HEALTHY SEXUAL LIFE

         

SI 'DINI' YANG BIKIN JENGKEL ISTRI

 

Mirip mobil McLaren F1-nya Kimi Raikkonen yang sering mogok di tengah lomba. Belakangan, Han begitu panggilan eksekutif sebuah perusahaan swasta ini sering 'mogok' juga di tempat tidur. Timing 'nosel'nya susah diatur dan sering menyemprotkan 'bbm' lebih awal dari jadwal. Dalam urusan ranjang hal semacam itu juga jamak terjadi. Istilahnya, ejakulasi dini. Bagaimana mengatasinya?

 

Jika pada mobil, penyemprotan BBM lebih awal dapat menyebabkan kinerja mesin kacau. Di atas ranjang, seperti dialami Han, membuat istri jadi cemberut. Oleh lawan mainnya itu, Han bahkan disarankan memeriksakan diri ke ahlinya. "Ini kan cuma soal timing. Habis, aku kecapekan setelah kerja seharian", bela Han dengan suara perlahan.

"Ah, dari dulu kok gejala awal melulu. Jangan jangan sudah merusak piston atau mengganggu kabel-kabel kelistrikan", sahut istrinya gemas, seraya menambahkan, "Aku takut kalau enggak buru-buru diperiksakan ke dokter, nanti terlambat. Bagaimana kalau penyakit kamu sudah parah, dan disuruh turun mesin?"

Han geleng-geleng kepala memandangi istrinya yang mantan karyawan bengkel itu.

 

Masih salah paham

Manusia jelas beda dengan mobil Formula-1. Namun kalau gangguan pengontrolan ejakulasi tidak segera ditangani, istri bakal makin gondok. Bahkan jumlah istri yang kesal mungkin saja jauh lebih banyak, mengingat makin lama makin banyak saja jumlah pasien yang datang ke klinik-klinik dengan keluhan ejakulasi dini.

Oleh banyak peneliti, ejakulasi dini diartikan sebagai ejakulasi yang terjadi lebih cepat dari waktu yang diharapkan. Ada perbedaan ukuran waktu yang digunakan untuk menentukan batas ejakulasi dini. Misalnya ada yang mempergunakan ukuran dua menit, tapi ada juga yang memberikan rentang 1-10 menit sebagai waktu untuk menetapkan adanya ejakulasi dini pada laki-laki dewasa.

Sedangkan dari sisi pandang yang lebih praktis, ejakulasi dini bisa disebut sebagai ketidakmampuan seseorang untuk menahan atau melakukan kontrol terhadap terjadinya ejakulasi, saat diri atau pasangannya belum menghendaki atau belum mencapai tingkat orgasme. Keluhan ejakulasi dini ini dapat terjadi bersama-sama dengan disfungsi ereksi maupun berdiri sendiri.

Ejakulasi dini juga banyak macam dan tingkatannya. Cara penyembuhannya pun tak kalah beragam. Tengok saja masalah yang menimpa seorang pria klimis berusia 42 tahun, manajer operasional sebuah BUMN terkemuka. Setahun belakangan ini, si pria sebut saja namanya Kuncoro, mengaku mengalami ejakulasi dini. Keluhan itu muncul secara perlahan dan tidak disadari.

Berdasarkan pemeriksaan, keluhannya itu dikategorikan sebagai ejakulasi dini tipe sedang. Ciri-cirinya, ejakulasi terjadi saat penetrasi baru saja terjadi, atau pada saat gesekan baru berlangsung beberapa kali. Masalah Kuncoro ini kemudian diatasi dengan cara sederhana, yakni dengan obat semprot hidung, dikombinasikan dengan suntikan intra corpora pharmacotherapy (ICP) selama tiga kali.

Alhasil, setelah datang enam kali terapi Kuncoro mengaku kini telah dapat menikmati ejakulasi yang hampir bersamaan dengan istrinya.

Lain lagi dengan problem yang menimpa seorang dosen perguruan tinggi di Jakarta yang baru berumur 39 tahun. Sang dosen mengeluhkan ketidakmampuannya memberi kepuasan kepada istri, setiap kali melakukan hubungan seksual. Hal itu sudah berlangsung cukup lama, sejak awal pernikahan mereka yang sudah berlangsung selama sekitar 10 tahun.

Ia sudah berinisiatif memperpanjang waktu pemanasan (foreplay), tapi cara itu hanya kadang-kadang saja membantu pasangannya mencapai orgasme. Ketakutan akan gagal dalam berhubungan intim telah menghantui dan menyiksa batinnya selama bertahun-tahun. Untunglah istrinya termasuk wanita penyabar yang mau memahami kelemahan suaminya. Bersama-sama, mereka akhirnya mendatangi sebuah klinik.

Setelah menjalani program pengobatan dan pelatihan selama sekitar empat bulan, problem sang dosen berangsur-angsur terpecahkan. Program pengobatan yang dianjurkan dokter merupakan kombinasi latihan terapi seksual, nasal spray dan penyuntikan dengan ICP.

Kasus yang terakhir itu termasuk sukar dan lama pengobatannya, karena ejakulasi dini sudah berlangsung sangat lama. Selain itu, walaupun masih pada tahap minimal, sudah cenderung memunculkan kasus disfungsi ereksi. Pemberian ICP menjadi penting pada kasus ini untuk memunculkan rasa percaya diri. Alhasil, setelah enam bulan, pengobatan dihentikan, karena ejakulasi dini dan disfungsi ereksi telah teratasi secara memadai.

 

Hanya beberapa gesekan

Melihat kasus-kasus di atas, tampak bahwa disfungsi ereksi pada dasarnya dapat disebabkan oleh dua hal besar, yakni sebab-sebab organis dan sebab-sebab yang berkaitan dengan psikis. Penyebab organis antara lain diabetes dan gangguan vaskuler. Kadang disebabkan juga oleh uretritis yang tidak memperoleh pengobatan akurat atau komplikasi penyakit menular seksual (PMS) yang tidak diobati sempurna.

Secara umum, ejakulasi dini terbagi atas ejakulasi dini ringan, sedang, dan berat. Disebut ringan jika penetrasi dapat dilakukan dan sempat terjadi beberapa lama, ditandai dengan beberapa pergesekan. Namun belum sampai membuat pasangan orgasme atau mencapai kenikmatan seperti yang dikehendaki. Pada ejakulasi ringan, jumlah gesekan berkisar antara 10-20 kali.

Sementara ejakulasi dini tipe sedang, terjadi bila penetrasi masih bisa dijalankan tapi gesekan tidak bisa dilakukan lebih dari 10 kali. Terakhir, problem ejakulasi dini yang masuk kategori berat bila ejakulasi dini terjadi saat penetrasi dilakukan, sebelum penetrasi, atau malah sebelum penis menyentuh liang senggama.

Ejakulasi dini termasuk jenis gangguan yang melibatkan zat serotonin. Zat itu dikenal sebagai neurotransmitter yang berfungsi antara lain menghambat pengeluaran ejakulasi. Hubungan suami-istri yang tidak teratur juga berpotensi menimbulkan masalah pada zat serotonin, sehingga ikut memicu lahirnya ejakulasi dini.

Sementara sebab-sebab psikis ejakulasi dini antara lain keinginan atau kebiasaan tergesa-gesa, atau keinginan untuk cepat-cepat selesai dalam hubungan seksual. Di sini faktor yang menonjol adalah ketidakmampuan mengontrol saat ejakulasi, serta ketidaktahuan atau ketidakpekaan terhadap kebutuhan pasangan.

Penyemprotan lebih awal ditemukan juga pada laki-laki yang memiliki hipersensitivitas pada kepala penis yang berlebihan, sehingga sedikit rangsangan saja dapat mencapai ambang keluarnya ejakulat.

Ejakulasi dini sebaiknya memang tidak dianggap enteng. Terutama mengingat problem kejiwaan yang potensial muncul. Pada akhirnya akan muncul secara sistematis gangguan lain, yaitu disfungsi ereksi yang dulu dikenal sebagai impotensi.

 

Perubahan Gradual

Jadi, bagaimana cara mengatasi ejakulasi dini, dan apakah ada kemungkinan paling tokcer bagi pria-pria yang terlanjur jadi 'pesakitan'? Harus diakui, cukup banyak kendala muncul dalam penanganan kasus-kasus ejakulasi dini. Khususnya lantaran banyak pria yang tidak menyadari, keluhan yang mereka sampaikan sebetulnya sudah termasuk dalam gangguan fungsi seksual.

Banyak juga orang dengan mudah mengatakan, "Ah, dia kan menderita ejakulasi dini semata lantaran kecapekan, beban stress tinggi, atau karena 'sudah waktunya' sesuai dengan pertambahan umur". mungkin saja. Namun, pengalaman menunjukkan ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi laki-laki sebelum akhirnya menderita ejakulasi dini.

Ada kelompok pasien yang sebelumnya tidak bermasalah dengan ejakulasi. Namun kemudian secara bertahap mulai merasakan perubahan dalam durasi ejakulasinya. Kelompok ini biasanya beranggotakan orang-orang yang memiliki aktivitas fisik jelek lantaran kurang berolah raga atau memiliki tingkat kebugaran tubuh rendah.

Juga masuk dalam kelompok ini, para lelaki yang menderita diabetes (sering terjadi pada pasien yang gula darahnya tidak terkontrol dalam dua tahun terakhir), penderita hipertensi yang mempergunakan jenis-jenis obat hipertensi tertentu untuk menyembuhkan penyakitnya, serta mereka yang suka menggunakan narkoba. Umur kelompok ini rata-rata berada di atas 40 tahun.

Kelompok lain adalah mereka yang sejak awal sudah mengeluh adanya ejakulasi dini. Biasanya terjadi pada orang yang aktif, berusia muda, gemar ganti-ganti pasangan, cenderung tergesa-gesa dalam melakukan berbagai hal, dan sebagian mengonsumsi alkohol secara rutin. Dengan mengenal karakter dan kebiasaan pasien, barulah dokter dapat merumuskan kombinasi penanganan yang tepat untuk tiap pasien.

Secara umum, ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki ejakulasi dini. Yang pertama, dengan memberikan konseling dan latihan khusus. Dengan melakukan pijatan dan latihan berulang-ulang, kebiasaan dan kemampuan untuk mengontrol ejakulasi akan muncul secara gradual. Konseling harus dilakukan pada pasangan suami-istri dengan bantuan sex counsellor terlatih.

Keterbukaan dan komunikasi efektif di antara pasangan menjadi syarat mutlak dalam keberhasilan terapi model ini. Terapi dengan konseling dan latihan khusus ini membutuhkan waktu panjang. Biasanya setelah berbulan-bulan baru akan diperoleh hasil memadai. Ada cukup banyak kasus yang berhasil, terutama pada pasangan yang komunikasinya bagus dan sabar menunggu hasil positif.

Cara kedua, penggunaan obat atau alat bantu, seperti nasal spray dan krim anestesi. Nasal spray berisi clomipramine yang bekerja meningkatkan ambang keterangsangan. Penggunaan obat ini biasanya menolong, walau cara ini tidak disukai oleh orang yang sensitif terhadap clomipramine. Mungkin pada ejakulasi dini ringan dan sedang, metode terapi ini sangat membantu, tapi pada ejakulasi dini berat kurang berhasil.

Biasanya pada ejakulasi dini tipe berat yang disertai dengan disfungsi seksual dilakukan pemberian nasal spray yang dikombinasi dengan suntikan ICP. Secara umum, kombinasi kedua metode ini memberikan hasil baik. Sedangkan krim anestesi yang bisa memperlambat ejakulasi dan membantu istri mencapai klimaks dan orgasme sering dikeluhkan karena menimbulkan rasa kebal atau mati rasa bagi suami. Tak heran krim itu kurang diminati lelaki.

Penanganan berikutnya, menggunakan obat-obatan minum. Ada prospek baru yang menggembirakan pengidap gangguan fungsi seksual ini. Di Amerika Serikat, Australia, dan di sejumlah negara Eropa, penelitian menunjukkan ejakulasi dini dapat diatasi dengan penggunaan obat oral, yakni beberapa obat golongan antidepressan tertentu serta antianxiety.

Sudah banyak lelaki berejakulasi dini tertolong oleh beragam terapi tadi walaupun banyak juga lelaki yang hanya diam saja menanti apa pun yang akan terjadi. Walaupun hati kecilnya sadar, dengan pasrah begitu dia sebenarnya bukan hanya menyiksa diri, tapi juga bikin frustrasi istri.

Mending pergi ke dokter, kan? Ketimbang dipaksa ke bengkel.      

       

 

(Johnny F. Gosyanto - Terapis Sex On Clinic)


 

Seorang pria mengeluarkan sekitar 17 l cairan sperma (berisi 0,5 triliun sperma) sepanjang hidupnya. Untuk berenang sejauh sekitar 15 cm sperma memerlukan waktu satu jam

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.