RELATIONSHIP 

 

Sometimes we spend time asking who is responsible or who to blame, whether in a relationship, in a job or with the people we know. We miss out some warmth in human relationship to give each other support. Treasure what you have! 
 
A boy was born to a couple after eleven years of marriage. They were a loving couple and the boy was the apple of their eyes. When the boy was around two years old, one morning the husband saw a medicine bottle open. He was late for work so he asked the wife to cap the bottle and keep it in the cupboard. The mother, preoccupied in the kitchen totally forgot the matter. The boy playfully went to the medicine bottle and, fascinated with its color, drank it all. It happened to be a poisonous medicine meant for adults in small dosages. When the child showed signs of poisoning the mother took him to the hospital, where he died. The mother was stunned.
 
She was terrified how to face her husband. When the distraught father came to the hospital and saw the dead child, he looked at his wife and uttered just four words.
 
QUESTIONS :
1. What were the four words?
2. What is the implication of this story?
 
ANSWER :
The husband just said "I Love You Darling".  The husband's totally unexpected reaction is proactive behavior. He is indeed a genius in human relationships. The child is dead. He can never be brought back to life. There is no point in finding fault with the mother. She had also lost her only child. What she needed at that moment was consolidation and sympathy from the husband. That is what he gave her. 
 
If everyone can look at life with this kind of perspective, there would be much fewer problems in the world. To be happy with a man you must understand him a lot and love him a little. To be happy with a woman you must understand her a lot and love her with all your heart. 

 

'A journey of a thousand miles, begins with a single step'
 
Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness, and fears
and ...........
you will find things are actually not so difficult as you think

 

 


 

 

 

S P O U S E

 


Years ago, I asked God to give me a spouse,  "You don't own because you didn't ask" God said.  Not only I asked for a spouse but also explained what kind of spouse I wanted.  I want a nice, tender, forgiving, passionate, honest,  peaceful, generous, understanding, pleasant, warm, intelligent, humorous, attentive, compassionate and truthful. I even mentioned the physical characteristics I dreamt  about.

As time went by I added the required list of my wanted spouse.
One night, in my prayer, God talked to my heart: "My servant, I cannot give you what you want".

I asked: "Why God?".
God said: "Because I am God and I am fair. God is the truth and all I do are true and right".
I asked: "God, I don't understand why I cannot have what I ask from you?".
God answered: "I will explain. It is not fair and right for Me to fulfill your demand because I cannot give something that is not your ownself.
It is not fair to give someone who is full of love to you if sometimes you are still hostile, or to give you someone generous but sometimes you can be cruel, or someone forgiving; however, you still hide revenge, someone sensitive;however, you are very insensitive...."

He then said to me: "It is better for Me to give you someone who I know could grow to have all qualities you are searching rather than to make you waste your time to find someone who already have the qualities you want. Your spouse would be bone from your bone and flesh from your flesh and you will see yourself in her and both of you will be one.

Marriage is like a school. It is a life-long span education.
It is where you and your partner make adjustment and aim not merely to please each other, but to be better human beings and to make a solid teamwork.

I do not give you a perfect partner, because you are not perfect either.
I give you a partner with whom you would grow together".

 


** This is for all:  the recently married, the ones who have been married, the soon to get married, and the ones who are still looking **

 

 


 

 

 

