TO BELIEVE IN JESUS IS THE GRACE OF GOD

 

Whoever believes in Jesus will be saved. This act of believing is demonstrated by the appropriation of the Teaching of Love as written in the Holy Scripture and by placing our faith in Him. Love is the seed within us that eventually grows and enables us to follow the Teaching of Love as taught by Jesus. Religions and Prophets gave us mere “prescriptions” of the way to salvation whereby they promised us deliverance by believing both in them and their “prescriptions”.  To be saved, we will only need to follow their prescriptions. In other words, we will have to work as hard as possible (hence, personal merit) in order to obtain this salvation and we do just that by following these prophets’ prescription. It is not the case with Jesus. He never demanded others to follow His “prescription” in order to be saved.   Salvation is received simply by placing our faith in Him alone.

As a seed within us, this trust or faith receives Jesus’ Teaching of Love. If we remain close to the Source of Life – Jesus Himself, we will grow strongly. Just like a tree, we need to be fertilized by the seed of love.

We are incapable of growing by our own might, we can only grow in the strength of the Grace of God’s Love given to mankind. Flesh is weak (according to the Bible), therefore those who attempt to love others by their own strengths are doomed to fail. We essentially love ourselves more than we love others.

Nonetheless, why are there those who love others more than themselves? The answer is, because of grace the seed has grown well within them. Therefore salvation is consistently by grace. Hence, if after believing we continue to live astray, it just shows that the seed of love has not grown for lack of fertilizer (far off from the Source of Life). However, should we repent and draw near to Him again, the seed of love will undoubtedly grow again. Unless we consciously throw the seed away, it shall not die. Why is it so? Because Jesus once said,  My Father is All Powerful, no one can snatch anyone – who has been redeemed by My Father – away from Him.” (John 10:29)

Nevertheless it is not mentioned that man has lost his freedom to the point that he is no longer able to walk away from God. The freedom, given to Adam, remains extant. Man can still decide to go against God and intentionally transgress God’s Commandments. Man is free to throw away the seed of salvation once enjoyed. But, would it be possible for the devil to snatch us away from God in our brief moment of unconsciousness? The answer is, no way, because the Almighty God (EL SHADDAY) is much more powerful than anyone (including the strongest devil). God has given man the grace of faith and love; now it is up to man as to what he wishes to do with it.

That is the core of Jesus’ Teaching of Love.  Now, are we still drawn to the “prescriptions” given by other Prophets? (If we could call them, prophets!).  If we accept Jesus and believe that He is the Savior of the world, we shall be saved.

The problem is, how do we learn to be always near Him so that the seed of  His love will continue to grow and consequently be drawn away from the things those are displeasing to Him?

What do you think ?

 

Let us pray : 

Our all-loving heavenly Father God, thank you for giving me the greatest grace of all, which is the grace to believe in Jesus, the Messiah, Savior of the world. You have given freedom to all to choose, yet. That is Your greatest You have chosen me to believe in Jesus and most wonderful gift ever given to me.   Amen.

 

 

 

 

PERCAYA KEPADA YESUS ADALAH ANUGERAH ALLAH

 

Barangsiapa percaya kepada Yesus akan selamat. Percaya ini terbukti dari penerimaan Ajaran Kasih secara tertulis dan percaya. Kasih inilah yang menjadi benih dalam diri kita yang kemudian berkembang untuk dapat mengikuti Ajaran Kasih yang dibawa oleh Yesus. Agama atau Nabi, semuanya memberi resep-resep tentang keselamatan, dimana orang akan selamat kalau percaya kepada Nabi itu beserta resepnya. Dengan mengikuti resep itu, orang akan selamat. Berarti orang harus berusaha sekuat dirinya (usaha dirinya) untuk bisa selamat dengan mengikuti resep sang Nabi. Lain halnya dengan Yesus. Yesus tidak menuntut orang berbuat menurut resep Yesus untuk selamat. Hanya dengan iman kepada Yesus (percaya kepada Yesus) cukup menjadikan kita selamat.

Percaya atau iman inilah yang menerima Ajaran Kasih Yesus sebagai benih dalam diri manusia. Kalau kita dekat terus dengan sumber kehidupan, yaitu dekat terus kepada Yesus, maka sama seperti halnya setiap hari kita diberi pupuk benih kasih itu dan dengan demikian akan tumbuh.....…..….. seperti tumbuhan, tidak menumbuhkan dirinya sendiri, melainkan bertumbuh oleh kekuatan Anugerah Kasih Allah kepada manusia. Daging itu lemah (menurut Alkitab), karena itu kalau orang berusaha mengasihi orang lain, kebanyakan akan gagal, karena pada hakekatnya orang hanya cinta kepada dirinya sendiri lebih daripada cinta kepada orang lain. Namun, mengapa ada orang yang mengasihi orang lain lebih daripada mengasihi dirinya sendiri?  Jawabannya adalah karena kasih karunia, maka benih itu telah tumbuh subur dalam dirinya. Jadi secara konsisten, keselamatan adalah Anugerah. Kalau orang sudah percaya, kemudian perbuatannya kacau, itu tandanya benih kasih tidak tumbuh karena kurang diberi pupuk (jauh dari sumber air kehidupan). Tetapi setelah sadar lagi, dan mendekat lagi, maka benih kasih itu akan tumbuh lagi. Benih itu tidak bisa mati, kecuali bila orang itu dengan sengaja membuangnya. Mengapa demikian?  Karena Yesus pernah berkata: "Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." (Yohanes 10:29)

Tetapi tidak disebutkan bahwa manusia tidak bebas lagi sehingga tidak bisa pergi menjauhi Allah. Kebebasan yang dibawa Adam itu masih ada, termasuk sikap yang dengan sengaja mengambil keputusan untuk menentang kehendak Allah, dengan sengaja mengambil keputusan untuk melanggar Perintah Tuhan, dan dengan sengaja mengambil keputusan untuk membuang benih keselamatan yang sudah diterimanya.

Tetapi bagaimana kalau tanpa kita sadar, bisakah jiwa kita direbut oleh setan?  Jawabannya: Tak ada di kamus Allah, karena Allah Yang Mahakuasa (EL SHADDAY) lebih kuasa daripada siapapun (termasuk setan yang terkuat sekalipun). Anugerah iman dan kasih itu dari Tuhan diberikan untuk manusia, maka terserah manusia apa yang mau diputuskan dan diperbuat selanjutnya.

Itulah inti Ajaran Kasih dari Yesus. Dengan demikian, apakah kita masih tertarik untuk mengikuti resep Nabi-nabi lain? (kalaupun mereka itu bisa disebut Nabi). Kita menerima Yesus dan percaya bahwa Dialah Juruselamat, maka kita akan selamat.

Persoalannya adalah bagaimana kita belajar untuk terus makin dekat kepadaNya, agar benih kasihNya bertumbuh terus, dengan sendirinya akan makin jauh dari hal-hal yang tidak disukaiNya.

Bagaimana menurut pendapat anda ?

Marilah berdoa :

Allah Bapa yang Mahakasih, terima kasih Engkau telah memberikan kepadaku kasih karuniaMu yang terbesar, yaitu karunia untuk aku dapat percaya kepada Yesus Sang Mesias Juruselamat dunia. Engkau memberikan kebebasan kepada semua orang untuk memilih, dan Engkaulah yang memilih aku untuk percaya kepada Yesus. Itulah kasih karuniaMu terbesar dan terindah yang Kau berikan kepadaku, Amin.

 

BY YOUR FAITH YOU HAVE SALVATION

 

 

 Kami menyampaikan penghargaan yang tinggi dan terima kasih kepada Pendeta DR. PAUL GUNADI (Pastorium SAAT), yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membantu menterjemahkan artikel di atas ke dalam Bahasa Inggris.

 


             

IMAN AKAN RENCANA

 

KESELAMATAN ALLAH

 

 

 

 Mengapa orang harus memihak Yesus dengan harus meninggalkan orang tua dan saudara-saudaranya?    Mengapa orang harus melawan dirinya sendiri untuk dapat mengikut Yesus?  Mungkinkah orang menyangkali dirinya untuk ikut Yesus?

Inilah yang kemudian menimbulkan ekses-ekses orang menyiksa dirinya sendiri untuk ikut perintahNya, supaya mendapatkan Kerajaan Surga. Bukankah menyiksa diri untuk Dia akan mendapatkan Kerajaan Surga. Pada hakekatnya jiwanya yang egoistis untuk selamat masuk Surga dengan mengorbankan tubuhnya, mengorbankan orang tua dan saudara-saudaranya, mengorbankan kawan-kawan untuk memihak Yesus agar jiwanya yang egoistis mendapat Kerajaan Surga atau jiwanya yang selamat sendiri?

Apakah dengan sikap semacam itu bisa dianggap mengikut Yesus yang mengajarkan Ajaran Kasih?  Dimanakah pelaksanaan ajaran: Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri?  Bagaimana kita percaya kepada Yesus, mengikuti PerintahNya tetapi bertentangan dengan AjaranNya.

Barangsiapa percaya kepada Yesus akan selamat. Arti percaya adalah menerima Yesus sebagai Juruselamat, kita diselamatkan oleh karena Dia telah mengorbankan diriNya di kayu salib sebagai tebusan, agar kita tidak perlu lagi mengadakan korban seperti yang diperintahkan kepada orang Yahudi. Jadi bagi orang Yahudi yang tidak meninggalkan (kepercayaan) orang tua dan saudara-saudaranya dan ikut (percaya) kepada Yesus, tidak bisa melihat Kerajaan Surga.

Karena sudah berkali-kali Allah mengutus Nabi-NabiNya (dalam Perjanjian Lama), tetapi berkali-kali pula bangsa Israel mengkhianati Tuhannya. Hukum 10 Perintah Allah tidak ada yang mampu mentaatinya. Karena itu kasih KaruniaNya yang besar yang memberi dengan cuma-cuma kepada siapa saja yang mau MENERIMANYA.  Menerima bahwa Yesus adalah Penebus/Juruselamat manusia. Jadi yang disebut percaya adalah menerima Yesus sebagai Penebus, yang penebusannya didasarkan pada kasih.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal  (Yohanes 3:16).

Menerima Yesus, berarti menerima ajaranNya: KASIH .  Maka lengkaplah makna iman: Percaya bahwa Yesus adalah Penebus (gratis dan tanpa usaha kekuatan manusia), dan menerima Yesus sebagai Penebus sehingga kita bebas dan selamat.  Oleh karena itu kita menerima pula kasihNya sebagai landasan penebusan itu sendiri dan sesuai ajaran yang telah diberikanNya.

Barangkali dengan pengertian inilah kita jadi mengerti arti "barangsiapa tidak menyangkali dirinya sendiri".  Menyangkali bukan berarti harus menyiksa dan membenci diri sendiri, tetapi karena sudah ditebus, diri yang kemarin harus diubah sesuai statusnya yang baru, yaitu orang tebusan. Siapa yang mengubah?  Mampukah kita dengan kekuatan diri sendiri mengubahnya? Tidak, sebab kalau kita mampu dengan kekuatan diri sendiri, Yesus tidak perlu datang sebagai Penebus. Jadi menyangkali diri di sini berarti kita harus meninggalkan kekuatan manusiawi, karena dengan kekuatan manusiawi kita akan selalu gagal, seperti bangsa Israel selalu gagal. Jadi menyangkali berarti melupakan kekuatan diri sendiri, mengikuti Ajaran Yesus yaitu Ajaran Kasih, mendekatkan diri kepada Tuhan agar kasihNya yang telah dikaruniakan kepada kita mendapat kesempatan bertumbuh dalam diri kita (bukan dengan kekuatan diri kita sendiri).

Dengan kedekatan dan berserah diri mengikut Yesus, Ajaran Kasih bukan menjadi undang-undang atau resep yang harus diikuti, tetapi bertumbuh menjadi jalan hidup yang tidak disadari dari mana datangnya dan kemana tujuannya.

Jadi kita harus mengasihi sesama manusia bukan berarti agar kita masuk Surga. Kita mengasihi sesama manusia menjadi jalan hidup sesuai dengan ajaranNya yang tumbuh dalam diri kita (tidak untuk mendapatkan pahala), agar kasih karuniaNya yang diberikan kepada kita bisa dirasakan orang lain. Orang lain yang merasakan kasih karunia Allah ini akan percaya bahwa Yesus adalah Penebus bagi manusia, Penebus bagi dirinya.

Itulah pengertian tentang iman akan Rencana Keselamatan Allah bagi manusia yang didasari oleh kasihNya sebagai landasan penebusan oleh Yesus Kristus.

Lalu apakah kita tidak perlu berusaha apa-apa dan tetap selamat. Ya!  Kalau kita tidak berusaha apa-apa, artinya setelah kita percaya dan ditebus itu kita tidak berusaha, jawabannya ya kita selamat masuk Surga, itu Janji Tuhan (secara generik). Susahnya kita ini masih hidup di dunia, jadi kehidupan ‘lama’ sebelum ditebus itu masih mau jalan terus menurut ajaran ‘daging/fisik’, bukan ajaran kasih.

Di sinilah titik krusialnya, apakah kita harus berusaha menentang kehidupan lama itu?  Sejarah bilang bahwa itu akan gagal. Karena fisik dilawan dengan fisik, akan gagal. Yang dituntut Tuhan adalah meninggalkan yang lama dan menggantikan dengan yang baru, dari hidup konsentrasi fisik dirubah menjadi hidup konsentrasi kasih (non fisik). Berarti yang harus diubah adalah di dalam hati manusia. Sekali lagi manusia tidak mampu merubah diri/hatinya. Hanya dengan lebih dekat (hati) kepada Yesus, maka kasih Allah akan lebih bertumbuh. Kasih Allah inilah yang akan mengubah kemampuan fisik manusia untuk mengendalikan dirinya.

Anugerah kasih itu berkembang terus, lebih banyak kita membaca dan merenungkan (terutama dalam doa meminta jawaban Tuhan), lebih banyak kita mengerti, namun makin banyak lagi yang kita tidak mengerti. Maka kita akan lebih mengerti, bahwa seperti anak-anak akan lebih mudah melihat Kerajaan Surga. Orang dewasa banyak akalnya, sehingga makin banyak yang tidak dimengerti untuk percaya.

 

 

SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS, KITA BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA BUKAN UNTUK MENDAPATKAN PAHALA, MELAINKAN KARENA KITA SUDAH MEMPEROLEH KESELAMATAN

 

 


 

 

  ADAKAH KESELAMATAN DILUAR YESUS ?

Perlu dikaji dengan kacamata tertentu. Untuk kacamata filsafat, yang mengadili atau menganalisa sesuatu berdasarkan akal, maka jawaban atas pertanyaan itu berupa pertanyaan lagi: mengapa tidak!  Untuk kacamata "singkat", jawabannya juga ringkas: tidak ada!

Mengulas kedua pandangan ini bisa panjang sekali, karena secara filsafat tak ada ayat yang tegas dalam Alkitab bahwa diluar Yesus tak ada keselamatan yang berlaku bagi semua. Perjanjian Baru yang mengandung Kitab Injil berita Keselamatan melalui Yesus baru lahir 2000 tahun yang lalu, sedangkan manusia sudah ada puluhan ribu tahun yang lalu (malah secara arkeologis bisa jutaan tahun yang lalu). Hal ini saja sudah membuat sukar untuk menjawab "di luar Yesus" yang mana. Karena 2000 tahun yang lalu Yesus belum menjadi Juruselamat, lalu sebelumnya sudah pasti "di luar", dan di sana juga ada manusia mati dan ada makna keselamatan. Bahkan dipercayai Abraham, Ishak, dan Yakub (dan semua Nabi Perjanjian Lama) yang di luar Yesus juga sekarang ada di Surga, bagaimana menjelaskan hal ini secara filsafat kalau kita menggunakan ayat "jika tidak melalui Aku tidak sampai kepada Bapa", kapan batasnya, di mana dituliskan dalam Alkitab mengenai batas tersebut?

Sedangkan dengan kacamata "ringkas", tak perlu penjelasan. Sekarang sudah ada ayat yang bunyinya begitu, ya sekarang artinya begitu. Titik. Tak usah bicara jaman dulu bagaimana, atau jaman sekarang, tapi di hutan yang jauh dari misionaris bagaimana. Pokoknya ada ayat begitu dan kita baca, maka ya artinya itu. Sederhana kan?

Terlepas dari itu semua, yang jelas bahwa di dalam Yesus ada keselamatan. Ini mutlak, karena jelas ayat-ayat Alkitab menyatakan begitu. Di luar Yesus? Jangan diperdebatkan, karena tak pernah ada jawaban yang memuaskan. Yang penting, siapa yang percaya kepada Yesus, dia akan selamat. Jangan tanya bagaimana yang tidak percaya, itu urusan Tuhan. Tugas kita adalah bersaksi bahwa di dalam Yesus, kita selamat!

Kenapa kepercayaan kepada oknum Yesus itu penting? Bukan kepada ajaranNya saja. Kepercayaan kepada Yesus itu mutlak karena "ajaranNya" saja tidak memiliki otorita atau kuasa. Seperti misalnya "Undang-Undang" baru mempunyai arti kalau ada Negara dan Pemerintah yang memiliki kedaulatan dan kekuasaan di tempat undang-undang itu. Undang-Undang Amerika meskipun bagus, tapi tak berlaku dan tak mempunyai arti di kawasan Indonesia. Mengapa? Karena tidak mengandung kekuasaan dari "oknum" yang mengumumkan. Maka ajaranNya (Yesus) bagus, tapi tak ada kuasa menyelamatkan, karena Yesuslah yang memiliki kuasa untuk menyelamatkan itu. Tanpa mengakui/percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat, bagaimana kita bisa ikut selamat? Tanpa mengakui/percaya kepada Bank Indonesia, apakah rupiah akan laku? (walaupun dicetak mahal dan berwarna-warni).

Sampai seberapa jauh sebenarnya lingkup penyelamatan Yesus? Universal dalam arti untuk semua orang, ataukah hanya untuk sebagian orang saja?

Kabar Baik, Berita Keselamatan yang diberitakan oleh Yesus adalah universal, yaitu untuk semua orang, baik itu orang Ibrani/Yahudi, orang Yunani, maupun siapa saja sampai ke ujung muka bumi. Adakah batasan waktu? Ya, sampai kesudahan alam. Jadi bagi semua orang yang percaya, keselamatan itu ada.

Kalau keselamatan itu adalah suatu anugerah, apa perlunya kita percaya kepada oknum Yesus ataupun mengikuti ajaranNya?

Yang dimaksud dengan anugerah bukanlah keselamatan itu. Yang dimaksud adalah 'percaya/iman' itu. Kita mendapat anugerah berupa "percaya", sebab orang yang tak mendapat anugerah, tidak mendapat parcel berupa "percaya" itu. Karena kita percaya maka kita mendapat keselamatan. Maka biar kita bersaksi/berdebat, dan orang itu tidak mendapat anugerah dari Tuhan, maka orang itu akan tetap menutup diri dan berhati batu, dan rasa "percaya" itu tidak timbul.

Pendeta yang berfilsafat, kesaksiannya juga memakai argumentasi. Kesaksian 'mujarab' dengan keyakinan dan perbuatan, lebih mudah diterima dan dicerna oleh hati nurani manusia untuk membangunkan kepercayaan, daripada argumentasi filsafati. Masih ingat, bahwa ketika orang buta disembuhkan Yesus, ditanyai oleh ahli-ahli agama, jawabannya: "Aku tidak tahu, tapi yang pasti aku dulu buta dan sekarang aku bisa melihat!".

Kembali kepada awal pertanyaan, di luar Yesus bukan urusan Gereja. Mutlak di dalam Yesus ada kebenaran dan ada keselamatan. Gereja tidak bertugas dan bahkan tidak boleh bersaksi bahwa diluar Yesus juga ada keselamatan, karena memang Yesus tidak mengajarkan begitu.  Itu bukan tugas gereja! Tugas gereja sangat jelas, yakni "Beritakan Injil Keselamatan!"

 

 

BASILIKA SAINT PETER YANG MENGAGUMKAN MENGGAMBARKAN BEGITU TERBUKANYA GEREJA BAGI MANUSIA YANG SECARA KONSEKUEN MEMBUKTIKAN FILOSOFI YANG DIANUT BAHWA TUHAN TERBUKA BAGI SIAPAPUN

 


 

 

  KESEDERHANAAN INJIL

Hal mendasar yang wajib dipahami oleh para pelayan Tuhan adalah pengertian bahwa INJIL adalah hal yang paling sederhana dibanding dengan semua sistem agama di dunia. Injil hanya mempunyai “satu syarat” untuk membawa orang-orang menerima keselamatan kekal, yaitu hanya dengan “percaya”.
Inilah The simplicity of the gospel.
Hah….., cuma disuruh percaya? Demikian tanggapan bagi orang belum mengenal Kristus. Padahal dalam agama saya harus melakukan ini dan itu untuk dapat masuk Surga, banyak sekali syarat-syarat ritualnya, bahkan harus melewati jembatan dari titian rambut yang dibelah tujuh.
Ah, …… mana mungkin?
Tapi itulah hakiki Kekristenan, bahwa Injil Yesus itu sangat sederhana. Percaya, dan engkau akan selamat.
Sayangnya Injil yang sederhana ini seringkali dibuat rumit oleh kalangan gereja. Betapa banyak kita temui gereja masih memberikan syarat yang macam-macam bagi jiwa baru yang ingin dibaptis. Harus memberikan surat ini dan itu, melalui sistem pengajaran yang panjang dan birokrasi yang dibuat rumit. Untuk mengikuti Perjamuan Kudus saja harus mendaftar, ada urusan-urusan administrasi attestasi masuk dan keluar. Untuk penyerahan/ baptisan anak harus menyertakan akte kelahiran dsb. Rupanya kita masih suka berurusan dengan hal-hal yang sifatnya birokratis. Tentu saya tidak sepenuhnya menentang syarat-syarat administratif tersebut. Sebab sistem administrasi yang baik akan membuat manajemen gereja lebih baik, namun janganlah hal-hal ini berpotensial menjadi penghalang orang-orang datang kepada Yesus.
Salah satu sikap yang baik dari saudara-saudara kita di kalangan Kharismatik adalah, mereka lebih welcome terhadap jiwa-jiwa baru. Bagi setiap jemaat baru yang ingin dibaptis, langsung dilayaninya dan dibaptis tanpa melalui birokrasi gereja yang rumit-rumit. Maka tidak sulit bagi mereka mengembangkan pertumbuhan gerejanya dibandingkan dengan aliran-aliran lain. Jadi janganlah selalu menganggap bahwa aliran ini suka menyedot jemaat gereja lain. Tetapi sistem ini sebagai salah satu yang menyebabkan gereja-gereja Kharismatik bertumbuh dengan pesat. Ini mengikut sebuah kesederhanaan yang sudah dilakukan oleh Yesus terhadap penjahat di sampingNya saat di atas kayu salib.
Lukas 23:43 kita baca:
Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."
Sederhana, bukan?! Percaya dan engkau akan selamat!
Metode pengajaran, tata gereja, liturgi, peraturan, tata ibadah dan hukum gereja banyak yang hanya merupakan improvisasi yang berlebihan dari sebuah Injil yang sederhana. Pengosongan diri yang dilakukan Yesus datang sebagai manusia ke dunia adalah sebuah penyederhanaan. Tuhan Yesus menyukai hal-hal yang sederhana, contoh:

Matius 15:21-28 Perempuan Kanaan yang percaya:
15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Matius 8:5-13 Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum:
8:5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
8:6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
8:7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.
8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga,
8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."
8:13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Dalam 2 contoh di atas, Yesus dibuat kagum oleh kesederhanaan iman dan pola pikir dari perempuan Kanaan dan perwira di Kapernaum ini.

Panggilan Tuhan Yesus kepada umatNya-pun berlangsung dengan sederhana, Kisah Zakheus menunjukkan bahwa panggilan Tuhan Yesus itu sungguh sederhana. Ketika Yesus berkata "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Saat Yesus mengatakan ini, Yesus sudah melihat hati Zakheus, sehingga Yesus tidak menuntut Zakheus untuk bertobat dan berbuat baik dahulu, atau harus melalui suatu proses pemurnian dahulu, atau harus keluar dari pekerjaannya dahulu; dan baru setelah itu Yesus mau menemui Zakheus secara pribadi. Tuhan Yesus tidak menggunakan cara yang rumit untuk memenangkan umatNya, maka kita harus mengikuti kesederhanaan sistem penginjilan Yesus ini.


Lukas 19:1-9:
19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
Dengan contoh sistem penginjilan Yesus ini, apakah kita masih getol mempertahankan ketentuan dan peraturan-peraturan birokrasi gereja yang sebenarnya hanya buatan manusia itu? Mau bertemu dengan Yesus itu adalah masalah yang mudah, kapanpun dan di manapun Yesus bersedia ditemui. Tidak harus menunggu proses yang panjang-panjang.
Tuhan Yesus dalam menginjil selalu memakai media-media yang sederhana, mengajar di bukit, di tepi danau di jalan-jalan. Yesus memakai media yang tidak perfect ini untuk membawa manusia mempunyai hubungan yang perfect dengan Allah. Dalam pengajaranNya pun Yesus memakai bahasa yang sederhana, perumpamaan-perumpamaan yang Yesus berikan adalah kebanyakan diambil dari kejadian-kejadian lazim yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari; contohnya perumpamaan anak yang hilang, perumpamaan tentang seorang penabur, dll.
Yesus adalah pribadi yang sederhana.

SOLI DEO GLORIA !!!

 

LET THE SON SHINE UPON YOU

 


 

  APAKAH KITA SUDAH MENGINGKARI YESUS ?

Dalam suatu diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan takdir, kasus-kasus kerusuhan di berbagai daerah Indonesia, sampai masalah konsistensi pada pilihan atas iman kita akan Yesus sebagai Juruselamat jika 'skenario terburuk' terjadi di Indonesia. 
Misteri yang paling besar untuk direnungkan adalah sikap kita akan iman kita kepada Yesus dalam konteks berada di bawah ancaman. Hal ini dikaitkan dengan kasus sara di Ambon, Situbondo, Ketapang, dan Kupang. 
Sebagai contoh dalam kasus Kupang dan Ketapang, dimana persepsi yang salah bahwa suatu tindakan ekstrim untuk membela suatu institusi yang "berlabelkan" agama adalah sama dengan membela Tuhan yang kita sembah. Dalam kasus Ambon, tidak dapat dipungkiri bahwa isu sara telah memperparah keadaan. Mungkin banyak juga saudara- saudara seiman kita yang terlibat dalam kerusuhan tersebut atau bahkan juga menganiaya dan membunuh sesamanya yang notabene berasal dari agama lain. Sangat mungkin mereka telah termakan isu bahwa orang dari agama anu akan menyerang orang dari agama tertentu. Terlepas dari kebenaran isu tersebut, ancaman akan keselamatan jiwa mereka adalah nyata pada saat itu. Jika kita berada dalam ancaman yang sama, apa yang akan kita perbuat? Menyerang "musuh" kita?  Atau bertahan dan mempertahankan hidup dengan membasmi para "penyerang"?  Ataukan pasrah saja karena jika kita ditampar pipi kiri, kita berikan pipi kanan? Apakah bertahan hidup dengan membunuh musuh yang mengancam kita adalah salah? 

Memang mudah di teori, kita bisa dengan penuh keyakinan berkata bahwa kita tidak akan mengkhianati Yesus, bahwa kita percaya akan janji keselamatan yang datang dari Tuhan Allah Bapa kita. Dalam kondisi ancaman apapun, walaupun dalam ancaman pistol di pelipis kita, kalau sekarang kita bisa berujar bahwa kita tidak akan mengingkari Yesus. Tetapi bagaimana jika yang terancam adalah orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Jika kita dipaksa untuk mengingkari iman kita akan Yesus dengan ancaman nyawa orang lain, apa yang akan kita lakukan?  Berdiam diri dan tetap memegang teguh iman kita akan Yesus, tetapi melihat orang lain kehilangan nyawanya?  Atau mengingkari iman kita untuk ditukar dengan kebebasan orang lain tersebut? Apa yang sudah kita siap untuk lakukan pada kerusuhan Mei 1998 lalu di Jakarta?  Mempersenjatai diri untuk kita gunakan melawan berarti kita memilih untuk bertahan dengan siap untuk melukai penyerang.  Hal ini mungkin yang membuat beberapa saudara-saudara kita melakukan perbuatan yang mengerikan terhadap sesamanya yang berasal dari agama lain di Ambon. Mereka dihadapkan pada pilihan di atas.  Kondisi di atas memang suatu dilema. Apakah tindakan bertahan seperti di atas merupakan dosa?  Apakah kita sudah mengingkari Yesus?  Apapun jawaban kita, segagah apapun kita berkata bahwa kita tidak akan mengingkari Dia, kita tidak akan tahu sikap kita sampai kita berhadapan dengan kondisi yang sebenarnya.  Ingat janji gagah Petrus kepada Yesus sebelum peristiwa penangkapanNya?  Bukan hanya sekali Petrus mengingkari janji imannya yang gagah, melainkan diulanginya sampai 3 kali. 
Memang tidak mudah, sikap apa yang akan kita ambil jika kita benar-benar berhadapan dengan situasi yang buruk dan apakah sikap kita itu merupakan dosa di mata Allah. Bukankah kita harus berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Bapa?


Manusia hidup dalam suatu dunia yang majemuk/kompleks. Kenyataannya manusia hidup dalam sedikitnya  3 dunia yang bergabung menjadi satu :  

Manusia dalam dunianya sendiri (D1), semuanya tergantung dan digantungi hanya oleh dirinya sendiri, sehingga tugas dan kewajibannya hanyalah menyangkut dirinya sendiri. Disinilah letak hubungan ketuhanan yang eksklusif antara Tuhan dan manusia itu. Disinilah perintah Tuhan yang langsung kepada manusia itu sehubungan dengan keselamatan jiwa (roh) nya (dengan pengertian manusia terdiri dari 3 bagian yaitu raga, nyawa, dan jiwa/roh). Kalau ada ujian iman, disinilah pusat ujian iman itu. 
Manusia dalam masyarakat terbatasnya (D2), dalam kehidupan keluarga atau kehidupan sosialnya. Dia tidak lagi hanya dirinya sendiri, melainkan sudah tergantung dan digantungi manusia atau orang lain yang mempunyai hubungan atau kesamaan tertentu. Orang mempunyai tugas dan kewajiban sosial yang harus dipatuhinya sebagai unsur masyarakat (istilah manusia dan orang dalam arti yang sama, perbedaan hanyalah pemakaiannya saja, yaitu manusia dalam hubungannya dengan jagat raya dan Tuhan, sedangkan orang dalam hubungan dengan kehidupan sosialnya). 
Manusia dalam masyarakat luas (D3), mengandung tugas dan kewajiban (dan hak) yang lebih luas lagi. Di dalamnya terdapat kewajiban melindungi hak orang lain juga maupun kewajiban yang diberikan oleh Tuhan untuk mengabarkan tentang keselamatan jiwa (selanjutnya yang dimaksud jiwa adalah rohnya) orang lain itu.
 

Manusia dalam D1 merupakan proposisi/kasus yang penting dalam hubungan dengan Tuhannya. Imannya kepada Tuhan menentukan segala-galanya tentang dirinya. Keselamatan jiwanya ditentukan oleh iman dalam konteks proposisi ini. Disinilah manusia bisa secara penuh dinilai tentang keputusannya (dalam hubungan kebebasan manusia untuk mengambil keputusan), karena keputusannya tidak menyangkut/ menyerempet/ melanggar/ bertentangan dengan hak/kewajiban lain atau orang lain. Kalau orang mengambil keputusan mengingkari Tuhan dalam proposisi D1 ini, ini merupakan pengkhianatan kepada Tuhan. Disinilah terjadi ujian iman yang sebenarnya, mengingkari atau tidaknya. 
Manusia dalam D2 sudah menerima tugas tambahan. Dalam hubungan keagamaan, dia perlu saling menguatkan iman. Manusia mempunyai fungsi sebagai saksi Tuhan. Disini perlu pengertian yang mendalam mengenai iman masing-masing, setiap orang jangan sampai mengingkari atau lemah imannya dalam proposisi D1 masing-masing. Dukung-mendukung agar komitmen pribadi kepada Tuhan makin tinggi. Dengan komitmen yang lebih tinggi itu, akan mudah melaksanakan dan menjalankan ajaran cinta kasih. Apakah yang harus dikasihinya?   Raganya?  Nyawanya?  Jiwanya?  Tentunya semuanya. Tetapi dalam suatu gabungan perlu ada prioritasnya, tentu dalam agama dan iman, urutan prioritas adalah jiwa, barulah nyawa, terakhir barulah raga dan bagian-bagiannya seperti kaki, tangan, dst. 
Manusia dalam D3 dalam konteks agama, dibebani oleh Tuhan untuk menyebarkan berita. keselamatan kepada orang lain, agar kasih Allah sampai kepada semua orang. Agar sebanyak mungkin jiwa manusia diselamatkan. Di pihak lain, manusia sebagai unsur masyarakat dan bangsa dituntut kewajiban memelihara kesejahteraan umum yang menjadi kesepakatan bersama antar manusia. Di D3 ini ada dua unsur besar sebagai penguasa manusia, yaitu Tuhan dan Penguasa Dunia (presiden, raja, dsb.). Kewajiban manusia kepada dunia ini harus dipenuhi.
 

Dengan susunan ini, marilah kita mencoba untuk menguraikan permasalahan dengan mencoba untuk menangkap permasalahan yang kita ajukan dalam "kasus terburuk", yaitu orang Kristen diserang. Serangan ini bisa serangan institusinya (bangunan keagamaan), bisa serangan ideologinya (ajaran), bisa serangan orangnya (pembasmian golongan atau raga individu). 
Serangan terhadap institusi adalah perang urusan Tuhan. Biar Tuhan yang berperang, kita berperang melalui doa. Kalau kita membela bangunan atau institusi keagamaan dengan cara fisik menyerang orang lain, rasanya hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus. Yang suci bukan gedung, yang suci bukan lembaga. Yang suci adalah Allah yang memberikan/mendirikan lembaga dan bangunan itu. Kembalikanlah perang ini kepadaNya agar Dia yang menanganinya. Mungkin bisa bercermin dari cerita Perjanjian Lama, perang di bawah Panglima Gideon. Kalau perang itu suruhan Tuhan, bukan jumlah tentara yang menentukan kemenangan. 
Di dunia modern, kemenangan Israel dalam perang berkali-kali, ada campur tangan Tuhan di belakangnya. Sebab kekalahan Arab banyak disebabkan oleh kesalahan tafsir perintah/kesalahan tafsir gerakan, keteledoran faktor sepele-sepele, yang mengherankan keteledoran begitu bisa terjadi. 

Serangan terhadap ideologi bagaimana?  
Ini boleh dilayani, tetapi bukan dengan kekerasan, dilayani dengan bukti perbuatan. Kasih memenangkan segalanya dalam ideologi, sayangnya melaksanakan kasih ini sulitnya bukan main. Hanya dengan keteguhan iman yang tinggi, melaksanakan kasih itu mudah. Seperti kita sedang senang kepada orang (keyakinan yang tinggi, tidak bisa diberi nasihat, gandrung), disuruh menyeberangi lautanpun dilakoni. Kalau melayani dengan perdebatan ayat, percuma saja, karena itu perdebatan logika, dan logika itu ujung-ujungnya mencari kebenaran dan pembenaran. Padahal kebenaran itu di mana letaknya? Apakah kebenaran dan adakah kebenaran itu? 
Serangan fisik. Dalam kasus ini, meskipun seolah latar belakangnya agama, namun sementara kita boleh melupakan masalah agama. Agama hanya merupakan hiasan atau kesalahan tafsir orang lain. Masalah yang dihadapi di sini adalah hak dan kewajiban manusia hidup dalam masyarakat luas (D3). Masing-masing anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang dilanggar haknya, berhak dan berkewajiban membela diri. Membela diri bisa dengan cara fisik, bisa dengan taktik, bisa dengan membayar orang untuk mempertahankan diri. Ini sama dengan pelanggaran antar negara yang wajib dibela dengan perang sekalipun. Jaman Perjanjian Lama, perang membela hak adalah wajib dan halal-halal saja. Jaman Perjanjian Baru, terdapat aliran yang tidak ingin mencelakakan orang lain, sekalipun itu musuh, sehingga taktiknya melarikan diri, mengelabui, bersembunyi, dan lain-lain. Ini salah satu aliran saja, yang sudah mengarah pada daerah kehidupan sosial di mana merupakan hak setiap orang untuk membela diri sesuai dengan jaminan hukum. Orang membunuh karena membela diripun bebas dari hukuman (pengadilan yang benar lho). Jadi membela diri dari serangan fisik merupakan kewajiban manusia dalam kehidupan sosial. Jadi kalau ada ancaman fisik raga diri kita, itu wajib kita menyusun strategi bela diri, kita wajib membela diri. 

Bagaimana ajaran mengenai tampar pipi kiri dan beri pipi yang kanan?  
Tafsiran bisa macam-macam. Ada tafsiran bahwa kalau kita ditampar pipi kiri dan membalas, maka orang itu akan dendam, benci, ingin menyerang lagi (membalas lagi). Dendam tidak berhenti, permusuhan timbul atau berlanjut. Kalau kita memberikan pipi kanan dan itu menghentikan kebenciannya dan ia menjadi lunak, bahkan bersahabat, maka bukankah nilai pipi kanan itu mendapat nilai sangat berharga (sebagai pembayaran). Jadi bukan menyerahkan pipi kanan untuk bahan latihan tempilingan, melainkan untuk membasmi kebencian. Maka kalau kita membiarkan diserang untuk membangkitkan semangat menyerang yang lebih tinggi, itu bukanlah spirit yang diajarkan untuk mengorbankan pipi kanan. Spirit ajaran pipi itu adalah kalau dengan pengorbanan itu dapat menghentikan dendam, maka itu baik untuk dilakukan. 

Bagaimana menyerang balik?  
Menurut ajaran agama yang benar, pasti tidak ada yang mengajarkan untuk menyerang orang lain. Yang boleh itu selalu membela diri!  Kalau agama mengajar menyerang, itu sudah pasti agama keblinger atau agama politik, sudah bukan agama murni, agama yang diperalat oleh manusia yang rakus kuasa alias agama yang dipolitisir. Maka urusan politik ya bagiannya juga politik, itu di luar konteks agama. Jadi kalau diserang, ya bela diri. Jadi menurut ajaran agama, tidak perlu menyerang, bahkan sebagian besar tafsir menyatakan tidak boleh menyerang. 

Bagaimana kalau kita sendiri menghadapi kondisi ancaman tersebut? 
Sebagai orang beragama, untuk urusan agama (kelembagaan dan bangunan), kembalikan ke tangan Tuhan, tidak usah kita menjadi pengganti Tuhan membelaNya, berusaha menyelamatkan tanpa mencelakai orang itu wajib diusahakan sebagai penanggung jawab pemeliharaan. Tuhan tetap sanggup berperang untuk kepentinganNya. Kita perlu ikut berperang dalam perang rohani sesuai dengan perintah Tuhan, perang terhadap kuasa setan untuk memenangkan jiwa (roh) manusia menjadi selamat ikut Tuhan. Sebab Tuhan sudah mengutus Nabi-Nabi, sudah mengirim Alkitab, sudah mengirim Juruselamat, tetapi manusia tidak bisa begitu saja percaya. Manusia perlu diyakinkan oleh pemberitaan dan kesaksian manusia lain. Setan menghalangi, tetapi setanpun tidak begitu saja bisa meyakinkan manusia, karena manusia butuh manusia untuk menerima berita dan kesaksian. Lebih banyak orang bersaksi, lebih mudah orang yakin. Rasanya belum pernah kita membaca ayat dalam Alkitab bahwa kita harus ikut berperang fisik untuk membela Tuhan. Kita harus berperang rohani, ya, tapi berkelahi secara fisik, belum pernah terbaca. Jangan menafsirkan perintah Tuhan kepada Israel jaman dulu itu untuk berperang melawan si anu lalu ditafsirkan bahwa kita sekarang juga harus berperang fisik, yang berbeda si anu itu sekarang menjadi si inu. Itu kan urusan jaman Israel dulu. Yang jadi urusan kita kan perintah Yesus, atau paling jauh ya ajaran Paulus. Rasanya dari Perjanjian Baru tidak ditemukan ajaran untuk berlatih kungfu untuk berkelahi fisik. 

Bagaimana kalau kita diancam? 
Di sini ada dua pendapat. Satu pendapat adalah tidak boleh menyangkal seperti Petrus. Yang kedua bilang tidak apa menyangkal "bohongan" kalau itu bukan ujian iman. Aliran satu diikuti atau dicontohi oleh orang Kristen jaman Romawi, yang menyerah disiksa dan dibunuhi untuk membuktikan bahwa kasih Tuhan melebihi segalanya, termasuk tidak mau mencederai musuh sekalipun, ini dimaksud untuk meluluhkan lawan (karena kegigihan dan pengorbanan orang Kristen itu, maka pada suatu ketika salah satu penguasa tinggi Romawi menjadi Kristen dan karena itu tempat-tempat kejadian kisah hidup Jesus di Israel diabadikan dengan mendirikan gereja di atasnya, atas perintah penguasa Romawi itu sehingga kita masih bisa napak tilas. Kalau tidak, mungkin sudah jadi real estate sehingga tidak ada bekasnya. Ingat itu mencakup masa hampir 2000 tahun yang lalu). 
Aliran kedua mendasari kisah Petrus sendiri, meskipun ia menyangkal, bukan berarti berkhianat seperti Yudas, sehingga karena ia menyangkal, maka ia tetap hidup dan bisa berfungsi menjadi murid kepala yang menyebar-luaskan berita Injil sampai tersebar luas. Baru ia mengorbankan diri setelah berkarya besar dan diperlukan untuk mempertahankan iman jemaat pada waktu itu. Andaikan dia tidak menyangkal dan ikut mati disalib bersama Yesus (misalnya), kan tidak ada Petrus sang kepala murid (tentunya pasti ada ganti murid yang lainnya). Aliran kedua ini membawa pengertian bahwa dia mempunyai kewajiban untuk mempertahankan dan menguatkan iman dalam masyarakat D2. Kalau pengingkarannya melemahkan iman kawan, keluarga, dan masyarakat sekelilingnya, maka pengingkaran itu tidak boleh dilakukan. Tetapi kalau pengingkaran itu merupakan taktik atau kesepakatan dan dimengerti oleh semua anggota masyarakat D2 sehingga tidak menimbulkan kelemahan iman, maka bisa dilakukan. Yesuspun pada suatu waktu menyingkir dari suatu tempat karena terancam (dan belum masanya), tetapi ketika sudah tiba masanya, maka ia naik ke bukit Gethsemani, berdoa untuk besoknya menyerah ditangkap melalui pengkhianatan Yudas yang Yesus sadari betul dan harus terjadi. Perlu ditambahkan bahwa Petrus waktu menyangkal itu seharusnya tidak dalam keadaan terdesak, tetapi lebih dalam keadaan takut sendiri . Yang menanyakan bukan petugas hukum untuk menghukum atau mengadili. Maka seharusnya Petrus tidak perlu menyangkal, tetapi pergi saja sudah cukup. Karena itu dia harus menyesal mengapa menyangkal. Meskipun sudah menyangkal demikian, Tuhan tetap memakainya sebagai muridNya, berarti dimaafkan tanpa ada cerita karena ia menyesal dan memperbaiki diri.
 

Kalau ancaman itu mengakibatkan kecelakaan orang lain yang kita kasihi, bagaimana?   
Jawabannya pun sama, apakah tindakan itu merupakan ujian iman?  Apakah itu akan menggoyahkan iman orang lain (D2)?  Apakah akan menggoyahkan imannya sendiri (D1)?  Menggoyahkan iman itu berarti menjauhkan keselamatan jiwa mereka dari keselamatan!  Ditinjau dari iman, prioritas menyelamatkan jiwa lebih tinggi daripada menyelamatkan raga. Jadi kalau kita yakin bahwa mereka akan mengerti alasan saya berbohong itu demi untuk menyelamatkan nyawa-raga mereka tanpa menggoyahkan iman mereka, rasanya oke-oke saja. Mereka yang mengancam itu untuk keperluan kerakusan, agama hanya dipakai sebagai tameng mencapai tujuan. 

Jadi dari uraian di atas, yang harus kita pahami benar-benar, apakah itu ujian iman atau bukan. Kalau itu kerakusan orang lain, itu masalah duniawi. Kalau itu masalah keimanan kita dalam dunia D1, harus dipertahankan. Dengan demikian area permasalahan akan lebih dipersempit. 

  
Iman kita perlu dijaga, karena iman kepada Yesus Al Maseh Sang Juruselamat itu adalah anugerah Allah yang menyelamatkan kita


 

BAGAIMANA MENYIKAPI PERJANJIAN LAMA

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi I Samuel 15, yang mana memerintahkan orang Israel untuk menumpas bangsa Amalek, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya, bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai? Bukankah ini bertentangan dengan inti Ajaran Yesus, yakni kasihilah sesama manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri? Perlukah diadakan penghapusan untuk ayat-ayat seperti ini dari dalam Alkitab? Atau ada penafsiran lain tentang ayat-ayat seperti ini, yang banyak bertebaran dalam Perjanjian Lama?

I Samuel 15, bunyinya:

15:1. Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.

15:2 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.

15:3 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."

15:4 Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki dan sepuluh ribu orang Yehuda.

15:5 Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah orang-orang menghadang di lembah.

15:6 Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari tengah-tengah orang Amalek.

15:7 Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir.

15:8 Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang.

15:9 Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.

15:10. Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:

15:11 "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

15:12 Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal."

15:13 Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN."

15:14 Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?"

15:15 Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."

15:16 Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."

15:17 Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?

15:18 TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.

15:19 Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"

15:20 Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.

15:21 Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."

15:22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

15:23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."

15:24. Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.

15:25 Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN."

15:26 Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel."

15:27 Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca jubah Samuel, tetapi terkoyak.

15:28 Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: "TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.

15:29 Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal."

15:30 Tetapi kata Saul: "Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu."

15:31 Sesudah itu kembalilah Samuel mengikuti Saul. Dan Saul sujud menyembah kepada TUHAN.

15:32. Lalu berkatalah Samuel: "Bawa ke mari Agag, raja Amalek itu." Dengan gembira Agag pergi kepadanya, sebab pikirnya: "Sesungguhnya, kepahitan maut telah lewat."

15:33 Tetapi kata Samuel: "Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan." Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan TUHAN di Gilgal.

15:34 Kemudian Samuel pergi ke Rama, tetapi Saul pergi ke rumahnya, di Gibea-Saul.

15:35 Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel.

 

 

Pertanyaan seperti di atas mengenai I Samuel 15 atau perintah-perintah lain dalam kisah-kisah Alkitab, tidak dapat dilepaskan dari latar belakang terjadinya kisah itu. Apalagi kisah-kisah dalam Kitab Perjanjian Lama.

Dalam menghadapi kisah/ayat dalam Perjanjian Lama terdapat perbedaan dari satu aliran dengan aliran lainnya. Ada aliran yang menerima Alkitab seperti apa adanya dan diterima secara keseluruhan tanpa membedakan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ada yang menerima Alkitab dengan pembedaan makna antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena antar keduanya ada batas yang sangat nyata dengan perubahan yang nyata pula, yaitu kedatangan Yesus menjadi batas antar keduanya.

Saya mengikuti aliran kedua ini, bahkan dengan perbedaan bobot makna berbeda antara Perjanjian Lama, Injil, dan Surat-Surat lain dalam Perjanjian Baru. Dimana Injil (Matius-Markus-Lukas-Yohanes) merupakan Inti ditambah pengembangan berupa Surat-Surat lain, sedangkan Perjanjian Lama merupakan kisah lama menjelaskan latar belakang Perjanjian Baru. Perjanjian Lama mempunyai landasan hukum yang sangat berbeda dari Perjanjian Baru.

Hukum dasar Perjanjian Lama adalah Keselamatan berdasarkan Kerja Manusia, artinya untuk manusia menerima keselamatan harus dengan perbuatan yang menurut Taurat. Ketika Yesus datang, Hukum itu dirubah menjadi Hukum Kasih dengan dipelopori oleh Allah menunjukkan kasihNya dengan menyerahkan anakNya yang tunggal (Yohanes 3:16 yang terkenal itu) menjadi kurban di atas kayu salib. Sejak itu tak ada lagi pembalasan oleh murid Yesus kepada musuh-musuh mereka. Sangat berbeda dengan Perjanjian Lama yang justru umat Israel memerangi musuhnya terus-terusan.

Maka nyata sekali memang berbeda seperti apa yang ditanyakan. Karena memang berbeda landasan hukum maupun landasan ajarannya. Perjanjian Lama berlandaskan "mata dibalas mata" sedangkan Perjanjian Baru berlandaskan "kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri".

Dalam Perjanjian Lama, perang umat Israel adalah perangnya manusia dan dibantu oleh Tuhan (umat yang mau dimenangkan dari musuh perang jasmani), sedangkan Perjanjian Baru perang umat Kristen adalah perangnya Tuhan dibantu oleh kesaksian manusia, berupa perang rohani karena manusia (musuh) yang akan diselamatkan dari kebinasaan.

Kembali kepada Samuel, kalau mau memakai ayat-ayat Perjanjian Lama harus dikonversi dari perang jasmani menjadi perang rohani. Sedangkan perang jasmani, adalah semata-mata perangnya manusia seperti perang antara Amerika dan Jepang, karena Tuhan Perjanjian Baru tidak mengajarkan perang jasmani. Jadi perang jasmani adalah perang mempertahankan Hak Manusia yang tak ada hubungannya dengan perangnya Tuhan terhadap kegelapan untuk memenangkan jiwa manusia dari kebinasaan. Jadi umat Israel yang mau membebaskan diri dari Mesir harus perang melawan Amalek yang menghalanginya di tengah jalan Mesir tanah penjajahan. Manusia yang mau melepaskan diri dari penjajahan dosa harus berhadapan dengan pasukan Amalek yang menghalangi agar tetap dijajah oleh dosa. Begitulah kira-kira konversi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru.

Untuk orang Israel mungkin lain. Bagi mereka Perjanjian Lama/Taurat menjadi buku sejarah, bagaimana TUHAN (JHWH) memilih dan membela bangsa Israel secara jasmaniah maupun rohaniah. Jadi bagi Israel (yang tak mengenal Perjanjian Baru), Alkitab adalah catatan sejarah suci bagaimana TUHAN Allah Israel melindungi (dan memberi hukuman) kepada umatNya secara langsung.

 

JESUS IS MY ROCK AND MY SALVATION, HE IS MY DEFENSE

 


 

 PERTANYAAN-PERTANYAAN DASAR MANUSIA

Ada rekan yang selalu ingin mencari "kebenaran hidup" dengan memberikan beberapa butir pertanyaan bernuansa filsafat yang hampir tidak dapat dijawab secara tuntas. Rekan tersebut telah seringkali bertanya kepada Pastor dan Pendeta, tetapi jawaban-jawaban yang diperoleh dinilai hanya klise saja sehingga tidak dapat dicerna oleh otaknya. Sering rekan tersebut mendapatkan cemoohan sebagai orang kurang beriman, sedangkan dalam batinnya dia berontak dan mengatakan apakah bukan justru mereka itulah yang kurang tangkas atau tidak mampu menjawab, lalu mencemoohnya.

Pertanyaannya ada beberapa macam, dan yang ingin ditanyakan adalah bukan untuk mendapatkan jawaban dogmatis, yaitu sebagai berikut:

1. Apa maksud dan tujuan Tuhan menciptakan manusia?

2. Kalau Tuhan itu Mahatahu, tentunya Ia sudah mengetahui sejak awal akandosa-dosa yang dibuat seluruh manusia. Mengapa Ia membuat manusia yang berdosa? Kenapa Tuhan tidak menciptakan manusia yang baik semua sehingga semua bisa masuk Surga?

3. Pada dasarnya semua manusia di bumi pernah berbuat dosa, jadi adanya dosa adalah kehendak Tuhan? (karena Ia yang menciptakan, dan memberi kebebasan pada manusia), benarkah ini?

4. Mengapa Tuhan memberi kebebasan pada manusia untuk berbuat dosa atau berbuat baik? Andaikata Tuhan menciptakan manusia yang baik saja, dan tidak menciptakan setan, tentunya hidup kita tidak akan seperti begini?

5. Kalau Tuhan itu Mahakuasa, maka Dia dapat melenyapkan setan dalam sekejab. Mengapa hal itu tidak terjadi? Kenapa Ia mau mencobai manusia?

6. Kita semua manusia diberi akal / pikiran oleh Tuhan, tetapi kenapa kita dilarang berpikir / bertanya hal-hal yang berseberangan dengan Kitab Suci? Sehingga bila kita bertanya hal-hal tersebut di atas, maka akan dianggap berdosa (kurang beriman, murtad, atheis, dsb.).

7. Banyak sekali manusia di bumi ini yang amat fasih berbicara mengenai agama bahkan hafal seluruh ayat Kitab Suci (misalnya Alkitab ataupun Al Quran), tetapi justru perilakunya banyak bertentangan dengan prinsip dari Kitab Suci itu sendiri. Mereka itu justru hidup sombong seolah-olah Tuhan sudah mengenal mereka dengan baik sekali (menurutnya ini hanya ilusi mereka). Apakah tidak lebih baik bagi mereka yang tidak mengenal Kitab Suci, tidak hafal akan isinya, tetapi mereka menyadari secara penuh prinsip hidup, yaitu "kasih akan sesama ".

8. Kitab Suci ditulis beberapa abad yang lampau, apakah isinya masih valid sampai sekarang? Karena banyak sekali pikiran atau isi Kitab Suci yang berlainan dengan kenyataan, ini disebabkan karena tingkat kecerdasan manusia dahulu dengan sekarang jauh berbeda. Misal : bumi datar (tidak bulat), Surga di atas dan Neraka di bawah, dsb. Banyak sekali perbedaan mengenai isi Kitab Suci terutama tentang penciptaan bumi, kisah Adam dan Hawa dibandingkan penelitian / ilmu pengetahuan tentang asal usul manusia (baik tahun maupun tehnisnya).

9. Mengapa agama tidak boleh dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan, padahal ilmu pengetahuan adalah hasil pikiran manusia yang notabene adalah hasil karya ciptaan Tuhan sendiri?

~~~~~~~~

Pertanyaan-pertanyaan di atas memang sukar atau hampir tak mungkin dijawab dengan tuntas. Mengapa? Karena jawabannya akan klise (itu-itu juga), yaitu keterbatasan kemampuan tampung nalar manusia. Seperti bagaimanapun seorang anak mau mengerti persoalan orang dewasa, tidak akan sampai. Kalau dilihat antara anak dan dewasa kecuali kecerdasannya, adalah keterbatasan waktu (hidup) dan pengalamannya. Demikian juga klise-nya jawaban, bagaimana nalar kita mau menampung pengetahuan dan pengalaman Tuhan yang alpha dan omega, yang awal dan yang akhir. Bila kita meninjau dari aspek talenta, tidak semua manusia mempunyai kemampuan menyerap semua talenta. Misalnya seorang yang peka terhadap seni musik (dengan balok notnya), dalam satu orkestra dengan puluhan alat musik. Dia dapat merasakan ("mendengar") bila ada satu instrumen yang sumbang, sedangkan orang umum tetap merasa indah. Namun kemungkinan sekali dia segera jadi blo'on ketika melihat huruf dan simbol matematika. Demikian pula ada yang sebaliknya. Untuk dua-duanya saling mengerti dengan kecerdasan dan kepekaan yang sama, entah berapa puluh tahun dibutuhkan.

Oleh karena itu, marilah kita terima keterbatasan kita itu dengan iman. Bukan karena putus asa, tetapi memang secara nalar kita tak mampu. Untuk mendapat jawaban yang "tepat" dan kita bisa mengerti betul, mungkin hanya bisa kalau kita mempunyai talenta dan kepekaan setingkat para Nabi. (Saya yakin kita punya kelebihan, kita lebih tahu tentang bahasa Indonesia daripada Nabi manapun, karena bahasa Indonesia belum ada pada jaman Nabi hidup sebagai manusia).

Dari landasan bernalar seperti itu, kita boleh berusaha untuk mengerti dan mendalami, tetapi bila kita tidak mengerti sebaiknya kita usahakan untuk menerima. Seperti seorang anak menerima apa yang dikatakan orang tuanya atau orang yang dianggap lebih berpengalaman, lebih peka, dan lebih tahu. Inilah pula mungkin makna yang dikandung dalam: Berbahagialah anak-anak, karena mereka itu yang mewarisi Kerajaan Surga.

Sekarang kita coba masuk kepada materinya, tanpa berusaha untuk memecahkan misteri kehidupan yang memang dibutuhkan kepekaan seorang Nabi untuk menjelaskannya. Dan kalau Nabi itu menjelaskan sekalipun, apakah manusia awam dapat menangkap dengan indera manusia biasa, masih dipertanyakan. Berapa puluh Nabi telah diutus ke dunia ini, dan berapa persen manusia yang mengerti dan menerima? Maka hanya sejauh kemampuan kita untuk bernalar itu sajalah kita membahasnya.

Yang menarik adalah, justru sebetulnya apakah "kebenaran" itu. (Ini pertanyaan utama dalam filsafat). Kebenaran macam apa yang kita cari. Setiap kebenaran membutuhkan landasan atau alasan pembenaran. Contohnya: apakah celana kita biru? Benar, karena kita sudah sepakat dalam bahasa maupun masyarakat bahwa warna itu dinamakan biru. Di sini landasan pembenarannya adalah kebiasaan/konsensus. Apakah Gus Dur seorang Presiden sebuah negara? Benar. Alasan pembenaran adalah legitimasi oleh Undang-undang. Apakah Pak Kwik Kian Gie adalah Menteri? Benar, karena ada surat pengangkatan oleh yang berwenang yaitu Presiden. Lhaa, pertanyaannya yang menarik sekarang adalah kebenaran yang macam apa yang kita cari? Kalau ada satu jawaban masalah, landasan apa yang kita pakai untuk kita katakan itu benar atau kurang benar? Apakah landasan pembenarannya?

Mungkin sebetulnya yang kita cari adalah jawaban yang kita mengerti. Atau jawaban yang benar adalah yang benar menurut pengertian saya (sekali lagi saya dan hanya saya). Jadi sebetulnya kita mencari jawaban tentang kebenaran hidup adalah subyektif (menurut rasa/naluri dan pengertian/nalar saya). Bukan obyektif atau benar menurut landasan pembenaran yang kesepakatan semua orang. Maka jawaban kebenaran hidup yang kita peroleh, akan merupakan jawaban subyektif. Anda bisa menerima itu benar, belum tentu orang lain akan menerimanya sebagai kebenaran.

Di sinilah timbul makna bahwa keselamatan (jiwa) manusia adalah Anugerah Tuhan. Adalah suatu Anugerah kalau kita bisa mengerti/menerima bahwa penebusan dosa kita oleh kedatangan Yesus Kristus adalah suatu kebenaran hidup. Karena secara misteriuslah kita dapat menerima atau menolaknya berdasarkan "landasan pembenaran" yang muncul dalam hati kita. Bisa saja orang menolak karena landasan pembenaran ini belum muncul. Dengan adanya kesaksian orang beriman, orang yang dulunya menolak karena belum munculnya landasan pembenaran ini, bisa berubah jadi menerima kebenaran hidup ini pada saat Anugerah itu tahu-tahu muncul.

Yang ingin disampaikan di sini adalah kebenaran hidup adalah subyektif, sehingga tingkat penerimaan kebenaran hidup ini oleh seseorang akan berlainan dengan orang lain.

Sebetulnya kita tidak perlu cemooh-cemoohan. Masalahnya dari arah mana kita melihat sisi sebuah mata uang (koin) yang satu sisinya bertuliskan angka dan sisi lainnya berupa gambar. Orang yang melihat sisi gambar akan ngotot bahwa koin itu gambar, yang melihat sisi lainnya ngotot bahwa koin itu angka. Bila masing-masing tidak mau berusaha membalik koin, ya sampai kapanpun tidak akan pernah ketemu kesepakatan pembenaran.

Sangatlah gamblang perbedaan antara rekan tersebut dengan mereka adalah: dia melihat dari sisi "dicerna otak saya", sedangkan mungkin mereka melihat dari sisi "beriman". Memang ada dua perbedaan sudut pandang, bahkan bisa dikata dari sudut yang berlawanan, karena antara iman yang dilandasi kepercayaan (yang subyektif) hampir boleh dikatakan bertentangan dengan yakin yang dilandasi nalar (yang obyektif). Sebagaimana uraian sebelumnya, dapat dikatakan amatlah sukar untuk menempatkan masalah kebenaran hidup ini dalam konteks yang obyektif, karena memang tidak ada landasan pembenaran yang bisa disepakati bersama. Oleh karena itu adalah wajar rekan tersebut berselisih dengan mereka, karena tanpa disadari dua belah pihak berbicara masalah yang tidak sama. Anda ingin melihat kebenaran hidup yang obyektif (dengan belum jelas landasan pembenaran yang dipakai), sedangkan mereka menerima kebenaran hidup yang subyektif (tanpa perlu adanya landasan pembenaran yang memang diyakininya tidak perlu ada landasan). Maka menurut saya, sebelum ada kejelasan dan kesepakatan tentang landasan pembenarannya, kita tidak mungkin sampai kepada kebenaran yang obyektif.

Apa maksud dan tujuan Tuhan menciptakan manusia?

Menurut saya jawabannya terpaksa klise: kita tidak tahu karena ini misteri. Kita tak tahu apa yang terjadi sebelum adanya bumi ini. Mungkin saja Tuhan melihat masih kacau, lalu mengaturnya, lalu menciptakan manusia untuk memelihara dan mengatur selanjutnya (manajemen istilah moderennya). Kalau kemungkinan ini diterima, maka tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah manajemen muka bumi ini. Kalau ini diteruskan, lalu berarti bahwa kalau manajemen manusia itu berhasil, maka Tuhan senang. Kalau kacau, Tuhan tak senang. Timbullah akibat lanjutan, kalau begitu tujuan diciptakannya manusia adalah untuk menyenangkan Tuhan (berkenan kepadaNya). Apakah ini bisa diterima nalar kita? Mungkin, mungkin, dan mungkin.

Kalau Tuhan itu Mahatahu, tentunya Ia sudah mengetahui sejak awal akan dosa-dosa yang dibuat seluruh manusia. Mengapa Ia membuat manusia yang berdosa? Kenapa tidak menciptakan manusia yang baik semua sehingga semua bisa masuk Surga?

Di sini kita berusaha menempatkan Tuhan pada posisi kita. Kalau kita serba tahu dan serba bisa, pasti kita akan hanya menciptakan manusia yang seperti robot sekali setel, jadi dan menurut, untuk seterusnya menurut program yang sudah di set. Robot akan jadi bagian yang mungkin lebih rendah daripada binatang atau setingkat masuk kelompok binatang (mungkin binatang 3 lokasi udara/air/darat, bisa terbang, bisa berenang, bisa berjalan).

Bagaimana kalau mau ada ciptaan yang lebih tinggi daripada binatang? Mahluk yang memiliki kehendak dan kebebasan mengambil keputusan. Mahluk ini bisa merasa senang, bisa bersedih, bisa tertawa dan lain-lain. Bagaimana kalau kita ambil sebagian, tidak usah bisa bersedih, jadi senang melulu (hidup tak perlu mati, atau kalau mati ya habis tak ada kelanjutan hidup). Apakah ini bukan merupakan kehidupan kelas binatang. Kita bisa senang karena kita tahu apa rasanya sedih.

Bukankah kehendak kita menciptakan manusia yang tak bisa mengambil keputusan sendiri itu menjadi maksud yang tidak perlu karena sudah dipenuhi oleh kodrat mahluk yang namanya binatang (cuma menambah jenis saja)?

Jadi misteri yang kita tak mampu menangkap dengan nalar, mengapa manusia diciptakan ! (Bukan mengapa tidak menciptakan manusia tak bisa dosa).

Karena saya juga tak bisa menjawab mengapa saya diciptakan, maka saya harus bertanya kepada orang yang kita anggap lebih tahu dan lebih peka dalam hal misteri ini, dan saya terima sebagai kenyataan hidup tanpa saya perlu mengerti secara nalar. Orang macam apakah itu? Ya para Nabi, yang isi pesan-pesannya ditulis dalam Alkitab.

Pada dasarnya semua manusia di bumi pernah berbuat dosa, jadi adanya dosa adalah kehendak Tuhan? (karena Ia yang menciptakan, dan memberi kebebasan kepada manusia), benarkah ini?

Apakah arti kata dosa? Dosa itu sepanjang yang saya tahu adalah perbuatan yang melawan kehendak Tuhan (sengaja dipakai istilah melawan kehendak Tuhan yang berbeda makna dengan istilah tidak sesuai kehendak Tuhan). Kalau definisi singkat itu diterima, maka selama ada kehendak Tuhan, timbul konsekuensi adanya dosa. Apakah dosa itu kehendak Tuhan? Pasti bukan kehendak Tuhan, karena dosa itu justru berlawanan dengan kehendak Tuhan.

Mengapa manusia diberi kebebasan, itu misteri yang disinggung dalam pertanyaan nomor 2, yaitu kalau manusia tidak diberi kebebasan mengambil keputusan, maka manusia tidak perlu ada karena kalau ada akan termasuk kelompok mahluk lain yaitu binatang menyusui, menjadi salah satu nama jenis kera.

Andaikata Tuhan menciptakan manusia yang baik saja, dan tidak menciptakan setan, tentunya hidup kita tidak akan seperti begini?

Menurut ingatan saya, setan sudah jauh lebih dulu ada sebelum manusia (sudah menggoda Adam). Jadi setan ini bukan diciptakan untuk manusia. Misteri terjadinya/terciptanya setan, seingat saya sama dengan misteri mengapa manusia diciptakan. Dia diciptakannya juga awalnya baik, diberi kebebasan untuk mengambil keputusan dan bertindak, kemudian dia berdosa (melawan kehendak Tuhan), jadilah setan. Jadi Tuhan bukan menciptakan setan untuk menggoda/mengganggu manusia.

Mengapa hidup seperti begini (ada kesengsaraan), ya karena ada kesenangan maka ada kesengsaraan. Lebih besar penderitaan yang pernah kita alami, lebih besar pula kesenangan atau kenikmatan yang kita bisa rasakan. Contohnya, pernahkah kita merasa bahagia bahwa kita ini sehat walafiat, pernahkah kita merasakan sehat kalau tak pernah sakit? Kita hanya dapat merasakan betapa besar arti kesehatan kalau kita sudah tahu betapa besar arti kesakitan. Pernahkah kita mengerti nilai air bersih pada waktu sungai-sungai masih jernih bisa diminum? Arti air bersih bagi kita berbeda dengan air bersih di gurun pasir. Maka tak ada kebahagiaan atau kesenangan tanpa adanya kesengsaraan.

Masalahnya sekarang bagaimana kita bisa menikmati kebahagiaan dan tidak hidup bersama kesengsaraan. Inilah yang sebenarnya diajarkan oleh agama, bagaimana menjauhi kesengsaraan. Misalnya saja, kalau kita rakus, baru puas kalau punya mobil mercedes. Ketika kita punya kijang, kita masih sengsara (meskipun tidak parah). Tapi kalau kita bersyukur bahwa kita memiliki kendaraan tertutup tak usah berdebu, maka kita bisa menikmatinya.

Apa artinya, mungkin sebagian besar dari kesengsaraan kita ini adalah ciptaan kita sendiri (mungkin, karena adanya kisah Ayub, Yunus dan lainnya bermakna lain oleh Tuhan). Jadi kalau tak ada kesedihan dan kesengsaraan, kita tak akan tahu arti senang dan bahagia.

Marilah kita berusaha untuk menerima kenyataan hidup ini, dan berusaha mengikuti AjaranNya, agar kita berbahagia karena berhasil mengikuti ajaran yang diberikan kepada kita.

Kalau Tuhan itu Mahakuasa, maka Dia dapat melenyapkan setan dalam sekejab, kenapa hal itu tidak terjadi? Kenapa Dia mau mencobai manusia?

Masalah mengapa Dia tidak melenyapkan setan dalam sekejab, itu di luar jangkauan nalar kita (sebagaimana uraian klasik keterbatasan manusia). Namun rencana membelenggu setan untuk selamanya, seingat saya juga sudah dituliskan dalam Kitab Wahyu, bila ketikanya tiba. Kita menerima kenyataan bahwa hidup ini berlangsung, dan kematian ada masanya. Mungkin demikian pula tentang masanya tiba, setan akan kehilangan dayanya.

Mengapa Dia membiarkan setan mencobai manusia (tak terkecuali ketika Tuhan melahirkan diri menjadi manusia Yesus, menerima cobaan setan). Tanpa adanya cobaan, manusia tidak akan merasakan nikmatnya kasih Tuhan. Semua yang ada dianggap ada dengan sendirinya dan biasa-biasa saja, tak ada yang bisa dinikmati, karena selalu ada menurut apa yang kita harapkan. Apakah nikmatnya air berlimpah apabila kapanpun kita bisa berkecimpung di dalamnya? Kita hanya bisa menikmati sejuknya air, ketika kita ditimpa panas ganasnya matahari, makin kering seperti di gurun, makin besar kita dapat menikmati apa sejuknya air. Kalau kita sekarang merasa ada kenikmatan terhadap keberadaan sesuatu di dunia ini, karena untuk memperolehnya kita harus berusaha. Bukankah demikian pula kebahagiaan atau kesenangan? Kebahagiaan yang besar atas kasih Tuhan dapat kita rasakan, apabila kita merasakan betapa beratnya dan kejamnya godaan setan, atau cobaan yang dibebankan Tuhan kepada manusia.

Bukankah Tuhan juga menyatakan bahwa Dia tidak akan membiarkan cobaan yang melebihi besar kekuatan orang yang percaya kepadaNya? Dengan pernyataan itu, bukankah ini berarti cobaan yang diterima orang yang percaya kepadaNya merupakan ujian yang kelulusannya melahirkan kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan yang lebih besar dari cobaan itu?  Puji Tuhan!

Kita semua manusia diberi akal dan pikiran oleh Tuhan, tetapi kenapa kita dilarang berpikir / bertanya hal-hal yang berseberangan dengan Kitab Suci?

Mungkin, larangan semacam itu terjadi pada masa awal pertumbuhan gereja, yang masih terbawa sampai sekarang. Namun demikian, sepanjang pengetahuan saya, larangan itu sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah sisa-sisa tradisi. Pada masa lalu, mengingat ajaran ini merupakan ajaran baru, dengan sendirinya bisa dimengerti bahwa ada penjagaan agar tidak semua orang menafsirkan arti/makna Alkitab sendiri-sendiri tanpa bimbingan orang yang mengerti. Setelah tersebar pengertian yang baik mengenai isi Alkitab dan sudah banyaknya buku atau panduan untuk mengerti isi Alkitab, maka secara bertahap (meskipun beratus tahun) hal pemahaman ini dimungkinkan. Lalu apa akibatnya? Sudah beratus tahun pengertian diusahakan dibakukan, kenyataan timbul perbedaan yang makin lama makin banyak tentang pemahaman isi Alkitab itu, yang kemudian melahirkan banyak sekte/aliran/bagian dalam kepercayaan Gereja.

Maka ada sebagian orang beranggapan, lebih baik tidak usah menafsirkan sendiri-sendiri bagi yang pengetahuannya setengah-setengah, karena isi Alkitab menyangkut latar belakang bahasa, budaya, dan kecerdasan masing-masing masa dalam Alkitab. Bahasa, budaya, dan kecerdasan yang tidak sama dengan keadaan kita sekarang. Penafsiran sendiri-sendiri tanpa dilandasi pengetahuan bahasa, budaya, dan kecerdasan di masa Alkitab, bisa menyimpang dari makna yang sebenarnya. Bahkan penafsiran yang salah dapat menggoyahkan iman dan berakibat menjauhkan manusia dari Tuhannya.

Banyak sekali manusia di bumi ini yang amat fasih berbicara mengenai agama bahkan hafal seluruh ayat-ayat Kitab Suci, tetapi justru perilakunya banyak bertentangan dengan prinsip dari Kitab Suci itu sendiri. Mereka itu justru hidup sombong seolah-olah Tuhan sudah mengenal mereka dengan baik sekali (menurutnya ini hanya ilusi mereka). Apakah tidak lebih bagi mereka yang tidak mengenal Kitab Suci, tidak hafal akan isinya, tetapi mereka menyadari secara penuh prinsip hidup yaitu "kasih akan sesama ".

Saya sepakat. Agama tidak untuk sombong menyombongkan kehafalan ayat-ayat dan kemampuan mengerti kata demi kata. Bukankah Tuhan Yesus juga menegur kaum Farisi dan Saduki yang berbuat demikian.

Kitab Suci ditulis beberapa abad yang lampau, apakah isinya masih valid sampai sekarang? Karena banyak sekali pikiran atau isi Kitab Suci yang berlainan dengan kenyataan, ini disebabkan karena tingkat kecerdasan manusia dahulu dengan sekarang jauh berbeda.

Masalah validitas isi Alkitab, kita wajib menerimanya dengan kesederhanaan. Kalau Tuhan membimbing tersusunnya Alkitab sebagaimana terjadi sekarang, demikianlah kita terima sebagai kehendak Tuhan. Berapa banyak dari tulisan tulisan kuno yang telah lenyap? Marilah kita terima kelenyapan itu juga sebagai kehendak Tuhan. Bukankah tanah Palestina sudah berapa kali menjadi ajang peperangan, bukankah Jerusalem dimusnahkan beberapa kali oleh tumpas menumpas antar bangsa? Mengapa tidak semua buku ikut terbakar musnah? Mengapa masih bisa tersusun Alkitab dengan rapi yang cukup dapat dimengerti maknanya oleh manusia jaman ini? Marilah semua itu kita terima dengan kesederhanaan anak-anak, menerima pemberian Tuhan.

Apakah masih valid? Menurut saya, masih sangat valid. Sebab tujuan Tuhan memberi pedoman kepada manusia (berupa agama) adalah kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat bagi yang mengikuti pedoman itu. Saya yakin, kalau kita benar-benar mengikuti ajaran Alkitab, kebahagiaanlah yang akan menjadi buah-buah Ajaran itu. Inilah ukuran validitas yang saya pakai, semakin kita mendekati perilaku yang diajarkan oleh Alkitab, semakin kita memperoleh kebahagiaan dan ketenangan bathin.

Tentang perbedaan antara hasil penelitian dengan tulisan dalam Alkitab, menurut saya tidak perlu kita pertajam kalau kita menerima dan memahami bagaimana perjalanan tulisan/ pengetahuan tentang isi Alkitab itu. Ketika disusun, keadaan tidak seluruhnya lengkap, sehingga di sana-sini terdapat ketidak-sambungan. Oleh karena itu, ada pendapat ahli sejarah yang mengatakan, jangan menganggap Alkitab adalah buku sejarah yang harus lengkap. Alkitab adalah pedoman perilaku manusia untuk mendekat dan bersatu dengan Tuhan.

