HEALTHY SEXUAL LIFE

 


SEX - Kurban Mitos

Urusan seks betul belum basi; dan memang tak bakal pernah basi. Begitu banyak pertanyaan ihwal seks diam-diam orang gumamkan. Namun, tak banyak jawaban memuaskan untuk yang satu itu. Dulu orang kecewa karena seks masih dibungkus tabu, dan orang malu-malu membincangkannya. Kini seks lebih terbuka. Tapi sayang terlanjur bikin orang jadi tersesat karena mitos.

 

Ketika seks kini sudah mulai buka celana, dan perkawinan semakin terbuka (open marriage), repotnya seks terus dihantui oleh mitos yang masih saja centil. Kurbannya segala umur, tak peduli jendernya. Pikiran primitif perihal seks masih menyibukkan siapa saja, termasuk orang gedongan. Masih untung kalau tak terbawa sesat.

Seks sendiri sebetulnya netral. Orang saja yang membuatnya tidak lagi tampil merdeka. Kultur dan tradisi juga yang menyimpan seks tersiksa berada di dalam sangkar. Dulu seks dianggap dosa dan kotor. Kanak-kanak dilarang menyentuh, alih-alih bersahabat.

Ketika pendidikan seks atau apa pun sebutannya seakan bukan halal, seks terasa diperlakukan tidak adil. Yang sesungguhnya kodrati alam jadi seperti penyakit sampar. Sejatinya, bukan seks yang batil, melainkan opini orang terhadap seks yang condong dilihat tidak bersih. Dari sana juga mitos seks bermunculan.

Juga, kodrat seks kian rancu dicemari oleh ragam mitos yang berkembang di barat maupun di timur. Persepsi orang yang mengalir dalam apa pun benak kulturnya sering melampaui akal sehat medik.

Seks kemudian menjadi absurd, seolah segala apa saja di bumi ini, misalnya bisa dan perlu dibuat obat kuat seks. Yang begini saja sudah bikin banyak orang keliru melihat siapa seks sesungguhnya. Di dunia seks lelaki, sebut saja pasak bumi, tangkur buaya, kuda laut, cula badak, sudah setenar selebritas.

 

Seks berkelamin jantan?

Tidak jelas kapan anggapan itu dimulai. Mungkin dominasi dunia kaum laki-laki, sehingga seolah-olah seks bukan urusan kaum perempuan. Topik seks lebih menjadi bagian alur pembicaraan lelaki ketimbang lawan jenisnya, seolah seks lebih bermasalah di kalangan kaum Adam ketimbang kaum Hawa. Padahal nyatanya tidak begitu.

Maka tak heran kalau masalah seks untuk jender mana pun sebetulnya semu belaka. Masalah yang muncul itu hanya karena persepsi ihwal seks pada kedua jender itu sendiri yang bengkok, tidak lurus sebagaimana kodratnya. Seks itu anugerah, luhur, dan perlu disikapi sebagai yang positif.

Kalau sampai ada masalah seks, kodrat yang dibawanya itu harus menjadi urusan berdua. Masalah seks suami juga bagian dari urusan istri. Maka seks tidak boleh dilihat sebagai sosok sebuah kelamin belaka.

Namun, bila nyatanya kaum lelaki yang terlihat lebih sibuk mengurusi seks, itu karena sumber masalah boleh jadi lebih banyak berada di pihaknya. Kodrat seks lelaki itu, misalnya "selalu mau namun belum tentu selalu bisa". Dirongrong oleh kodrat yang begini saja pun kaum pria sudah dibuat kalang kabut.

Ketika seksnya senantiasa "on" dan nyaris jarang "off", kaum lelaki juga bingung, bagaimana seks miliknya bisa senantiasa lancar dioperasionalkan. Harus diakui kalau seks lelaki jauh lebih njelimet dan bermasalah ketimbang seks perempuan. Itu sebabnya surat-surat konsultasi seks umumnya lebih banyak datang dari suami.

Kendati keluhan suami menjadi derita istri juga, lebih banyak istrimembisu ketika seks termangu sendiri di kamar tidurnya. Kebanyakan kaum istri lebih bisa nrimo.

 

 Macho tapi impoten?

Kaum pria juga masih disibukkan oleh persepsi yang bingung ihwal tampilan sosok macho. Maka teknik bagaimana membesarkan otot tubuh dan aneka kegiatan binaraga di mana-mana masih dikejar kaum Adam sampai hari ini. Seolah pasti kalau simbol seksinya seorang lelaki itu hanya pada gempalnya otot-otot dada dan lengannya, selain seberapa tebal kumis dipasang dan sebelantara apa brewoknya dibiarkan tumbuh.

