HEALTHY SEXUAL LIFE

         

 VENI, VIDI, VIAGRA !

 

Selama ini Viagra, Levitra, dan Cialis dianggap sebagai 'obat dewa' bagi pria yang kejantanannya bermasalah. Saking ngetopnya, banyak yang menggunakan obat-obat ini secara salah kaprah. Padahal jika dipakai keliru, problemnya bisa saja semakin parah.        

 

Seorang pria berusia 75 tahun pamit kepada istrinya, "Aku mau ke dokter".

"Kamu sakit?" tanya istrinya. Si suami menjawab, "Enggaaak! Cuma mau minta resep Viagra".

"Kalau begitu, aku juga mau ke dokter", timpal istrinya.

"Kamu sakit? ganti si suami yang heran.

"Enggaaak! tukas istri.

"Lalu kenapa kamu ke dokter?" tanya suami.

"Aku mau minta vaksin antitetanus", jawab istrinya cuek.

Guyonan sedikit vulgar ini sempat beredar semasa Viagra masih menjadi pemain tunggal di pasar obat disfungsi ereksi (DE). Saat pertama kali diluncurkan, planet bumi seperti mendapat kado istimewa dari perusahaan farmasi Pfizer. Jutaan kaum pria yang punya masalah seksual merasa bagai memperoleh mukjizat dari langit.

Sebelum pil biru itu datang (disebut begitu karena pil Viagra berwarna biru), kaum penderita DE punya semboyan Veni, Vidi, Vacuum. Kini berubah menjadi: Veni, Vidi, Viagra.

Wajar saja. Sebelumnya, ilmu kedokteran baru bisa memberikan alternatif terapi yang kurang nyaman buat pasien. Sebut misalnya pompa vakum atau operasi. Namun, sejak ada Viagra, semuanya berubah. Tinggal minum, sehabis itu seolah keajaiban terjadi. Banyak pria yang sebelumnya rendah diri, naik rasa percaya dirinya di depan istri. Termasuk pria dalam joke tadi. Sudah belasan tahun dia 'menyarungkan kerisnya' sampai oleh istrinya diolok-olok sebagai sudah 'karatan'. Itu sebabnya istrinya mau minta disuntik vaksin antitetanus.    

 

Bukan afrodisiak

Sebagaimana jamaknya obat, Viagra pun punya indikasi tertentu, yaitu khusus buat penderita DE. Namun, faktanya banyak peminum obat ini tanpa ada indikasi DE. Mereka mengira Viagra bisa menyelesaikan semua masalah seksual. Padahal, "Masalah disfungsi seksual itu manifestasinya macam-macam", papar dr. Harjono Djatioetomo, Sp.And dari RS Omni Medical Center, Jakarta.

Mari kita lihat satu demi satu. Secara medis, urusan seks pada pria merupakan kerja dari tiga fungsi: libido, ereksi, dan ejakulasi. Ketika seorang pria melihat bagian 'tertentu' pada tubuh wanita, ia akan mendapat stimulasi seksual. Saat itu fungsi libido yang bekerja.

Setelah itu, organ-organ tubuh pria akan merespons sesuai dengan tugasnya masing-masing. Jantung berdentam lebih keras. Pembuluh darah melebar. Suplai darah ke penis jadi meningkat. Ini kerja dari fungsi ereksi.

Proses itu berlangsung terus selama pria melakukan hubungan seksual. Proses ereksi berakhir usai ejakulasi. Ini fungsi terakhir. Jika si suami masih minta imbuh, siklusnya dimulai dari awal lagi. Selama masa ereksi, tubuh memproduksi cyclic guanosine monophosphate (cGMP). Senyawa inilah biang penyebab ereksi. Namun, cGMP punya seteru. Namanya enzim phospodiesterase-5 (PDE-5). Enzim ini menghambat kerja cGMP sehingga penis tak lagi ereksi. Dalam proses ereksi inilah Viagra bekerja. Sildenafil (kandungan Viagra) bekerja menghancurkan PDE-5 sehingga penis bisa mempertahankan ereksinya.

Karena hanya bekerja pada fungsi ereksi, Viagra tidak bisa digunakan untuk mengatasi masalah libido maupun ejakulasi. Seorang pria yang libidonya bermasalah, misalnya karena kadar hormon testosteronnya turun, otomatis dia tidak bisa ereksi dan ejakulasi. Jika ini yang terjadi pada Argo (45), nukan nama sebenarnya, seorang eksekutif mapan di Jakarta. Awalnya ia menduga, penisnya susah bangun karena ada problem pada fungsi ereksi. Ia pun mengira masalahnya akan selesai dengan Viagra, Levitra, atau Cialis.

Namun, setelah menjalani pemeriksaan hormonal, ia baru tahu biang perkaranya hormon testosteron. Setelah dokter memberinya obat hormonal, masalah pun selesai. Ia bisa 'bergiat dan bergulat' kembali dengan istrinya yang masih muda dan cantik, tanpa perlu bantuan Viagra cs.

Dengan penjelasan yang sama, Viagra juga tak bisa mengatasi masalah ejakulasi dini atau problem tak bisa ejakulasi. Wilayah ini bukan urusan Viagra dkk. Banyak pemakai yang tidak menyadari masalah ini. Mereka menganggap Viagra sebagai afrodisiak, pembangkit gairah seksual. Ini terutama bisa dilihat dari maraknya sex shop yang menawarkan Viagra, Levitra, dan Cialis sebagai obat greng.      

 

Tak selalu butuh Viagra

Menurut pengalaman dr. Harjono, banyak pasien yang datang kepadanya mengaku punya masalah ereksi. Setelah ditelusuri, ternyata penyebabnya adalah problem psikis. "Yang kayak gini, obatnya ya konseling", katanya.

Harjono memberi contoh tentang seorang suami yang tak punya gairah seks di malam hari. Usut punya usut, ternyata masalahnya sederhana. Kantornya jauh dari rumah. Pukul sebelas malam, ia baru tiba di rumah. Tubuhnya pun lelah. Habis mandi lalu tidur, itu yang biasa ia lakukan. Akibatnya, ia kurang bergairah untuk melakukan hubungan seksual, meski istrinya dalam kondisi 'siap tempur'.

Namun, saat bangun tidur di pagi hari, semangatnya pulih dan ingin melakukannya. Mungkin karena badannya sudah terasa segar lagi. Celakanya, istrinya tidak merespons karena harus menyiapkan keperluan anaknya ke sekolah. "Nah, kalau masalahnya seperti ini, yang dibutuhkan kan komunikasi", terang Harjono. Ada pula pasien yang mengeluh selalu loyo dan tak bersemangat melakukan hubungan seksual. Ternyata persoalannya lebih sederhana lagi. Penisnya tak bersemangat karena memang stamina tubuhnya tidak fit. "Kalau stamina tubuhnya diperbaiki, otomatis masalahnya akan selesai", ungkap Harjono. Apalagi jika turunnya gairah seksual hanya karena si suami tinggal di rumah mertua, dan ia malu kalau ranjangnya berbunyi saat melakukan hubungan intim suami-istri.

Jadi, masalah penis loyo tak selalu harus diselesaikan dengan Viagra. Mungkin saja obatnya makan makanan bergizi, cukup istirahat, dan rajin berolahraga. Atau pindah saja dari rumah mertua.

Jika begitu, lalu Viagra untuk siapa dong?

Yang memerlukan Viagra, Levitra, dan Cialis hanyalah para penderita DE. Titik. Seseorang dianggap menderita DE jika paling tidak selama tiga bulan berturut-turut ia tidak bisa mendapatkan atau mempertahankan ereksi cukup lama untuk memperoleh kualitas hubungan seksual yang memuaskan.

 

Lima jam atau tiga hari

Secara farmakologis, Viagra, Levitra, atau Cialis masih satu keluarga. Viagra berisi sildenafil. Levitra mengandung vardenafil. Cialis memuat tadalafil. Ketiganya bekerja dengan cara yang sama, yakni menghambat enzim PDE-5. Masa efektif dicapai sekitar 30 menit setelah minum. Artinya, hubungan seksual sebaiknya dilakukan sekitar setengah jam setelah minum obat ini.

Meski secara farmakologis sama, ketiga obat ini punya beberapa perbedaan. Pertama, satuan dosis kerja. Viagra tersedia dalam dosis gede: 100, 50, atau 25 mg agar bisa bekerja sebagai obat DE. Sementara Levitra dan Cialis hanya membutuhkan kira-kira seperlimanya.

Perbedaan kedua, penyerapan obat. Penyerapan Viagra di saluran cerna dipengaruhi oleh makanan. Karena itu Viagra dianjurkan untuk diminum satu jam sebelum atau dua jam sesudah makan.

Sedangkan penyerapan Levitra dan Cialis relatif tak dipengaruhi makanan. Diminum sebelum, sesudah, maupun saat makan, tak masalah.

Perbedaan ketiga, lama kerja obat. Viagra dan Levitra memiliki masa kerja sekitar 4-5 jam. Artinya, aktivitas seksual sebaiknya dilakukan selama masa 4-5 jam sesudah minum obat ini. Setelah masa ini lewat, daya kerjanya hilang. Sedangkan Cialis punya masa kerja lebih panjang: 36 jam.

Urusan yang satu ini sering disalahpahami. Seorang pasien DE pernah bertanya pada dokter, "Siapa yang kuat, dok? 'Berdiri' selama 36 jam kan capek". Padahal, masa kerja selama 36 jam tidak berarti obat ini akan membuat penis 'upacara' terus selama tiga hari. Obat-obat DE hanya membantu ereksi ketika ada rangsangan seksual. Artinya, saat tidak berada di atas ranjang, obat ini tidak akan membuatnya berdiri terus-terusan.

Harjono memberi contoh gampang, "Misalnya, setelah minum obat, ternyata mertuanya datang, lalu ngobrol sampai lima jam. Setelah mertuanya pulang, ia masih mendapatkan efek obat, dan bisa melakukan hubungan seksual".

Di Paris yang terkenal sebagai kota cinta, Cialis dijuluki 'Le Weekend Pill' (pil akhir pekan). Para pencinta yang sedang berlibur di kota ini bisa minum satu tablet Cialis untuk dua hari. Minum Sabtu, dan hari Minggunya masih bisa on.

Meski Viagra dan Levitra bekerja selama lima jam, obat-obat ini tetap tidak boleh dipakai lebih dari satu kali dalam sehari. Apalagi Cialis yang punya masa kerja sampai 36 jam. Cukup satu tablet dalam dua atau tiga hari. Ini peringatan keras terutama bagi mereka yang biasa minum obat dosis dobel. Jangan salah, "Jika dosisnya dinaikkan dua kali lipat, tidak berarti otomatis efeknya dua kali lipat", tandas Harjono.   

 

Malu ke dokter sesat di ranjang

Meski punya beberapa kelebihan, tidak berarti Cialis lebih baik dalam semua urusan dibandingkan dua rekannya. Ada beberapa faktor yang akan dipertimbangkan oleh dokter saat memilihkan obat DE buat pasiennya.

Harjono memberi contoh, jika pasien tidak begitu aktif secara seksual, ia cukup mendapatkan obat DE dengan durasi kerja 4-5 jam saja. Namun jika pasien masih muda dan secara seksual masih aktif, ia bisa minum obat yang durasi kerjanya lebih panjang. Faktor lain, kontraindikasi obat. Ini pertimbangan nomor wahid.

Ketiga obat DE ini punya kontraindikasi yang sama, yaitu pemakaian obat golongan nitrat. Obat ini biasanya diresepkan oleh dokter buat para penderita gangguan jantung. Jika Viagra dkk. dan obat golongan nitrat bekerja secara bersamaan, tekanan darah peminumnya bisa anjlok tajam.

Untuk menghindari efek buruk ini, pemakai obat golongan nitrat tidak disarankan berlama-lama berada dalam pengaruh obat DE. Semakin lama obat DE bekerja, semakin lama ia harus menghindari nitrat. Jika dalam periode itu ia terkena serangan jantung lalu minum nitrat, bisa-bisa ia malah dikirim ke instalasi gawat darurat.

Richard L. Siegal, MD direktur medis kesehatan seksual Pfizer Inc. AS, menyarankan agar obat-obat penghambat PDE-5 diresepkan secara ekstra hati-hati pada penderita gangguan jantung, meskipun ia tidak minum nitrat. Sebab kegiatan seksual selalu disertai dengan kerja keras otot-otot jantung. Dikhawatirkan pada saat melakukan hubungan seksual, jantungnya mengalami masalah.

Karena berbagai faktor inilah, obat DE masih tergolong obat etikal (hanya boleh didapat di apotek dengan resep dokter). Celakanya, obat-obat ini secara liar banyak dijual di kios-kios obat kuat di pinggir jalan. Lebih celaka lagi, banyak pemakai awam yang membeli dan menggunakan obat-obat ini secara serampangan.

Padahal dengan pergi ke dokter, mereka mestinya bisa mendapatkan jenis obat yang cocok: Viagra, Levitra, atau Cialis. Selain itu, mereka juga bisa mendapat dosis yang tepat. Tidak hanya main pukul rata, meniru kawan dekat atau tetangga. Lewat konsultasi, mereka bisa memperoleh informasi tentang efek sampingan yang mungkin terjadi. Sehingga mereka tak perlu panik jika misalnya sakit kepala atau pandangan kabur setelah minum obat ini.

Karena berbagai alasan ini pula, Harjono menyarankan penderita DE untuk tak perlu malu-malu pergi ke dokter. Yang penting, saat konsultasi harus jujur. Ini syarat utama. Dengan begitu, dokter tidak keliru mendiagnosis. Soalnya, banyak pria malu mengakui kondisi sebenarnya.

Umumnya laki-laki merasa minder jika menderita DE. Bukan hanya pada istri, tapi juga pada dokter. Karena itu, tak semua penderita DE membawa masalahnya ke sana. Kalaupun ke dokter, mereka biasanya berkonsultasi tanpa sepengetahuan istrinya. Soalnya secara psikis, pria ingin selalu tampak jantan di mata wanita. Padahal akan lebih baik lagi jika pergi ke dokter bersama istri. Sebab masalah DE bukan cuma urusan suami. Gangguan ini, pinjam bahasa iklan, terjadi pada pria tapi diderita oleh wanita.

Dengan pergi ke dokter, masalah pun bisa diidentifikasi secara benar. Sebab bisa saja problemnya bukan di enzim PDE-5, tapi di kadar hormon testosteron, misalnya.

Jadi, jawabannya tak selalu harus Viagra, kan?           

        

 

(Sholekhudin)


 

Sebanyak 67% kasus disfungsi ereksi pada kaum pria muda perkotaan ternyata disebabkan faktor stress. Celakanya, alih-alih mencari psikolog, mereka malah memburu Viagra tanpa resep dokter 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.