Misalnya tentang kisah Adam, sama sekali tidak bisa dianggap sejarah karena sejarah ditulis (atau dikisahkan) oleh manusia saksi mata atas kejadian itu. Jelas tak ada manusia yang menyaksikan penciptaan Adam. Dari tulisan dalam Alkitabpun tak tersebutkan masalah waktu antara masa campur baur dengan hari pertama penciptaan. Misteri pula yang disebut hari pertama, hari kedua dan selanjutnya. Berapa lamakah satu hari itu? Kapankah kita mulai mengukur bahwa satu hari adalah 24 jam? Apakah antara setelah gelap lalu terang yang ditulis dalam Alkitab adalah gelap dan terangnya tata surya yang kita kenal sekarang? Bukankah ukuran waktu yang dipakai hari ini adalah ukuran waktu yang baru mulai dipakai ratusan tahun setelah Kristus lahir (seingat saya empat-limaratusan), sedangkan Abraham sudah 4000 tahun sebelum Kristus (menurut ukuran waktu yang mana?). Betapa jauhnya waktu itu.

Banyak yang kita tidak tahu, apa yang ada sebelum campur baur? Seluas apakah campur baur itu? Menurut saya, mungkin Alkitab ditulis (atau diilhamkan) sesuai dengan kejadian-kejadian dan kemampuan ingatan/tulisan yang berhubungan dengan manusia seperti kita ini. Sedangkan yang tidak relevan (tak ada hubungan) tidak diilhamkan untuk ditulis dalam kitab Kejadian. Mungkinkah ada buku yang dapat menampung tulisan semua kejadian dalam jangka waktu jutaan tahun sebelum kejadian hari pertama, tulisan lengkap mengenai enam hari kejadian (tanpa tulisan mengenai hari ketujuh), tulisan lengkap mengenai keseharian Adam di taman itu, kemudian sekian ribu tahun (sedikitnya dua ribu) antara Adam dan Abraham, kemudian seluruh kisah sekitar 4000 tahun antara Abraham sampai Yesus.

Dengan kesederhanaan, mungkin kita terima saja apa yang diberikan kepada kita. Tentang penemuan-penemuan yang lain (saya belum diyakinkan bahwa penemuan itu bertentangan dengan Alkitab), kita anggap sebagai hal-hal yang terlompati dari kisah-kisah dalam Alkitab. Yang penting, validkah isi pedoman Alkitab? Apakah dengan menerima isi Alkitab dan mengikuti makna AjaranNya kita lebih mendapatkan kebahagiaan daripada tanpa Alkitab?

Mengapa agama tidak boleh dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan, padahal ilmu pengetahuan adalah hasil pikiran manusia yang notabene adalah hasil karya ciptaan Tuhan sendiri?

Persoalan ini sudah disinggung dalam bahasan sebelumnya, bahwa ilmu mengandung prasyarat manusia sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan manusia. Prasyarat itu tidak dipakai dalam penulisan Alkitab yang melahirkan agama. Misalnya sejarah harus ditulis atau dikisahkan oleh saksi mata, ada ukuran waktu kejadian dan ada bobot kepentingan umum manusia. Karena itu dalam sejarah tidak dituliskan kisah Hitler mandi sambil makan apel, karena bobot maknanya tidak ada bagi umat manusia dan kejadiannya rutin (mungkin setiap hari, kalau sempat!). Alkitab memakai ukuran atau prasyarat lain, ia mementingkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Jarak antara manusia dan Tuhan yang menjadi pokok materi, sedangkan kisah sejarah manusia merupakan ikutan untuk menjelaskan hubungan itu, sehingga tidak lengkap tertulis, malah yang ditulis kisah sepele dalam sejarah yaitu Adam makan apel. Saya sependapat bahwa Alkitab tidak bisa dinilai sebagai buku sejarah, karena bukan untuk itu Alkitab ditulis.

Sebagai akhir kisah ini, adalah sebuah cerita, sekali peristiwa ada seorang tak di kenal datang ke sebuah kampung sederhana, dia datang membawa gula-gula dan makanan, kemudian dibagikannya kepada warga. Tanpa banyak tanya, anak-anak dan warga kampung itu dengan segala ketulusannya, menerima pemberian dan sangat berterima kasih atas pemberian itu. Kemudian orang yang sama itu datang ke sebuah kota, dengan keikhlasan yang sama (singkat cerita), hanya anak-anak yang mau menerima pemberian gula-gula, sedangkan warga yang dewasa curiga, apa maksud orang tak dikenal itu membagi pemberian? Apakah ingin menguasai, apakah ingin mempengaruhi, apakah ini apakah itu, secara nalar kota "There is no free lunch", tak ada makan siang yang cuma-cuma tanpa pamrih (maksud) yang tersembunyi.

Dari ilustrasi tersebut, siapa yang dianggap lebih cerdik, si penduduk yang sederhana atau si orang kota? Pasti akan timbul pertanyaan kita, tergantung apa maksud/pamrih si orang asing yang sebenarnya! Nah, kita ini bertanya, karena kita orang kota, tetapi bagi si warga sederhana, permasalahan sudah selesai, mereka terima pemberian dengan tulus dan memanfaatkannya dengan berterima kasih. Bagi kita (orang kota) belum selesai karena kecerdasan kita masih mempersoalkan apa pamrih yang sebenarnya dari orang itu, bahkan sering kitapun ingin ikut ngurusi ke"bodoh"an orang kampung yang sederhana itu. Tanpa kita tahu persis apa pamrih orang itu, kita tidak bisa menerima tawaran pemberiannya.

Lalu orang tak dikenal itu mengatakan kepada kita "Oh, aku memberikan ini karena aku cinta sesama manusia, dan aku cinta bangsa ini". Dapatkah kita menerima dan percaya penjelasan tersebut? Kemudian menerima tawaran pemberiannya? Akhirnya terpulang juga kepada apa suara hati kita.

 

Semoga Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus selalu menyertai kita sekalian.

FOR WE WALK BY FAITH, NOT BY SIGHT

 


 

 

  BOM !!!  Apakah Tuhan Peduli?

Puji Tuhan !

Kejadian Perayaan Natal di Gereja Batam yang sungguh memukau, apalagi bagi mereka yang persis berada di tengah peristiwa itu. Maka, sungguh bersyukurlah mereka akan keselamatan mereka dari bencana bom, dan makin yakinlah iman mereka akan kehadiran dan campur tangan Yesus. Tiada yang mustahil bagi Tuhan.

Tetapi, bagaimana tentang kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka yang terkena bencana bom, ada yang terluka parah dan meninggal dunia?

Kalau Yesus hadir di situ, mengapa mereka tertimpa bencana bom? Sedangkan di Gereja Batam tidak demikian kejadiannya?

Adakah adagium : "keberuntungan itu adalah karena Yesus" memberikan makna sebaliknya, bahwa kemalangan (yaitu derita, sakit, tewas, miskin, dukacita dsb.) itu adalah kutukan atau hukuman? Atau paling tidak, berarti bahwa Tuhan Yesus "tidak peduli" dengan mereka di situ?

 

Pertanyaan ini memang sulit dijawab kalau kita memakai kacamata "kemauan kita" (yang mau enaknya sendiri) melihat potret orang lain (di mana kita tidak mengalaminya). Dalam kasus seperti itu, di benak kita tergambar: "kalau itu aku di situ sebagai orang yang tersangkut (atau 'sebagai Tuhan'), aku maunya sih terjadi begini, kalau tidak seperti yang saya maui, maka 'Tuhan' tidak adil." Saya sendiri terkejut seketika pada saat diajukan pertanyaan seperti ini. Oleh karena itu, jawaban saya mungkin agak panjang, tidak langsung menunjukkan pola doktrin, logika, atau menjawab dengan intrepetasi langsung.

Kita bersyukur dan ikut memuji Tuhan dengan sepenuh hati, ketika mendengar kesaksian Batam (seperti melihat potret) yang sesuai dengan kehendak/selera kita. Dan memang seharusnyalah demikian, kita bersyukur bahwa Tuhan masih terus bekerja menunjukkan mukjizatNya di antara orang yang percaya. Dan kita harus bersyukur karena kejadian itu akan membawa kesaksian yang memberi kekuatan iman yang lebih besar bagi umatNya yang lain yang menghadapi kesulitan dan ancaman. Kita perlu terus sebar-luaskan kesaksian itu, karena masih banyak umat yang memerlukan mendengar kesaksian itu untuk memperkuat iman menghadapi masa-masa yang sulit ini. Tuhan membutuhkan umatNya untuk bersaksi (tidak untuk berperang dengan pedang), maka dengan menyebarkan kesaksian yang hidup seperti ini, berarti kita melaksanakan tugas kita sebagai umat yang percaya.

Bagi sebagian orang (yang kebetulan pada saat ini tidak ikut mengalaminya), akan timbul pertanyaan lanjutan, merupakan hal yang alamiah, karena manusia diberi keluasan untuk berpikir, bahkan manusia memiliki kekuasaan untuk memutuskan kehendaknya sendiri. Bagi sebagian orang yang sedang mengalami atau menghadapi ancaman yang sama, kesaksian ini akan memberi harapan besar bahwa Tuhan mampu dan akan berbuat mukjizat yang sama bagi kita yang menghadapinya. Haleluyah!

Marilah kita menengok sebentar tentang pertanyaan:

Adakah adagium : "keberuntungan itu adalah karena Yesus" memberikan makna sebaliknya, bahwa kemalangan (yaitu derita, sakit, tewas, miskin, dukacita, dsb.) itu adalah kutukan atau hukuman? Atau, paling tidak berarti bahwa Tuhan Yesus "tidak peduli" dengan mereka di situ?

Untuk mencoba menyingkat perjalanan, marilah kita melihat kejadian "Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-muridNya bertanya: Siapakah yang berdosa, orang ini sendiri atau orang tuanya sehingga ia lahir buta? Jawab Yesus: Bukan dia bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." (Yohanes 9:1-3)

Dan lanjutan dari jawaban Yesus itu adalah pekerjaan Allah yang dinyatakan Yesus, mengubah orang buta itu menjadi orang melek.

Pada waktu ditanya tentang masalah ini, dalam "komputer" otak saya tidak langsung memberi jawaban doktrin, tetapi langsung saya diingatkan tentang kejadian di atas. Setelah saya baca ulang pasal ini, saya tidak melihat satu katapun bahwa si buta itu merasa menderita pada waktu buta (kita biasanya membayangkan bahwa dia buta itu menderita), si buta juga tidak menyatakan bahwa dia sakit buta karena memang dia lahir seperti itu. Dia biasa menjalankan hidupnya yang buta sebagai pengemis, tanpa ada tanda-tanda menderita. Yang jelas bahwa dia menjadi sangat bergembira ketika dia diubah (bukan disembuhkan), dari orang buta menjadi orang melek. Dan kejadian ini menjadi kesaksian besar bagi orang banyak.

Meminjam analogi kejadian ini, rupanya sayapun yang bertanya, "apakah yang Tuhan tidak peduli orang yang ternyata tidak mengalami mukjizat". Saya mendapat jawaban bahwa mukjizat Tuhan bukan merupakan angka rapor tentang kepedulianNya. Mukjizat itu diperlukan oleh Tuhan untuk pekerjaanNya yang lebih besar, bukan untuk melaporkan kepada kita bahwa orang Batam itu orang lebih beriman daripada orang Ambon yang menderita.

(Setelah saya renungkan lebih lanjut, saya yakin ini kejadian analogi yang paling dekat.  Umat di Batam yang menghadapinya, sebelum kejadian mereka mungkin tidak merasa tertekan atau menderita dan tidak tahu terancam. Yesus lewat dan mengubahnya dengan mukjizat sehingga mereka boleh bersukacita karena mereka ditengok oleh Yesus. Mungkin dulunya mereka buta (di mata Tuhan) meskipun tidak menderita, Tuhan ubah menjadi jemaat yang melek dan bersuka cita dan menjadi saksinya yang besar di umat sekelilingnya, bahwa Yesus Hidup!).

Itulah sementara apa yang saya bisa jawab. Kalau didesak secara logika, apa jawaban terhadap adagium itu. Maka menurut perasaan saya, Tuhan menjawab : Tidak ada hubungan. Mukjizat itu bukan rapor, "tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam Dia" (Yohanes 9:3).

Mengenai masalah lain secara umum, bukan sehubungan dengan kejadian di Batam.

Saya kurang sepaham untuk menghakimi bahwa umat di Batam yang mengalami mukjizat karena lebih beriman atau lebih dipedulikan Tuhan daripada Jemaat lain yang tidak mengalami mukjizat, bahkan menderita seolah ditinggalkan oleh Tuhan.

Di dalam Alkitab banyak contoh kejadian yang menunjukkan bahwa kejadian dalam hidup ini tidak seperti potret yang bisa dilihat dalam satu saat (satu potretan) dan menceritakan segalanya. Kejadian-kejadian merupakan rangkaian peristiwa yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Kalau kita hanya melihat Raja Daud berbuat dosa dan menulis sebagian dari Kitab Perjanjian lama, lalu kita mengambil semua kejadian itu dalam satu saat dan mengambil kesimpulan bahwa ternyata berzinah ala Daud itu boleh-boleh saja. Kita melihat Petrus menyangkali tiga kali sebelum ayam berkokok dan kemudian dia menjadi murid dan rasul (terbesar karyanya) dari Yesus. Kita simpulkan bahwa menyangkali itu oke-oke saja, toh bisa menjadi rasul besar.

Semua kejadian itu merupakan rangkaian kejadian hidup. Merupakan dinamika antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Dari Petrus ikut Yesus, mendengar AjaranNya, melihat mukjizatNya, mengalami mukjizatNya di tengah Laut Galilea, ikut menyingkir ketika dalam bahaya penangkapan, ketika benar-benar Yesus ditangkap, dia menyangkal sampai tiga kali. Ketika Yesus sudah naik ke Surga, Petrus menjadi pemimpin, dan menurut alkisah dia mati sebagai martir disalibkan di Roma. Sebaliknya, Yudas Iskariot yang sebagian hidupnya sejajar dengan Petrus, ikut mengalami ajaran dan mukjizatNya, ia mengkhianati dengan menjual Tuannya, berakhir tragis mati tanpa hasil bagi masyarakatnya.

Penyesalan dan pertobatan merupakan unsur penting. Lebih penting lagi adalah keputusan untuk berbuat sesuatu setelah penyesalan dan pertobatan itu.   Apakah membunuh diri seperti Yudas atau melanjutkan perjuangan seperti Petrus.   Keputusan masing-masing itu yang membuka kesempatan buat Tuhan menengoknya dan bekerja sama. Karena Petrus mengambil keputusan untuk berjuang terus (kisah Quo Vadis), Yesus memperingatkan Petrus pada waktu ia lemah, akhirnya Petrus berjuang sampai akhir. Sedangkan nasib Yudas berakhir cepat sesuai keputusannya sendiri.  Ini berarti, Tuhan bukan sekedar suatu kehendak, atau semua berjalan menurut kehendakNya saja. Khususnya buat manusia, Tuhan sudah menyerahkan kebebasan mengambil keputusan itu di hati manusia sendiri, sehingga Tuhan bekerja menurut pola kehendak Tuhan dan kesesuaian keputusan manusia tentang diri manusia itu sendiri. Singkatnya Tuhan membutuhkan kejadian sesuai dengan kehendakNya, manusia memiliki hak untuk memutuskan tentang dirinya. Kalau Tuhan membutuhkan mukjizat untuk meyakinkan umatNya, maka dipakainyalah umat yang bisa mencapai tujuan itu. Mungkin ada umat lain yang juga siap untuk dipakai, tetapi mungkin justru di masyarakat itu bukan mukjizat yang dibutuhkan, tetapi pengurbanan, maka terjadilah Tuhan memakai umat itu untuk berkurban seperti gereja mula-mula di bawah asuhan Petrus yang dibantai di Roma, yang kemudian setelah berjalan sekian ratus tahun ketabahan dan keyakinan iman mereka menjadi saksi hidup yang tak pernah bisa dilupakan sebagai bagian dari Sejarah Roma, maka Roma menjadi Pusat Kegiatan Agama Kristen ..............yang menyebar ke seluruh dunia...........sampai akhir jaman.

GOD MAKES ALL THINGS BEAUTIFUL IN HIS TIME


 

 PERSEPULUHAN

 

Apakah Maleakhi 3:8-10 membicarakan tentang jaman kita sekarang ini?
"Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."

Dalam latar belakang sejarah, ini sedang berbicara tentang bangsa Israel kuno pada jaman dahulu. Mereka seharusnya membawa persembahan persepuluhan dari penghasilan mereka, dari hasil bumi mereka, dari ternak-ternak mereka ke dalam perbendaharaan bait Allah untuk menyediakan dana bagi pekerjaan para imam-imam dari suku Lewi "supaya tersedia makanan rohani" bagi umat.

Secara rohani bagian ini berbicara kepada kita semua. Persepuluhan di dalam Perjanjian Lama menggambarkan untuk membawa orang-orang kepada keselamatan. Dalam kata lain kita diselamatkan untuk melayani; kita semua diselamatkan untuk membuat pertambahan orang-orang yang dibawa masuk ke dalam kerajaan Allah. Ketika Tuhan menyelamatkan kita, bukan maksud Tuhan bahwa kita hanya berkata, "Adalah bagus saya sudah diselamatkan, sekarang apa yang saya harus lakukan adalah hidup menurut Alkitab, berdoa dan menjalankan hidup saya, maka semuanya akan beres." Tetapi itu adalah bukan apa yang Tuhan maksudkan.

Tuhan berkata Dia telah menyelamatkan kita, dan kita hendaknya menjadi saksi-saksi-Nya. Kita hendaknya pergi ke seluruh dunia dengan membawa Injil. Hendaknya ada peningkatan dari pemberitaan Injil. Adanya orang-orang lain yang harus diselamatkan. Kita hendaknya menjadi saksi-saksi yang taat dan setia hingga orang-orang lain dapat diselamatkan. Dan bilamana ada seseorang yang diselamatkan, itu adalah seperti membawa orang tersebut sebagai persembahan persepuluhan ke dalam Kerajaan Allah.

Di Yesaya 66:20 kita baca:
"Mereka itu akan membawa semua saudaramu dari antara segala bangsa sebagai kurban (offering) untuk TUHAN di atas kuda dan kereta dan di atas usungan, di atas bagal dan unta betina yang cepat, ke atas gunung-Ku yang kudus, ke Yerusalem, Firman TUHAN, sama seperti orang Israel membawa kurban dalam wadah yang tahir ke dalam rumah TUHAN."

Bagian ini tidak berbicara tentang uang. Menurut sejarah, memang itu berkata tentang uang, hasil bumi, ternak, dll. tetapi di dalam Perjanjian Baru hal itu berbicara tentang memberitakan Injil sehingga orang-orang dapat diselamatkan. Sesungguhnya di dalam Perjanjian Baru Tuhan tidak menginginkan sepuluh persen dari uang kita, tetapi Dia menginginkan semuanya.

Di Roma 12:1 kita baca:
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

Kita harus hidup dengan sederhana dan membuat segala kemungkinan yang ada untuk membantu penyebaran Injil kepada dunia. Mereka yang diselamatkan itu seumpama persepuluhan yang dibawa masuk ke dalam tempat penyimpanan di dalam bait rohani Allah. Adalah baik untuk memberikan sepuluh persen, tetapi itu adalah jumlah yang paling sedikit. Allah menginginkan seluruh kehidupan kita, Dia mau kita untuk menjadi saksi-saksi dari Injil.

 

 

+++++++++++++++++++++++

 

 

BENARKAH DENGAN MEMBAYAR PERPULUHAN SEMUA BERES?

Begini, prinsipnya yang utama, PERPULUHAN (apapun namanya) perlu untuk rumah Tuhan. Karenanya sesuai dengan hukum KASIH (kepada Tuhan dan kepada sesama manusia), maka penyerahan perpuluhan perlu untuk menyediakan makanan di rumah Tuhan, bagi umat ”Lewi” yang memelihara rumah Tuhan maupun bagi orang lain yang membutuhkannya. Perlu ditekankan, penyerahan perpuluhan karena KASIH. Saksi-saksi banyak tak terhitung banyaknya, bahwa orang yang menyerahkan tanda kasih itu, mendapat berkat yang berlimpah. Puji Tuhan.

Saya pribadi tidak sepaham kalau perpuluhan dihubungkan dengan keharusan atau imbalan. Tidak ada ajaran begitu dalam Kitab Kasih Perjanjian Baru. Kita tahu bahwa Perjanjian Lama penuh dengan ajaran ”balas membalas” baik itu benih bagus akan berbalas tuaian bagus, tetapi juga benih busuk akan menuai balasan yang maha buruk pula. Yesus datang mengubah (menyempurnakan) itu semua. Perjanjian Baru mengajarkan KASIH, dan KASIH tidak tergantung dari balasan, seperti kasih Yesus yang tidak memikirkan balasan tetapi KASIH yang menyelamatkan kita, manusia yang mau percaya kepadaNya. Tidak usah diajari, kalau kita merasakan kasihNya, maka kita akan juga menyatakan kasih kita kepadaNya.

Kalau ada yang ngotot bahwa perpuluhan itu dasarnya Alkitab, memang benar. Dan tidak ada cacat sedikitpun mengenai perpuluhan yang diajarkan oleh Alkitab. Namun mengapa saya pribadi berpaham seperti di atas, yaitu alasan menyerahkan perpuluhan karena keharusan atau karena imbalan kedua-duanya adalah alasan yang tidak tepat lagi, KUNO. Mengapa kuno? Karena semua itu telah ditelan oleh KASIH, dasar yang lebih agung dan sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus. Kita bukan pengikut agama Yahudi (dasar tulisan Kitab Perjanjian Lama), kita pengikut Tuhan Yesus. Bagaimana pendapat Tuhan Yesus mengenai perpuluhan? Mengapa tidak ada ketegasan mengenai perpuluhan dalam Kitab Perjanjian Baru (baik dalam kisah Tuhan Yesus maupun surat-surat para Rasul)? Menurut saya, karena Tuhan Yesus menganggap perpuluhan adalah baik, tetapi KASIH lebih baik.

Menurut saya, pengikut Tuhan Yesus yang baik adalah menyerahkan perpuluhan (atau apapun namanya) karena dasar KASIH. Bukan karena ketakutan ”keharusan” oleh gereja atau karena ”iming-iming” bahwa tabir langit akan terbuka dan bergerojokan berkat dari langit. Pernah saya merasa sedih ada pengkotbah yang mengatakan ”kaya atau miskin, kalau tidak membayar perpuluhan berarti merampok milik Tuhan”. Aduh, benar-benar mau menangis kalau sedang ada kotbah begitu, kok tega-teganya. Tuhan Mahakaya, tak perlu ada pengkotbah ”membela” pundi-pundi Tuhan. Namun sebaliknya: Berapakah harga keselamatan kita? Oleh KASIHNYA kita diselamatkan, dengan apa kita bisa membayarnya?

 

 

SOLI DEO GLORIA

 


 

  SATU BAPTISAN
"Hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan"
 (Efesus 4:5 BIS)

Alkitab menegaskan bahwa hanya ada "satu" baptisan. Bagaimana kita dapat mengerti hal ini? Kita juga mengetahui dari Alkitab bahwa di dalam Perjanjian Lama para imam melakukan upacara baptis air secara percik sebagai tanda dari penghapusan dosa-dosa mereka. Di Bilangan 8:6-7 kita baca:
"Ambillah orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel dan tahirkanlah mereka. Beginilah harus kaulakukan kepada mereka untuk mentahirkan mereka: percikkanlah (sprinkle) kepada mereka air penghapus dosa, kemudian haruslah mereka mencukur seluruh tubuhnya dan mencuci pakaiannya dan dengan demikian mentahirkan dirinya."

Sedangkan di dalam Perjanjian Baru khususnya di masa sekarang ini berbagai macam metode pembaptisan air dilakukan oleh berbagai aliran gereja. Baptisan manakah yang sah menurut Alkitab? Kita hanya dapat mengerti hal ini bila kita menyadari bahwa upacara baptis air adalah sebuah tanda atau bayangan dari hakekat rohani yang sebenarnya. Sama halnya seperti perjanjian sunat dalam Perjanjian Lama yang merupakan sebuah hukum upacara. Upacara sunat jasmani sendiri tidak mempunyai isi rohani dan tidak menjamin keselamatan seseorang walaupun Tuhan memerintahkan semua laki-laki harus disunat. Bahkan Tuhan berkata barangsiapa yang melanggar perjanjian sunat harus dilenyapkan. Di Kejadian 17:14 Tuhan berfirman:
"Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."
Tetapi sunat yang sebenarnya Tuhan maksudkan adalah "sunat rohani", yaitu sunat di hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Ulangan 10:16, Ulangan 30:6, Roma 2:29).

Demikian pula halnya dengan upacara baptis air di dalam Perjanjian Baru yang merupakan sebuah bayangan. Sama seperti bayangan dari sebuah pohon yang tidak memiliki isi pokok. Pohon dapat hidup tanpa bayangan, tetapi bayangannya tidak akan ada tanpa pohon. Semakin dekat bayangan tersebut ke pohon, akan lebih jelas merefleksikan pokok pohon yang sebenarnya. Begitu pula dengan baptisan (penyucian dari dosa) yang disempurnakan oleh Tuhan adalah nyata dan aktual. Tetapi ini adalah tindakan atau perbuatan yang secara utuh seluruhnya dilakukan oleh Tuhan (Injil Kasih Karunia), karena baptisan yang dimaksud adalah pembasuhan oleh Roh. Sekarang kita mengerti mengapa Tuhan berkata hanya ada satu baptisan.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa upacara baptis air adalah tanda yang mengarah kepada "penyucian dosa" dari seseorang yang diselamatkan; diharapkan hal itu sudah terjadi atau akan terjadi pada kehidupan orang tersebut. Tidak ada yang penting dalam tindakan upacara baptis air. Baptis air adalah sebuah hukum upacara yang diperintahkan untuk dilakukan di dalam gereja-gereja Perjanjian Baru.

Pertanyaan besar tentang masalah baptis air ini adalah: Mungkinkah gereja-gereja Perjanjian Baru sudah jatuh ke dalam perangkap yang sama dengan gereja-gereja Perjanjian Lama (bangsa Israel kuno) mengenai perjanjian sunat?

Bangsa Israel kuno telah gagal bahkan mereka telah menolak Tuhan Yesus karena mereka sangat percaya kepada tindakan atau perbuatan yang mereka lakukan sendiri untuk menggenapkan keselamatan mereka (Injil Pekerjaan). Dalam kata lain mereka tidak mau bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Di Roma 9:31-32 Tuhan berfirman:
"Tetapi: bahwa Israel (gereja Perjanjian Lama), sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan."

Betapa mengerikannya kalau hal ini juga telah terjadi di dalam gereja-gereja Perjanjian Baru.

 

 

AD MAIOREM DEI GLORIAM

 


 

 Kematian Martir dan Kematian Kurban

Baru saja saya menyelesaikan nonton film-serial, 10 episode produksi dari Showtime dan HBO yang berjudul Sleeper Cell, menceritakan kelompok-sel yang mempunyai agenda jihad untuk menegakkan kebenaran agamanya. Mereka terdiri dari 5 orang-orang yang gagah berani dan setia kepada agamanya. Kelompok kecil-kecil ini tersebar di beberapa kota di Amerika Serikat. Mereka adalah kelompok orang-orang yang pintar, cekatan dan menguasai teknologi. Dalam film ini juga diceritakan keterlibatan mahasiswa Indonesia berdarah Atjeh yang menguasai bio-technology, yang menandakan bahwa jihad orang Indonesia cukup dikenal di manca-negara.
Kita mengenal istilah "mati syahid", yang menurut pengertian saudara kita dari kalangan Muslim adalah "mati di jalan Allah atau karena Allah, misalnya mati membela agama atau kebenaran hakiki". "Mati syahid" dalam bahasa Inggris adalah 'martyr', berasal dari kata Yunani 'martur' yang berarti "saksi". Di sepanjang film di atas mati istilah "mati syahid" sangat sering diucapkan. Di samping itu pula, kita mengenal dari beberapa tulisan di media masa atau opini verbal di televisi dari kalangan muslim, biasanya dari golongan moderat yang menekankan arti jihad secara kaffah, bahwa melawan hawa nafsu diri sendiri adalah jihad terbesar yang sangat berat dan wajib dilakukan umat.
Ada banyak orang yang 'berani mati' bagi agamanya atau bagi tujuan-tujuan tertentu dari golongannya, kita melihat dalam peristiwa 9/11 beberapa orang dengan gagah berani menabrakkan diri ke gedung Pentagon dan WTC. Dr. Azahari, Asmar Latin Sani, Misno, Salik Firdaus, dkk. juga kita kenal keberanian mereka untuk "mati syahid" demi agenda tertentu di beberapa kasus terorisme di Indonesia ini. Dan mati yang "syahid" ini dilakukan oleh berbagai kalangan, misalnya bom-syahid di Haiva 2004 dilakukan oleh seorang gadis Palestina, Hanadi. April 2001, Wang Wei, seorang pilot pesawat tempur China dengan gagah berani menabrakkan diri pada pesawat mata-mata milik Amerika. Mei 1991, Malli, gadis muda mengenakan sabuk-bom pada tubuhnya untuk 'membunuh' Rajiv Gandhi dan ia mati bersamanya. Belum lagi peristiwa historis lainnya misalnya 'kamikaze' pilot Jepang di Pearl Harbour 1941, mereka semuanya itu melakukannya demi negara, nyawapun mereka persembahkan.

Kematian Yesus di kayu-salib jika disamakan dengan bermacam-macam "mati syahid" seperti di atas, kematianNya tidak akan terlalu istimewa, dan kemudian orang juga membanding-bandingkan kematian para murid/pengikut Tuhan yang sebagian besar mati sebagai martir. Beberapa contohnya adalah: Petrus mati di Roma disalib dengan kepala di bawah. Andreas, konon memberitakan Injil hingga ke Rusia Selatan dan Balkan, mati disalib dengan salib model "X" di Patras, Yunani. Yakobus bin Zebedeus, saudara Yohanes, mati sebagai martir di era Herodes Agripa I (Kisah Para Rasul 12:2). Matius meninggal dunia, karena disiksa dan dibunuh dengan pedang di Etiopia. Markus meninggal dunia di Alexandria (Mesir), setelah badannya diseret hidup-hidup dengan kuda melalui jalan-jalan yang penuh batu sampai ia menemukan ajalnya. Lukas mati digantung di Yunani, setelah ia berkhotbah di sana kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Paulus juga mati sebagai martir, ia dieksekusi mati di bawah pemerintahan Kaisar Nero.
Kematian Yesus bukanlah kematian 'martir' yang bermakna "mati demi mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh Tuhan hingga akhir hayatnya". Seseorang bisa saja menjadi martir "sebagai tanda cinta kepada Tuhan dan kebenaranNya", sehingga ia dibunuh dalam kemartiran dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya. Namun kematian Yesus adalah kematian kurban, dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri untuk dikurbankan (masih bisa dihindari, tetapi Ia merelakan) demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Jenis kematian ini adalah total berlandaskan kasih, dan tidak diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam atas nama Tuhan atau 'perjuangan'.

* 1 Korintus 13:3 mengatakan:
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Yahudi, Kristen dan Islam biasa disebut agama-agama Ibrahimi (abrahamic religions). Agama-agama di dunia lainnya misalnya Hindu dan Buddha juga tergolong dalam agama etika (ethical religion), yakni agama yang mengajarkan ethic, bahwa keselamatan manusia tergantung pada perbuatan baik dan amal salehnya. Ini berbeda dengan kekristenan. Kristen adalah agama sakramental (sacramen religion), yaitu agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui Sang Penebus Dosa. Esensi kematian Yesus di kayu salib sering dipersoalkan oleh kalangan yang tidak mengerti arti kematian Yesus. Yesus merupakan 'anak domba' yang disediakan Allah untuk dikurbankan sebagai pengganti orang berdosa. Melalui kematian-Nya, Yesus memungkinkan penghapusan kesalahan dan kuasa dosa dan membuka jalan kepada Allah bagi seluruh dunia (Yohanes 1:29). Dalam Perjanjian Lama telah dikenal bahwa menurut ajaran Yahudi, perlu darah untuk pengampunan dosa, ini ditegaskan di Perjanjian Baru dalam Ibrani 9:22. Oleh karena itu
Allah menyediakan tubuh dari daging dan darah dan datang ke dalam dunia sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia (Ibrani 10:5). Allah sendiri telah datang ke dalam dunia karena selain dari Dia tidak ada juruselamat (Yesaya 43:11).

* Ibrani 9:22
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

* Ibrani 10:5
Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: 'Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.'

* Yesaya 43:11
"Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku."

Perbuatan baik tidak memaafkan seseorang dari dosanya. Lukas 18:18-27 menulis ada seorang kaya menganggap 'perbuatan baik dapat menyelamatkan' (beroleh hidup kekal), namun kebenaran yang dijelaskan Alkitab, perbuatan baik tersebut tidak menyelamatkan. Keselamatan hanya dengan darah. Darah itu telah disediakan oleh Yesus Kristus, sehingga kepada setiap orang yang percaya kepadaNya, dia akan diselamatkan.
Di sepanjang Perjanjian Lama, sejak mulanya Allah sudah memberikan gambaran kisah datangnya Tuhan Yesus Kristus sejak kitab Kejadian. Mulai dari analogi 'cawat-kulit' dari tertumpahnya darah binatang, yang kulitnya dipakai untuk menutup aurat Adam. Kemudian analogi 'kurban anak Abraham' yang diganti dengan 'domba yang disediakan Allah'. Peristiwa 'darah paskah' yang membebaskan Israel dari tulah ke 10 pada zaman Musa. Dan nubuat-nubuat para nabi pada Perjanjian Lama akan datangnya Mesias yang memberikan darahNya untuk keselamatan manusia. Perjanjian Lama, walaupun spesifik ditujukan untuk orang-orang Yahudi (Yudaisme), namun Perjanjian Lama tetap merupakan Firman yang sangat berharga bagi umat Kristiani. Dan tidak dipungkiri bahwa Yudaisme ini adalah akar dari kekristenan. Dan penekanan kekristenan itu ada dalam Perjanjian Baru. Hal itu amat berharga bagi umat Kristiani. Konsep harga yang harus dibayar terhadap perbuatan dosa, penebusan dosa dengan darah, keselamatan dengan darah (inti pengertian paskah) adalah merupakan hal yang pokok.
Dalam Hukum Taurat, hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), dan "tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan" (Ibrani 9:22). Ini dilakukan lewat domba yang dikurbankan di atas mezbah, berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Sang Mesias. Datangnya Allah dalam manusia Yesus yang menyediakan 'darah' bagi pengampunan, adalah selaras dengan prinsip Taurat tadi, dan benar Dia sendirilah yang menggenapinya. Hadirnya Yesus ke dunia, mati disalibkan, bangkit dan naik ke Surga dan kedatanganNya yang kedua kali nanti adalah pokok dari iman Kristiani. Yesus dengan gelar Mesias/Kristus, dan sebutan Juruselamat kepadaNya, semuanya bukan hanya sekedar memberikan pengajaran, melainkan justru memerankan fungsi penyelamatan "Allah Juruselamat" (Yesaya 45:21).
Pembuktian kematian Yesus disalib serta kebangkitanNya, tidak terkira kokohNya, internal maupun external. Itu sudah banyak sekali ditulis oleh para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Kematian kurban memang exist bagi Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh telah dijanjikan Tuhan dari Firman yang keluar dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri dan diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama.
Pengertian keselamatan dari Allah ini, memang tidak selaras dengan ketentuan yang berlaku di agama-agama lain, sehingga serangan-serangan yang ditujukan kepada iman Kristiani dengan mempersoalkan kematian Yesus jika dipandang dari kepercayaan mereka yang menganggap keselamatan dari amal-ibadah, tentu saja tidak akan dimengerti ataupun diselaraskan. Dan perbedaan ini sangat prinsip, tidak bisa diperdebatkan. It just different.

Syukur kepada Allah yang telah memberikan keselamatan dengan darahNya.
Amin.


Selamat Paskah 2006 dan damai di bumi,
Bagus Pramono, April 12, 2006

 

SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS, KITA BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA BUKAN UNTUK MENDAPATKAN PAHALA, MELAINKAN KARENA KITA SUDAH MEMPEROLEH KESELAMATAN

 


 

 ADIL TIDAK ADIL

Saya sering dihujani dengan kata: hidup itu tidak adil, Tuhan itu tidak adil.
Dulu walaupun saya menolak deraan kata ini dari orang-orang terdekat, tetapi saya juga kesulitan untuk memahami apa itu keadilan dalam hidup.
Ya, seringnya saya dihadapkan dengan pertanyaan sekeliling seperti ini:
Kenapa orang baik hidupnya susah? Kenapa orang kerja keras hasilnya tetap tidak jadi kaya? Mengapa ada yang sakit? Mengapa orang kena bencana? Bukannya Tuhan itu baik, kenapa ada penderitaan, kenapa ada yang kelebihan padahal hidupnya biasa-biasa saja?
Bila berpedoman dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, saya akui memang hidup itu tidak adil. Namun setelah tigapuluhan tahun mengalami banyak pernak-pernik kehidupan dalam tuntunan-Nya, akhirnya saya menemukan secercah jawaban. Jawaban ini pun kiranya dapat diterima oleh rekan-rekan yang sering mempertanyakan perihal keadilan.


Semoga saya juga dapat menggambarkan dengan kata-kata yang tepat tentang konsep keadilan Allah. Kurang lebih adalah seperti ini:
Allah menjadikan kaya dan miskin agar orang saling mencukupi.
Allah biarkan orang pintar dan bodoh berdampingan agar saling mengingatkan.
Allah menciptakan yang kuat dan yang lemah agar dapat saling mendukung.
Allah relakan yang susah dan senang agar orang saling menghibur.
Allah izinkan sakit dan sehat agar orang dapat saling menguatkan dan membantu.
Allah ciptakan yang bekerja fisik dan bekerja otak agar saling bekerja sama.
Allah berikan hujan-panas, pagi-malam agar orang dapat ingat waktu bekerja dan beristirahat.

Keadilan Tuhan berkonsepkan keseimbangan di antara sesama agar semua merasakan kasih-Nya, anugrah-Nya, mukjizat-Nya, dan sama-sama memiliki kesempatan untuk berkarya dan berbuah dalam iman kepada-Nya.
Manusia yang merusak keadilan Allah dengan egosentrisnya. Sehingga tidak menyadari bila dialah yang menjadikan dunia dan hidup ini tidak adil karena tidak mau saling mencukupi, tidak mau saling mengingatkan, tidak mau saling mendukung.
Manusialah yang merusak keadilan yang sudah diatur Allah karena enggan saling menghibur, enggan saling menguatkan, enggan saling bekerja sama, dan enggan menyadari bila dirinya adalah manusia yang perlu keseimbangan dalam hidup.

Keadilan manusia berkonsepkan sama rata, sama rasa, ganjaran dan pahala harus setimpal dengan kerja. Sehingga yang ada di benak manusia adalah rumusan keadilan yang berlaku untuk dirinya sendiri dengan perbandingan dari hidup orang sekitarnya. Yang parahnya manusia mencampuradukkan asumsi tabur tuai dijadikan landasan tindakan adil, di mana orang berprinsip:
bila aku rajin bekerja maka aku akan jadi kaya,
bila aku rajin beribadah maka aku tidak akan susah,
bila aku rajin berdoa dan bersedekah maka aku akan berhasil,
lalu manusia akhirnya menjadi kecewa karena
ternyata kenyataannya kebanyakan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Padahal, Allah tidak pernah menjanjikan jadi kaya dan senang terus. Allah tentu juga tidak tidur dan tutup mata melihat orang yang melarat, tetapi, Allah bukanlah Hakim yang menghitung segalanya dengan sistem upah harian. Allah bukanlah Hakim yang menggunakan rumus persamaan matematika dalam keadilan.

Keadilan Allah diperumpamakan seperti ini:
Bila kita mendengar firman dan mengerti, maka kita akan berbuah, ada yang 100x lipat, 60x lipat, 30x lipat.[1]
Semua dapat memberi dari kelimpahan buahnya sesuai dengan yang sudah dipercayakan.
Semua dapat saling berkarya dengan komposisi panggilan-Nya masing-masing.
Bila semua berbuah 100x lipat, lalu bagaimana manusia dapat diberi kesempatan memberi, melayani, memberkati?
Bila semua adalah kepala, semua adalah tangan, lalu bagaimana mungkin terjadi kelengkapan sebuah tubuh Allah di dunia?

Atau juga begini :
Orang yang bekerja 12 jam, 8 jam, 5 jam atau 1 jam dalam satu hari akan mendapatkan upah yang sama.[2]
Akan menjadi iri hatikah kita melihat kelebihan orang lain? Lalu kita ngambek, merasa usaha mati-matian kita tidak dihargai Tuhan? Atau merasa doanya tidak didengarkan, karena apa yang Tuhan berikan kepada si A berbeda yang diberikan kepada kita. Dan kita merasa bila semua sungguh Tuhan tidak berpihak kepada kita. Kita juga merasa bahwa adalah hak kita untuk menerima sesuai dengan apa yang sudah kita lakukan. Memang itulah keadilan menurut kacamata manusia.

Dalam hal ini sesungguhnya kita diuji dalam iman dan pengharapan yang akan menghasilkan ketekunan yang tidak berorientasi kepada kebutuhan duniawi. Dalam hal ini kita memiliki kesempatan untuk mengucap syukur di dalam segala perkara dan mengandalkan Dia di luar usaha pekerjaan kita. Apakah kita lebih senang menjadi anak-anak gampang yang tidak tahan uji dan selalu ingin makanan lembek tinimbang membiarkan karya dan mukjizat-Nya bekerja di tengah kekurangan dan kelemahan kita?[3]

Bisa juga seperti ini :
Ada orang yang diberikan lima talenta. Ada yang dua talenta. Ada yang hanya satu talenta.
Yang memiliki lima talenta beroleh laba lima talenta. Yang memiliki dua talenta beroleh laba dua talenta. Yang satu talenta merasa tidak adil sehingga tidak menjalankan apa-apa.[4]

Sudah jelas-jelas ukuran-Nya bukanlah ukuran manusia. Ia mengizinkan upah dan beban yang sesuai dengan kebutuhan dan daya kekuatan kita dalam menanggung masalah. Semua orang dapat berkarya dengan apa yang sudah dipercayakan untuk dikembangkan.
Tetapi kita cenderung menjadi orang yang berkeluh kesah karena hanya mendapat satu talenta lalu berasumsi kita tidak dapat menjadi berkat bagi orang lain karena kita miskin. Padahal jelas-jelas Allah tidak mengukur amal bakti dengan harta melainkan dengan persembahan tubuh sebagai ibadah yang sejati. Padahal Ia mengatakan berbahagialah kepada orang yang miskin karena merekalah empunya kerajaan Surga.[5] Bayangkan, sudah diberi Kerajaan Surga, tetap merasa tidak adil. Ya, karena ukuran yang kita gunakan adalah ukuran timbangan daging manusia.

Jadi :
Susah, senang, sehat, sakit, miskin, kaya, sedih, bahagia semua itu bukan lambang ketidakadilan. Semua itu justru terjadi untuk menunjukkan keadilan-Nya kepada semua manusia yang rela dipakai-Nya bagi kemuliaan-Nya.
Kita dibentuk-Nya untuk turut membuat harmonisasi yang sudah diatur oleh-Nya. Tetapi kenyataannya manusia lebih senang memilih untuk mengutamakan obsesi dan nafsunya sendiri sehingga sudah menutup kemungkinan Allah bekerja di dalam diri kita menjadi pribadi yang luar biasa untuk menyatakan kemuliaan Allah.
Semua dijadikan pemenang, dijadikan kaya, dijadikan sukacita dalam perspektif keadilan Allah. Sudah jelas hal ini memang hanya dapat kita terima bila yang kita tuju adalah Surga, bukan dunia.

Sekarang saya bertanya kembali, benarkah memang hidup itu tidak adil? Tuhan itu tidak adil?
Semua tergantung kepada timbangan apa yang ingin kita gunakan. Timbangan daging atau timbangan Roh?
Bila yang kita rindu adalah dekat dengan-Nya maka Ia akan memampukan hati dan pikiran kita untuk bersyukur tatkala kita hanya memiliki satu talenta, bekerja 12 jam, tetapi diberi upah sama dengan yang bekerja hanya satu jam saja. Dan biarkan Tuhan memakai saudara-saudara lainnya yang dipercayakan untuk memberi berkat untuk mencukupi kekurangan kita.
Demikian sebaliknya, saat kita bersyukur di dalam kelimpahan kita, maka kita tidak akan menjadi penyembah mormon melainkan menjual segala milik kita dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan. Itulah cara Allah untuk mewujudkan keadilan dunia dan akhirat, membiarkan manusia untuk berkarya dan menabung di Surga. Ia menawarkan Harta Abadi ganti semua yang kita peroleh di dunia ini (entah banyak atau sedikit, semua adalah persembahan yang harum bagi-Nya)[6], apakah itu masih tidak adil?

(Femi)

[1] Matius 1:23
[2] Matius 20:1-16
[3] Ibrani 5:12
[4] Matius 25:14-30
[5] Matius 5:1-12

CARITAS VINCIT OMNIA

 


 

 

Pengalaman Pengusiran Setan, Tuhan Yesus Hadir



Saudara-Saudari terkasih, dan para imam yang terhormat.
Rasa hati saya masih menggelegak, bergetar, tremendum-fascinoscum oleh pengalaman pertama saya melakukan eksorsisme. Pertama-tema saya mengucapkan terima kasih kepada Bruder Yohanes FC yang telah pernah memposting teks resmi mengenai doa exorcism dari Vatikan ke milist komunikasi KAS. Saya sempat membacanya sambil lalu waktu itu, namun puji Tuhan, saya dapat ingat akan apa yang tertulis di postingan bruder ketika harus menghadapinya sendiri. Melalui pengalaman saya melakukan eksorsisme, sayapun semakin bersyukur atas rahmat Sakramen Imamat kepada Gereja, yang ternyata memang menjadi sasaran tembak utama setan namun sekaligus juga alasan ketakutan setan.

Panggilan menjelang tengah malam
Kisahnya demikian: Pada hari Sabtu, tanggal 27 November 2010, saya mendampingi rekoleksi OMK (Orang Muda Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan Stasi dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan baik dan inspiratif sampai malam hari. Setelah acara api unggun, semua peserta dan penyelenggara bersiap untuk tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh tertidur, pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton serta beberapa orang yang lain memberitahu saya, bahwa di Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok Mahasiswa KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka membutuhkan bantuan imam untuk menghadapi empat orang mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu orang di antara mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo pendamping sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke sana.
Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara Cipanas hingga Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh. Menjelang pukul sebelas malam begini pula…. Namun hati saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton. Sambil mengemudikan mobil, saya mengingat kembali postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri orang kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang mengalami stress berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah, jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga, perempuanlah yang dikatakan kesurupan malam ini. Jujur saja, sebenarnya saya termasuk golongan orang yang skeptis dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah sekedar menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral sajalah, demikian pikir saya. Namun demikian, saya tetap mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong kereta api saat saya kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat dinihari kemarin. Karena itu, saya tidak dapat membuka kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya pilihan lain, selain berusaha mengingat-ingat sendiri saja, sambil berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.

Villa tua, tempat si jahat beraksi
Sesampainya kami di villa tua itu, terlihat para “pasien” sudah terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah ditemukan. Menurut berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu, ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu tidak dikelola Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka reaksi spontan orang sekitar villa adalah memanggil orang yang dianggap “pintar” di daerah tersebut. “Orang pintar” itu sudah dipanggil sejak pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu pulang. Kata “orang pintar” tersebut, jenis ini bukan yang dia ketahui. Mereka memanggil pula pemuka agama lain yang dekat dengan daerah tersebut. Namun kata mereka, orang tersebut juga menyatakan tak sanggup pula, lalu pulang. Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan berdoa bersama. Ada salib besi tergeletak di sofa. Pasien terparah itu adalah seorang perempuan berperawakan kecil saja. Ia tergolek tengkurap di sofa, ditunggui oleh teman-temannya. ”Ia sudah tidur”, demikian kata mereka. Karena kondisi sudah tenang, saya spontan memutuskan: ”Ya sudah saya kembali saja, kan anaknya sudah tidur… ” Tetapi beberapa mahasiswa meminta saya melihat dulu kondisi gadis yang terparah itu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali. Delapan orang mahasiswa lelaki yang kuat pun dia hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya ia putuskan, dan ia lemparkan ke halaman. Anehnya, rosario itu kemudian mereka temukan berada di WC villa. Salib besi itu juga telah ia ludahi. Kata mereka, suaranya pun berubah seperti bukan suara gadis itu. Hhmm...... Masih dengan agak skeptis, saya mendekatinya.

Kuncinya: jangan berkompromi dengan setan
Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh. Dari situ terlihat manik matanya…. melihat ke arah mata saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok dia melirik ke saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya duduk di sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais punggung bawah sambil keluar bunyi desis dari mulutnya, sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi ”panasss” …..Lalu, saya nekad… Saya pegang tangannya. Ia memberontak. Saya buka genggaman tangannya, dia melawan dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup. Saya ingat postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang membedakannya dari depresi antara lain adalah, jika disebut nama Malaikat Agung Santo Mikael, atau nama Para Kudus, juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus, maka ia tentu akan bereaksi dengan keras. Agak skeptis, namun tetap dengan memegang erat jari-jari kaku yang mencekam dari anak itu, saya katakan dengan suara wajar namun jelas terdengar, ”Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu membangkang, keluarlah”.
Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua, termasuk saya sendiri. Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit langsung menatap wajahku, face to face, eyes to eyes….Ia mendesis menatap lurus ke mata saya, matanya penuh kebencian… Lalu dia berkata: ”Jangan sebut nama itu! Itu musuh kami!”. Dia bertanya: ”Apakah kamu takut, Bapak?” Saya menjawab, ”Kamulah yang takut!” Kemudian, dengan tatapannya yang tajam dia bertanya, ”Mengapa Bapak mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu saya tidak ada!” Segera kujawab, ”Kamu anak Tuhan yang tidak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini?” Namun setan itu menjawab enteng saja, ”Tempat ini nyaman. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapak kalau Bapak memaksakan kehendak”. Saya tidak mau diajak tawar menawar dengan setan. Maka saya menjawab: ”Tidak ada kompromi. Kamu tidak bisa membunuh anak ini dan tidak akan mampu membawa nyawanya”. Setan inipun menantang saya dengan mengatakan bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut pada Sakramen dan tidak takut pada Yesus, karena dia juga mengaku sebagai anakNya.

Pergumulan dari tengah malam sampai dini hari
Maka sejak pukul 23.45 hingga memasuki hari Minggu dini hari, saya dan para mahasiswa Katolik di sana bergumul untuk mengusir setan dari anak itu. Ia yang kesurupan itupun berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya berubah menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian menjadi ganas. Kadang ia tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia merajuk minta dikasihani. Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh, ”Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau mati saja, dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo akan dibunuhnya jika anak itu tidak taat padanya. Maka si anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh setan.
Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu dapat keluar meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa menit, namun kemudian setan kembali memasuki anak itu dengan jumlah yang makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini terjadi ketika saya mengajak dia berdialog dalam bahasa Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah itu benar-benar setan ataukah hanya ’acting’ anak itu. Saya tetap mengingat teks postingan bruder di milist itu, dan makin yakin akan kebenaran isinya. Saya katakan padanya, ”Kekuatanmu hanya seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo Mikael, serta Gabriel dan Rafael.” Mendengar ini, ia mundur dan melepaskan anak itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata, ”You are stupid, Father”, lalu menghantam saya. Suatu saat ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit kepanasan. Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia berteriak kepanasan dan tersiksa. Begitulah, si setan itu pergi lagi. Namun dengan cepat ia kembali lagi, dengan membawa lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau menguras kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapak bisa bertahan? Akan kukuras tenagamu, Bapak!”. Saya menjawab sambil teringat Mazmur 121:2, ”Kekuatanku datang dari Allah, yang menjadikan langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Si setan menjerit-jerit, dan kemudian ia lari lagi… Lalu saya mendengar berita bahwa ketiga mahasiswi lain sudah dilepaskan. Semua setan kemudian berpindah merasuki mahasiswi yang satu ini.

”Aku, Lucifer”
Ketika masuk lagi yang terakhir kali ke dalam anak itu, dia memeluk saya. Dengan seolah suara si mahasiswi, dia mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku Lucifer”. Saya merinding. Terasa bulu kuduk saya berdiri dan ketakutan mendera. ”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di telinga saya. ”Aku akan mengincarmu terus sampai kapanpun”. Tiba- tiba bangkitlah keberanian saya. Saya berteriak kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si penghulu Setan, datang!” Para mahasiswa terbawa emosi, mereka berdoa makin keras. Ada pula yang berteriak, ”Hancurkan saja… Sikat dia, Romo!”. Setan itu berkata, ”Paus Yohanes Paulus II memarahiku”. Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan Malaikat Agung Mikael atasan langsungmu! Taatlah kepadaNya!” ”Sayalah tuhan”, jawabnya sinis. Saya membanting dia, dan kami berpegangan tangan sambil saling melawan. Saya mulai berkeringat dan tenaga saya terkuras, tetapi tetap saja saya melawannya. Saya mengatakan, ”Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah menerima Sakramen Ekaristi! ” Lucifer menjawab: ”Aih, itu hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!” Mendengar perkataannya, saya marah sekali. ”Kamu sudah melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu mau melawan imamatNya?” Lalu ia menjawab dengan nada meremehkan, ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”

Ke kapel Lembah Karmel kami membawanya
Ketika roh jahat yang mengaku Lucifer menantang imamat saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada para mahasiswa. Saya melepaskan dia dulu untuk mengambil peralatan aspergil dan stola serta minyak suci, sementara dia ditahan oleh para mahasiswa yang ”menimbunnya”: dengan doa-doa Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, serta menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya datang lagi, saya percikkan dia dengan air suci. Ia menjerit kepanasan, dan lari. Saat itu, saya berpikir, ini sudah dini hari, semua akan kacau jika tak diakhiri. Oleh karena itu, saya memerintahkan agar tubuh mahasiswi ini digotong dan dievakuasi. Mereka menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah Karmel. Saya menelpon Mbak Sari dan Suster Lisa P, Karm. Mbak Sari dengan sigap telah meminta Satpam membuka gerbang dan pintu kapel.
Si mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton, dan Asrul. Ia berteriak, ”Cepat Romo, cepat… dia mengejar…” katanya panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, dan Salam Maria. Tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi, ”Haaa. Mau dibawa ke mana anak ini, Bapak? Aku telah menambah lagi penyakitnya. Aku meremas jerohannya… Anak ini hanya sampai dini hari ini, Bapak. Bapaklah yang harus tanggungjawab atas kematiannya!” Kemudian, anak itu muntah-muntah di mobil. Anton, Asrul, dan Marta tetap berdoa dengan memeganginya yang berontak ke sana kemari. Saya mengatakan kepada setan itu, ”Kamulah yang harus bertanggungjawab. Jangan memutarbalik fakta, dasar setan! Kamu telah melecehkan Sakramen Mahakudus. Kamu akan kubawa ke hadapan Yesus, supaya tahu rasa kamu nanti. Mau lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara di hadapan Raja Semesta Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi, ”Sia-sia semua ini Bapak… Bapak besok banyak acara kan? Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapak kembali saja istirahat”. Saya jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di situlah selama perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan saya tunduk pada keinginannya. Namun, saya tak mau berkompromi. Saya katakan dengan tegas bahwa dia yang harus tunduk pada Kristus! Mendengar ini ia berkata, ”Sayalah tuhan, I am the Lord”. Saya tertawakan dia. Lalu ia mengancam akan menggulingkan mobil. Saya menjawab, ”Ini mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan kau berhasil menggulingkannya!” Saya mengingatkannya akan Santo Yohanes Maria Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-gara tak mampu mengalahkan imam kudus itu. Di hatiku aku berharap, Santo Yohanes Maria Vianney, kumohon agar engkau mendoakan aku untuk mengalahkan setan ini…
Lalu si setan merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku melemah, tak sekuat tadi”. Anak-anak mahasiswa ikut menjawab, ”Rasain lu.” Dia mendamprat: ”Apa lo, bocah kemarin sore!” Saya menjawabnya, ”Mereka bukan bocah kemarin sore. Mereka anak-anak Tuhan semesta alam”. Sepanjang jalan kami berdebat dengan bahasa Inggris, Jawa, dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam kami mendekati Lembah Karmel, dan semakin mendekati Sakramen Mahakudus. Lagi- lagi, Setan itu mulai menendang dan berontak. Kukatakan padanya, ”No place for evil, you know!” Kutantang dia, ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa salahnya?” Dia menjawab, “Bukan salah anak ini, tetapi ayahnya”. Kujawab: “Ya, aku tahu, berarti ayahnya mengikat perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di rumah Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini dengan Lucifer keparat ini!” Kemudian dia mengikik mirip nenek Lampir dalam film Misteri Gunung Merapi, atau mirip kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh. Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Aku menjawab, “Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada Tuhan seperti kamu!”. Dia menjawab lagi, “Ayahnyalah yang mempersembahkan diri kepadaku, Bodooh!” Kupancing dia, “Jadi, ayahnya mengikat perjanjian denganmu bukan?” Dia jawab: “Bukan, bodoh! Kamu keliru, imam bodoh. Ayahnya mempersembahkan diri kepada Kristus. Leluhurnyalah yang mempersembahkan diri kepadaku”. Dia tertawa ngekek lagi. Saya juga, mentertawakan kekeliruan saya. Jadinya kami terkekeh bersama. Namun dengan tegas kukatakan: “Kamu setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara kita satu-satunya di depan Sakramen Mahakudus nanti hanyalah memutuskan perjanjian itu dan kamu akan mengalami sengsara kekal. Go to hell! Kalau kamu ingin bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat, kembali menyembah Allah yang benar! Jangan iri lagi karena Putra-Allah menjadi Manusia”… Mendengar perkataan ini, dia meradang, ”I hate you.. I hate all priests of Christ…!!!” Namun, setelah mendengar betapa ia membenci para imam, saya merasa mendapatkan kekuatan dan keharuan. Sebab itu artinya kami berada di pihak yang benar, sehingga karenanya, setan membenci kami. Saya membayangkan jajaran imam Tuhan dan uskup yang berada di pihak saya. Sungguh itu menguatkan batin saya.

