HEALTHY SEXUAL LIFE

         

 The GREAT IMITATOR DAN KAWAN KAWAN

 

Neisseria Gonorrhoeae, nama yang indah. Namun kalau anda disambanginya, bakalan masa depan anda tidak lagi indah. sebab ia pembawa penyakit kelamin gonore. Masih banyak penebar infeksi menular seksual lainnya yang patut anda pahami agar terhindar dari mereka.       

 

"Bermain air basah, bermain api terbakar". Begitulah bunyi peribahasa yang dulu pernah kita terima di bangku sekolah. Kalau bermain seks? Yang jelas, mesti kudu hati-hati dengan yang namanya infeksi menular seksual (IMS).

Jika masih asing dengan istilah itu, wajar saja. Dulu istilah ini lebih dikenal dengan penyakit menular seksual (PMS). Ada alasan mengapa dulunya 'P' sekarang diganti 'I'. Ada orang yang sudah diketahui terinfeksi mikroorganisme penyebab PMS dan dapat menularkan infeksinya, namun secara fisik belum memperlihatkan tanda-tanda adanya penyakit. Begitulah alasan penggantian itu.

IMS termasuk infeksi HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia, khususnya negara-negara berkembang. Meski program pemberantasan IMS secara nasional maupun global oleh WHO telah dijalankan sejak lama, IMS tak kunjung hilang. Bahkan di negara maju sekali pun. Laporan dari berbagai negara di dunia menunjukkan angka penderita IMS cenderung meningkat.

Sayangnya, di Indonesia angka penderita IMS tidak dapat diketahui dengan pasti, berbeda dengan angka penderita infeksi HIV/AIDS. Soalnya, IMS bukan penyakit yang wajib dilaporkan. Meski angka IMS di RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menurun (tahun 1998 lebih dari 1200 dan tahun 2004 menjadi 800) bukan berarti penderita IMS semakin berkurang. Tersebarnya rumah sakit - rumah sakit swasta maupun pemerintah dengan pelayanan dan fasilitas yang baik, serta jumlah dokter praktik yang meningkat menyebabkan penderita IMS tidak selalu berobat ke RSCM.  

 

Sudah mengancam remaja

IMS perlu diwaspadai, sebab penderitaan tidak saja yang suka ganti-ganti pasangan tanpa menggunakan pelindung (pekerja seks komersial-PSK dan pelanggannya), namun mereka yang punya satu pasangan saja bisa terkena. Itu akibat ulah pasangannya yang sering 'jajan' di luar rumah.

Diperkirakan terdapat 7-10 juta pelanggan seks pria di Indonesia yang dalam kegiatan seksualnya dengan PSK tidak mengenakan kondom. Survei di tiga kota besar di Indonesia menunjukkan angka pemakaian kondom secara konsisten oleh PSK berkisar antara 18,9% di Karawang sampai 88,4% di Merauke. Para PSK jalanan umumnya tidak pernah memakai kondom secara konsisten.

Pada PSK dari hasil pemeriksaan di panti rehabilitasi sosial di Jakarta yang menampung mereka, lebih dari 80% di antaranya menderita satu atau lebih IMS. Sedangkan penelitian di beberapa puskesmas di Jakarta dan Jawa Barat tahun 1994 menemukan 43,5% wanita usia subur yang datang ke puskesmas menderita IMS.

Yang patut menjadi perhatian kita semua adalah kenyataan bahwa penderita IMS terbanyak adalah kelompok usia muda (20-24 tahun). Bahkan angkanya cenderung meningkat. Menurut data Family Care International (1995) Amerika Serikat, satu dari 20 remaja tertular IMS dengan persentase IMS tertinggi pada kelompok usia 15-24 tahun.

Momok IMS bertambah menyeramkan seiring dengan berkembangnya infeksi HIV/AIDS. Soalnya, mereka yang sudah terkena IMS akan lebih mudah terkena infeksi HIV/AIDS. Sebaliknya, seseorang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS kemudian terinfeksi IMS, maka IMS yang dideritanya akan lebih parah, lebih sulit didiagnosis dan diobati, serta berlangsung lebih lama.

Di Indonesia infeksi HIV/AIDS telah memasuki tahap epidemi, meski masih terkonsentrasi pada kelompok populasi tertentu. Pada tingkat populasi umum masih rendah. Hal-hal yang mempercepat penyebaran infeksi HIV/AIDS adalah semakin meningkatnya pemakai narkoba suntik dan jarum suntik yang dipakai secara bergantian. Ada laporan satu jarum dipakai oleh lebih dari 15 orang.

Banyak kasus IMS tidak memberikan gejala atau keluhan (kasus asimtomatik), sehingga mereka pun tak perlu merasa untuk berobat. Kasus ini kebanyakan terjadi pada wanita. Ditambah dengan kegagalan dalam diagnosis maupun terapi dalam tahap dini, kurangnya pengetahuan tentang IMS, kecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual (promiskuitas), dan rasa malu bila berobat membuat IMS ibarat gunung es yang kelihatan puncaknya saja.

Kegagalan diagnosis dapat terjadi karena keterbatasan tenaga dan fasilitas laboratorium, serta minimnya biaya yang tersedia untuk pemeriksaan laboratorium. Sedangkan munculnya jalur baru penyebab IMS yang resisten terhadap obat yang biasa digunakan dan pemakaian antibiotik yang tidak benar akan mengakibatkan kegagalan terapi.    

 

Sifilis, the great imitator

Sampai saat ini terdapat lebih dari 50 macam infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Yang sering ditemukan di Indonesia adalah gonore, sifilis, herpes kelamin, kutil kelamin (penyakit jengger ayam/kondiloma akuminatum/genital warts), dan infeksi HIV/AIDS. Masing-masing infeksi tadi beragam pula penyebabnya: bakteri, jamur, protozoa, ektoparasit, dan virus. Beruntunglah selain yang disebabkan virus, semua IMS tadi dapat diobati sampai tuntas.

Sayangnya, pintu gerbang IMS juga banyak. Bisa karena hubungan kelamin dengan kelamin (genitogenital), mulut dengan kelamin (orogenital), maupun anus dengan kelamin (anogenital).

Mengapa justru saat merengkuh kenikmatan itu si biang penyakit malah datang? Saat melakukan hubungan seksual akan terjadi gesekan (trauma) yang akan menimbulkan luka kecil. Saking kecilnya, luka ini tidak selalu kasat mata. Melalui luka ini cairan sperma atau vagina yang mengandung bibit penyakit akan masuk ke dalam jaringan tubuh. Selain itu masih ada gerbang lain: melalui alat yang terkontaminasi penyebab IMS (misalnya jarum suntik, transfusi/produk darah) serta dari ibu hamil pada janin yang dikandungnya atau pada bayi saat melahirkan.

Berhubung penyebabnya banyak, tiap jenis IMS memberikan keluhan dan gejala berbeda. Ada yang keluar cairan abnormal dari vagina (keputihan) atau lubang kencing, muncul luka atau lecet di alat kelamin, atau timbul kutil di kelamin. Tempat munculnya gejala tadi pun tidak melulu di kelamin, namun tergantung pada cara masuknya bibit penyakit. Bila hubungan seksual dilakukan secara genitogenital, kelainan akan timbul di daerah kelamin, di sekitar mulut/bibir pada orogenital, dan anus pada anogenital. Bahkan lokasi gejala IMS bisa di tempat yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas seksual. Misalnya di telapak tangan dan kaki pada sifilis stadium dua.

Keluarnya cairan abnormal dari alat kelamin wanita maupun pria disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Pada pria keluhan kencing nanah ini timbul setelah 3-5 hari setelah berhubungan seksual yang diawali dengan rasa panas atau pedih saat kencing dan keluarnya cairan (nanah) dari lubang kencing.

Bila belum terlalu parah, ditandai dengan adanya bercak kekuningan di celana dalam terutama pada saat pagi hari. Pada wanita sulit ditentukan berapa lama masa inkubasi gonore, karena biasanya tidak menimbulkan keluhan sehingga sering tidak disadari oleh si wanita. Namun tetap saja dapat menular pada pasangannya. Bila ada keluhan, umumnya ringan, antara lain keputihan yang berbau tidak enak.

Bakteri lain yang memberi gejala keluarnya cairan dari alat kelamin adalah Chlamydia trachomatis. Bila dibandingkan dengan gonore, masa inkubasinya berlangsung lebih lama, yaitu antara 1-3 minggu. Keluhan yang diakibatkannya lebih ringan dan cairan yang keluar juga lebih sedikit. Akan tetapi pengobatan dan penyembuhannya kadang perlu waktu lebih lama.

Yang patut diwaspadai adalah bakteri Treponema pallidum yang menimbulkan sifilis. Gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi, tergantung stadium penyakit. Masa inkubasi sifilis berkisar antara 1-3 bulan yang diawali dengan sifilis stadium 1 berupa lecet atau luka yang tidak nyeri dan bersih (tidak bernanah) di alat kelamin, mulut, atau sekitar dubur disertai pembesaran kelenjar getah bening lipat paha.

Meski tidak diobati, luka akan menghilang sendiri dan beberapa minggu kemudian timbul sifilis stadium 2 dengan gejala utama di kulit. Kelainan yang timbul di kulit menyerupai berbagai penyakit kulit sehingga sifilis dijuluki sebagai the great imitator.

Kelainan kulit yang muncul dapat berupa bercak-bercak atau bintik-bintik merah di tubuh, telapak tangan, dan telapak kaki yang terkadang disertai sisik, tetapi biasanya tanpa rasa gatal. Kelainan kulit juga akan hilang tanpa diobati dan mulailah masa sifilis laten yang dapat berlangsung sampai beberapa tahun.

Pada sifilis laten tidak ditemukan tanda atau kelainan di kulit penderita dan umumnya baru terdeteksi saat pemeriksaan darah serologi untuk sifilis yang memberi hasil positif. Pemeriksaan darah serologi untuk sifilis kadang dapat memberi hasil positif palsu pada penyakit atau keadaan tertentu yang bukan sifilis, misalnya penyakit malaria, kusta, TBC, lupus, kehamilan, dan usia tua.

Sifilis stadium lanjut dapat menyerang sistem saraf pusat, jantung, dan sistem pembuluh darah. Akibatnya, timbul kelumpuhan dan kemunduran daya pikir. Untunglah, sifilis stadium lanjut saat ini sudah jarang dijumpai.       

 

Jangan terkecoh herpes

Pada IMS yang disebabkan oleh virus, kutil kelamin (genital warts) atau penyakit jengger ayam (bila membesar akan menyerupai jengger ayam) sering dijumpai. Masa tunas kutil kelamin berlangsung antara 1-8 bulan. Angka rata-ratanya tiga bulan. Penyebabnya virus Papilloma humanus yang juga dipercaya sebagai biang penyebab kanker rahim (soalnya virus ini ditemukan pada penderita kanker rahim).

Tanda awal penyakit ini adalah bintil-bintil kecil, yang kemudian bersatu membentuk kutil yang lebih besar. Kutil akan membesar bila tumbuh di kulit yang lembab, penderita kurang menjaga kebersihan kelaminnya, pada wanita hamil atau yang mengalami keputihan.

Berhubung tidak ada keluhan gatal atau nyeri, penderita kutil kelamin umumnya baru ke dokter saat kutilnya bertambah banyak atau bertambah besar. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada wanita karena bentuk anatomi kelamin wanita yang banyak lipatan dan selalu lembab, sedangkan pria lebih sering bertindak sebagai pembawa virus tanpa disertai kelainan kulit.

Anggota virus penyebar IMS lainnya yaitu virus herpes simplex (VHS) yang menimbulkan penyakit herpes kelamin atau herpes genitalis. Jangan bingung dengan penyakit kulit lain yang juga memakai nama herpes, yaitu penyakit herpes zoster (shingles). Nama lain si zoster ini adalah penyakit cacar ular atau dampa. Penyebabnya sama dengan penyebab cacar air, yaitu virus varisela zoster yang penularannya melalui udara atau kontak langsung dengan kulit yang sakit. Sering herpes zoster dikelirukan dengan herpes kelamin.

Herpes genitalis merupakan infeksi yang berlangsung akut dengan gejala yang khas berupa bintil-bintil kecil berisi air, berkelompok, dengan kulit yang kemerahan. Bintil akan cepat pecah menjadi lecet atau luka yang nyeri, terutama bila terkena air kencing saat buang air kecil. Rasa nyeri ini lebih sering dialami penderita wanita, khususnya di awal serangan.

Herpes kelamin sering meresahkan penderita, karena kemungkinan kambuh atau timbul kembali gejala yang sama di kemudian hari sangat besar. Namun gejala yang dialaminya akan lebih ringan dan lebih cepat sembuh. Penyakit herpes kambuh bila ada faktor pencetus antara lain senggama, ketegangan fisik maupun emosional, menstruasi, serta minuman dan makanan tertentu.

Virus terakhir penebar IMS adalah HIV. Serangannya mesti dicermati, sebab meski menular melalui hubungan seksual, infeksi HIV/AIDS tidak bergejala di kelamin. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus ini akan menyerang leukosit (sel darah putih) yang bertugas untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Lama kelamaan jumlah sel leukosit semakin berkurang dan sistem pertahanan tubuh akan rusak. Akibatnya tubuh menjadi mudah mendapat infeksi berbagai bakteri, virus, dan mikroorganisme lain, serta tidak dapat menahan timbulnya sel-sel kanker.

Karena sistem kekebalan sudah jebol, penderita mudah terkena serangan mikroorganisme yang pada orang dengan sistem pertahanan tubuh normal tidak menimbulkan penyakit. Inilah penyakit parah yang dikenal dengan sebutan infeksi oportunistik. Dengan begitu, gejala yang tampak pada penderita HIV/AIDS tergantung pada jenis penyebabnya.      

 

Bayi pun bisa tertular

Dibandingkan dengan pria, kaum wanita ternyata lebih merasakan dampak negatif dari IMS. Ketidaksetaraan jender di bidang ekonomi, sosial, maupun budaya yang masih berlaku di masyarakat membuat wanita sangat tergantung pada pria. Sering seorang istri tidak dapat menolak ajakan suaminya untuk melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, meski ia tahu suaminya sering jajan, atau PSK wanita yang pelanggannya menolak memakai kondom. Kalaupun punya keluhan IMS, seorang istri perlu meminta uang lebih dulu pada suaminya untuk berobat.

Kemungkinan seorang wanita tertular infeksi dari pasangannya yang menderita IMS dua kali lebih besar daripada pria. Banyaknya kasus gonore dan infeksi klamidia yang asimtomatik pada wanita menyebabkan mereka terlambat mendapat pengobatan sehingga infeksi terus berlanjut dan menimbulkan komplikasi penyakit radang panggul yang membuat mereka sulit hamil (mandul) atau hamil di luar rahim. Komplikasi lain adalah timbulnya kanker serviks karena infeksi virus kutil kelamin.

Selain berdampak pada dirinya sendiri, wanita pengidap IMS dapat menularkan penyakitnya pada janin yang dikandungnya. Sifilis yang diderita ibu hamil dapat menyebabkan abortus, bayi lahir mati, lahir prematur, atau lahir dengan cacat bawaan. Infeksi pada mata bayi yang baru lahir dapat disebabkan oleh gonore atau infeksi klamidia. Bila infeksi ini tidak segera diobati, akan menyebabkan kebutaan. Komplikasi lain yaitu radang paru pada bayi oleh klamidia serta kelainan kulit, saraf, dan organ dalam pada infeksi herpes genital.

Untuk menanggulangi IMS secara tuntas, perlu diagnosis yang tepat dengan cara menentukan kuman penyebab IMS. Namun hal ini perlu biaya, alat yang canggih, petugas yang terlatih, dan waktu untuk mendapatkan hasil. Kemudian berikan obat yang sesuai dengan penyebab, efektif, dan dengan dosis yang tepat pula. Selain itu perlu dilakukan konseling agar penderita mematuhi pengobatan yang diberikan, tidak menularkan penyakitnya pada orang lain, dan tidak tertular IMS lagi di masa mendatang. Pasangan seksual penderita dianjurkan untuk diperiksa dan diobati juga.

Jangan sekali-kali berusaha untuk mengobati sendiri IMS dengan antibiotik karena akan merugikan diri sendiri bila timbul resistensi obat. Gejala IMS yang sama, misalnya keputihan, dapat diakibatkan penyebab yang berbeda sehingga perlu obat dan dosis yang berbeda pula.

Jika IMS sudah enyah, harus selalu ingat untuk tidak main-main lagi dengan seks bebas. Ingat, hanya keledai yang bisa terperosok lagi ke lubang yang sama.                  

         

 

(Farida Zubier, SpKK)


 

Tak jarang justru perempuan yang sudah menjadi kurban selingkuhan suami harus rela berkurban lagi untuk memulai 'rekreasi'

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.