Ceritakan Pada Dunia Untukku
Oleh:  John Powell, SJ


Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh. Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih. Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya
dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?"
"Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.
"Oh," sahutnya. "Rasanya anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan."
Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu." Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.
Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur. Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan, Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya untuk pertama kalinya terdengar tegas.

"Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi."
"Kamu mau membicarakan itu?"
"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"
"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?"
Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini."
Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku, "Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah
Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh."
"Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan, "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu Surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu."
"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya." Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.
"Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali."
Korannya turun perlahan 8 cm. " Ada apa?"

"Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
"Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."
"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.
"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar, Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."
"Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih."
"Tommy," saya menambahkan, "Boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"
Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.
Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak," katanya.
"Saya tahu, Tommy."
"Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?"
"Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."

"Don't think that love, to be true, has to be extraordinary.
What is necessary is to continue to love.
How does a lamp burn, if it is not by the continuous feeding of little drops of oil? Where there is no oil, there is no light.
Dear friends, what are our drops of oil in our lamps? They are small things from every day life: the joy, the generosity, the little good things, the humility and the patience.
A simple thought of someone else. Our way to be silent, to listen, to forgive, to speak and to act. These are the real drops of oil that make our lamps burn vividly our whole life. Don't look for Jesus far away, He is not there. He is in you, take care of your lamp and you will see Him."
  - 
Mother Theresa


  Melepas Belenggu Kekikiran
Oleh:  K.H. Abdullah Gymnastiar

Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan? Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.
Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis, rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya.
Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.
Dan ALLOH suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal". "Sesungguhnya ALLOH itu indah dan menyukai keindahan". Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah.
Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin 'topeng' belaka. Topeng 'make up', seragam, jas, dasi, sorban, atau 'asesoris' lainnya. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci, dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar 'topeng' ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut 'topeng' kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang 'aslinya'.
Tentu saja tindakan tersebut tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi ALLOH selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya 'topeng' yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di Surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahanam?" Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap ALLOH Yang Mahaagung, menatap keindahan Surga, menatap  Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih ALLOH kelak?
Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laillahailallah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akherat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini."
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama ALLOH dengan tulus?
Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar ALLOH mengampuni?" Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di Surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahanam terasang tanpa ampun derita tiada akhir".
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba ALLOH yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau napas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok?
Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"
Lalu ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan di balik penampilanmu ini?" "Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?" Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu".
"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan? Khusukkah shalatmu, dzikirmu, doamu, ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"
Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi" Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini. ***

 

 


 

Merayakan Natal di Tengah Umat Islam

Oleh :  Fathor Rachman Utsman

Tepat 25 Desember 2005, umat kristiani merayakan Natal. Tentu saja, perayaan Natal bagi umat kristiani memiliki nilai ritual transendental tersendiri.
Bagi umat kristiani, Natal merupakan refleksi religius yang mengandung nilai-nilai keagamaan cukup besar. Di samping memperingati kelahiran Yesus Kristus dan peran Bunda Tuhan, Maria, juga karena di dalamnya memuat nilai-nilai penebusan dosa, kesucian, kasih sayang, dan kedamaian yang mesti ditegakkan di muka bumi.
Sebagai sebuah agama yang eksistensinya diakui di Indonesia, umat kristiani juga menginginkan merayakan Natal dalam suasana tenang, damai, dan bebas ancaman teror, serta penuh kebahagiaan sangat mereka inginkan.
Seperti halnya ketika umat Islam merayakan Idul Fitri dan Idul Adha, umat kristiani merasa ikut merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Bahkan, mereka tidak sungkan-sungkan mengucapkan "Selamat hari raya" kepada umat Islam. Akankah kita umat Islam juga bisa bersikap demikian? Itu tergantung dari sisi mana umat Islam memandang dan bersikap toleran terhadap semua agama.
Keinginan berbagi kebahagiaan dan kedamaian antarumat beragama di bumi pertiwi ini dirasa sangat kurang untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali, sehingga seringkali melahirkan sikap intoleransi yang berujung pada permusuhan, kebencian, dan tindak kekerasan atas nama SARA, terutama agama. Agama yang pada awal lahirnya membawa pesan suci perdamaian, akhirnya terdistorsi oleh manusianya sendiri karena kuatnya truth claim dan sikap ekstrem dalam beragama.
Nah, akankah ekstremisme beragama di hari Natal tahun ini masih ada? Tidakkah kita umat Islam juga merasa bahagia di saat saudara-saudara kita umat kristiani berbahagia karena berhari Natal? Kita perlu mengkaji ulang firman Tuhan (QS. Al-Hujurat (49): 13) yang menyatakan: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal". Tuhan menyebut kata an-naas (yang berarti: manusia) dan tidak menyebut kata amanuu (yang berarti: orang-orang beriman) seperti yang biasa terdapat dalam ayat-ayat lain yang menyangkut kepentingan khusus umat Islam. Inilah esensi konsep pluralisme, multikulturalisme dan multireligius yang selama ini begitu kuat mengemuka.
Betapa sangat apresiatifnya Tuhan ketika menyebut kata an-naas dalam ayat tersebut. Ternyata Tuhan paham betul akan adanya pluralitas umat manusia di muka bumi, karena adanya bermacam-macamnya suku, ras, bangsa, dan agama. Tentu saja, Tuhan menyadari bahwa ayat tersebut diturunkan bukan hanya ekslusif untuk umat Islam, tetapi inklusif untuk semua umat manusia tanpa memandang latar belakang agamanya.
Ayat tersebut juga menegaskan agar semua umat manusia ta'arufu (saling kenal mengenal). Dalam banyak kitab tafsir Alquran dijelaskan bahwa saling kenal mengenal di sini tidak hanya sebatas kenal nama orang, tetapi juga kenal jenis kelamin, budaya, karakter, suku, ras, agama, dan lain sebagainya. Inilah prinsip fundamental Alquran yang mengakui adanya perbedaan yang mesti harus saling dihargai dan dihormati. Kalau Tuhan saja sangat akomodatif dan sangat menghargai perbedaan, mengapa kita ciptaan-Nya tidak bisa menghargai dan cenderung bersikap agresif? Aneh, bukan?
Selanjutnya, kalau kita lihat dari aspek gramatikal bahasa Arab (dalam konteks ilmu Sharraf) kata ta'arafu, mengikuti pola (wazan) ta'ala yang mengandung arti resiprokalitas (berbalasan atau imbal balik). Berarti "saling kenal mengenal" di sini tidak datang dari satu pihak tetapi dari kedua belah pihak yang harus berupaya untuk "saling kenal mengenal", "saling ingin mengetahui" dan "saling harga-menghargai", dan semacamnya.
Jika selama ini kita sering dihargai dan dihormati oleh umat kristiani ketika merayakan hari raya Idul Fitri dengan mengucapkan "selamat Idul Fitri", mengapa kita umat Islam tidak bisa menghargai mereka, dengan hanya sekedar mengucapkan "selamat hari Natal"? Lha wong sudah ada justifikasi dari ayat Tuhan.
Betapa sangat mulianya ajaran mereka jika bisa menghargai umat beragama lain, dan betapa tidak terhormatnya agama kita jika umatnya tidak bisa menghargai umat beragama lain. Lalu, di mana letak al-Islamu ya'lu wa la yu'la alaihi (Islam itu mulia dan tidak bisa dilebihi kemuliaannya oleh yang lain), dan mana esensi ayat Tuhan yang katanya Islam itu rahmatan lil 'alamain?
Cukup benar argumentasi Abdullah Yusuf Ali dalam bukunya The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary (1989: 150), yang menyatakan bahwa posisi umat Islam sangat jelas. Umat Islam tidak mengaku memiliki agama yang khusus untuk dirinya. Islam adalah bukan sejenis sekte atau etnik. Pernyataan ini lekat sekali dengan sabda Tuhan yang menolak homogenitas dan menghargai pluralitas yang tanpa pandang bulu di atas.