Masih saja ada lelaki yang mencemaskan ihwal pantatnya yang tepos, lalu mengganjalnya dengan dompet tebal, dengan anggapan (keliru) supaya bisa lebih seksi. Lelaki juga cemas kalau dadanya klimis, lalu menumbuhkan bulu di sana. Padahal belum tentu di situ semangat seks perempuan bertumpu.

Sesuai dengan latar perkembangan kejiwaan seorang perempuan, tidak semua perempuan sama seleranya terhadap elemen sosok seksinya lelaki. Benar ada perempuan yang gandrung memandang lelaki macho model Charles Bronson, misalnya. Jangan lupa, bukan sedikit perempuan yang malah lebih suka lelaki klimis ala Brad Pitt atau Tom Cruz. Bukan tak jarang pula ada perempuan yang langsung kesengsem menyaksikan lelaki kerempeng model Michael Jackson.

Sama seperti halnya tidak semua lelaki sama berselera pada payudara semontok milik Dolly Parton. Juga sebuah kekeliruan lain kalau kaum pria masih beranggapan tak ada perempuang yang menyukai lelaki berbokong tepos dan berpaha mirip belalang.

Harus diinsyafi pula kalau lelaki macho belum tentu perkasa. Ke-macho-an cuma soal tampilan. Boleh saja kumisnya setebal tembakau susur, brewoknya serem sampai ke bawah dagu, dan bulu dadanya kayak ilalang. Tapi perkara kegarangan seksnya masih perlu dipertanyakan. Macho saja di hadapan istri belum cukup kalau nyatanya selalu gagal ereksi.

Nilai kehebatan kaum Adam tak berhenti sampai di situ. Tak cukup sekedar tampil macho dan hebat ereksinya. Andai spermanya tak subur, buat apa berkumis tebal, berbulu dada, brewokan, kalau hanya bisa ereksi dan ejakulasi doank?

Puncak kehebatan lelaki harus memperlihatkan tiga gatra. Tampilannya lelaki abis, mampu ereksi, dan wajib bisa menghamili. Kurang satu gatra saja berarti belum lelaki tulen. Simbol lelaki sejati itu jangan lupa dilengkapi dengan sperma yang subur.

Lebih dari itu, ada tuntutan lain dari pihak istri yang tak boleh dianggap sepele. Tak cukup hanya mampu ereksi, lalu bisa gagah menghamili belaka. Apakah sebagai sebuah rekreasi, seks suami juga mampu melahirkan puncak klimaks buat istri? Baru sampai di situ tak sedikit kaum pria sudah merasa dibuat repot. Takut dibilang tak macho, cemas kalau sampai gagal ereksi, dan putus asa jika gagal menghamili.

Beragam mitos seks terus hilir mudik menambah sesaknya lalu lintas pikiran yang tak jernih. Tak sedikit lelaki yang sesat memilih jalan ketika merasa seksnya lemah dan loyo. Masih teperdaya juga kalau dengan cita-cita meraih 'long John', mustikanya direlakan, misal disengat tawon secara sengaja.

Mitos ihwal mustika yang besar dan panjang sebagai sebuah keharusan bikin banyak suami susah tidur. Dirongrong dan termakan oleh trik dan tipuan dalam pembuatan blue film dan nakalnya cerita burung ihwal pentingnya kaliber Mr. P, semua lelaki di dunia jadi minder. "Betapa alitnya milikku".

 

Suami tembak langsung

Mr. P yang alit ini ternyata menjadi kasus yang dominan dari sekian banyak surat konsultasi ketika mengasuh rubrik seks tahun 1980-an dulu; dan itu bukan monopoli lelaki Asia. Di mana-mana lelaki dirongrong oleh mitos bahwa lelaki yang hebat seksnya itu harus memiliki Mr. P yang maha panjang dan besar alias 'long John'. Mitos itu harus diluruskan.

Mr. P yang kelewat besar dan panjang bukan saja bikin ribet membawanya. Tak sedikit istri mengeluh tak nyaman kalau mulut rahimnya disundul-sundul oleh Mr. P yang kelewat panjang sewaktu sanggama.

Sesungguhnya, lorong Mrs. V itu kodratnya bersifat elastis dan potensi melebar dan menyempitnya bisa dilatih dengan latihan kegel. Tergantung seberapa pintar dan prigel otot-otot dasar panggul berkerut dan berkedang dalam menjepit, di situ lihainya kinerja seks istri di mata suami.

Tak perlu cemas, seberapa banyak melahirkan bayi, selama ditata baik sewaktu penjahitan, saluran Mrs. V sehabis bersalin niscaya bakal rapat kembali. Jadi juga tak soal mau seberapa alit penampang Mr. P milik suami, selama lorong Mrs. V masih belum melar seperti karet gelang, nikmat itu bisa dicegat. Saatnya mitos maha pentingnya jamu sari rapet segera dihapus.