DENGARKAN PASANGAN ANDA
 

Kau dan Aku
Kau dan aku berada dalam suatu hubungan yang aku hargai dan ingin kupertahankan. Tetapi masing-masing daripada kita adalah suatu pribadi yang mandiri, yang mempunyai kebutuhan-kebutuhannya sendiri, yang unik, dan yang mempunyai hak untuk mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Aku akan berusaha untuk benar-benar menerima tingkah-lakumu bila kau berusaha memenuhi kebutuhanmu atau bila kau mempunyai persoalan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
     Bila kau membagi persoalan-persoalanmu, aku akan berusaha untuk mendengarkan dan memahaminya dengan sepenuh hati, dengan suatu cara yang dapat mendorongmu, supaya kau dapat mencari pemecahan sendiri dan tidak menggantungkan pemecahannya kepadaku. Bila kau mempunyai suatu persoalan karena tingkah-lakuku mengganggu pemenuhan kebutuhanmu, kuanjurkan padamu supaya kau katakana padaku secara jujur dan terbuka, bagaimana perasaanmu sebenarnya. Pada waktu-waktu itu, aku akan mendengarkan dan lalu mencoba mengubah tingkah-lakuku, seandainya aku bisa.
     Tetapi bila tingkah-lakumu mengganggu pemenuhan kebutuhanku, sehingga menyebabkan aku merasa tak dapat menerimamu, aku akan membagi persoalanku ini denganmu. Aku akan mengatakan padamu dengan sejujur dan seterbuka mungkin bagaimana perasaanku. Aku percaya bahwa kamu cukup menghormati kebutuhan-kebutuhanku, sehingga kamu mau mendengarkan dan lalu berusaha untuk mengubah tingkah-lakumu.
     Bila kita sampai pada suatu keadaan di mana tak seorangpun di antara kita dapat mengubah tingkah-lakunya untuk memenuhi kebutuhan yang lain, di samping itu kita juga mengalami konflik kebutuhan dalam hubungan kita, maka marilah kita tetapkan bagi diri kita sendiri, bahwa kita akan menyelesaikan konflik semacam itu dengan tanpa pernah menggunakan kekuasaanku atau kekuasaanmu untuk menang di atas puing kekalahan yang lain. Aku hormati kebutuhan-kebutuhanmu, tetapi aku juga harus menghormati kebutuhanku sendiri. Maka marilah kita selalu berusaha untuk mencari pemecahan yang dapat kita terima terhadap konflik-konflik kita yang tak terelakkan. Dengan cara ini, kebutuhanmu akan terpenuhi, tetapi demikian pula halnya dengan kebutuhanku. Tidak seorangpun akan kalah.

 

Sebagai akibatnya, kau dapat tetap berkembang menjadi suatu pribadi dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu, demikian pula aku. Dengan demikian hubungan kita akan selalu merupakan hubungan yang sehat, karena memuaskan keduabelah pihak. Masing-masing dari kita dapat mengembangkan kemampuannya, dan kita dapat tetap saling berhubungan dengan rasa saling menghargai dan saling mengasihi dalam suasana damai dan bersahabat.
(dikutip dari buku: Orang Tua yang Efektif, oleh Thomas Gordon)
 

Keluarga dan Perkawinan
Kutipan di atas merupakan gambaran hubungan yang terjadi dalam suatu perkawinan yang ditandai dengan penerimaan dan pengertian. Ini bukanlah tugas yang mudah. Dua pribadi yang berbeda latar belakang kehidupan, berbeda kepribadian, berbeda kebutuhan, berbeda dalam pikiran, perasaan, dan pengalaman, dipersatukan dalam suatu ikatan tali cinta suami istri yang abadi dan mesra, suatu komitmen untuk menjalani hidup bersama dalam suka dan dalam duka.
Memilih atau tidak memilih jodoh merupakan suatu keputusan berarti yang diambil oleh seseorang. Orang yang dipilih akan mempunyai pengaruh besar terhadap cara hidup pasangannya, pengalaman-pengalamannya dan kebahagiaannya sepanjang masa. Perkawinan berarti penyesuaian terhadap seluruh peran sosial yang dihubungkan dengan perkawinan tersebut. Manusia belajar berperilaku sebagai orang yang telah menikah. Dalam proses sosialisasi, mereka mengembangkan konsep-konsep apa artinya menjadi suami atau istri dan ide-ide mereka tentang bagaimana seorang suami atau istri diharapkan untuk berperilaku (Ahammer, 1973). Orang tua, keluarga dan tokoh-tokoh ideal terdahulu menjadi model orang-orang yang baru menikah.
Dalam memainkah peran-peran baru, perkawinan juga menuntut pasangan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Bulan madu akan segera berlalu dan setumpuk piring dan pakaian kotor telah menunggu untuk dicuci, kamar mandi harus disikat, rumah harus dibersihkan, kebun menanti sentuhan perawatan, makan pagi dan makan malam harus disiapkan, dan setumpuk pekerjaan rumah tangga lain seakan tak henti-hentinya menunggu uluran tangan. Dalam keadaan demikian hal-hal kecil sekalipun dapat menjadi persoalan yang mempengaruhi kehidupan perkawinan. Romantisme dan daya tarik seksualitas tidak cukup menjamin kehidupan nyata yang harus dihadapi sehari-hari. Bila pemuda atau pemudi mempunyai model orangtua yang baik untuk menolong mereka mempelajari pembentukan hubungan yang baik, maka mereka akan lebih cepat menyesuaikan diri dan dewasa. Juga bila mereka mempunyai keinginan untuk mengembangkan hubungan yang intim dan mendalam secara emosional serta mengkomunikasikan perasaan-perasaan mereka, maka hubungan tersebut akan lebih potensial positif (C. Rogers, 1972).
Persoalan-persoalan yang biasanya timbul pada pasangan-pasangan yang baru menikah antara lain: berkurangnya kebebasan individu, keharusan untuk menyesuaikan diri secara finansial, kematangan/ketidakmatangan pasangan, kehadiran anak, kekuatan dan kekuasaan (secara tradisional, laki-laki lebih dominan/superior, sedangkan istri berada dalam posisi mengalah dan menerima keputusan suami).
 

Mendengarkan, Suatu Tehnik Komunikasi
Berbagai penyesuaian yang dialami oleh dua pribadi yang berbeda menuntut adanya komunikasi yang baik dalam suatu hubungan perkawinan. Perilaku kita sebagai orangtua, sahabat, sebagai manusia, dan seberapa efektif perilaku tersebut, banyak tergantung dari seberapa jauh kita memahami situasi yang ada. Pengertian itulah yang kemudian akan menentukan bagaimana reaksi kita terhadap situasi tersebut. Memahami suatu situasi berarti kita mampu mengidentifikasi karakteristik penting, yang baru dapat kita ketahui apabila hal tersebut disampaikan dalam suatu komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal, baik dalam bentuk tulisan maupun secara lisan. Seringkali seseorang akan merasa tertolong hanya dengan memberikannya kesempatan untuk membicarakan apa yang dialaminya. Orang tersebut akan merasa lebih aman untuk berbicara bila yang mendengarkan memperlihatkan minat dan tidak mengkritik apa yang diceritakannya, atau tidak pula merendahkannya dengan sikap seolah orang itu tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Istilah “mendengarkan” (to listen) mempunyai arti lebih daripada sekadar “mendengar” (to hear). Mendengar dapat dipahami sebagai suatu proses pasif berupa masuknya rangsang suara pada indra pendengaran kita. Tetapi “mendengarkan” menuntut adanya perhatian dan pengolahan proses mental. Tujuan utama dari mendengarkan adalah untuk mengerti, yang bukan sekadar memahami makna eksplisit dari pesan yang disampaikan, melainkan tercakup pula makna implisitnya. Dengan kata lain penekanannya adalah lebih pada komunikasi empatetik, di mana si pendengar seolah-olah menjadi pembicara sendiri, sehingga mampu memahami dan turut merasakan pesan yang disampaikan oleh pembicara, sekaligus mengerti pula mengapa pesan tersebut dikeluarkan. Jika tujuan pengertian sudah tercapai, maka bukan saja kita dapat memahami lawan bicara kita seutuhnya, namun lawan bicara kita juga akan merasa sungguh-sungguh dipahami dan ini akan mendorongnya untuk berkomunikasi lebih lanjut. Di dalam keluarga, saling mendengarkan akan menjadi salah satu hal yang sangat menolong sebagai dukungan dalam menghadapi dan memecahkan permasalahan.
 

Ketrampilan Mendengarkan
Ada empat ketrampilan yang dapat dilatih untuk menunjukkan sikap menolong dan mempermudah seseorang untuk menceritakan masalahnya, atau yang biasa disebut sebagai ketrampilan mendengarkan, yakni:
1. mendengarkan dengan seksama/hening
2. membuka pintu
3. memberikan respons
4. mendengarkan secara aktif
 

Mendengarkan dengan seksama dapat dilakukan secara sederhana, yakni dengan berdiam diri, sementara sikap tubuh, mata, wajah, menunjukkan bahwa kita merasa tertarik dengan apa yang sedang dibicarakan orang lain. Membuka pintu dalam penerapannya dapat dilakukan dengan mengatakan “Apakah kamu mau membicarakannya lebih lanjut?” atau “Ayo kita bahas hal ini”. Memberikan respons dapat berupa kata-kata singkat seperti “hm hm”, “oh, begitu”, “oh ya?” Kesemuanya ini menunjukkan minat kepada orang lain dan kesediaan untuk mendengarkan.
Mendengarkan secara aktif merupakan ketrampilan terbaik dalam komunikasi dan membutuhkan lebih banyak latihan. Mendengarkan secara aktif mencakup juga menyampaikan kepada si pengirim pesan bahwa kita mengerti apa yang telah dikatakannya, terutama perasaan yang terkandung dalam cerita tersebut. Misalnya bila suami berkata “Menyebalkan sekali supplier yang kutemui hari ini. Sudah berkali-kali aku jelaskan permasalahannya, dia tidak mau mengerti juga.” Bila istri mendengarkan secara aktif, maka ia akan berkata “tampaknya papa kok kesal sekali menghadapi orang itu.” Bila umpan balik anda kena sasaran, maka suami akan berespons misalnya dengan melanjutkan ceritanya secara lebih rinci.
Mendengarkan secara aktif merupakan ketrampilan yang relatif sulit untuk dipelajari, karena pada umumnya kita sibuk dengan pikiran kita sendiri, sehingga sulit untuk memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan orang lain. Untuk memberikan respons empatetik diperlukan konsentrasi pada pernyataan orang lain. Bila kita hanya terfokus pada pikiran sendiri, kita akan kehilangan makna pesan yang disampaikan dan ini menunjukkan bahwa kita tidak berminat pada orang tersebut, atau bahwa kita mencela ketidak-mampuan orang tersebut untuk menyelesaikan masalah, atau bahkan menunjukkan ketidak-yakinan kita akan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Hal ini akan membuat orang tersebut menolak untuk membagi masalahnya lebih lanjut dengan anda, dan sebagai akibat lebih lanjut, hubungan anda tidak akan bertambah intim.
 

Tehnik mendengarkan secara aktif, yakni mengirimkan umpan balik kepada si pengirim pesan tentang pemahaman kita akan apa yang dikatakan dan dirasakanya, merupakan tehnik mendengarkan yang sederhana, namun sangat besar manfaatnya. Tercakup di dalamnya kegiatan:
1. mengamati dan membaca perilaku non verbal (postur, ekspresi wajah, gerakan, nada suara, dsb.).
2. mendengarkan dan memahami pesan-pesan verbal.
3. mendengarkan dan memahami seseorang dalam konteksnya atau secara terpadu.
 