Substansi Natal versus Hari Raya Islam.
Seperti halnya perayaan Idul Fitri ataupun Idul Adha, perayaan Natal pun memiliki substansi yang sama, menyebarkan kasih dan damai antarsesama, yang dikemas dalam dua aspek ritual dan sosial. Dari aspek ritual, tentu saja keduanya memiliki prinsip dan nilai yang berbeda, meskipun akhirnya sama-sama menuju penyucian diri pada Tuhan.
Tetapi dari aspek sosial keduanya memiliki kesamaan yang mesti diakui bersama, menyebarkan kedamaian (islam, salam) dalam kehidupan, sebagai substansi doktrin semua agama. Oleh karenanya, merayakan substansi Natal (menabur kasih dan damai), baik dilakukan oleh umat kristiani maupun oleh umat Islam tidak ada bedanya. Hal ini penting dipahami agar kekerasan, permusuhan, dan aksi-aksi teror tidak lagi menghantui kehidupan manusia, sebagaimana yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Oleh karena itu, ancaman para ulama kita yang mengatakan man tasabbaha bi qaumin fahuwa minhum, barang siapa yang meniru suatu kelompok, ia termasuk dalam kelompok tersebut, perlu kita kaji kembali dalam konteks sosial saat ini. Sebab, belum tentu umat Islam yang mengucapkan Natal bagi umat kristiani, berbahagia dan berdamai dengan mereka secara otomatis dia kufur (keluar dari Islam), begitu juga sebaliknya.
Konkretnya, aspek ritual Natal dan hari raya Islam memiliki substansi transenden yang berbeda sesuai dengan Firman Tuhan dalam surat Al-Kafirun (109):6, lakum dinukum wa li yadin, bagimulah agamamu, dan untukkulah agamaku. Tetapi dalam aspek sosial sangat perlu kiranya kita mengembangkan prinsip "agamamu juga agama kami, agama kami juga agama kamu". Wallahu a'lam bish shawab!


Fathor Rachman Utsman

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Alumnus PP An-Nuqayah Guluk-Guluk, Sumenep
Berdomisili di Jln. Nogomudo 175, Gowok Depok, Sleman, Jogjakarta 55281

 

 


 

Beragama Yang Tidak Korupsi

Oleh:  Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
"Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan,
yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin
ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan".
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?", kejar si penanya.
"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk Surga tidak ngajak-ngajak", katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke Surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.
Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan
.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya.
Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.
Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.
Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.
Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

 

 


 

The Da Vinci Code dan Kematangan Beragama
Oleh: Novriantoni**  30/05/2006

Masih banyak kontroversi yang tak perlu dimuat di sini. Pendek kata, semua itu cukuplah membuat murka orang-orang yang dogmatis dan tidak matang dalam beragama. Untuk ukuran orang Kristen, heboh The Da Vinci Code mungkin setara, bahkan lebih mendasar ketimbang huru-hara kartun satiris Nabi Muhammad di koran Denmark, Jylland Posten, beberapa bulan lalu.
Kontroversi The Da Vinci Code, novel laris Dan Brown yang terbit 2003, kini disusul film dengan judul serupa; adaptasi dari novel tersebut. 19 Mei lalu, film The Da Vinci Code diputar serentak di seluruh dunia. Bagi sebagian umat Kristen, khususnya kalangan Katolik, inilah karangan fiksi dan film paling menggemaskan dan mungkin saja menggoncang iman (tentu bagi yang lemah imannya).
Heboh The Da Vinci Code memang terkait beberapa gambaran tentang aspek mendasar keyakinan Kristen. Novel dan film tersebut memuat gagasan-gagasan kurang lazim dan tidak dianut arus utama teologi kekristenan. Misalnya, di situ digemakan bahwa Yesus atau Isa Almasih bukanlah Tuhan, melainkan seorang manusia. Sebelum abad keempat, Yesus hanya dianggap manusia, namun Kaisar Imperium Romawi kala itu, Konstantin, mendewakan-Nya sesuai keyakinan lamanya yang paganis. Untuk keperluan klaim-klaim Kristen belakangan, Alkitab, setidaknya yang dianggap otoritatif, disunting dan digarap sesuai keinginan kekuasaan kala itu.
Yang tak kalah menegangkan, Yesus juga diceritakan telah menikahi Maria Magdalena yang kemudian mengandung dan melahirkan anak-Nya. Karena itu, Magdalena mestinya mendapat penghormatan lebih. Sampai saat ini, masih dalam alur fiksi Brown, garis keturunan Yesus dari Magdalena masih eksis di Eropa. Dan konon, Magdalena-lah orang pertama yang ditunjuk untuk mendirikan gereja Kristen, bukan Santo Petrus.
Imajinasi Brown terus melambung, bermain antara fakta dan fiksi. Alkisah, sampai kini, komunitas bawah tanah Biarawan Sion masih mengagungkan sosok Magdalena dan berusaha menjaga kebenaran yang misterius itu. Selama berabad-abad, Gereja Katolik berusaha menutupi kebenaran itu, bahkan tak segan-segan membunuh orang-orang yang berusaha mengungkapnya.
Masih banyak kontroversi yang tak perlu dimuat di sini. Pendek kata, semua itu cukuplah membuat murka orang-orang yang dogmatis dan tidak matang dalam beragama. Untuk ukuran orang Kristen, heboh The Da Vinci Code mungkin setara, bahkan lebih mendasar ketimbang huru-hara kartun satiris Nabi Muhammad di koran Denmark, Jylland Posten, beberapa bulan lalu.
Tapi yang ingin dibahas di sini adalah tanggapan umat Kristen umumnya, terutama kalangan Katolik, terhadap pendekatan kritis atas agama, untuk kita bandingkan dengan sikap umumnya umat Islam.