Perlu diinsyafi kalau seks lelaki bukan soal ukuran, melainkan bagaimana memainkannya. Bukan apa merek mobilnya, melainkan siapa sopirnya. Percuma pakai Ferrari kalau sopirnya cuma sopir bemo. Kendati hanya berkendara bajaj, kalau sopirnya kelas McLaren, bisa jadi istri merem melek.

Kasus lain yang sering terjadi, adanya kenyataan istri lebih sering tertinggal untuk sama-sama memetik kenikmatan seks yang menjadi haknya. Kasus istri menghadapi suami yang bisanya cuma 'tembak langsung', misalnya. Pada kasus demikian seks istri tak pernah naik kelas. Rata-rata istri belajar seks dari perkawinannya (learning by doing sex).

Kebanyakan suami sebetulnya bukannya tidak tahu kalau perempuan itu perlu sejumlah waktu lebih lama untuk menjadi siap seks. Ketika seks tak cukup hanya naluri (basic instinct), ada yang perlu dikelola (oleh suami) manakala seks mulai dipraktikkan.

 

Gugurnya mitos 'long John'

 Lorong Mrs. V memiliki apa yang disebut G-Spot. Itulah daerah paling peka rangsang wanita. Secara faali, daerah paling peka rangsang di lorong Mrs. V itu terletak pada kedalaman dua inci atau sepertiga kedalaman dari permukaan. Artinya, Mr. P hanya perlu sepanjang dua inci waktu ereksi untuk bisa membangkitkan rasa nikmat dan puas seksual istri.

Rata-rata panjang Mr. P saat ereksi lebih dari 10 cm. Kalau kurang dari 6 cm atau dua inci saja sudah cukup untuk menyentuh G-Spot, maka kecemasan lelaki punya mustika yang sealit-alitnya pun sungguh tidak beralasan sehingga tak perlu gundah gulana.

Kesibukan lelaki terus mencari bagaimana membesarkan dan memanjangkan mustikanya itu harus dianggap tak masuk nalar medik. Apalagi kalau harus membayar mahal. Belum kalau harus menjadi kurban karena hampir semua reparasi barang berharga itu cenderung membahayakan kesehatan.

Berbeda dengan organ tubuh lain, Mr. P memiliki pembuluh darah buntu (endartery). Segala otak-atik yang bikin rusak pembuluh darah Mr. P berisiko bikin kematian jaringan. Termasuk membesarkannya dengan teknik pompa vakum. Selain tak ada gunanya gede-gede, belum tentu aman pula.

Anggapan bahwa Mr. P dapat dibuat gempal seperti hasil olah binaraga sungguh keliru besar. Mitos Mr. P bisa seperti otot bisep lengan pun hanya mimpi lelaki kuno. Sebab badan Mr. P itu menyerupai jaringan busa (corpus cavernosa) yang kodratnya dapat diisi oleh darah. Besar dan kerasnya penis karena dalam tempo seketika terjadi curahan sejumlah darah yang mengisi badannya. Untuk itu perlu pembuluh darah dan saraf di situ yang juga dijaga tetap bugar.

 

G-Spot lelaki

Kebanyakan lelaki dihantui rasa takut gagal memuaskan pasangannya. Mitos perempuan jalang (nymphomaniac) yang tak pernah terpuaskan seks itu dianggap seolah sedang diidap istrinya juga. Maka rasa gelisah tak memuaskan pasangannya itu yang membuat lelaki terus berkelana mencari obat kuat seks.

Obat kuat seks atau aphrodisiaca tidak menambah kuat seks. Tidak semua obat yang mengaku begitu memberi khasiat seperti yang semua lelaki kira. Kalaupun ada, itu cuma menambah sensasi seks belaka. Mariyuana misalnya, memang menambah sensasi puas seks yang lebih panjang. Jamur tahi kerbau (LSD) yang memunculkan halusinasi seks juga berefek sama. Bukan seksnya yang bertambah kuat, melainkan sensasi seksnya yang terasakan lebih indah.

Bagi lelaki, potensi seks berarti mampu bertahan lama menunda ejakulasi. Kecuali obat oles (pemati rasa), tak ada cara lain mengulur durasi ereksi sebelum ejakulasi. Tidak pula oleh bantuan hormon. Tapi keliru, jika semakin lama ereksi semakin hebat si lelaki. Tak sedikit istri mengeluh letih kalau suami kelewat lama menunda ejakulasinya.

Seks lelaki itu ada di otaknya (G-Spot lelaki). Tergantung seberapa waras otak dan seberapa bugar fisik, dengan cara itu seks lelaki menjadi prima. Hal itu ditentukan oleh pikiran seks yang jernih, tak boleh terusik oleh aneka mitos seks yang menyesatkan.

Fisik bugar ditentukan oleh latihan jasmani rutin teratur, dan kecukupan gizi, khususnya menu berprotein tinggi, seperti susu, telur, ikan, dan daging. Sudah tentu butuh vitamin dan mineral pula, teristimewa unsur seng (Zn) yang besar perannya pada organ reproduksi lelaki. Kalau itu semua tercukupi, maka tak perlu lagi yang aneh-aneh lainnya.

 

Sex begins in the kitchen"

Istri yang 'becek', keluhan yang sering diungkap suami. Padahal sejatinya Mrs. V yang banyak mengeluarkan lendir sewaktu seks itulah yang tergolong normal. Sehatnya memang harus seperti itu supaya tidak menimbulkan keluhan nyeri sanggama (dyspareunia). Justru istri yang 'kering' harus dinilai tidak sehat. Semakin pintar seks suami, semakin lekas dan banyak berlendir istri sebelum sanggama dimulai.

Kehendak mempertahankan mitos sari rapet hanya akan menyengsarakan istri. Sedikit minum, banyak mengonsumsi jagung, mengunyah pinang, atau jejamuan lainnya dengan tujuan supaya menyetop keluarnya lendir Mrs. V tak perlu lagi menjadi cita-cita istri mana pun. Jamu yang menjanjikan bikin 'kering' Mrs. V harus segera dilupakan.

Tidak ada obat kuat seks untuk wanita, karena memang seks perempuan tak perlu dibuat kuat. Berbeda dengan seks lelaki, seks perempuan 'selalu bisa kendati belum tentu selalu mau'. Yang tersedia paling bahan berkhasiat yang menimbulkan sensasi mencetuskan libido belaka. Mitos bahwa perempuan perlu perangsang juga tidak beralasan.

Suami yang arif pandai membaca seks istri. Tidak setiap saat suami sedang menginginkan seks, serta merta istri juga sedang mau. Perlu membangun suasana rasa ingin pada pihak istri sehingga tercapai kondisi terselaraskannya mood seks istri.

Buat istri, seks tidak selalu harus berlangsung di kamar tidur. Sebab indahnya seks istri juga ditentukan bagaimana seks boleh dimulai di mana-mana, di luar kamar tidur. Mungkin diawali di beranda, di ruang keluarga, atau bahkan dimulai dari dapur. Untuk yang terakhir ada ejekan buat suami yang tidak mempedulikan mood istri, "Sex begins in the kitchen". Suasana duduk berdua (candle light dinner), berjalan berdua di pantai saat bulan purnama, membolak-balik album kenangan, bisa menjadi bagian dari terbangunnya suasana seks bagi istri.

Hal itu penting supaya seks suami tidak bermasalah lalu menjadi percaya pada mitos belaka. Karena tanpa itu, suami mungkin tak menginsyafi kalau istrinya mendadak sedingin kulkas.

Menghadapi kondisi yang suami ciptakan sendiri dalam perkawinan, kesalahan terbesar karena suami salah menyangka kalau dirinya sudah tidak impoten lagi, lalu mulai neko-neko. Padahal sumber penyebab umumnya adalah suasana seks tidak dibangun, sehingga bagi istri yang tak pandai bersandiwara, tak mungkin bisa berakting semenggelinjang perempuan penghibur. Respons seksualnya menjadi tak lebih dari sosok gedebok pisang.

Seks lelaki membutuhkan respons seksual wanita yang memadai. Respons seksual istri yang dingin acap membuat suami dibayangi mitos ihwal istri yang frigid. Inilah kekeliruan purba seks lelaki. Padahal sekali lagi, sesungguhnya membara tidaknya respons seksual istri yang dibutuhkan seks suami itu tergantung pada seberapa prigel suami mengolah seks istri sejak di awalnya. Kunci penyelesaian ada di tangan suami sepenuhnya. Sama sekali bukan pada jamu, obat kuat, atau aphrodisiaca.

Tidak semua suami mewarisi wawasan seks sama benarnya. Tanpa pendidikan seks formal, pikiran seks suami mungkin bisa jatuh sakit. Dibayangi citra yang keliru ihwal seks, banyak lelaki dan suami tidak nyaman memasuki kehidupan seksualnya.

Mari 'berekreasi' tanpa diganduli mitos.                                                             

 

 

(dr. Handrawan Nadesul)


 

Seks dan golf adalah dua hal yang bisa anda nikmati meskipun anda tidak terlalu bagus dalam kedua hal itu. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.