitu acuh tak acuh, pulang kantor langsung menonton televisi. Bahkan makanpun di depan televisi. Atau nonton televisi setelah dia selesai baca koran yang dibelinya saat perjalanan pulang kantor. Kalau saya berusaha menarik perhatian dengan menceritakan perilaku anak-anaknya, dia hanya menengok sebentar sambil sesekali bergumam hmm, hmm...., sambil matanya tetap tertuju kembali ke layar televisi. Kesal saya, bu.

"Ibu, apa yang harus saya lakukan agar suami dapat membagi waktunya untuk memperhatikan tiga orang anaknya, dua laki-laki dan satu perempuan yang sedang tumbuh".

 Begitulah keluh Sinta (39) - nama samaran, dengan raut muka kusut masai tanpa sinar kebahagiaan sama sekali serta air mata memenuhi pelupuknya.

Lain lagi dengan Lesmana, juga nama samaran. Pria berusia 43 tahun ini bercerita perihal istrinya yang karena tidak pernah mengalami kepuasan dan kenikmatan orgasme menderita sakit kepala berlanjut. Padahal, "Anak saya empat orang, bagaimana mungkin istri saya tidak pernah mendapat pengalaman orgasme?".

Kedua kasus tadi menunjukkan bahwa seks bagi perempuan yang sudah menikah lebih didominasi oleh upaya memenuhi kewajiban daripada upaya pemenuhan kebutuhan hakiki biologis dasar dari perempuan itu sendiri sebagai sosok pribadi. Apakah begitu seks seharusnya? Hanya melulu kewajiban?

Kasus keluarga Lesmana merupakan contoh nyata dari sikap seksual yang negatif. Lesmana kurang mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tepat tentang fungsi fisiologik organ seks serta sistem seksualitas manusia, sehingga mengira bahwa istrinya mengalami orgasme karena terjadinya konsepsi. Sedangkan istrinya bungkam saja sebab tabu baginya membicarakan masalah seks - meskipun dengan suaminya sendiri. Dengan sikap seksual negatif, keterbukaan untuk mencari informasi dan pengetahuan yang tepat dan benar tentang seks dan seksualitas pun menjadi sangat minim, atau bahkan bisa saja dirasakan memalukan.

Ada empat hal yang bisa diambil sebagai intisari kedua kasus tadi. Pertama, keduanya merupakan contoh nyata dari pasangan perkawinan yang melulu menempatkan hubungan seksual antar pasangan sekedar sebagai pemenuhan tujuan prokreatif. Artinya, kasus pertama punya dua orang anak dan kasus kedua empat orang anak. Tujuan rekreatif dan well-being terabaikan dan interaktif seksual pada kedua kasus sekedar memenuhi kebutuhan biologis suami dan kewajiban melayani kebutuhan seksual suami.

Kedua, baik Sinta maupun Lesmana memiliki sikap seksual negatif. Mereka masih menempatkan masalah seksual sebagai misteri yang tidak perlu ikuak dengan terbuka. Diskusi tentang masalah seksual dalam ikatan perkawinan tidak pernah dilakukan sehingga masing-masing pasangan sibuk dengan cara sendiri-sendiri. Padahal istri Lesmana sangat ingin mendiskusikannya secara terbuka.

Ketiga, akibat sikap seksual yang negatif tadi, kedua pasangan tidak terbuka terhadap informasi yang benar dan tepat mengenai kesehatan reproduksi dan permasalahan seksual. Ungkapan "Anak saya empat orang, bagaimana mungkin istri saya tidak pernah mendapat pengalaman orgasme" menunjukkan bahwa Lesmana tidak tahu bahwa terjadinya konsepsi saat senggama tidak berarti istrinya telah mencapai orgasme.

Kecuali itu, sikap seksual negatif akan membuat suami-istri enggan secara terbuka membicarakan serta mendiskusikan segala hal yang terkait dengan permasalahan seksual. Begitu juga dengan suami Sinta, tampaknya ia tidak mengetahui bahwa agar relasi seksual dapat mencapai hasil akhir yang optimal bagi kedua pasangan, sebagai laki-laki ia harus mengawali coitus dengan permainan permulaan (fore-play) agar pihak istri siap secara fisik dan mental hingga akhirnya istri mendapat orgasme.

Keempat, posisi perempuan dalam kedua kasus ini benar-benar ditempatkan sebagai pelengkap/ sarana pelampiasan kebutuhan seksual sang suami, tanpa pertimbangan penghargaan individual. Kecuali itu istri juga diperlakukan hanya sebagai perawat rumah dan anak-anak tanpa penghayatan sense of mastery. Di sini lelaki adalah penguasa. Kekuasaannya semakin tinggi oleh perannya sebagai pencari nafkah.

Alhasil, ia merasa sangat berhak untuk mendapatkan berbagai pelayanan di rumah, termasuk pelayanan seksual. Suami pun memperlakukan istri sebagai subordinat yang harus tunduk dan menghargainya. Wajarlah jika Sinta tidak berani mengganggu sang suami yang sedang nikmat menonton tayangan televisi. Cerita mengenai tingkah laku anak bagi suami Sinta pun tidak penting. Dengan begitu, tertangkap kesan bahwa kewajiban mendidik, mengasuh anak, mengatasi masalah anak sepenuhnya tugas istri. Tugas suami cukup sebagai pencari uang untuk menghidupi keluarga.

 

Harus diupayakan serius       

Empat hal tadi jika tidak dicarikan solusi akan menuai empat persoalan yang dapat mengganggu kebersamaan dan kebahagiaan suami istri. Pertama, seorang istri yang sering terserang pusing kepala, resah dan uring-uringan, kuyu oleh ketidak-puasan dalam kehidupan seksualnya, tentu tidak bisa berfungsi efektif bagi peran sebagai istri pendamping suami dan ibu dari anak-anaknya.

Kedua, reaksi pasif dalam relasi seksual pelan tapi pasti akan mengembangkan kejenuhan, baik bagi istri ataupun suaminya. Terjadi bumerang yang tidak kalah mematikan terutama bagi gairah serta ketertarikan erotik seksual pada pihak suaminya. Jika sudah begini, ketahanan terhadap virus selingkuh bisa jadi turun, baik pada suami maupun pada istri. Padahal, perselingkuhan menjadi penyebab utama lukanya sense of basic trust antar pasangan, yang membuat pasangan menjadi saling curiga satu sama lain dan selalu akan menjadi sumber pertengkaran berlanjut.

Bagi suami yang benteng imannya kuat dalam menghadapi gempuran virus selingkuh, besarnya tingkat kejenuhan terhadap reaksi seksual pasangannya yang sering disebut sebagai posisi 'batang pohon pisang' juga bisa mengganggu kemampuan ereksi seksualnya. Akibatnya bisa dimungkinkan terjadi impoten seks partial. Kalau sudah menderita impotensi, rasa percaya diri sebagai lelaki pun akan runtuh.

Ketiga, hubungan menjadi dingin, atau bahkan dipenuhi pertengkaran tanpa solusi yang jelas. Contohnya pada kasus istri Lesmana. Bisa kita bayangkan bila sebagai akibat tidak pernah orgasme dalam hubungan intim dengan sang suami, sakit kepala istri Lesmana berlanjut. Dengan sendirinya kemampuan untuk berperan sebagai istri secara menyeluruh pun akan menurun kualitasnya. Keceriaan, apalagi perasaan well-being hilang dalam kebersamaan kehidupannya bersama Lesmana. Ketidakbahagiaan istri Lesmana pasti akan mewarnai iklim keluarga secara menyeluruh.

Dengan kondisi sakit kepala berlanjut, iklim relasi yang terbina dengan suami dan keluarga secara menyeluruh pun akan terganggu pula. Istri Lesmana bisa saja marah-marah seolah tanpa sebab, cerewet tanpa terkendali, atau bahkan diam seribu bahasa dengan penyertaan kondisi emosi yang depresif berlanjut. Peran sebagai istri sekaligus ibu pun menjadi terganggu. Kondisi keluarga seperti itu tentu saja berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak-anak mereka. Kehangatan keluarga dan keintiman relasi sirna, sementara permasalahan psikologik anak pun berkembang, seperti menurunnya prestasi belajar, mogok sekolah, bolos, dan mabal.

Keempat, tuntutan utama individu dan masyarakat terhadap perkawinan adalah kehadiran keturunan. Bahkan sering justru tuntutan sosiallah yang menekan pasangan perkawinan untuk segera membuktikan bahwa mereka adalah insan sehat fisik dan mental bila dalam waktu singkat sudah menghasilkan keturunan. Dimana pun dan dalam situasi apa pun, pertanyaan pertama yang diajukan lingkungan saat bertemu dengan pasangan pengantin baru adalah, "Sudah isi, belum?". Tak jarang pertanyaan itu dilanjutkan - bila kondisi memungkinkan dengan meraba perut pengantin perempuan. Tekanan sosial ini memiliki dampak yang tidak sederhana, karena pasangan pengantin seolah dituntut untuk menempatkan seksualitas sebagai sarana melulu untuk mencapai tujuan prokreatif. Dua tujuan seksualitas yang lain pun menjadi terabaikan, apalagi bila kemudian pasangan secepat itu direpotkan oleh kehadiran anak-anak.

Memang pencapaian tujuan prokreatif tidak dapat diabaikan sama sekali. Akan tetapi, dimensi rekreatif juga perlu dijadikan prioritas penting. Seyogyanya kedua pasangan menjadikan kebahagiaan serta wellbeingness tercipta dalam hubungan mereka. Untuk itu, melihat perspektif tujuan rekreatif dalam kehidupan seksual merupakan sesuatu yang harus diupayakan secara serius.

Landasan saling mencintai dan mengasihi antar kedua pasangan perkawinan hendaknya diikuti oleh membina sikap seksual positif sejak awal perkawinan. Menjadikan seks dan permasalahannya sebagai bahan diskusi yang terbuka di antara calon pasangan perkawinan akan membuat kedua pasangan melangkah mantap dalam kebersamaannya kelak. Diskusi akan menjadi lebih menyenangkan bila mengacu pada buku yang mengungkap masalah kesehatan reproduksi yang sederhana namun dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Aspek rekreatif hubungan seksual juga menuntut pasangan untuk mengenali kondisi fisik pasangannya secara rinci dan tahu mana daerah sensitif pasangannya. Saling menerima secara total kekurangan dan kelebihan sangat berperan dalam meraih aspek ini. Dengan dasar penerimaan tersebut maka pasangan akan merasa percaya diri dan diterima dengan tulus apa adanya oleh pasangannya. Perasaan malu, sungkan, gamang akan fisik masing-masing menjadi sirna, sehingga ekspresi pribadi dalam coitus tercipta secara total, yang disertai oleh pemuasan kebutuhan untuk menikmati diri, untuk mencintai dan dicintai, serta berbagi cinta.

Egoisme lenyap, yang ada saling memberi dan diberi. Keterikatan emosional penuh cinta dan kasih menjadi erat dan kepekaan perasaan terhadap pasangan pun semakin tinggi. Ungkapan nonverbal bahkan verbal yang terkait dengan kehidupan seksual menjadi sinyal yang bermakna bagi keberlangsungan periodik dan relasi seksual secara hakiki dari usia muda sampai kaken-ninen. Dengan sikap seksual yang positif, apa pun masalah seksual yang dihadapi dalam perkawinan mudah dicarikan solusinya.

Dengan landasan sikap seksual yang positif pula, pasangan perkawinan akan memperoleh kesepakatan dalam frekuensi coitus, posisi dalam coitus, jenis fore-play, dan cara-cara khusus dalam merangsang area peka erotik dari masing-masing pasangan, sehingga keduanya merasakan perangsangan erotik yang optimal yang memicu orgasme bersama.

Kebersamaan tanpa pretensi ini akan mengembangkan kreativitas dalam hal cara serta posisi coitus yang menyenangkan kedua belah pihak. Dengan demikian kejenuhan reaksi seksual dapat dihindari, sehingga ketertarikan psikoseksual antar kedua pasangan pun terjaga kelanggengannya. Peningkatan kadar kepekaan pemahaman sinyal-sinyal verbal dan nonverbal terhadap kebutuhan masing-masing akan kepuasan dorongan biologisnya. Kondisi tersebut membuat pasangan mampu menikmati aspek rekreatif dalam coitus sambil menghayati relaksasi psikofisik yang optimal, sehingga perasaan membahagiakan kebersamaan dengan pasangan tercapai pula.

Hal lain yang perlu disimak adalah bahwa relasi kasih yang terjalin dalam keseharian, perhatian personal pada pasangan dan sentuhan-sentuhan serta pelukan dalam keseharian, atau kejutan-kejutan kecil sebagai wujud perhatian personal terhadap pasangannya ikut membawa kesiapan kedua pasangan untuk menjalin relasi seksual yang hangat di saat yang tepat. Kondisi psikofisiologis positif yang tercipta oleh kiat-kiat praktis yang dilakukan antar kedua pasangan tersebut memberikan efek dinamisitas yang optimal bagi aspek kebutuhan dan kewajiban seksualitas.

Last but not least, kewajiban dan kebutuhan seksualitas dalam ikatan perkawinan pun dapat terintegrasi secara halus dan mulus. Wellbeingness bagi pasangan serta kebahagiaan hakiki perkawinan pun menjadi masa depan yang menjanjikan.

                             

 

(Prof. Sawitri Supardi Sadarjoen)


 

Bagiku, cinta itu lebih dalam, sedangkan seks hanya sedalam beberapa inci saja".

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.