Respons Umat Kristen
Alhamdulillah, umat Kristen Indonesia tidak menanggapi The Da Vinci Code secara kalap dan membadak. Dengan begitu, hak semua orang untuk membaca suatu agama dengan pendekatan kritis tetap terbuka. Tidak ada demonstasi besar-besaran, apalagi bakar-bakaran. Dan yang penting, para pemuka gereja tidak tergiur mengikuti tradisi sebagian ulama Islam yang suka memfatwa-mati orang yang berpandangan kritis terhadap agama. Karena itu, mereka perlu diberi kredit. Satu-kosong, untuk lepasnya umat Kristen Indonesia dari masa puber beragama, terutama dalam menyikapi iklim kebebasan berekspresi yang baru seumur jagung di negeri ini.
Memang ada beberapa keberatan kecil yang muncul. Namun itu semua tidak menutup akses kita untuk membaca atau menonton. Konon, Persekutuan Injili Indonesia memprotes penayangan film yang dibintangi aktor kawakan Tom Hanks itu. Mereka sempat meminta Menkominfo melarang pemutaran film produksi Columbia Pictures itu, karena dianggap menodai agama Katolik.
Tapi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) selaku organisasi resmi Katolik Indonesia, tak menuntut hal serupa. Mereka cukup mengajak umat Kristiani untuk tidak menonton. Dengan demikian, masih tersisa ruang kebebasan bagi banyak orang untuk belajar: penasaran silakah tonton; takut iman goyah, jangan tutup kesempatan orang untuk menonton!
Itu fiksi belaka, bukan fakta historis Alkitab, dan tidak mengguncangkan iman umat, tandas Benny Susetyo, salah seorang pengurus KWI. Rohaniawan Katolik terkemuka Franz Magnis-Suseno berkomentar hampir sama, meski tak mampu menyembunyikan kekesalannya terhadap Dan Brown: ... umat dan uskup-uskup Indonesia tenang saja. Gereja kiranya tidak akan runtuh karena kekurang-ajaran seorang Dan Brown. Sungguh, itulah sikap yang matang dalam beragama, setara dengan ajaran normatif Quran yang dilupakan banyak umat Islam, man sya falyumin, wa man sya falyakfur (yang bersedia, silakan beriman; yang tidak, silakan inkar) atau la ikrha fid dn (tiada paksaan dalam paham keagamaan).
Di tingkat dunia, ada juga reaksi serupa, tapi masih dalam batas-batas yang wajar. Dalam konferensi pers 28 April 2006, Uskup Agung Angelo Amato, sekteratis Kongregasi Doktrin dan Keimanan Vatikan, menyerukan pemboikotan atas film The Da Vinci Code. Sementara Kardinal Arinze, dari Kongregasi untuk Peribadatan Suci dan Ketentuan Sakramen, menyatakan akan melakukan gugatan hukum yang belum ditentukan terhadap pembuat film.
Tapi sambil menyindir-nyindir kalangan fundamentalis yang gampang panik iman, walau selalu merasa paling kukuh memperjuangkan agama, dia mengatakan, Ada agama lain yang bila sosok agung dalam agamanya dihina sedikit saja, mereka bertindak lebih dari sekadar kata-kata. Mereka tak sungkan-sungkan membuat engkau betul-betul sengsara.
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Da_Vinci_Code


Respon Islam Fundamentalis
Gampang diduga, baik novel Dan Brown yang terjual sebanyak 60,5 juta eksemplar (sampai Mei 2006), dan diterjemahkan dalam 44 bahasa itu maupun filmnya akan mendapat sambutan hangat di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, Penerbit Serambi yang memegang hak terjemah dan penjualan novel tersebut, juga ketiban berkah. Tak ada keberatan dari umat Kristen Indonesia atas Serambi. Tidak ada pula sweeping maupun tuduhan penodaan agama. Kini filmnya hadir mengusik rasa penasaran kita, dan sambutannya sungguh luar biasa. Tiket-tiket bioskop Jakarta ludes terjual. Penonton membludak, yang tidak dapat tiket memendam rasa penasaran.
Gampang pula disangka, kalangan fundamentalis Islam Indonesia akan menyambut The Da Vinci Code dengan suka cita. Sudah lama mereka membangun pendekatan kritis atas segala agama, kecuali agama yang dianutnya, terutama demi menelanjangi agama Kristen. Untuk itu, standar ganda mereka terapkan. Karya-karya populer semacam The Da Vinci Code perlulah dijadikan rujukan untuk menghantam dasar-dasar teologi kekristenan.
Respons Adian Husaini, tokoh fundamantalis Islam Indonesia paling terdidik saat ini, relevan dikemukakan. Adian menemukan amunisi gratis untuk melakukan serangannya atas kekristenan dan umat Kristen Indonesia. The Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu, tulis Adian di Republika, Kamis, 28 April 2005.
Sikap Adian terhadap pendekatan kritis atas agama lain, bertolak belakang dengan pendekatan sejenis atas Islam; sebuah sikap yang jauh dari semangat ilmiah dalam studi agama-agama. Saya berpikir, sikap Adian dan kawan-kawannya yang hampir paranoid menunjukkan aib dan keburukan agama lain, kadang menimbulkan kesan tidak adanya kebenaran instrinstik dalam Islam, kecuali bila mampu menunjukkan kepalsuan agama lain. Mungkin semangat itulah yang masih melingkupi orientasi studi perbandingan agama di perguruan tinggi kita, dan khutbah-khutbah dalam masjid dan majlis
taklim negeri ini.


** Alumnus Pascasarjana Sosiologi UI, Depok.

 

 


 

Nawal el Saadawi, Menguakkan Selubung Pikiran
Minggu, 03 Desember 2006
Maria Hartiningsih & Ninuk M Pambudy

Nawal el Saadawi. Nama itu senantiasa mengingatkan pada seluruh pemikiran yang banyak dinilai sebagai "pembangkangan" terhadap pemikiran arus utama. Ia membayar sangat mahal kemerdekaannya berpikir mengenai kebenaran, keadilan, dan kesetaraan.
Bagi penguasa, tulisan-tulisan Nawal yang menggedor kesadaran dan akal sehat adalah ancaman terhadap kekuasaan yang dibangun dengan menyebarkan ketakutan.
Tujuh dari 45 karyanya—dalam bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan tak kurang dari 12 bahasa lainnya—bisa dibaca dalam bahasa Indonesia. Termasuk salah satu karyanya yang dipandang paling "subversif" di Mesir, novel tentang kejatuhan para pemimpin yang selalu bersembunyi di balik nama agama dan Tuhan, The Fall of the Imam (Jatuhnya Sang Imam).
Selama hampir separuh usianya yang 75 tahun, penulis "pembangkang dari Mesir, sosiolog, feminis, aktivis perdamaian—dan seabrek julukan bagi pasangan hidup selama 42 tahun bagi Sherif Hetata serta ibu dua anak yang mewarisi keberanian bersikap orangtuanya, Mona Nawal Helmi (49) dan Atif Hetata (41)—itu harus menghadapi berbagai ancaman.
Ia harus berpindah-pindah tempat tinggal dan kemudian mengajar di Spanyol, Inggris, dan AS selama lebih dari 10 tahun. Penentangnya bukan hanya kelompok agama-agama di negerinya, tetapi juga di AS dan Inggris. Tulisan dan pendapatnya disensor di mana-mana. Namun, tak ada yang menggoyahkannya. Sebaliknya, pemikirannya berkembang memengaruhi banyak orang dan terus mengguncang.