Setan kalah di hadapan Kristus dalam Sakramen Mahakudus
Sementara itu pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah mulai tampak… Si Setan berteriak lagi, ”Rumah jelek! Mosok Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah tuhan.” Aku menjawabnya, ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia mau merendahkan diri, sedangkan kamu malah menyombongkan diri! Rasakan akibatnya, kebencian abadi bersamamu sajalah!’ Lalu kudengar ia merajuk lagi, ”Romo, ini saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke Jatibening, ini mau dibawa ke mana?” Tak terpengaruh atas rajukannya, saya menjawab, ”Sadar gundulmu kuwi! Kami mau membawamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja Semesta Alam yang penuh kuasa. Hanya kepadaNya semua lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk kamu!”
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai ke samping kapel kecil (yang sebenarnya besar sekali). Mobil berhenti di jalan menanjak di samping kapel, di depan wisma St. Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil. Aneh sekali, badan yang kecil itu mempunyai bobotnya berlipat-lipat. Dia tertawa ngikik. Mengerikan sekali. Melihat pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata seolah suara mahasiswi itu: ”Wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ” Kalian tak kan berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk….” Tubuh kecil namun berbobot itu kami baringkan di depan panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama. Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya kami letakkan di sebelah kiri. Anton, Asrul, dan Martha memegangi tangan dan kakinya. Saya minta dipinjamkan korek api dari pak Satpam untuk menyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram, dan dingin dini hari menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di hadapan tabernakel. Saya memohon kekuatan dari Tuhan sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap di sisi kiri si mahasiswi. Saya mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa. Saya berdoa: ”Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke hadapanmu tubuh anakMu yang sedang dirasuki si jahat. Kami tidak sanggup mengusirnya dengan kekuatan kami sendiri. Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah malaikat agungMu dan balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi altar dan Sakramen Mahakudus. Dengan duduk karena lelah, saya angkat tangan kanan saya di atasnya dan membuat gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran mengapa saya bisa mengatakan ini): ”Atas kuasa imamat rajawi yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada GerejaNya dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian kegelapan antara kamu dengan leluhur anak ini. Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Amin.”
Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk, melengos ke depan, menatap tajam ke Asrul yang memegangi kakinya, lalu menoleh menatap tajam ke kiri menatap langsung ke mata saya….. Sedetik kemudian terkulailah tubuh si mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya. Si mahasiswi ini lalu merintih: ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo Tuhan”, tangan kiri dan tangannya menggapai ke arah altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat ke atas, ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?.. Ooo… Dia yang terjelek, hitam, telah diborgol… dimasukkan ke dalam kereta… Ooo Malaikat Agung Santo Mikael… ooh.. Sampai di pintu utama, anak itu minta kembali ke dalam, ”Romo, teman-teman, saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia kutuntun, dan dengan tangannya ia menggapai ke arah Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping kanan altar ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, ia memeluk tabernakel itu erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih.. Syukur kepadamu.. ” lalu ia menangis di situ beberapa saat. Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia memeluk kaki patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas doamu. Aku tak akan meninggalkan engkau dan putramu”…

Iman lebih kuat daripada segala yang jahat
Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu mulai mengeluh lapar dan haus. Pak Satpam menggendongnya. Kini ia tidak berat lagi. Dia membersihkan diri di wisma, sementara teman-teman yang lain membelikan makanan dan minuman di warung yang memang agak jauh, karena dapur rumah retret belum buka. Hari masih pukul 04.30 pagi. Setelah makan minum, anak itu bercerita kepada kami tentang kejadian semalam. Bahwa setelah makan malam, ia masuk kamar di villa, dan melihat dua orang manusia bertanduk. Ia takut, lalu menceritakan hal ini kepada temannya. Kedua makhluk itu marah karena diceritakan keberaadaannya kepada orang lain. Mereka mengancam akan merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si mahasiswi menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua peserta kesurupan, maka spontan dia mempersilakan mahluk itu merasuki dirinya saja. Ketika di depan altar itulah, sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk mengikutinya. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika ia tidak mau ikut, maka imam itulah yang akan dibunuhnya. Karena kasihan pada Romo, ia akan ikut saja. Tetapi melesat ada malaikat yang membisikinya, ”Romo itu baik-baik saja, maka lawanlah Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari tubuhmu.” Maka ia berani melawan, dan Lucifer ditarik oleh balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan ke dalam kereta yang melesat membuangnya ke neraka. Setelah itu tinggal Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan mendukungnya. Begitulah kesaksiannya. Namun bagi saya, ini juga adalah suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal masa Adven 2010, tepat di Minggu pertama.
Sampai Minggu sore tak habis-habisnya saya, Asrul, Anton, Martha membicarakan hal ini. Juga teman-teman peserta rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK Wilayah Mikael Malaikat Agung dan St. Andreas. Semua membuahkan satu kenyataan: bahwa iman lebih kuat daripada kebencian, apalagi setan. Saya sendiri merasa dikuatkan dalam iman dan imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta pertobatan. Saya makin yakin dan percaya bahwa alam maut tak akan menguasai Gereja sampai kapanpun sesuai dengan janji Tuhan. ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18). Sungguh, kuasa Allah mengatasi segalanya. Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar kepada-Nya dan mengandalkan Dia.
”Tuhan Yesus, hamba-Mu bersyukur atas pengalaman yang tak terlupakan ini. Aku semakin teguh mengimani kehadiran-Mu di dalam sakramen- sakramen-Mu. Syukur tak terkira untuk kuasa-Mu di dalam Sakramen Maha Kudus dan Imamat yang Engkau karuniakan kepadaku. Segala hormat, pujian dan syukur, kusampaikan kepada-Mu, Ya Tuhan Raja semesta alam. Amin.”

Terima kasih kepada semua yang telah membaca kisah sharing ini. Semoga kesaksian ini berguna bagi iman, harapan, dan kasih para pembaca, kepada Allah pencipta langit dan bumi.

Salam saya,
Yohanes Dwi Harsanto, Pr


+++++++++++++++++++++++
 


Tanggapan umum dari Romo Santo (16 Desember 2010)

Saudara-Saudari terkasih. Saya berterima kasih atas tanggapan anda mengenai sharing iman saya. Yang namanya sharing iman sesuai dengan sifatnya, seharusnya tidak untuk dijadikan bahan diskusi. Jika berguna bagi iman anda, silakan dipakai, jika tidak berguna, silakan ditinggalkan. Tentu saja harapannya ialah berguna membangun iman. Namun toh muncul berbagai pernyataan dan pertanyaan. Maka saya tertuntut untuk menanggapi walaupun secara umum saja.

1. Yang saya bagikan dalam sharing itu ialah apa yang saya alami dengan disaksikan dan didengarkan oleh orang-orang lain di tempat itu. Selebihnya saya tidak tahu, serta kenyataannya ialah bahwa tugas pokok saya dan karena itu juga minat saya bukan dalam hal ini. Namun, berdasarkan pembacaan saya atas buku terjemahan karangan romo Gabriele Armoth berjudul “Seorang Eksorsis Menceritakan Kisahnya” terbitan Marian Centre Indonesia Jakarta cetakan kedua 2010, imprimatur Mgr. Hieronimus Bunbun (Uskup Keuskupan Agung Pontianak), maka saya menemukan beberapa hal yang membuka perspektif. Terima kasih pada seseorang ibu yang memberikan buku itu sehingga saya bisa membaca buku tersebut setelah ibu tersebut membaca apa yang saya sharingkan di website katolisitas. Saya bisa menyimpulkan bahwa yang saya alami dalam sharing saya di website katolisitas tak bertentangan dengan apa yang tertulis oleh buku tersebut, yang merupakan pengalaman eksorsis resmi salah satu keuskupan di Italia yang tentu saja isi bukunya sangat sesuai dengan Ajaran Katolik. Saya tuliskan saja jawaban atas pertanyaan saudara-saudari berdasar dari informasi buku setebal 259 halaman itu yang saya tuangkan pada point 2 hingga 10 berikut ini.

2. Setan merupakan ciptaan Allah. Mereka ialah makhluk rohani yang punya kebebasan dan kemauan karena mereka eks-malaikat. Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan banyak pernyataan mengenai setan dan bagaimana perlawanannya terhadap Kristus dan pemerintahan Kristus. Iblis (eks malaikat) menjadi yang terjahat. Para setan tetap berada dalam hirarki yang sama seperti dulu yang diberikan ketika masih malaikat: Pemerintah (Principalities), Singgasana (Thrones), Kerajaan (Dominion), dan seterusnya. Ia disebut pula pangeran dunia, penguasa kegelapan, pendusta, pendengki, si jahat dan semacamnya. Karena mereka pendusta, maka bisa saja ia berdusta, berbohong mengancam, memutarbalikkan fakta dan semacamnya. Tujuannya hanya satu, ialah menghalangi atau menjauhkan manusia dari Kristus. Mereka iri mengapa Sabda Allah menjadi manusia, memberontak, dilemparkan ke bumi (Lihat kitab Wahyu 12).

3. Setan bagaimanapun ciptaan Allah dan atas seizin Allah belaka mereka bergerak dengan kehendak bebas. Seperti juga bahwa kejahatan meruyak di dunia oleh kehendak bebas manusia, setan pun bergerak menyebarkan kejahatan dengan kehendak bebasnya. Mengenai bagaimana lepasnya lagi Iblis dari neraka, juga merupakan misteri Ilahi. Dalam Kitab Wahyu 12, iblis jatuh ke dunia. Pertempuran berlanjut di dunia. Yang jelas, Kristus memerintahkan dengan penuh cinta kasih, para malaikat dan para kudus serta Bunda Maria sendiri untuk membantu kita dengan perlindungan dan doa-doa mereka untuk melawan si jahat.

4. Mengenai pertanyaan apakah Gereja melalui Konsili Vatikan II (1962-1965) sudah mencabut buku upacara eksorsisme. Dengan tegas saya menjawab: tak pernah ada pencabutan. Konsili Vatikan II bahkan memperbaharui seluruh liturgi sakramen dan upacara sakramentalia, termasuk Rituale Exorcisme. Rituale ini telah terbit tahun 1985 dan yang terbaru terbit tahun 1999. Tak ada satu dokumen pun dari seluruh Konsili Vatikan II yang menyatakan pelarangan terhadap eksorsisme.

5. Pandangan Gereja mengenai Konsili Vatikan II bahkan menyebutnya dengan jelas perlawanan setan: “Sebab seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal mula (Gaudium et Spes artikel 37). “Akan tetapi manusia yang diciptakan Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Manusia memberontak melawan Allah dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, namun mereka tidak mau memuliakanNya sebagai Allah melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk daripada Sang Pencipta” (GS artikel 13). “Allah telah mengutus PutraNya dalam daging kita. Allah bermaksud merebut manusia dari kuasa kegelapan iblis (Ad Gentes artikel 3).
Romo Armorth menyatakan: “Maka, mereka yang menyangkal keberadaan dan kegiatan iblis, tak mampu memahami pencapaian yang dilakukan oleh Kristus”. Orang Katolik berdasar credo (syahadat, khususnya syahadat yang panjang) percaya bahwa ada makhluk yang tidak tampak pun diciptakan oleh Allah Bapa. Iblis yang dikalahkan Kristus berperang melawan pengikut-pengikut Kristus. Pertempuran melawan roh-roh jahat “dimulai sejak awal dunia dan menurut amanat Tuhan akan tetap berlangsung hingga kiamat” (GS artikel 37). Maka tugas kita ialah berusaha agar dalam segalanya berkenan pada Tuhan (bdk. 2Korintus 5:9). Kita pun harus “mengenakan perlengkapan senjata Allah supaya kita mampu bertahan menentang tipu muslihat setan serta mengadakan perlawanan pada hari yang jahat… Sebab sebelum memerintah bersama Kristus dalam kemuliaanNya, kita akan menghadap tahta pengadilan Kristus supaya masing-masing menerima ganjaran bagi apa yang dijalankannya dalam hidupnya ini, entah itu baik atau jahat” (bdk. 2Korintus 5:10, LG 48).

6. Buku Upacara Sakramentalia untuk Eksorsisme yang sebagian doa-doanya dikutip Romo Gabriel Armorth dalam bagian akhir bukunya (halaman 253 dst) ialah buku resmi dari tahun 1985. Pada tahun 1999 telah diterbit buku yang baru. Buku-buku eksorsisme ini, baik yang lama (1985) maupun yang baru (1999) belum diterjemahkan secara resmi ke dalam bahasa Indonesia oleh Komisi Liturgi KWI. Dalam buku ini disebut sarana-sarana sakramentalia yaitu air suci, air suci, minyak suci, garam yang diberkati, salib, dan benda-benda kudus lain, serta stola imam. Memang, karena buku eksorsisme merupakan pegangan imam, seperti halnya buku Tata Perayaan Ekaristi dan buku-buku Sakramen, maka hanya imamlah yang boleh melakukan upacara eksorsisme menurut langkah-langkah dalam buku itu. Sedangkan di luar itu tidak boleh disebut sebagai eksorsisme melainkan pelepasan yang bisa dilakukan siapapun dalam nama Yesus Kristus.

7. Meskipun peperangan melawan iblis berlangsung dengan melibatkan semua manusia sepanjang zaman, namun kekuasaan iblis lebih hebat jika kedosaan dan kemerosotan moral masyarakat meningkat. Hendaknya kita mengingat perkataan Santa Theresia Avilla seperti dikutip dalam buku tersebut pada halaman 85-88. Romo Armorth meminta kita menghapuskan ketakutan yang tak beralasan mengenai setan ini. Sebagian kutipannya sebagai berikut: “…saya tidak pernah takut pada mereka melainkan tampaknya merekalah yang takut pada saya. Saya tidak pernah memberikan perharian kepada mereka lebih dari kepada lalat-lalat. Saya rasa mereka ialah pengecut. Musuh-musuh ini tidak tahu bagaimana menyerang, kecuali menyerang mereka yang takluk kepada mereka, atau ketika Allah mengizinkan mereka melakukan itu demi kebaikan yang lebih besar bagi pelayan-pelayan-Nya… Kita memahami bahwa kerusakan yang lebih besar dapat menimpa kita akibat satu dosa ringan dibandingkan dari seluruh neraka bersatu karena hal ini demikianlah adanya. Betapa para setan ini membuat kita takut karena kita ingin dibuat takut melalui keterikatan-keterikatan lain: terhadap penghormatan, kepemilikan dan kesenangan-kesenangan! … Namun jika kita membenci itu semua untuk Allah dan kita memeluk salib serta melayani Allah, maka setan akan kabur. Setan ialah sahabat kebohongan dan setan ialah kebohongan itu sendiri. Setan tidak akan membuat perjanjian dengan siapapun yang berjalan dalam kebenaran”.

8. Mengenai siapa yang bisa melepaskan orang dari kerasukan setan. Siapapun pengikut Kristus dan setiap orang serta komunitas yang berseru dalam nama Yesus Kristus mampu melakukannya dengan baik. Namun hal ini harus dalam rangka pelayanan, bukan mencari keuntungan pribadi. Dalam Gereja Katolik, walaupun tiap orang baik awam maupun imam diberi kuasa (dan untuk imam kuasanya khusus karena imamatnya), namun secara resmi, praktek mengenai hal ini hanya diberikan oleh Uskup dan hanya untuk imam-imam tertentu saja. Maksudnya agar ketertiban dan fokus pastoral keuskupan tetap terjaga. Maka yang penting bagi umat dan imam pada umumnya ialah melakukan tugas sebaik-baiknya di bidang masing-masing dan saling berkomunikasi dengan baik. Buah-buah dari karya pelayanan ini pastilah baik jika dilakukan menurut ketaatan pada otoritas Gerejawi setempat. Kegiatan di luar itu disebut pelepasan atau pembebasan dari setan, bukan eksorsisme, karena eksorsisme sebenarnya ialah ritual atau upacara sakramentali yang ada buku pedomannya, seperti halnya tata ibadat lainnya dalam Gereja Katolik. Yang saya lakukan itu ialah keadaan darurat.

9. Mengenai pendosa yang melepaskan setan, maka hal itu tidak masalah. Setiap orang berdusta jika mengatakan tak berdosa. Namun Roh kudus dengan kebebasan ilahi, memberikan karismaNya sekehendak hatiNya. Karisma tidak diberikan untuk kemuliaan dan keuntungan pribadi si penerima, namun sebagai suatu pelayanan kepada saudara-saudarinya. Maka hal ini mesti diatur. Gereja mempunyai karisma untuk mengatur karisma-karisma, dan melakukan discernment oleh otoritas Gerejawi (op cit halaman 197-198).

10. Katekismus Gereja Katolik menyatakan dengan tegas melarang umat melakukan kerjasama dengan kuasa kegelapan (okultisme, dll.).

KGK 2116 Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan Bdk. Ulangan 18:10; Yeremia 29:8.. Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ulangan 18:10; Yeremia 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.
Itulah sebabnya, orang yang sudah dibaptis dan menerima Kristus pun bisa kerasukan karena di samping setan itu makhluk rohani yang punya kebebasan untuk menyerang ataupun pasif, manusia pun ialah makhluk yang punya kebebasan untuk melakukan apapun termasuk melakukan hal-hal yang melemahkan dirinya sendiri, seperti melakukan dosa, ataupun menyerahkan orang lain pada pihak si jahat. Yudas ialah contoh paling tepat untuk hal ini. Setelah ia menyantap roti bersama Kristus, ia malah kerasukan iblis.

KGK 2117 Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.

Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.
Sekali lagi saya pun berpengetahuan minim mengenai hal ini, juga setelah mengalami proses yang saya sharingkan itu. Saya baru mendapat sedikit pencerahan mengenai hal ini setelah saya selesai membaca buku tersebut di atas. Oh, ya mengenai pertanyaan apakah anak tersebut ialah anak salah seorang ibu yang bertanya, dengan tegas saya katakan bukan, karena identitas ibu tersebut lain sekali dari identitas si penanya. Sekali lagi, mari kita lanjutkan pekerjaan kita dengan tetap berfokus pada pelaksanaan kehendak Allah melalui Kristus dalam Roh Kudus dengan memperhatikan fokus pastoral keuskupan dan paroki.

Demikian jawaban saya. Terima kasih dan berkat Tuhan.


 

TUHAN TIDAK MENUNTUT KITA UNTUK SUKSES, MELAINKAN UNTUK SETIA

(Mother Teresa)

 

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved