HEALTHY SEXUAL LIFE

         

TETAP MESRA MESKI MENOPAUSE

 

Banyak kaum wanita yang menganggap masa menopause sebagai momok. Kebahagiaan suami-istri yang dinikmati sejak menikah seakan segera berakhir. Kehidupan ranjang yang selama itu memberi kenikmatan akan berbalik menjadi siksaan. Benarkah?     

 

Maya terlihat ceria begitu keluar dari ruang praktik dokter di sebuah klinik untuk masalah kesehatan perempuan. Sambil menggandeng lengan suaminya, wanita paruh baya ini tampak manja, tak ubahnya pasangan muda yang baru menikah. "Ternyata 'hidup' kita belum berakhir ya, pa", tuturnya manja. Sang suami yang juga ikut gembira menjawab dengan anggukan disertai senyuman.

Keduanya memang patut berbahagia kembali seperti ketika menikah 25 tahun silam. Tanda-tanda hendak menopause yang dialami Maya tak lagi menghantuinya. Soalnya, ginekolog yang menanganinya bilang menopause bukan akhir dari keintiman suami-istri. Perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi masih bisa diatasi. Hubungan intim bersama suami yang selama ini masih rutin dilakoni masih dapat berlanjut dengan nyaman. 

 

Hubungan seksual tetap

Sebenarnya kegelisahan memasuki masa menopause seperti dialami Maya juga dirasakan perempuan lain. Sama seperti Maya, mereka juga menganggap masa menopause sebagai akhir dari kehidupan seksualnya akibat proses alami yang membuat kinerja organ-organ intim tak lagi optimal. Lubrikasi vagina berkurang, bahkan tidak terjadi. Kepekaan titik-titik sensitif berkurang jauh. Gairah seks sulit bangkit.

Dr. Boyke Dian Nugraha, ginekolog yang juga sering menangani masalah seksual perempuan, menyatakan seorang perempuan memang tidak ujug-ujug masuk masa menopause. Dalam siklus hidup perempuan, menopause merupakan bagian dari masa klimaktorium.

Masa klimaktorium sendiri terbagi atas pramenopause (premenopause), menopause, dan pasca menopause (post menopause). Pada masa-masa itu terjadi penurunan produksi hormon estrogen akibat proses penuaan pada indung telur.

Tingkat penurunannya bervariasi. Menurut catatan dr. Boyke, penurunan terbesar mencapai 80%.

Penurunan produksi estrogen selanjutnya akan mengakibatkan dampak lainnya, seperti flushing, berkeringat, jantung berdebar, kulit keriput, dsb. Sementara yang berkaitan dengan kehidupan seksual, penurunan produksi estrogen menyebabkan vagina kering, kurang bergairah, payudara turun, tulang-tulang mengalami proses pengeroposan sehingga terasa ngilu saat berhubungan seksual.

Gejala-gejala itu sudah mulai terasa sejak masa pramenopause, dan semakin memuncak ketika memasuki masa post menopause. "Hanya derajatnya dari ringan sampai berat. Ada yang lebih berat pada gangguan tulangnya. Ada yang lebih berat pada gangguan pusingnya. Ada yang berat pada gangguan emosionalnya", jelas dr. Boyke.

Pada masa pramenopause seorang perempuan akan mengalami ketidakteraturan menstruasi. Begitu haid berhenti sama sekali selama setahun tanpa putus, maka seorang perempuan memasuki masa menopause.

Dari data di Klinik Pasutri yang dikelola dr. Boyke diketahui awal masa menopause wanita rata-rata pada usia 48-49 tahun. Namun ada pula kasus wanita yang memasuki masa menopause lebih dini, misalnya 43 tahun. Mereka umumnya karena menderita penyakit liver, anemia, diabetes, atau hidupnya penuh dengan stress.

"Tapi sterilisasi tidak berpengaruh apa pun terhadap waktu datangnya masa menopause, karena pada sterilisasi indung telur tidak diapa-apain, yang diikat itu saluran telurnya", tambah dr. Boyke.

Maya sebenarnya masih berada pada masa awal menopause. Ia belum benar-benar menopause. Kalau pun ia sudah gelisah, itu boleh dianggap wajar. Pasalnya, kalau nantinya masa itu datang, bisa jadi akan muncul masalah dalam hubungan seksual dengan suami tercinta. Bila tidak ditangani, hubungan seksual yang semula menjadi aktivitas yang menyenangkan berbalik menjadi penderitaan.

Secara psikologis seseorang yang memasuki masa (pra) menopause mengalami penurunan semangat hidup dan takut tak dihargai lagi oleh suami hanya lantaran di kamar tidur tidak seceria sebelumnya.

Akibatnya, banyak wanita yang mengurangi aktivitas hubungan seksualnya. Bahkan, bila gangguan tadi sangat berat, ia sampai tidak mau melakukan hubungan seksual sama sekali, seperti yang dikhawatirkan Maya. Padahal, meskipun memasuki masa menopause, aktivitas seksual mestinya tetap harus dilakukan.

Mengapa? Pada usia menopause aspek rekreasi dan relasi atau ekspresi cinta dalam berhubungan seksual akan lebih menonjol. "Kedua aspek ini perlu dipertahankan, karena mereka toh masih suami-istri. Tidak cukup hanya membelai-belai, tetapi harus ada hubungan seksual. Even cuma sekali seminggu atau dua minggu sekali, it's oke". 

 

HRT perbaiki kualitas hidup

Masa menopause memang tidak bisa dihindari, karena merupakan proses penuaan yang alami pada wanita. Yang bisa dilakukan, menunda kehadirannya. Biasanya dilakukan dengan hormone replacement therapy (HRT). Dengan HRT pula gangguan hubungan seksual bisa diatasi. Karena itu, ketika menemui gangguan seksual pada wanita menopause, yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kadar hormon estrogen. Dari sini bisa diketahui apakah gangguan seksual itu karena faktor hormonal atau bukan. Selanjutnya, dokter bisa menentukan dia memerlukan terapi hormon atau tidak.

Kalau penurunan produksi hormonnya tak terlampau berat, 10-15% misalnya, biasanya HRT tidak dilakukan. Sebaliknya, bila penurunannya cukup besar, dokter akan menyarankan dilakukannya HRT. Ketika hormonnya sudah kembali ada, maka gejala-gejala vagina kering dan gairah seksual menurun akan kembali normal", jelas dr. Boyke. Bila ternyata timbul gangguan, dosisnya diturunkan atau diganti dengan hormon alami yang dihasilkan dari biji bunga matahari. Bahkan ada yang cukup dengan makanan sehat atau pemberian vitamin saja.

Kalaupun pasien tidak bersedia menerima HRT, masih ada cara lain yang bisa dilakukan dokter. Untuk meningkatkan gairah seksualnya misalnya, bisa dilakukan dengan pemberian salep yang dioleskan pada klitoris. Krim ini berisi zat aktif arginin dan asam sitrat dan berfungsi memperbaiki sirkulasi darah dalam klitoris. Dengan krim itu, klitoris menjadi lebih peka. Atau untuk mengatasi nyeri saat berhubungan intim, digunakan krim untuk vagina yang mengandung hormon estrogen.

Krim itu bekerja memudahkan lubrikasi. "Tapi itu obat dari luar, selesai hubungan seks, (pengaruh obat) akan hilang lagi. Sebaiknya, kan pengobatan dari dalam. Karena itu alternatif pertama untuk terapinya ya dengan HRT", tegas dr. Boyke.

Terhadap sinyalemen yang menyebutkan HRT dapat menyebabkan kanker, menurut dr. Boyke tak perlu dirisaukan. "(Sinyalemen) itu bohong", sanggahnya. "Penelitian di berbagai negara membuktikan orang lebih me-recommend HRT, karena dengan HRT kualitas hidup seorang wanita menjadi lebih baik. Dia tidak akan mengalami keropos tulang, tidak mudah terkena serangan jantung, gairah seksual masih oke, dan kulit tetap cerah. Rasa percaya dirinya oke. Emosinya lebih stabil. Saat melakukan hubungan seksual juga tidak sakit. Jadi, banyak hal positifnya", ungkap ginekolog berpenampilan trendi ini.

Namun, sebelum menjalani terapi hormon, seorang wanita diharuskan menjalani beberapa pemeriksaan. Di antaranya pemeriksaan USG kandungan, USG payudara atau mamografi, papsmear, dan tes keropos tulang.

Bagaimana kalau ternyata HRT tak melenyapkan gangguan seksualnya? Pemeriksaan baru dilakukan terhadap aspek psikologisnya. Kalau ternyata gangguan hubungan seksualnya karena faktor psikologis, misalnya stress, maka kepadanya perlu diberikan terapi psikologi.    

 

Teknik dan variasi yang berbeda

Menghadapi gangguan seksual pada wanita menopause, dukungan seorang suami sangat diperlukan. Komunikasi suami-istri harus baik agar suami mengetahui permasalahan yang dialami istrinya. Kalau melihat perubahan yang kurang baik pada istrinya, suami juga perlu menanyakan apa yang terjadi. Jika diketahui ada masalah pada istri, segera kunjungi dokter. Suami sebaiknya ikut menemani istri saat berkonsultasi dengan dokter.

Suami-istri tidak perlu saling menyalahkan dalam menghadapi persoalan seksual pada masa menopause. Lebih baik berdua berkonsultasi dengan dokter.

Yang tidak kalah penting, pasangan tetap melakukan aktivitas seksual seperti biasa. "Artinya begini, kalau kali ini gagal, mungkin lain kali bisa berhasil. Tapi kalau beberapa kali mengalami kegagalan, segeralah ke dokter. Misalnya, istri masih merasakan sakit saat berhubungan seksual, tetap tidak bisa orgasme, atau ereksi suami tidak maksimal, langsung berdua menemui dokter. Pengobatan masalah seksual ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri", pesan dr. Boyke.

Perlu diingat pula, hubungan seksual ketika istri telah memasuki masa menopause memerlukan teknik dan variasi yang berbeda. Sebab, organ seksual wanita sudah kurang sensitif dan sebagainya. Perlu adanya perubahan suasana, rangsangan oral, atau penggunaan alat bantu seksual. Misalnya dengan berhubungan seksual tidak di tempat tidur melainkan di kamar mandi. Mengganti parfum lama dengan yang baru.

Karena gairah sudah tak setinggi ketika masih muda, maka membangkitkannya pun perlu rangsangan-rangsangan dari luar. Misalnya berdua menonton VCD Kamasutra. Atau mempraktikkan seks oral. Penggunaan vibrator untuk melakukan perangsangan juga bisa dilakukan, asal dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama. "Yang perlu diingat, hubungan seksual itu sesuatu yang fun, suatu permainan yang mengasyikkan. Jadi, menggunakan alat bantu boleh-boleh saja".

Beralasan bila wajah Maya tampak ceria begitu keluar dari ruang praktik dokter meski ia akan memasuki masa menopause.              

         

 

(I Gede Agung Yudana)


 

Soal kematangan gairah seks, pria mencapai puncaknya pada usia 20-an tahun, sedangkan pada wanita terjadi pada usia di atas 35 tahun

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.