Selubung pikiran
Pandangan yang banyak dinilai "keras" itu ia kemukakan dengan suara lembut dan sikap yang mengingatkan pada kehangatan seorang ibu. Kami menjumpainya pada suatu pagi serta pada pertemuan di Jakarta selama berlangsung Konferensi Internasional Ke-7 Perempuan Penulis Naskah Drama, beberapa waktu lalu.
Nawal menyampaikan pidatonya dalam acara itu. Penampilannya sederhana dengan pakaian sehari-hari: celana panjang hitam dan kemeja bergaris lengan pendek, tanpa tata rias. Rambut putihnya diikat ke atas dengan seutas karet. Suaranya tegas, tetapi wajahnya ramah, bibirnya selalu tersenyum.
Menyatakan bercucu karya-karyanya, Nawal tampak bangga ketika dalam acara makan siang memperkenalkan anak laki-lakinya, Atif Hetata, sutradara film, yang filmnya, Closed Door, memperoleh banyak penghargaan, juga dari negara-negara Arab meskipun film itu berisi kritikan terhadap kemiskinan dan fanatisme agama.
Keletihan karena penerbangan panjang Kairo-Jakarta meluruhkan tubuhnya, tetapi tidak semangatnya. "Saya menaklukkan banyak hal, kecuali usia," ujarnya.
Seluruh pemaparannya di Jakarta mengingatkan pada pidatonya di panggung terbuka Forum Sosial Dunia, Januari 2004 di Mumbai. "Ketakutan adalah bidan perbudakan," serunya lantang.
Inti seluruh pesannya di Jakarta senada: membongkar ketakutan dengan menguakkan selubung pikiran (unveiled the mind), karena perang paling mematikan dan paling berbahaya adalah perang di dalam pemikiran; suatu kampanye untuk melancarkan kontrol dan menjinakkan akal sehat guna menguatkan kepatuhan.
Meski perbudakan oleh selubung pikiran menyasar pada perempuan dan laki-laki, tetapi perempuan merupakan tujuan terpenting dan utama; membuat mereka menerima nasib sebagai takdir dan berhenti bertanya.
Selubung yang menutupi akal sehat itu dirajut dengan sangat canggih melalui media, sistem pendidikan, dan pemikiran politik fundamentalisme dalam berbagai agama, baik di Barat maupun di Timur, di Utara maupun Selatan.
"Saya menjadi penulis pembangkang karena tidak dapat berpartisipasi dalam membuat kebohongan. Mereka berbohong persis seperti ketika George Bush dan Tony Blair berbohong saat mengatakan ada senjata pemusnah massal di Irak. Padahal mereka menyerang Irak untuk minyak dan menguasai," ujarnya.
Menulis pengalaman dan pemikirannya adalah cara Nawal menguakkan selubung pemikiran. Karena itu, ia mengingatkan, "Kata adalah hal yang sangat penting. Hati-hati menggunakan kata perempuan. Siapa Condoleezza Rice? Apa arti ’demokrasi’ dan ’hak asasi manusia’, yang memberi legitimasi AS menyerang Irak? Apa arti ’multikulturalisme’ ketika malah mengotak-kotakkan? Apa arti keberagaman yang atas nama itu yang satu bisa menyerang yang lain?"
Nawal menolak mendefinisikan tulisan sebagai maskulin atau feminin, ditulis perempuan atau laki-laki. Yang terpenting apakah tulisan itu mengatakan sesuatu yang progresif mengenai keadilan, kesetaraan, dan nilai-nilai manusia, ataukah tulisan itu bicara soal identitas yang membagi-bagi orang berdasarkan agama, suku, warna kulit, jender, dan hal-hal yang dikatakannya sebagai "nonsense" lainnya.
Kreativitasnya senantiasa terkait dengan pembangkangan. "Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran bos kita. Ketika kita menggunakan pikiran kita, kita menjadi pembangkang, karena kita melihat ketidakadilan."
Nawal membuat pilihan yang tegas. Ia memilih kreativitasnya, pikiran-pikirannya. "Saya menceraikan dua suami terdahulu untuk bisa menulis secara kreatif, menggunakan pikiran saya sendiri."

Menolak konstruksi identitas
Seluruh pemikiran Nawal yang sebagian didasari oleh pengalamannya sebagai anak perempuan, dokter, istri, ibu, kemudian pengajar dan aktivis, membuatnya menolak konstruksi identitas yang dibangun oleh interpretasi teks.
Nawal yang mempelajari kitab suci agama-agama besar itu percaya bahwa semangat kitab-kitab itu adalah menyejahterakan manusia. Akan tetapi, interpretasi manusia membuat pemaknaan satu ayat tak jarang saling berpunggungan.
"Ayah saya, seorang cendekiawan lulusan Al Azhar, menginterpretasikan bahwa Al Quran menolak poligami dan tidak ada aturan berjilbab. Tetapi, ada aliran lain yang mengatakan sebaliknya. Keduanya sama-sama aliran dalam Islam."
Karena itu, ia menolak agama disatukan dengan negara karena hukum harus jelas dan tegas dan negara adalah milik semua warga. Bagi Nawal, "Agama adalah urusan pribadi, sangat-sangat pribadi."
Beberapa aturan terkait dengan simbol-simbol luar, menurut Nawal, harus diletakkan dalam konteks sejarah. Konsep kerudung dilahirkan dalam Judaisme, kemudian Kristen, yang filosofinya didasari atas superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan sebagai makhluk yang "tidak lengkap".
Simbol-simbol luar itu tak ada kaitannya dengan moralitas. Semua logikanya lebih merupakan simbol politik. "Kepala dan wajah adalah intelektualitas saya, simbol keberanian dan kemanusiaan saya. Mengapa saya harus menutupinya?"
Bagi Nawal, identitasnya adalah apa yang ia ucapkan, yang ia lakukan untuk masyarakat. "Identitas saya bukan pakaian saya," tegasnya.
Simbol yang digunakan sebagai identitas adalah kepalsuan yang berhasil ditanamkan oleh proses cuci otak. "Kita merasa nyaman karena orang-orang mengatakan kita akan nyaman dengan cara itu," ia melanjutkan.

Membayar mahal
Keberaniannya bersuara membuat Nawal diguncang banyak persoalan. Bersama ratusan cendekiawan Mesir lain ia pernah dipenjara pemerintahan Anwar Sadat atas tuduhan kejahatan terhadap negara. Di penjara ia terus menulis meskipun hanya ada kertas toilet dan kertas pembungkus rokok.
Yang terakhir adalah kasus pengadilan yang memaksakan agar Nawal bercerai dari Hetata karena tuduhan menghina agama Islam dan murtad dari Islam. "Saya memenangi kasus ini," ujarnya.
Keberanian dibutuhkan untuk menyatakan kebenaran. "Saya sulit berbohong. Pengetahuan tak dapat diubah. Bila anda mengetahui sesuatu, bagaimana anda akan menyembunyikan pengetahuan itu dari diri anda sendiri?"

Ia menceritakan kejadiannya
"Saya tinggal di distrik miskin di Mesir. Suatu hari seorang perempuan miskin datang kepada saya. Ia mengatakan telah menabung untuk biaya sekolah anak-anaknya. Tetapi, suaminya mengambil uang itu untuk pergi haji yang menurut si suami lebih penting daripada pendidikan anak-anaknya. Si istri menangis dan bertanya kepada saya apa yang harus dia lakukan. Saya minta bertemu suaminya. Lalu saya katakan kepada si suami bahwa yang dia lakukan bukan ajaran Islam. Di dalam Islam diajarkan bahwa kebutuhan anak-anakmu harus didahulukan. Ia bersikeras itulah yang diajarkan sheikh di televisi. Saya katakan, sheikh-mu itu tidak paham mengenai Islam. Tetapi, dia tak dapat diyakinkan. Pada wartawan yang datang dan bertanya, saya katakan orang ini tidak mengerti Islam. Lalu wartawan itu menulis di media, Nawal el Saadawi menolak haji. Mereka mengadukan saya ke pengadilan dan memaksa kami bercerai dengan alasan saya bukan Muslim. Kami pergi ke pengadilan. Suami saya mengatakan, ’Saya tidak akan meninggalkan dia, bahkan bila dia bukan Muslim.’"
Sebagai dokter, Nawal secara terbuka mengungkapkan penolakannya terhadap sunat perempuan. Ia mengalami penyunatan yang membekaskan luka sepanjang hidupnya. "Semua anak perempuan di Mesir disunat," katanya.
Ia adalah orang pertama di Mesir yang menolak sunat anak laki-laki. "Sunat pada anak laki-laki adalah kebiasaan Judaisme dan di Mesir dilakukan pada minggu pertama kelahiran bayi. Padahal saat itu, sistem kekebalan anak belum berkembang. Bisa terjadi komplikasi."
Nawal menolak menggunakan rias wajah yang dikatakannya sebagai "postmodern veil".

Tradisi keluarga
Keberanian dan tradisi pembangkangan diwarisi Nawal dari keluarganya. Nenek dari ayahnya adalah petani yang berani menentang wali kota. Dialah inspirasinya.
Nawal dilahirkan sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, enam di antaranya perempuan yang berpendidikan tinggi dan bekerja di sektor publik. Ia sangat mencintai kedua orangtuanya yang berada di depan ketika keluarga besarnya hendak menjodohkan Nawal saat berusia 10 tahun.
Sejak kecil ia sudah memberontak karena merasa ada yang salah di dalam keluarga dan masyarakat. Waktu umur delapan tahun ia menyadari kakak laki-lakinya mempunyai banyak hak istimewa di rumah.
"Dia malas, saya pandai, tetapi saya harus bekerja lebih banyak di rumah," kenangnya. Karena kesal, suatu hari ia menulis kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau adalah keadilan. Kalau Kau tidak adil, saya tidak siap untuk mempercayai-Mu". "Itu surat pertama saya, tidak pernah saya poskan karena saya tidak tahu alamat Tuhan."
Kreativitasnya sempat hampir dihancurkan oleh seorang gurunya. Dalam diskusi peluncuran bukunya, Nawal bercerita tentang gurunya yang memberi nilai 0 untuk tulisan yang mengekspresikan perasaan tidak sukanya terhadap sekolah, guru-gurunya, ayah, dan ibunya.
Ia menyembunyikan tulisan itu, tetapi ketika sang ibu menemukan tulisan itu dia mengatakan, karangan itu sangat bagus. Si gurulah yang bodoh. "Saya beruntung mempunyai orangtua yang mendukung anak-anaknya pada saat membutuhkan."
Bagaimana ia merefleksikan perjalanannya?
"Kalau dilahirkan lagi, saya akan melakukan hal sama dengan apa yang saya lakukan sekarang."
Energinya terasa menyala sepanjang perbincangan. Dari mana ia mendapatkannya?
"Dari kalian. Ketika anda melihat saya, mata anda penuh dengan kehidupan. Jadi energi kita timbal balik...."

 

 


 

 

  PERAYAAN NATAL 25 DESEMBER 2007


Saudari-Saudara sebangsa dan setanah air Indonesia tercinta. Khususnya saudara-saudari di Jawa Tengah sebelah barat.
Salam sejahtera bagi anda semua yang mendengarkan siaran radio ini. Dan khusus kepada segenap umat kristiani di seluruh Nusantara, saya sampaikan ucapan Selamat Natal 2007.

Saudari dan Saudara dalam kasih Tuhan Yang Mahaesa,
Saat ini umat kristiani seluruh dunia berjumlah 2 milyar lebih. Setiap kali merayakan natal, umat kristiani mengenang kembali kelahiran Yesus Kristus - Isa Al Masih - Juruselamat, Imanuel - Tuhan menyertai kita. Rasa-rasaku, dalam peristiwa kelahiran Isa Al Masih ada gandheng cenengnya atau sambung rapet-nya dengan penghayatan keimanan saudara-saudari muslim yang jumlahnya di dunia ini satu milyar lebih. Beginilah perasaanku itu muncul. Semoga rasa perasaanku ini tidak keliru.

Saya merasa terpesona bahwa nama Isa Al Masih dalam Kitab Suci Al Quran, sejauh saya mengkaji-nya, disebut-sebut 97 kali, masih tambah lagi dalam kitab Hadits; nama Isa Al Masih cukup banyak mendapatkan perhatian. Antara lain bahwa putera Maryam Isa Al Masih-lah yang terkemuka di dunia dan di akhirat (Qs 3 Aali Imran 45), Isa Al Masih AS itu tak berdosa (Qs 19 Maryan 19), ayat ini sangat menyatu dengan pernyataan bahwa Isa Al Masih AS tidak disentuh setan (HSB 1493), bahwa Isa Al Masih adalah utusan Allah SWT dan kalimat ullah atau Sabda Allah SWT (QS 4 An Nissa 171); bahwa Isa Al Masih adalah Ruh Allah SWT dan berkuasa atas alam semesta (QS 21 Al Ambiya 91). Bahkan dalam Kitab Hadits ada pernyataan Nabi Muhammad SAW: Saya yang lebih dekat dengan Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat, sedangkan semua nabi bersaudara karena keturunan. Ibunya berlainan, sedangkan agamanya satu (HSB 1501).

Saudara Saudari dalam kasih Tuhan Yang Mahaesa,
Berdasarkan kedekatan hati Nabi Muhammad SAW dengan Isa Al Masih AS, renungan saya sampai pada firman yang oleh Malaikat disampaikan kepada para gembala yang sedang berjaga di padang dekat tempat kelahiran Yesus Kristus – Isa Al Masih, yang berbunyi:
"Jangan takut, sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kegembiraan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir Sang Juruselamat, yaitu Yesus Kristus - Isa Al Masih".

Seruan kata-kata ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, yang rasanya di dalamnya termasuk Nabi Muhammad SAW yang mengalami kedekatan dengan Isa Al Masih di dunia dan di akhirat.

Kidungan malaikat lebih lanjut Kemuliaan bagi Allah Yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Para malaikat menyanyi dan memaknai kelahiran Isa Al Masih Keselamatan ilahi. Kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan Isa Al Masih keselamatan ilahi, tertemukan dalam renunganku, menjadi kemuliaan bagi Allah Yang Mahatinggi dan menjadi daya dukung terwujudnya kesejahteraan di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Lalu, siapakah orang-orang yang berkenan kepada Allah Yang Mahatinggi? Ialah umat yang hidup guyub rukun, saling pengertian, saling menghormati, saling menolong dalam penderitaan. Inilah arti perayaan Natal. Kedekatan hati Nabi Muhammad SAW dengan Isa Al Masih adalah salah satu contoh pemaknaan perayaan Natal yang sesungguhnya.

Pengalaman iman Nabi Muhammad SAW yang begitu dekat dengan Isa Al Masih ini, rasanya, dewasa ini sangat pantas kita dalami dan selanjutnya harus menjiwai terwujudnya persaudaraan, kerukunan, kedekatan umat muslim dan kristiani. Ruh kerukunan itu sudah bergulir.

Pada tanggal 13 Oktober 2007 ini sebanyak 138 ulama muslim internasional mengirim surat kepada Paus Benediktus XVI dan pimpinan gereja non Katolik sedunia yang berisi suatu ajakan dan harapan terwujudnya kehidupan bersama umat muslim dan kristiani yang guyub, rukun, penuh persaudaraan. Oleh Paus Benediktus XVI ajakan dari rekan-rekan Ulama Muslim Internasional itu diterima dengan kegembiraan hati. Mulailah titik sejarah baru. Jumlah umat kristiani sedunia ada 2 milyar lebih dan umat muslim 1 milyar lebih. Jadi 3 milyar penduduk dunia berada dalam sikap mau memperjuangkan damai. Dengan demikian, harapan titik sejarah baru ini, kalau umat kristiani dan umat muslim bisa mewujudkan dunia ini damai, rukun, saling pengertian, saling menghormati, saling menolong, saling mengasihi, betapa indahnya dunia ini. Tidak mustahil bahwa kebahagiaan manusia sudah dirasakan di dunia ini. Kebahagiaan dunia dan kebahagiaan surgawi berkelanjutan. Demikianlah arti Natal, kenangan kelahiran keselamatan ilahi mewujud dalam kebersamaan manusia.

Perlu saudara dan saudari ingat bahwa cita-cita kerukunan antar umat beriman juga mulai menjadi keprihatinan dan keterlibatan para tokoh-tokoh Kristiani, Muslim, Hindu, Buddha, dll. Mereka secara berkala sudah mengadakan silaturahmi di Asisi Italia. Silaturahmi semacam ini perlu diteruskan dan ditingkatkan. Inilah salah satu makna Natal.
Kalau demikian, damai, ketenteraman hidup bersama sesama manusia, sedikit banyak sudah menjadi keprihatinan umat lebih dari 4 milyar lebih, kalau para umat setia mengacu pada jiwa dan semangat para pemukanya. Mau apa lagi?

Pada masa ini kehidupan damai dan sejahtera sangatlah dirindukan oleh banyak umat manusia di dunia. Hidup damai berarti tidak mengalami rasa terancam. Damai secara lahir atau jasmani, berarti orang tidak merasakan terancam oleh bahaya kelapaaran, oleh penyakit, oleh bencana alam entah, banjir, gempa, angin ribut, tanah longsor. Damai berarti orang tidak mengalami kekhawatiran dan ketakutan, misalnya terhadap pencuri, perampok, penyiksa, pembunuh. Damai dalam arti orang dapat bertindak sesuai dengan hati nurani; bagi orang orang yang beragama, damai berarti bahwa mereka dapat melaksanakan ibadahnya tanpa ada ketakutan kekhawatiran terhadap orang lain yang diandaikan akan mengganggu peribadatan, merusak rumah ibadat dan harta milik, sehingga keamanan terjamin, dan dengan demikian tidak diperlukan penjagaan aparat keamanan secara ketat.

Damai…damai….aman….aman
Sedangkan arti sejahtera, adalah keadaan hidup yang tercukupi keperluan dasarnya hidup, bukan saja untuk hari ini, tetapi ada persediaan untuk masa depannya entah untuk keperluan seminggu, sebulan, bahkan setahun masa depan. Ini dapat berwujud uang atau barang. Kesejahteraan bukan saja dalam hal jasmani, lahir, tetapi juga dalam hal kebatinan. Orang boleh dikatakan mengalami kesejahteraan batin, kalau orang tersebut mempunyai kedamaian batin yang lintas waktu dan lintas ruang. Inilah warna tebal makna kelahiran Isa Al Masih – Yesus Kristus - Keselamatan Ilahi. Penemuan nilai nilai luhur dan wujud penghayatannya dalam hidup sehari-hari itulah pokok kesejahteraan batin.
Dalam masalah kesejahteraan lahir atau kewadhagan, di Indonesia tercinta ini, adalah masih adanya 109 juta warga negara yang masih berada dalam situasi hidup miskin, berpenghasilan di bawah Rp 20.000,- sehari. Sehingga untuk memenuhi hidup cukup makan, tempat tinggal yang sehat, menjaga kesehatan, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan pokok yang lain. Sungguh mereka ini sangat berkekurangan. Dari lain pihak, di tanah air kita tercinta ini, semoga berita akhir-akhir ini betul, bahwa ada 40 orang yang mempunyai harta kekayaan Rp 400 trilyun. Dihitung secara bodoh, rata-rata setiap orang dari mereka ini menguasai harta Rp 10 trilyun. Secara bodoh juga kalau dalam mengolah modal itu menghasilkan setengah persen saja per-bulannya berarti Rp 50 milyar, dan seharinya sekitar Rp 1,5 milyar. Bukan main! Bandingkan dengan orang yang seharinya hanya berpenghasilan di bawah Rp 20.000.- Ada jurang begitu sangat lebar dan dalam.

Inilah tantangan nyata bagi gerak kerukunan, kedamaian, saling tolong menolong antar umat beriman Kristiani, Muslim, Hindu, Buddha dll. Pertanyaannya: Bagaimana kekuatan harta yang ada menjadi penolong bagi yang lemah. Bagaimana yang lemah berkinerja sehingga memperoleh bagian dari kekuatan harta yang sebetulnya ada.
Ini hanya mungkin kalau jiwa dan semangat kesetiakawanan sungguh dihayati oleh masing-masing pihak. Yang kaya rela menolong yang miskin. Pihak yang miskin berusaha agar tidak menyia-nyiakan pertolongan dari pihak yang kaya. Keduanya mempunyai keprihatinan akan damai dan kesejahteraan bersama dalam membangsa dan menegara demi kehidupan Surga di dunia maupun di akhirat. Kalau keprihatinan terhadap nilai keseimbangan atau harmoni sesama manusia tidak diperhatikan, kita tinggal menunggu saja saatnya zaman edan, revolusi pengrusakan di sana-sini, dan tinggal menunggu saja kapan hancurnya kesatuan nusa dan bangsa Republik Indonesia.

Makna Perayaan Natal yaitu kenangan kelahiran Yesus Kristus Isa Al Masih - keselamatan ilahi 2007, memberikan tantangan kepada masyarakat kaum beriman di dunia ini, khusunya di negara kita tercinta, untuk secara terpadu memperjuangkan keharmonisan hidup seasama manusia sebagai ciptaan Allah SWT. Yang kuat rela menolong yang melarat. Yang melarat berkinerja hebat untuk terangkat.


SELAMAT NATAL 2007

Purwokerto, 25 Desember 2007
Uskup Purwokerto
Julianus Sunarka, SJ

 

 


 

CARA MENGENDALIKAN DAN MERUBAH PERASAAN

Mengapa kita harus mengendalikan perasaan kita?

Ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai sebanyak 60.000 pikiran dalam sehari. Tentu tidak mudah untuk memilah pikiran mana yang positif dan mana yang negatif dari sekian puluh ribu pikiran tersebut. Ada cara yang paling mudah untuk mengetahui pikiran mana yang positif dan pikiran mana yang negatif yaitu lewat PERASAAN (EMOSI).

Bob Doyle - salah satu tokoh dalam film The Secret - mengatakan bahwa emosi adalah hadiah yang luar biasa, yang membuat kita mengetahui apa yang kita pikir. Intinya jika perasaan kita senang, gembira, bersyukur berarti pikiran kita sedang berada di area yang positif. Jika perasaan kita sedih, cemas, gelisah, takut, iri hati, dlsb.nya berarti pikiran kita sedang berada di area yang negatif.

Perasaan "GOOD" --> Berpikir yang "GOOD" --> Menarik hal-hal yang "GOOD".
Perasaan "BAD" --> Berpikir yang "BAD" --> Menarik hal-hal yang "BAD".

Perasaan yang baik akan menghasilkan pikiran yang baik. Pikiran yang baik diwujudkan dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang baik. Perkataan dan perbuatan yang baik jika dilakukan secara rutin akan menjadi kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik ini akan membentuk watak / karakter yang baik pula. Dan inilah yang menentukan masa depan kita. Kira-kira begitu cara kerjanya.

Contoh: Jika pagi hari kita bangun dengan perasaan / mood yang negatif karena habis dimarahi atasan pada hari sebelumnya, maka pikiran kita kurang lebih akan berkata: "Ah, hari ini saya malas ke kantor. Terlambat sedikit ga papa lah.", "Hari ini saya ijin saja karena lagi gak mood.", ataupun jika tetap berangkat ke kantor maka dilakukan dengan setengah hati. Sesampai di kantor, jika mood ini tetap dipertahankan maka perkataan dan perbuatan di kantor pasti akan negatif, misalnya: Gosip menjelekkan atasan, menjelekkan kondisi perusahaan, dll. Jika perbuatan dan perkataan ini tetap dipertahankan selama seminggu maka akan menjadi kebiasaan. Jika tidak gosip menjelekkan atasan, rekan kerja, perusahaan rasanya seperti ada yang kurang.

Lebih mudah untuk membentuk karakter yang negatif daripada yang positif. Setelah ini menjadi karakter yang negatif, maka bisa dipastikan kita akan diperhatikan oleh orang lain (atasan, rekan kerja, bawahan). Anda kemudian bisa menjawab sendiri, masa depan orang tersebut kira-kira seperti apa. Padahal awal mulanya hanya dari "perasaan".

Pikiran dan perasaan anda membentuk hidup anda. Akan selalu begini. Pasti ! - Lisa Nichols.
 


Cara merubah perasaan kita

1. Merubah GERAK :
Coba anda praktekkan ketika bangun pagi, anda merasa malas untuk bangun, walaupun mata masih tertutup, anda paksakan bangun (JANGAN LUPA UNTUK S.E.N.Y.U.M. dan BERSYUKUR terlebih dahulu) dan lakukan lompat-lompat kecil selama 10 - 15 menit. Kira-kira setelah itu anda akan lanjut tidur lagi? NO, anda akan langsung ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Alasan: Karena gerak yang anda lakukan merangsang aliran darah untuk lebih lancar mengalir ke seluruh pembuluh darah dalam tubuh dan ke otak dan membuka pori-pori tubuh untuk mengeluarkan keringat.
Gerak tubuh orang bersemangat bisa anda bedakan dari gerak tubuh orang yang tidak bersemangat. Jadi jika anda sedang tidak bersemangat, coba ubah gerak tubuh anda menyerupai gerak tubuh orang yang bersemangat: Berjalan cepat, kepala tidak menunduk, dada membusung, senyum. Ini akan membuat perasaan anda dari tidak bersemangat menjadi bersemangat (lebih ceria).

2. Merubah FOKUS :
Coba anda lakukan hal ini ketika anda sedang merasa negatif / bad mood: Ubah fokus kita ke hal-hal atau pengalaman-pengalaman yang menyenangkan / lucu / gembira / positif. Saya selalu membayangkan keberhasilan- keberhasilan yang telah saya capai di masa lampau dan kegembiraan- kegembiraan karena kesuksesan yang akan saya capai di masa yang akan datang jika pikiran dan perasaan saya sedang negatif. Dengan demikian, saya akan kembali terinspirasi dan termotivasi untuk kembali mengejar impian saya walaupun sempat gagal di tengah jalan.
GAMPANG-GAMPANG SUSAH untuk melakukan hal ini. Tetapi ingat, awalnya hanya dari "perasaan" dan berkembang menjadi kebiasaan. Jika kita lakukan secara konsisten hal ini, maka ini dapat menjadi kebiasaan kita dan kita akan lebih mudah untuk merubah perasaan kita.

3. Merubah SUARA INTERNAL :
Bayangkan ketika anda menemani anak menonton film kartun dan mendengar suara Donald Duck yang khas "wekkk ... wekkk ... wekkk ...". Mungkin anda akan turut tertawa atau tersenyum. Merubah suara interal berarti merubah suara yang bagi kita terasa tidak mengenakkan (misalkan umpatan, makian, teguran dari atasan, klien, konsumen, rekan kerja, teman, dlsb.nya) menjadi suara yang terdengar lucu bagi kita.
Suara yang terasa lucu bagi kita, misalkan suara Donald Duck yang khas, suara orang berbicara gagap / terputus-putus, suara pria yang dibuat mirip wanita, ataupun suara-suara lainnya yang menurut pengalaman anda masing-masing lucu. Dengan demikian akan merubah suasana hati menjadi lebih positif dan bersemangat kembali.

4. Merubah ARTI :
Anda mungkin pernah membaca di surat kabar bahwa tingkat pengangguran yang tinggi dan kehidupan ekonomi yang semakin sulit menyebabkan banyak orang bunuh diri.
YES, anda yang memberi arti terhadap hidup anda. Jika si A menganggap dirinya miskin segala-galanya, tidur di kolong jembatan, tidak punya keluarga, makan dari sisa-sisa pemberian orang, dihina orang, cacat fisik, dsb.nya, kira-kira menurut anda apakah yang akan dilakukan oleh si A? Lebih mungkin dia akan mengambil jalan pintas untuk bunuh diri.
Tetapi bandingkan dengan si B, dengan kondisi yang sama, tetapi dia memberi arti lain bagi hidupnya. "Hari-hari seperti ini sudah cukup. Saya harus mau berusaha lebih keras dan menghargai diri saya sehingga orang lain mau menghargai saya juga." Dengan arti yang diberikan oleh si B, kemungkinan dia untuk maju akan lebih terbuka.

5. Merubah SUASANA :
Pelatihan di alam terbuka akan membawa suasana dan hasil yang berbeda dibandingkan dengan pelatihan di dalam ruangan. Tempat dan suasana yang berbeda dari rutinitas sehari-hari bisa memberikan dampak yang berbeda.
Contoh: Jika sehari-hari berada dan bekerja di kantor, maka cobalah pada hari libur untuk mencari suasana yang berbeda. Ini berguna untuk menyegarkan kembali suasana hati kita dan untuk pemulihan sel-sel tubuh (fisik) kita.
Staff saya bahkan menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya untuk bersantai dan merubah suasana hati di lounge airport terminal internasional J. Dengan begitu, menurut pengakuannya, sekembalinya dari tempat tersebut, suasana hati menjadi lebih bersemangat dan positif. Entah mengapa. Mungkin ada pengalaman yang menyenangkan / positif yang berhubungan dengan tempat tersebut.
Sayapun suka membawa staff saya untuk pelatihan di alam terbuka (enam bulan sekali). Terbukti, bahwa setelah kembali dari pelatihan, semangat dan motivasi menjadi lebih terpacu. Silakan dicoba!

6. Merubah INPUT :
Ketika anda bersama keluarga menonton acara televisi: BUSER, PATROLI, SERGAP, SMACK DOWN, dlsb.nya, kira-kira apa komentar umum yang terlontar? "Kok, para penjahat tambah sadis ya?", "Kok kota kita tambah gak aman ya?", "Kok orang-orang jadi pada gak punya hati nurani ya?" Akibatnya apa? Pikiran yang negatif mempengaruhi perasaan kita menjadi negatif.
Ubah perasaan kita menjadi positif dengan mendengarkan lagu-lagu perjuangan, motivasi, misalnya: I Have A Dream - Westlife, The Power Of The Dream - Celine Dion, We Are The Champion - Queen, dlsb.nya. Baca buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Bacanya jangan 'Lampu Merah' melulu. Ikut seminar, klub, organisasi, kursus untuk pengembangan kepribadian dan bersosialisasi.
Dengan mengubah input yang masuk, kita memprogram ulang pikiran dan perasaan kita untuk menjadi lebih baik.

 

(Br. Yoanes FC)

   THE WORLD IS MINE

 

Today, upon a bus, I saw a very beautiful woman.

And wished I were as beautiful.

When suddenly she rose to leave,

I saw her hobble down the aisle.

She had one leg and wore a crutch.

But as she passed, she gave a smile.

Oh, God, forgive me when I whine.

I have two legs; the world is mine.

 

I stopped to buy some candy.

The lad who sold it had such charm.

I talked with him, he seemed so glad.

If I were late, it'd do no harm.

And as I left, he said to me:

"I thank you, you've been so kind.

It's nice to talk with folks like you.

You see," he said, "I'm blind."

Oh, God, forgive me when I whine.

I have two eyes; the world is mine.

 

Later while walking down the street,

I saw a child I knew.

He stood and watched the others play,

but he did not know what to do.

I stopped a moment and then I said,

"Why don't you join them dear?"

He looked ahead without a word.

I forgot, he couldn't hear.

Oh, God, forgive me when I whine.

I have two ears; the world is mine.

 

With feet to take me where I'd go.

With eyes to see the sunset's glow.

With ears to hear what I'd know.

Oh, God, forgive me when I whine.

I've been blessed indeed, the world is mine.

 

If this poem makes you feel thankful,

just whisper a small prayer thanking Him.

After all, it's just a simple reminder

that we have so much to be thankful for!

PRAY WITH ALL OF US

Lord God, you have made from the whole humanity one family, when Jesus taught us the OUR FATHER. We do believe that OUR FATHER "who art in Heaven" is the ONLY REAL FATHER of the whole world. He is the Father of the Jews, Christians, Muslims, and any other religion, people or ethnic group.
We believe that we are Brothers and Sisters under the wise love and protection of our same WONDERFUL FATHER "who art in Heaven". We believe that we can form from the whole world one family, one VILLAGE, if we do work to love each other, as HE, OUR FATHER wants us to be: HIS WORLD ONE BELOVED FAMILY.
Our Father guide us in your wisdom and help us to meet each other by changing our hearts and our minds. Make us see, in each one, we do meet or visit with a brother or a sister of the same FATHER "who art in Heaven".

 

 

 

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved