HEALTHY SEXUAL LIFE

 

 

Sudah Tahu Sama Tahu

 

Untuk melakukan variasi posisi dalam melakukan hubungan intim, komunikasi antar pasangan suami istri amat membantu. Komunikasi yang sudah terjalin bertahun-tahun akhirnya akan membuat masing-masing pasangan bisa mengerti apa yang dimaui pasangannya. Begitulah yang dialami Putri dan suaminya - sebut saja Putra. Pasangan ini memiliki beda usia yang mencolok, namun saling pengertian membuat mereka oke-oke saja dalam melakukan aktivitas seksual. Menyadari stamina sang suami yang sudah menatap senja, tak jarang Putri harus lebih aktif.

Tak heran terkadang Putri 'memperkosa' sang suami dengan posisi-posisi atau aktivitas yang mengejutkan. Misalnya, "Aku suka blow job suami dan dia 'keluar' di mulutku he...hee.....heee........", katanya melalui surel. Berhubung sudah tahu sama tahu, terkadang ide untuk mencoba posisi datang dari siapa saja. Bahan idenya dari buku Kamasutra. Saat ditanya posisi favouritnya, Putri langsung menukas, "Doggy style". Putri memberi alasan bahwa posisi ini memungkinkan penis suami melakukan penetrasi lebih ke dalam. Selain itu, tangan suami bisa merangsang payudara Putri maupun daerah intim lainnya. "Alasan lain, ya karena saya suka dipeluk dari belakang dan sesekali suami menggigit daerah bahu, leher, telinga saya". Menurut dr. Heru, posisi doggy style memang bisa membuat pria merasa nyaman dan wanitanya pun dapat menikmati.

Pasangan ini juga tidak menabukan soal lokasi. Memang mereka sering melakukan ML (making love) di tempat tidur dengan alasan praktis. "Sekalian bisa langsung tidur". Tak heran kalau mereka memilih waktu untuk ngeseks sekitar pukul 23.00-24.00. Berhubung Putri rajin membentuk badannya, maka ia pede saja saat ML lampu kamar tidur mereka menyala terang benderang. Toh sesekali mereka melakukan aktivitas seksual itu sembari mandi. "Bercinta di bawah guyuran air dari shower memberikan sensasi yang gimana gitu lo......", kata Putri tanpa memerinci apanya yang gimana gitu. Jadi, anda silakan menafsirkan sendiri. Jika rumah lagi sepi, "Kadang kami melakukan di ruang tamu".

 

 

 

JANGAN MENUNGGU PASANGAN BERUBAH


Perbedaan dalam perkawinan adalah hal yang biasa. Tak mudah memperoleh pasangan yang sama rasa sama jiwa. Namun kalau perbedaan tidak dikelola untuk dicarikan jalan keluarnya, bisa-bisa kelangsungan perkawinan menjadi taruhannya. Untuk mengatasi hal itu, Adriana Ginanjar, PhD, konsultan perkawinan memberi beberapa catatan.
Adriana sekarang ini sedang gencar mengampanyekan konseling pranikah. Menurutnya, konseling ini cukup penting untuk memperoleh peta dengan skala yang mendetail soal pasangannya. “Banyak orang yang memandang perkawinan sebagai sebuah surga yang ketika masuk memiliki bayangan yang indah”, katanya. Jika akhirnya masing-masing pasangan memiliki perbedaan-perbedaan yang tidak bisa memperoleh titik temu, Adriana menyarankan masing-masing pasangan untuk memulai berubah.
“Kalau ada perbedaan dan kita bisa mengubah, mengapa tidak kita duluan yang berubah? Karena kalau kita hanya menuntut, jadinya akan tarik-tarikan. Akhirnya enggak ada yang berubah. Tapi kalau kita berubah, pasangan kita akan melihat perubahan itu dan secara otomatis akan mudah bagi dia untuk berubah”. Di sinilah kunci penyesuaian akan memainkan peran yang penting. Meski pasangan memiliki banyak kesamaan, tapi penyesuaian kurang baik, perkawinan pun tidak mulus juga jalannya. Sebaliknya, banyak yang berbeda tapi penyesuaiannya bagus, ya aman-aman saja perkawinan mereka.
“Ketika kita bisa melihat posisi positif pasangan, ketika kita bisa bertoleransi, perkawinan pun melenggang dengan tenang. Jadi, jangan berharap pasangan berubah, seperti saling menunggu sambil berkata dalam hati, “Ya kamu dulu yang berubah dong. Lha, nanti malah saling menunggu, tidak ada yang berubah dong”.

 

 

 

Hi…Hi…Hi… Hanya Berkembang 5 kali


Ada enam mahasiswi fakultas kedokteran sedang menunggu panggilan untuk ujian lisan mata pelajaran penyakit dalam. Pengujinya adalah guru besar yang terkenal sebagai top killer. Mahasiswi pertama masuk dan langsung mendapat pertanyaan. Pertanyaan dari Profesor cukup singkat, “Sebutkan bagian tubuh yang dapat membesar sampai tujuh kali!”, tanya Profesor Den Vincent menggelegar dan tanpa ekspresi.
Si mahasiswi tadi tidak berani menjawab dan hanya cekikikan sambil menutup mulut. Sang guru besar marah dan langsung berkata dengan keras: “Sudah, jangan cekikikan. Cepat keluar dan panggil berikutnya!”.
Terhadap mahasiswi ini Profesor Killer menanyakan hal yang sama dan diperoleh jawaban yang sama pula. Sang guru besar menjadi marah dan mengusir mahasiswi kedua. Selanjutnya sampai mahasiswi kelima jawabannya sama untuk pertanyaan yang diajukan Profesor, yakni “Hi… Hi… Hi…..”.
Sampai kemudian masuklah mahasiswi keenam. Kembali Profesor Den Vincent melemparkan pertanyaan untuk menyebutkan bagian tubuh yang dapat membesar sampai tujuh kali.
Kali ini jawaban yang diperoleh dari mahasiswi berbeda: "Liver, Profesor. Dia bisa tujuh kali membesar kalau terkena radang”.
Profesor pun reda kemarahannya. “Bagus, untuk kamu sudah cukup. Katakan kepada teman-temanmu di luar bahwa ‘hi…hi…hi…’ hanya berkembang sampai lima kali!”

 

 

 

Kalau Tengah? 

 

Suatu hari Reni menjadi bahan obrolan di arisan ibu-ibu. Cuma obrolannya dalam tingkat bisik-bisik. Soalnya Reni hadir di arisan itu.

"Aku heran deh. Kayaknya bu Reni memiliki daya linuwih", bisik Rina.

"Daya linuwih apaan?", Rani yang dibisiki spontan kaget dan nyaris berteriak. Ia berpikir daya linuwih ini berkaitan dengan paranormal.

"Ya bisa membaca cuaca. Saya perhatikan beberapa hari ini, selalu tahu kapan hari hujan dan kapan hari terik panas", jawab Rina sambil menambahkan bahwa meski pagi matahari muncul tapi Reni tidak menjemur pakaian. Anehnya, siang hari kemudian tiba-tiba hujan deras. Sementara Rina pontang panting mengurus jemuran, Reni tenang-tenang saja.

"Iya, saya juga memperhatikan beberapa kali. Sepertinya sudah tahu kalau hari ini mau hujan", timpal Rini tak mau kalah.

"Ya sudah, habis arisan nanti kita tanya saja apa rahasianya. Saya juga butuh ilmunya sebab akhir-akhir ini cuaca kan berubah-ubah, capai angkat-angkat jemuran", Rani memberi usul yang dianggukin oleh semuanya.

Habis arisan, Reni langsung dikerubung ibu-ibu yang heran akan 'daya linuwihnya' tadi. Rani langsung buka suara, "Bu Reni, ajari dong ilmu membaca cuacanya. Kita-kita semua pengen tahu lho".

"Iya......", timpal ibu-ibu lainnya.

"O, jadi ibu-ibu memperhatikan saya ya? Kenapa kok saya tidak menjemur pakaian meski pagi hari matahari muncul?"

"Iya......", ibu-ibu kembali kompak menjawab.

"Begini ya ibu-ibu. Setiap bangun pagi saya mengamati 'milik' suami saya. Kalau miring ke kanan, berarti cuaca akan panas seharian. Saya tentu akan mencuci dan menjemur pakaian di halaman. Kalau miring ke kiri, pertanda akan turun hujan. Saya mencuci pakaian tapi pakaian saya angin-anginkan di teras samping rumah......".

"Kalau di tengah? Hmmm........sedang ereksi?", Rani menimpali.

"Saya tidak mencuci atau menjemur dong. Tahu kan maksud saya", jawab Reni kenes sambil mengerdipkan mata penuh arti.

 

                                                   

(Den Vincent)


 

 

Ketika orgasme terjadi otot-otot vagina dan rahim berkontraksi, sehingga membuat perasaan sangat nyaman.” 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.