Perilaku non verbal mempunyai arti yang lebih dari sekadar kata-kata. Penelitian menunjukkan bahwa kesan keseluruhan mendengar diperoleh dari 7%verbal, 38% nada suara, dan 55% ekspresi wajah. Untuk itu kita perlu belajar mendengarkan dan membaca:
# perilaku ketubuhan, seperti postur, gerakan tubuh, isyarat tubuh
Perhatikanlah setiap hal yang ada pada pasangan anda. Pandanglah dia, dekatlah secara fisik untuk mempertinggi perasaan anda akan kehadirannya, janganlah duduk terpisah atau berseberangan meja. Perhatikanlah mata pasangan anda, ungkapan-ungkapan yang tampak pada wajahnya, semuanya bisa menyingkapkan sebanyak yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perhatikanlah posisi tubuh pasangan anda, tangan dan kakinya.
# ekspresi wajah, seperti tersenyum, mengangkat alis, mengatupkan bibir
# suara yang berhubungan dengan perilaku, seperti nada suara, tinggi dan kerasnya, kecepatan, naik turun, jarak suara/kata, penekanan, hening, kelancaran
Perhatikan secara khusus nada suara pasangan anda. Kata-kata menyampaikan gagasan-gagasan kepda anda, nada suara memungkinkan kita utuk memahami keseluruhan dunia perasaan. Perasaan bagaikan sebuah jendela yang memperlihatkan dunia batin seseorang.
# respons fisik otonomi yang dapat diamati, seperti nafas yang cepat, perkembangan rona muka, pucat, melebar dan menyempitnya pupil
 

Mendengarkan pesan-pesan verbal berupa pengalaman, perasaan dan emosi yang muncul terkait dengan pengalaman dan perilakunya. Kadang-kadang hal ini tidak dikatakan, namun diekspresikan, misalnya menghisap rokok sambil menghela napas.
Mendengarkan dan memahami seseorang dalam konteksnya membutuhkan kemampuan berempati, yakni memahami pengalaman, perilaku, dan perasaan orang lain sebagaimana yang mereka alami. Dalam hal ini seluruh bias, prasangka dan pandangan pribadi harus dikesampingkan untuk memahami sejelas mungkin pandangan orang lain, mampu menangkap bukan hanya apa yang tersurat, namun juga apa yang tersirat, atau kemampuan untuk masuk dan memahami dunia orang lain dan mengkomunikasikan pengertian ini padanya, baik secara verbal maupun non verbal.
 

Beberapa kendala yang muncul yang mengakibatkan bias dalam mendengarkan antara lain:
* Mendengarkan yang tidak adekuat/tidak tepat.
  Hanyut dalam pikiran sendiri dan memikirkan jawaban yang akan diberikan. Hal ini bisa disebabkan oleh kondisi fisik yang kurang sehat, sibuk bermain dengan pikiran dan perasaan sendiri, sikap tanggap yang berlebihan.
* Memberikan penilaian saat mendengarkan, seperti baik/buruk, benar/salah, suka/tidak suka, relevan/tidak relevan, dapat diterima/ tidak.
* Menyeleksi antara apa yang ingin diperhatikan dan yang tidak ingin diperhatikan.
* Melewatkan waktu, tidak berminat untuk mendengarkan, karena mementingkan apa yang akan kita katakan. Setelah lawan bicara selesai, kita langsung mengeluarkan pesan kita.
 

Prinsip-prinsip komunikasi di atas berlaku umum, dalam arti dapat diterapkan untuk segala keperluan dan berbagai macam hubungan, termasuk dalam hubungan suami-istri. Salah satu hal yang ikut menentukan keberhasilan komunikasi suami-istri adalah keterbukaan. Keterbukaan selalu muncul dari sikap yang tulus dan jujur dan membebaskan kita dari rasa curiga dan syak-wasangka. Suami-istri mencoba memahami kepentingan pasangannya sebagai manusia, dan mengambil sikap rendah hati, mau mengangkat pasangannya lebih tinggi daripada dirinya. Dengan asas keterbukaan ini suami/istri akan memiliki kesediaan untuk mendengarkan, menerima saran, koreksi atau kritik dari pasangan yang mungkin belum diketahuinya, kesediaan mengungkapkan hal-hal dan sifat yang ada di dalam dirinya yang belum diketahui oleh pasangannya, atau mungkin juga kesediaan untuk meminta maaf bila menyakitkan hati pasangannya atau dorongan untuk mengakui kesalahan atau menyadari ada sesuatu yang tidak beres di dalam dirinya.
 

Sikap mengutamakan pasangan atau sikap menomor-satukan pasangan merupakan hal lain yang akan mendekatkan kita pada pasangan, karena dialah yang menjadi pusat perhatian kita. Sikap ini juga akan mengembangkan empati, yaitu kemampuan untuk memahami cita rasa, kemauan, dan pikiran pasangan, sehingga semua pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, tidak salah persepsi. Komunikasipun berjalan mulus, karena tidak ada yang mau mencari kepentingan dirinya sendiri (self-centered).
 

Mendengarkan sama sekali bukanlah suatu pengalaman pasif. Mendengarkan memerlukan konsentrasi untuk memfokuskan diri pada seseorang. Perhatian yang total merupakan pesan bagi lawan bicara yang dihadapi. Pesan tersebut menyampaikan kepada pasangan anda bahwa “aku sungguh memperhatikanmu”, “aku sedang berusaha, aku ingin menerima apa saja yang ingin engkau sampaikan kepadaku saat ini. Pesan demikian menutup jarak yang ada antar orang, dan menolong orang yang berbicara untuk menaruh kepercayaan dan mengungkapkannya. Mendengarkan merupakan tindakan kasih yang menciptakan hubungan.     
 

Dalam pengembangan komunikasi yang baik, peran dan tanggung jawab suami-istri haruslah seimbang, tidak boleh ada yang lebih dominan. Tetapi sebagai orang beriman, kita sadar bahwa usaha kita untuk berkomunikasi secara mengena selalu banyak hambatan/kendalanya, seperti: sikap tertutup, egosentris, sombong, suka mempertahankan kedudukan, tujuan yang tidak searah, perbedaan bahasa, pengetahuan, pengalaman, watak, sifat, dsb. Sebagaimana yang dikatakan orang bijaksana, musuh yang paling berbahaya adalah diri sendiri, sehingga diperlukan lebih banyak usaha dan keberanian untuk mampu mengalahkan diri sendiri ataupun mengalahkan kepentingan diri sendiri serta mengutamakan kepentingan orang lain, yakni pasangan anda. Selamat berjuang!
 

 

Sasana Krida (Jatijejer), 14 Oktober 2001
Dra. Verina H. Secapramana, MM
Retret Pasutri GEREJA KRISTEN KALAM KUDUS MALANG

 

 


 

 

A DAMN FINE EXPLANATION
 


The wife came home early and found her husband in their bedroom making love to a very attractive young woman.

And she was upset. 'You are a disrespectful pig!' she cried. 'How dare you do this to me -- a faithful wife, the mother of your children! I'm leaving you. I want a divorce right away!'

And the husband replied, 'Hang on just a minute love, so at least I can tell you what happened.'

'Go ahead,' she sobbed,' but they'll be the last words you'll say to me!'

And the husband began -- 'Well, I was getting into the car to drive home, and this young lady here asked me for a lift. She looked so down and out and defenseless that I took pity on her and let her into the car.

I noticed that she was very thin, not well dressed and very dirty. She told me that she hadn't eaten for three days.

So, in my compassion, I brought her home and warmed up the enchiladas I made for you last night, the ones you wouldn't eat because you're afraid you'll put on weight. The poor thing devoured them in moments.

Since she needed a good clean-up, I suggested a shower, and while she was doing that, I noticed her clothes were dirty and full of holes, so I threw them away.

Then, as she needed clothes, I gave her the designer jeans that you have had for a few years, but don't wear because you say they are too tight.

I also gave her the underwear that was your anniversary present, which you don't wear because I don't have good taste.

I found the sexy blouse my sister gave you for Christmas that you don't wear just to annoy her, and I also donated those boots you bought at the expensive boutique and don't wear because someone at work has a pair the same.'

The husband took a quick breath and continued - 'She was so grateful for my understanding and help that as I walked her to the door, she turned to me with tears in her eyes and said,

'Please ..... Do you have anything else that your wife doesn't use?'

 

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved