BUNDA MARIA, TELADAN IMAN KITA

 

Menjadi umat beriman yang diwarnai dengan pergumulan dalam pengharapan, iman dan kasih ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Menjadi umat beriman berarti mengikuti jalan Tuhan Yesus Kristus melalui salib demi merobek dosa yang menggelapkan kehidupan kita. Dalam perjalanan menuju Golgota memanggul salib bersama Yesus, Bunda Maria-lah yang telah memberikan teladan sempurna kepada kita. Dalam hal apakah Bunda Maria menjadi teladan iman kita? Pada pembahasan di atas, kita telah melihat bagaimana Bunda Maria telah menjadi teladan iman kita dalam kesanggupannya menjawab tawaran kasih Allah melalui jawaban: "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu". Setiap kesanggupan menuntut suatu sikap utuh dan total yang terjadi setelah melalui suatu pergumulan iman. Pergumulan iman yang mendalam dalam penyerahan kepada Allah mendatangkan ketabahan iman. Bila pada permenungan di atas, kita telah melihat bagaimana kesanggupan Bunda Maria sebagai teladan iman kita, maka permenungan berikut ini akan kita lihat bagaimana pergumulan dan ketabahan iman Bunda Maria, yang menjadi teladan iman kita.

Bunda Maria memiliki iman yang mendalam kepada Allah. Dalam kesanggupan iman Bunda Maria yang tampak pada awal panggilan hidupnya, ketika Maria menerima kabar sukacita dari Malaikat Gabriel, sebetulnya tampak pergumulan imannya. Pergumulan iman ini ternyata tidak berhenti hanya pada tahap awal saja, melainkan berjalan terus seiring dengan perkembangan kehidupan Yesus Kristus, puteranya.

Kita dapat membaca dalam kisah-kisah selanjutnya. Pergumulan iman pasti dialami oleh Bunda Maria ketika mendekati saat kelahiran Sang Putera (Lukas 2:1-7). Di sini dikisahkan betapa mengenaskan dan menyedihkan saat-saat bagi Bunda Maria untuk melahirkan Yesus, Putera sulungnya. Bunda Maria harus mengalami situasi yang sulit secara sosial, sebab harus melahirkan Yesus ketika sedang dalam perjalanan pengungsian. Marilah kita bayangkan kenyataan ini. Seorang ibu melahirkan anaknya di tengah perjalanan, bukan di tempat yang selayaknya, melainkan di kandang hewan. Dia harus membungkus bayinya dengan kain lampin dan membaringkannya di dalam palungan, tempat makanan bagi ternak. Seperti apakah rasanya? Bagaimana perasaan seorang ibu ketika mengingat semua janji Allah yang disampaikan melalui malaikat Gabriel, bahwa anak yang akan dilahirkannya akan disebut Yang Kudus, Putera Allah Yang Mahatinggi, sementara ia dihadapkan pada kenyataan bahwa anak yang dilahirkannya tidak lebih seperti seorang tunawisma? Mungkinkah Bunda Maria berontak dan protes kepada Allah: "Mana janji-Mu Tuhan? Mana buktinya dari semua yang telah Kau janjikan kepadaku melalui malaikat-Mu? Mengapa semua itu tidak menjadi kenyataan? Di manakah kuasa-Mu?

Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dari bibirnya yang lembut dan suci? Ternyata seberat dan sesulit apapun keadaan yang harus dihadapi, walaupun sebagai manusia mungkin saja ada godaan-godaan untuk mengajukan protes-protes seperti itu, Bunda Maria tetap setia kepada komitmennya, pada sikap dasarnya: "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu!".

Itulah pergumulan iman Bunda Maria saat harus melahirkan Yesus dalam situasi yang tidak normal dan tidak wajar sebagai manusia. Pergumulan berikutnya terjadi ketika para gembala datang menjumpai mereka dengan sukacita dan menyembah Sang Putera. Pergumulan itu dicatat hanya dalam satu kalimat oleh Santo Lukas, "Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya! (Lukas 2:19). Pergumulan iman Bunda Maria terus berlanjut. Ketika Yesus disunat dan diserahkan kepada Allah di Bait Allah di Yerusalem, Bunda Maria pasti sangat heran dengan wejangan-wejangan kenabian yang disampaikan oleh Simeon, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran banyak orang" (Lukas 2:34-35).

Seandainya kita menjadi Bunda Maria, apa yang akan kita rasakan ketika seseorang mengatakan sesuatu yang berat yang akan kita tanggung akibat kehadiran anak kita? Pastilah pertanyaan, kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan akan mewarnai hidup kita! Secara manusiawi, bukankah hal yang sama pun akan dialami oleh Bunda Maria? Namun kembali Bunda Maria menunjukkan komitmennya "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu!".

Pergumulan iman Bunda Maria terjadi lagi ketika orang-orang Majus datang dari Timur, penyingkiran ke Mesir, lalu kembali lagi bukan ke Betlehem, melainkan ke Nazareth, pasti membuatnya berpikir dan bertanya-tanya, apakah gerangan kehendak Allah terhadap dirinya dan Anaknya. Dalam semua peristiwa yang kerapkali tidak dapat dimengerti secara manusiawi itu, Bunda Maria tetap pasrah kepada Allah sambil berdoa, " Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu!".

Pergumulan iman Bunda Maria terjadi lagi ketika Yesus berusia dua belas tahun (Lukas 2:41-52). Marilah kita bayangkan bagaimana kecemasan seorang ibu ketika kehilangan anaknya dan tidak tahu di manakah anaknya berada. Kecemasan ini ternyata mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkan dari sang anak yang dicari-cari dengan susah payah itu. "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?". Jawaban seperti itu pasti tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Maria dan Yusuf. Jawaban itu tidak sepadan dengan kecemasan dan pencarian mereka selama itu. Jawaban itu tidak sebanding dengan jerih payah mereka untuk mencari dan menemukan Dia. Mereka sungguh tidak mengerti bahwa jabawan itu harus mereka dengar. Namun sikap Bunda Maria tetap konsisten. Bunda Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya, dan dengan tulus ikhlas dan rendah hati Bunda berdoa, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu!".

Itulah pergumulan iman yang dialami oleh Bunda Maria mulai sejak melahirkan Yesus hingga Ia berumur dua belas tahun. Sebagai seorang ibu, menghadapi anaknya yang tumbuh dan berkembang dengan cara hidup seperti itu, pastilah bukan hal yang mudah. Bunda Maria pasti mengalami pergumulan batin yang hebat. Pastilah muncul berbagai pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Suatu hal yang menarik untuk direnungkan dalam semua pergumulan itu adalah ketabahannya dalam menghadapi dan menerima semua pengalaman itu dengan kepasrahan kepada Allah dan kerendahan hati.

Pada saat mengalami dan menghadapi berbagai pergumulan hidup yang sekaligus merupakan pergumulan imannya, pastilah Bunda Maria teringat akan nubuat Simeon yang pernah mengatakan kepadanya, "suatu pedang akan menembus jiwamu!". Jiwa yang tertembus pedang adalah gambaran jiwa yang mengalami kesulitan dan tantangan. Oleh karena Yesus puteranya, Bunda Maria akan banyak menghadapi tantangan dan kesulitan. Itulah salib yang telah dipanggul oleh Bunda Maria, sebelum Yesus sendiri memanggul salib itu untuk menyelamatkan umat manusia. Itulah ketabahan iman Bunda Maria yang dapat kita renungkan.

Ketika terjadi pesta perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-11), Bunda Maria ikut merasakan kecemasan dan keprihatinan keluarga yang sedang pesta, yang merasakan kebingungan dan kegelisahan saat memikirkan bagaimana mereka akan mendapatkan anggur secepatnya, agar para tamu dapat menikmati perjamuan dan yang lebih penting lagi, keluarga yang sedang berpesta tidak menanggung malu akibat kekurangan anggur. Di tengah-tengah kecemasan, kegelisahan, dan keresahan itu Bunda Maria mempunyai iman yang besar kepada puteranya, Yesus, sehingga datang menemui Puteranya untuk meminta pertolongan. Jesus menjawab: "Ibu, mau apakah engkau daripada-Ku? Saat-Ku belum tiba!". Bunda Maria tidak menanggapi jawaban puteranya itu, karena dia mempunyai iman yang kuat sebagai buah pergumulannya selama ini. Dia percaya, bahwa puteranya dapat berbuat sesuatu, pasti! Maka Bunda Maria justru menemui para pelayan yang ada di dapur dan mempersiapkan mereka. "Apa yang dikatakan kepadamu oleh Yesus puteraku, buatlah itu."  Demikian kata Bunda Maria kepada para pelayan itu.

Itulah untuk pertama kalinya, ketika Yesus mulai tampil di muka umum, Bunda Maria mengalami ujian iman dari Yesus yang dihadapinya dengan tabah. Bunda Maria begitu mantap dengan imannya itu. Bunda Maria begitu teguh dengan imannya. Keteguhan, kemantapan dan ketabahan itulah yang membuahkan berkah bagi keluarga kudus itu.

Ketabahan Bunda Maria kembali diuji ketika Yesus mulai tampil sebagai Guru yang mengajar banyak orang dengan berbagai karya mukjijat. Sejak Yesus berangkat untuk menjadi murid Yohanes Pembaptis dan dibaptis olehnya di Sungai Yordan, Yesus disibukkan oleh tugas perutusanNya untuk mewartakan dan menegakkan Kerajaan Allah. Pastilah Bunda Maria merindukan puteranya yang telah sekian lama tidak juga pulang ke rumah orangtua-Nya. Digambarkan dalam Injil Matius 12:46-50: Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibuNya dan saudara-saudaraNya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seseorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang itu: "Siapakah ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?". Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: " Inilah ibu-Ku dan saudara-saudaraKu ! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku!".

Kalau kita renung-renungkan kisah ini, secara spontan tampak aneh dan menyakitkan. Mendengar jawaban Yesus itu, pasti secara spontan mereka berkesimpulan bahwa Yesus menolak dan tidak mengakui lagi Ibu dan saudara-saudara-Nya. Ibaratnya Yesus telah menjadi hebat, terkenal, membuat banyak mukjijat, menjadi Guru, maka Dia lantas melupakan keluarga-Nya. Yesus tidak lagi mau mengakui ibu-Nya sendiri, seorang ibu yang telah melahirkan-Nya dengan mempertaruhkan jiwaraganya. Bagi Bunda Maria sendiri, kalau beliau dikuasai oleh pikiran manusia, jawaban yang diberikan oleh Yesus itu pastilah akan sangat menyakitkan hatinya. Penolakan itu akan dapat memukul perasaannya. Orang banyak yang mengerumuni Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya bisa saja menilai bahwa Yesus itu sudah keterlaluan, tidak lagi menghormati ibu yang melahirkan-Nya! Mungkin itulah reaksi-reaksi spontan yang bisa muncul akibat jawaban Yesus itu.

Pertanyaannya kemudian: Apakah Bunda Maria mempunyai pola pikir dan logika yang sama? Jawabannya: Bisa ya bisa tidak! Bisa jadi, Bunda Maria menjadi kecewa atas jawaban Yesus itu, seolah-olah Dia telah menolak kehadirannya sebagai seorang ibu yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik-Nya! Namun, rupanya hal itu tidak dikatakan dalam teks Kitab Suci. Dengan demikian, kita bisa berkesimpulan lain yang lebih positif tentang sikap Bunda Maria berhadapan dengan Yesus yang bersikap seperti itu. Yang lebih masuk dalam hati Bunda Maria tentulah bukan kalimat: "Siapakah ibu-Ku?", melainkan kalimat "sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga, dialah ibu-Ku!".

Kalimat itulah yang tentunya lebih mengena bagi Bunda Maria, sebab dari pengalamannya, dari pergumulannya, dan kesanggupan imannya, Bunda Maria dengan rendah hati mengakui dan menyadari, bahwa sejak menerima kabar dari malaikat Gabriel hingga saat itu, dirinya telah berjuang, bergumul, dan terus melakukan kehendak Bapa di Surga. Bunda Maria justru mengalami kebanggaan dalam hati yang jujur dan tulus serta rendah hati, mengalami peneguhan dari Yesus, puteranya, bahwa dirinya memang ibu-Nya karena telah melakukan kehendak Bapa. Dengan demikian, mutu keibuannya tidak hanya tergantung pada hubungan fisik dengan Yesus, melainkan telah menjadi sangat ilahi dalam rencana Allah Bapa. Mutu keibuan jasmani telah diubah menjadi mutu keibuan rohani dan ilahi. Bunda Maria-lah orang yang telah mendengarkan Firman Allah dan melakukan kehendakNya.

Ketabahan iman Bunda Maria-lah yang membuat dia percaya penuh kepada Yesus puteranya, bahwa dirinya tetap diakui sebagai seorang ibu, bahkan bukan hanya secara fisik, melainkan secara spiritual, sebagai pelaksana kehendak Bapa.

Puncak ujian ketabahan iman Bunda Maria terjadi ketika menyaksikan sendiri cara kematian puteranya. Hari itu menjadi puncak ketabahannya, karena menyaksikan sendiri puteranya itu terkulai lemas dalam siksaan dan penderitaan salib. Dimulai dari ketika sang Ibu mendengar berita bahwa Yesus puteranya telah ditangkap oleh para imam kepala dan para tua-tua Yahudi, dan bahwa Yesus akan diadili di hadapan para petinggi Yahudi dan penguasa Romawi. Mendengar berita itu tentu saja hati Bunda Maria menjadi tidak tenang. Hatinya mengkhawatirkan nasib anaknya. Ketika melihat wajah Yesus yang berlumuran darah, tubuh yang robek-robek, memar, dan mengucurkan darah derita yang begitu hebat, Bunda Maria tidak mampu menahan air matanya menyaksikan penderitaan puteranya. Dengan hati yang berduka oleh penderitaan puteranya, Bunda Maria mengikuti perjalanan arak-arakan itu menuju Golgota. Di depan matanya, anak yang dikasihinya ditelanjangi, disiksa, dicambuk, dipukul, diludahi, dan dihina secara keji. Puncak kengerian terjadi ketika salib ditegakkan, dan Yesus digantung di kayu salib dengan cara yang amat mengerikan. Dalam keadaan itu, Sang Bunda hanya dapat berlutut di bawah kaki salib sambil menyaksikan penderitaan puteranya. Penyerahan Bunda kepada Bapa sungguh penuh sempurna. Detik-detik terakhir menjelang kematian Yesus, bagi Bunda Maria pasti merupakan detik-detik yang penuh pergumulan dan menuntut ketabahan yang luar biasa. Bunda Maria harus menyaksikan kematian anaknya dengan cara yang amat sangat mengerikan. Sebuah cara kematian yang tidak lazim bagi seorang Yesus yang tidak pernah tergoda oleh perbuatan dan tindakan dosa. Cara kematian yang tidak selayaknya bagi seorang Nabi dan Guru, seorang yang dekat dengan rakyat melarat, seorang yang penuh bela-rasa bagi setiap orang yang menderita sengsara.

Puncak dari segala puncak ketabahan Bunda Maria adalah ketika harus memangku jenasah Yesus puteranya yang penuh bekas luka dan darah yang terus membasahi tanah. Apakah kiranya yang muncul dalam diri Bunda, ketika memangku jenasah Puteranya? Bisa jadi, Sang Bunda berkata dalam hatinya: "Inikah Juruselamatku? Yang mati terkulai sebagai jenasah yang penuh darah? Dengan wajah yang hancur penuh derita? Inikah perwujudan janji dari malaikat Gabriel, bahwa anakku akan menjadi seorang Raja yang Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan?

Namun dalam ketabahannya sebagai teladan iman kita, Bunda Maria tetap konsisten berdoa: "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu!"

 

Bagaimana dengan kita?

Menyadari peran Bunda Maria yang begitu penting dalam kehidupan Gereja, maka Gereja memberi tempat istimewa kepada Bunda Maria. Ini tidak berarti bahwa kita memuja dan menyembah Bunda Maria sebagai Tuhan, melainkan menghormatinya secara layak dan pantas, karena berkat jasanyalah karya Penebusan Tuhan Yesus Kristus dapat terwujud di dunia. Berkat kesanggupannyalah Yesus Kristus lahir di bumi, menjadi manusia dan tinggal di antara kita, melaksanakan kehendak Allah untuk menyelamatkan umat manusia.

Per Mariam ad Jesum. Melalui Bunda Maria, iman kita akan sampai pada Yesus, Puteranya. Devosi kita kepada Bunda Maria akan menghantar kita untuk semakin teguh mengimani Kristus dan karya keselamatan-Nya, Amin.

 

 

BEHOLD THE HANDMAID OF THE LORD; BE IT UNTO ME ACCORDING TO THY WORD

 


 

 

 

Berikut adalah cerita yang ditulis oleh Viany Yuanita Prihindraningsih, seorang mantan suster biarawati

 

"PENGALAMAN PEREMPUAN: PERGULATAN LINTAS AGAMA" 

 

Editor: Yanti Muchtar;  Kata Pengantar: Komaruddin Hidayat.

Penerbit: KaPal Perempuan dan The Ford Foundation. Tahun 2000. Halaman 1-30.
===========================================================

 

MENJADI  PEREMPUAN BIASA

 


Awal Sebuah Langkah
Aku seorang suster yang sedang menjalani saat-saat terakhir masa eksklaustrasi. Walaupun masa eksklaustrasiku belum berakhir, tapi aku memutuskan untuk tidak kembali ke biara. Keputusan ini kuambil dengan mantap setelah aku mengalami berbagai peristiwa yang sebagian akan kuceritakan dalam tulisan ini.
Menuliskan pengalaman sangat pribadi bukanlah hal mudah. Harus kuakui, aku merasa amat tertekan ketika memulainya. Keinginan menulis sangat besar, tetapi seperti ada batu besar yang menutup ide-ide di otakku sehingga aku tak tahu harus menulis apa. Aku mencoba melihat ke dalam diri, mencari akar rasa ketertekananku itu. Ternyata aku dihantui rasa takut dan khawatir, jangan-jangan tulisan ini menimbulkan kontroversi atau kemarahan dari hierarki Gereja, kekecewaan para suster, dan bahkan kecaman dari umat Katolik yang sulit menerima keterus-teranganku.
Aku berusaha memahami perasaan takutku ini sebagai suatu hal yang wajar. Tentu saja aku takut. Sekian lama aku menjadi bagian dari sistem hierarki Gereja Katolik dan kini aku mengangkat pengalaman yang terjadi di dalamnya. Bukankah wajar jika aku mengkhawatirkan munculnya reaksi-reaksi keras terhadap tulisanku? Tapi satu hal mendorongku tetap menulis adalah keyakinanku akan pentingnya pengalaman ini diungkapkan. Pengalaman seorang perempuan agamis yang mengalami pergulatan hidup. Dengan kepercayaan bahwa tulisan ini akan bermanfaat bagi banyak perempuan lain, aku mulai membagikan pengalaman ini.


Mengapa Aku Ingin Tinggal di Luar Biara?
Bila kukenang kembali pengalamanku menjadi seorang suster, aku menyadari betul keisitimewaan hidupku. Selain hidup dalam kedisiplinan hidup rohani yang tinggi, aku pun mendapatkan jaminan kesehatan, keamanan, dan penghargaan dari umat. Aku tak perlu resah akan hari esok. Hal lain, walaupun aku harus meninggalkan sanak saudara dan mengikuti Yesus seperti nasihat Injil, aku menemukan banyak saudara di biara. Ratusan suster dalam tarekatku di seluruh Indonesia dan di beberapa negara lain menjadi saudariku. Jika hidup sudah demikian membahagiakan, mengapa aku memutuskan untuk tinggal di luar biara? Dan mengapa keputusan itu kubuat justru setelah aku mengucapkan kaul kekal?
Dalam tarekatku, setelah menjalani masa yunior selama 5-9 tahun, seorang suster diberi kesempatan memasuki masa persiapan kaul kekal. Masa tersebut biasanya diisi dengan terlibat dalam kelompok-kelompok masyarakat, baik pedesaan maupun perkotaan. Tujuannya, menguji sekali lagi penghayatan hidup berkaul sebelum seorang suster muda mengikrarkan kaul kekal. Dalam rangka inilah, pada bulan Januari 1998, aku diutus magang di sebuah organisasi perempuan di Jakarta selama 6 bulan yang memberikan perhatian utama pada isu buruh migran perempuan.
Enam bulan terlibat dalam kegiatan organisasi perempuan tersebut di masa represif Orde Baru memberikan 2 hal berkesan yang menggugah kesadaranku. Pertama, kekaguman sekaligus keprihatinanku terhadap kegigihan para buruh migran perempuan yang memutuskan bekerja di luar negeri karena tuntutan ekonomi keluarga. Walaupun mereka tahu risiko penipuan, pemerasan, penganiayaan, perkosaan, dan bahkan pembunuhan, tetapi mereka tidak pernah jera. Mereka tetap berangkat demi sesuap nasi. Benar-benar sebuah keberanian dalam mempertaruhkan hidup!
Kedua, kegentaranku ketika bersama kelompok Suara Ibu Peduli melakukan “demo susu” di bunderan Hotel Indoensia. Keprihatinan akan mahalnya harga susu, membuat pra ibu ini berani melakukan demonstrasi yang berbahaya. Keberanian para perempuan tersebut membuat aku tersentuh: “memperjuangkan hidup memang perlu taruhan nyawa.” Kedua hal berkesan itu menjadi dasar keyakinan ketika aku mengikrarkan kaul kekal setelah selesai magang. Seperti para perempuan itu, aku ingin menjalin hidup dengan lebih konsekuen.
Setelah kaul kekal, aku ditugaskan sebagai Sekretaris Propinsi. Sesuai jabatanku, aku tinggal di provinsialat atau biara pusat. Di tempat inilah, kegelisahanku bermula dan mencapai puncaknya. Berulangkali aku resah mempertanyakan arti kaul yang baru saja kuucapkan. Benarkah kaul bagiku berarti mempertaruhkan hidup atau justru sebaliknya, memperoleh kemapanan?
Mungkin bisa dikatakan “aneh-aneh” ketika aku sadari bahwa kegelisahan itu berawal ketika aku tinggal di rumah besar di provinsialat. Aku menemukan banyak “kesulitan” menjadi penghuni sebuah rumah besar di antara rumah-rumah masyarakat yang masih sangat sederhana. Kesulitan dan masalah yang kualami pada waktu itu membuat aku memahami bahwa perwujudan komunitas terbuka dan kecil di tengah masyarakat yang kami bicarakan di Kapitel Propinsi betul-betul harus secara konsekuen diwujudkan.
Kesulitan pertama kualami ketika beberapa orang kampung datang memprotes karena tembok pagar bangunan rumah besar kami menggangu pondasi rumah mereka. Pagar bumi itulah itulah yang membelokkan aliran air hujan yang pelan-pelan mengikis pondasi rumah mereka. Selain itu, selokan biara kami juga menjadi penghambat yang menyebabkan air selokan kampung meluap. Persoalan-persoalan itu memang dapat diselesaikan, tetapi dalam hati aku terus mempertanyakan, benarkah cukup dengan uang ganti rugi? Adakah pesan lebih penting yang perlu direnungkan?
Pertanyaan dalam hatiku semakin menggumpal ketika suatu hari beberapa mahasiswa yang khusus datang mewancarai memberikan pertanyaan yang tak pernah kulupakan: “Kesaksian apa yang sebenarnya ingin suster-suster tunjukkan ke masyarakat dengan membangun rumah yang megah ini di tengah rumah-rumah yang masih sangat sederhana?” Sekalipun pada saat itu aku sebisa mungkin berusaha menjawab pertanyaan itu dengan segala kemampuanku, tetapi hatiku sendiri terus menerus ikut mempertanyakannya.
Kegelisahan menjadi lebih lengkap ketika suatu sore aku didatangi seorang perempuan berpenampilan rapi tapi sedikit kurang waras. Ia berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Karena hari sudah malam ketika akhirnya aku berhasil membujuknya pulang, aku memutuskan untuk menampungnya satu malam. Tak kuduga, aku mengalami kesulitan mendapatkan satu kamar untuknya. Walaupun sudah berdebat dan berargumentasi dengan suster penanggungjawab pembagian kamar rumah pertemuan, tetap saja keputusannya adalah perempuan itu tidak boleh menginap! Dapat dibayangkan bagaimana perasaanku menyuruh perempuan itu pulang ke rumahnya pada pukul sembilan malam! Tiba-tiba saja, aku tak menemukan jawaban arti kata “solidaritas”, “option for the poor”, komunitas terbuka”. Aku mulai sulit mengerti arti kaul yang kuucapkan dan hidup yang kubaktikan. Empat bulan, aku berusaha bergulat menemukan kembali arti kaulku. Benarkah kaulku berarti mempertaruhkan hidup? Aku benar-benar tak bisa memaknainya lagi.
Menyadari kondisiku saat itu, aku merenung lebih dalam: Mengapa aku mendadak berubah menjadi demikian gelisah, mempertanyakan secara kritis hal-hal yang semula kuanggap wajar? Benarkah pengalaman 6 bulan magang dapat mengubahku demikian drastis atau sebenarnya ada penyebab yang lebih mendasar? Dalam kegelisahan yang hampir mencapai puncak aku berusaha masuk ke dalam diriku, mencari-cari, merenung, berpikir, merasa-rasa, hingga secara samar pelan-pelan kutemukan satu mutiara yang mungkin dapat disebut “akar”. Wah, aku sempat terkejut menemukan akar pergolakanku. Jika hal ini diungkapkan oleh orang lain, bisa jadi aku marah dan tersinggung. Masa sih, aku begitu? Tapi dengan hati jujur dan terbuka, aku mencoba merunut pengalaman hidupku.

 

Aku Perempuan Gigih yang Termarginalkan
Aku seorang perempuan biasa, anak bungsu dari 9 bersaudara, dilahirkan di sebuah kota di Jawa Tengah dari pasangan yang berlatar-belakang “tak lazim” yang potensial dimarginalkan. Papiku seorang keturunan Cina, beragama Katolik dan ibuku seorang perempuan Jawa tulen yang berlatar-belakang Islam. Papiku adalah teman pakdeku yang diikuti oleh ibuku sejak remaja setelah orangtuanya meninggal. Ketika papiku masih hidup, kami bersembilan dididik secara Katolik. Sedangkan ibuku sejak menikah dengan papiku, ia menjadi simpatisan Katolik, walau belum dibaptis.
Aku menilai perkawinan orangtuaku sebagai suatu keputusan kontroversial pada jamannya. Perkawinan antara lelaki Cina beragama Katolik dengan perempuan Islam merupakan sebuah perkawinan yang sulit diterima oleh masyarakat. Ada dendam dan permusuhan turun temurun antara dua etnis ini, yang kadang diungkapkan dengan cara-cara tidak rasional. Belum lagi, bila dilihat soal perbedaan agama mereka. Korban dari pertikaian itu adalah keluarga dari kedua belah pihak. Bagaimana harus mempertanggung-jawabkan hal ini pada masyarakat? Hal ini merupakan aib keluarga, karena seingatku keluarga papi dan keluarga ibu tak ingin bersinggungan dan berurusan satu dengan yang lain. Hanya ketika perusahaan papi mengalami kejayaan, aku melihat kedua keluarga ini mendekat. Tetapi ketika papi kemudian sakit dan meninggal, mereka pergi menjauh dan hingga sekarang menjaga jarak.
Tentu saja, keluarga intiku adalah korban utama. Setelah papi meninggal, ibuku menunjukkan ketangguhan dan keuletannya membesarkan kami sendirian. Ketika kecil, aku sedikit bingung, mengapa aku tidak dapat berakrab-akrab dengan saudara-saudara sepupuku? Mengapa ibu tidak mengijinkan kami beramah-tamah dan berelasi dengan saudara papi? Baru setelah aku dapat menghubung-hubungkan ceritera dan peristiwa, aku mengerti situasi yang terjadi dalam keluargaku.
Kesulitan cukup mendasar kami alami ketika ibu membawa kami pindah ke lingkungan Jawa setelah papiku meninggal. Aku tidak banyak ingat pengalaman tentang papiku, karena ia meninggal ketika usiaku baru 3 tahun. Tinggal di lingkungan yang homogen Jawa dengan stigma “keturunan Cina” memang tidak mudah. Aku ingat ceritera kakakku, betapa pada awalnya mereka sulit mengubah panggilan dari “mami’ ke panggilan “ibu”. Tetapi, ibuku meminta sedikit paksa, karena tak ingin terlihat mencolok dan aneh di lingkungan kami. Sama sulitnya ketika kami juga berusaha menyesuaikan cara hidup dan kebiasaan yang sudah pasti berbeda.
Benarkah harus demikian? Tak bolehkah kelihatan berbeda dan tidak sama? Begitu pertanyaan-pertanyaanku semasa kecil. Ternyata, memang tidak boleh kelihatan berbeda. Berbeda berarti tak masuk kelompok, dikucilkan. Satu pengalaman yang tak pernah kulupakan adalah “cap” yang diberikan kepadaku karena penampilan fisikku yang berbeda dengan anak-anak kampung pada umumnya. Teman-teman kecilku sering berteriak-teriak memanggilku: 'anak Cina…anak Cina!’ terutama kalau mereka sedang jengkel dan bermusuhan denganku. Biasanya, aku pulang sambil menangis, bersembunyi dan tinggal di rumah saja, sampai ada teman yang mau bermain lagi denganku. Tentu saja, teriakan itu tidak enak di telingaku, apalagi sikap permusuhan mereka, sepertinya aku dianggap anjing kurap saja, siapa yang mau mendapat perlakuan begitu?
Perlakuan itu ternyata benar-benar membekas dan membuatku bertanya-tanya dalam hati: mengapa mereka menolakku karena aku anak Cina? Bertahun-tahun pertanyaan ini terus mendengung di telinga hatiku, membuatku diam-diam gelisah. Akhirnya, aku terdorong untuk membuktikan bahwa anak keturunan Cina sama dengan keturunan suku yang lainnya.Tetapi, kakak-kakakku memberikan tanggapan yang berbeda terhadap cap “anak Cina” ini. Mereka lebih suka menyembunyikan identitas mereka sebagai keturunan Cina dan menampilkan diri sebagai seorang “Jawa tulen.” Benarkah harus demikian? Tak bolehkah kelihatan berbeda dan tidak sama?
Aku merasa dimarginalkan oleh lingkunganku, bukan hanya persoalan etnis saja, tetapi juga soal keberagaman agama dalam keluargaku. Sejak papi meninggal, ibuku memberi kebebasan setiap anaknya dalam memilih agama. Beberapa dari kami tetap memilih agama Katolik, tetapi ada yang mengikuti agama suami atau isteri mereka: Kristen Protestan dan Islam. Keberagaman agama ini tidak pernah kami permasalahkan, karena kami anggap sebagai ungkapan kebebasan setiap pribadi.
Aku sendiri memilih Katolik, karena sejak TK aku bersekolah di sekolah Katolik bersama 2 kakak perempuanku. Aku dibaptis ketika kelas 2 SLTP setelah mengikuti pelajaran agama selama 3 tahun. Sejak itulah aku sangat aktif mengikuti kegiatan-kegiatan gerejani seperti pendalaman kitab suci, kelompok koor wilayah dan sekolah, muda-mudi Katolik, camping rohani dan rekoleksi rutin yang diadakan di susteran.  Keterlibatanku dalam kegiatan-kegiatan ini merupakan usahaku untuk membuktikan bahwa aku menghayati hidup keagamaanku dengan tekun. Tetapi, walaupun demikian, aku masih sering merasa “tidak termasuk.”  Pertanyaan: “Siapa nama orangtuamu, kok saya belum pernah mendengar atau mengenalnya? Apakah ayah ibumu juga aktif di wilayah atau Gereja?
Pertanyaan itu bagiku sama persis dengan pertanyaan yang mempertanyakan ke-cina-anku. Apakah ini berarti keluargaku yang terdiri dari beragam agama tidak termasuk dalam lingkungan keluarga beriman? Aku merasa keterlibatanku masih tidak diperhitungkan bukan hanya karena ibuku tidak aktif di Gereja dan belum dibaptis, tapi juga karena ia seorang janda. Dalam setiap agama, memang perempuan janda dan anak yatim piatu dianggap makhluk lemah yang harus dilindungi. Apabila dalam keluarga seorang janda terdapat berbagai agama yang dianut, maka ada kesan dan penilaian bahwa janda itu gagal mendidik anak-anaknya menjadi beriman. Secara tidak terus terang, aku merasa dikategorikan sebagai anak dari seorang janda tak beriman, warga kelas dua dalam lingkungan orang beriman. Benarkah demikian? Tak bolehkah menjadi berbeda dan beragama? Haruskah selalu seragam?
Pengalaman “dimarginalkan” membuatku menjadi seorang yang gigih sekaligus gelisah. Aku berusaha membuktikan bahwa aku sebenarnya sederajat dengan mereka yang memarginalkanku. Aku menjadi sangat tekun memperdalam iman dengan banyak berdialog dengan pastor dan suster, rajin mengikuti misa harian/mingguan, mengikuti rekoleksi setiap bulan, dan bahkan melakukan retret pribadi setiap catur wulan dibimbing seorang suster. Dan jika kemudian aku memutuskan masuk biara, aku mengartikannya sebagai bagian dari kesungguhanku membuktikan bahwa tak seorang pun boleh mengalami perasaan termarginalkan karena perbedaan yang dimilikinya.

 

Hidup Dalam Biara Suci
Ketika aku masuk biara tahun 1987, aku menggambarkan bahwa hidup di biara penuh diwarnai cinta kasih, tidak ada pembedaan dan pengkelasan, dan seluruh hidup diarahkan kepada pelayanan kepada Tuhan melalui sesama. Seorang suster atau perempuan religius yang ideal bagiku adalah seseorang yang saleh, baik hati, taat, bersikap melayani, suka menolong, kreatif, rendah hati dan sabar. Maka segala kemampuan beradaptasi dan belajar kuarahkan kepada figur ideal tersebut.
Dalam 3 tahun masa pendidikan di postulat dan novisiat, aku mengalami “live-in” di Silir selama 4 hari, sebuah kompleks WTS di Solo, dan tinggal di barak penampungan para gelandangan selama 4 bulan. Jika direnungkan kembali, pengalaman “live-in” ini merupakan pengalaman luar biasa dan penuh perjuangan. Tidak mudah menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang terlupakan dan termarginalkan di masyarakat. Tapi yang mengherankan, jika itu pengalaman berharga bagiku, mengapa pengalaman itu tak mempengaruhi sedikit pun perjalanan hidupku selanjutnya? Apa yang keliru?
Aku terkejut ketika aku menemukan jawabannya. Ternyata aku hidup bertopeng. Aku memang senang mendapatkan pengalaman-pengalaman menantang seperti yang kuungkapkan di atas, tetapi di bawah sadarku aku sebenarnya menolak pengalaman tersebut terinternalisasi ke dalam diriku. Aku tak ingin mengalami kembali pahitnya menjadi seseorang yang termarginalkan. Itulah sebabnya ketika aku kembali ke biara, gaya dan cara hidupku kembali seperti semula. Seakan pengalaman menantang itu hanya menjadi bagian cerita masa lalu. Pengalaman sakit dan pahitnya termarginalkan, mendorong aku lebih memilih gaya hidup mapan dan aman. Lebih dalam dari itu, sebenarnya aku lebih disibukkan dengan usaha-usahaku untuk membuktikan bahwa aku mampu dan dapat diandalkan. Usahaku memang berhasil. Orang-orang di sekitarku mengenalku sebagai seorang suster yang kreatif dan dapat diandalkan. Lalu bagaimana sebenarnya arti kaul “melarat, wadat, dan taat” bagiku pada saat itu?
Dalam konstitusi kami, kaul kemisikinan diartikan sebagai kebergantungan kepada Allah dan sikap berani melepas harta milik, supaya bisa bersikap solider pada mereka yang membutuhkan pertolongan. Pengalamanku hidup sebagai seorang elit Gereja, menghayati kaul kemiskinan tidaklah mudah. Aku sering bingung mengkritisi penghayatanku sendiri. Aku memang tidak menerima gaji, misalnya aku seorang guru, seluruh gajiku kuserahkan kepada biara. Tetapi, standar dan gaya hidupku sangat berbeda dengan orang biasa. Aku tak pernah kuatir akan kebutuhan sehari-hari. Aku tidak perlu bingung memikirkan biaya kontrak rumah, bayar listrik, pakaian dan makan sehari-hari. Fasilitas cukup lengkap dan ketika aku sakit, jaminan kesehatan begitu prima. Lebih dari itu, sebagai kaum elit Gereja, aku sangat dihormati oleh umat, termasuk para karyawanku, bahkan disediakan juga kemudahan-kemudahan dan hak istimewa.
Aku tidak pernah bingung kehilangan privacy, karena aku mempunyai kamar mandi, di mana aku bisa mengerjakan kegiatan-kegiatan pribadiku tanpa gangguan orang lain. Orang harus menungguku di ruang tamu jika aku sedang bermeditasi. Kadangkala keistimewaan ini kusalah-gunakan. Aku bersembunyi di kamar dan tak mau menemui seseorang yang tak kusukai dengan alasan sedang bersemedi atau sibuk dengan pekerjaan lain.
Sedangkan kaul kemurnian diartikan sebagai janji hidup murni tidak menikah demi Kerajaan Allah, memiliki cinta tak terbagi hanya untuk Allah. Dengan kaul kemurnian, seseorang akan dibebaskan dari kekerasan hati, dari keinginan tak teratur untuk memiliki orang lain, dari ketakutan menderita, dari iri hati dan dengki, dari ketakutan akan kesepian, supaya bisa mengabdi dengan total dan memiliki sikap lepas bebas dan penyangkalan diri. Dalam perjalanan kemudian, aku sadar bahwa kaul kemurnian ternyata sangat sulit dihayati. Aku yang mengucapkan janji hendak memberikan hatiku hanya bagi Allah, ternyata tidak bisa menolak cinta seorang pastor. Karena bingung, aku meminta nasihat pastor pembimbingku. Dengan arif sekali, pastor setengah baya itu menjawab, “Apakah kamu bahagia dicintai! Jika bahagia, jangan dibuang perasaan itu…nikmati saja!”
Aku berusaha mempraktikkan nasihat itu, tapi aku tetap bingung karena bagiku “menikmati” berarti membiarkan hubungan itu berlangsung. Bukankah itu tidak boleh? Bagaimana nih? Batinku terus bergumul. Sebenarnya, aku ingin mempersembahkan hati melulu bagi Tuhan, tetapi betapa aku sering menangis kebingungan menyadari bahwa tubuhku menuntut apa yang seharusnya kealami pada usia matangku. Walaupun aku telah belajar cara menanggulanginya, seperti berdoa dan latihan rohani, tetapi kadang ilmuku itu tidak mempan. Aku merasakan amat kesepian. Persaudaraan dengan para suster yang jumlahnya puluhan tidak dapat mengisi kekosongan hatiku. Kaul kemurnian tidak secara instan membebaskan aku dari kesepian.
Pada saat yang sama, mataku mulai terbuka melihat hubungan-hubungan gelap yang terjadi di lingkungan Gereja Katolik antara suster dengan pastor, antara suster dengan laki-laki awam, atau antara pastor dengan perempuan awam. Aku sebenarnya bisa paham mengapa relasi semacam itu dibenarkan untuk mengatasi kesepian? Haruskah aku juga memilih trend yang sering disebut jalan ketiga itu?
Kaul kemurnian ternyata juga tidak secara instan membentukku menjadi seorang suster yang baik hati, percaya, terbuka hati terhadap siapa pun. Aku merasa sering terlalu  hati-hati, mudah buruk sangka pada orang yang nampak asing dan mencurigakan, penuh pertimbangan ketika harus menolong orang karena aku memikirkan banyak hal. Jangan-jangan aku melakukan kesalahan yang merugikan biaraku…jangan-jangan….jangan…jangan.
Kaul ketaatan diartikan sebagai penyerahan total kepada kehendak Allah, seperti Yesus taat kepada Bapa-Nya. Kaul ini dihayati sebagai sikap taat kepada pemimpin sebagai wakil dan kepada Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Perwujudan lain dan sikap terbuka pada kebutuhan sekitar. Selama 12 tahun di biara, aku merasa tak mendapatkan masalah dalam penghayatan kaul ketaatan, sebab aku adalah sosok pribadi yang penurut. Bagiku, taat berarti menurut kata pemimpin. Aku juga tidak melihat keanehan dengan struktur hierarki yang dipenuhi oleh laki-laki. Beberapa pengalaman yang kudengar tentang para perempuan yang tersubordinasi juga tidak membuatku tergugah. Apa salahnya jika para suster taat kepada pemimpin-pemimpin Gereja yang semuanya laki-laki? Bukankah memang seharusnya demikian ketaatan dihayati?
Pengalaman magang yang memberiku peluang berbenturan langsung dengan pengalaman mempertaruhkan hidup mengingatkan aku pada hidup yang tidak mapan, termarginalkan dan perasaan “tidak termasuk” yang dulu kualami. Harus kuakui, pengalaman ini merupakan peristiwa titik balik dan pencerahan. Aku menyadari bahwa selama itu aku lari dari  pengalaman menyakitkan dan mati-matian berusaha tampil sebagai seorang pribadi yang lain. Seharusnya, pengalaman menyakitkan itu justru membuatku berempati pada mereka yang termarginalkan. Segera aku merasa perlu banting stir, bangun dari tidur dan memulai lagi peziarahan mencari makna hidup, dan eksklaustrasi menjadi pilihanku. Aku mulai mempertanyakan kaul-kaulku.

 

Pergulatanku Sebagai Perempuan Anggota Gereja
Pergulatanku mempertanyakan arti hidup ternyata tidak hanya berhenti pada diriku pada diriku sendiri. Melalui interaksi intensif dengan teman-teman aktivis dari berbagai agama, aku mulai memperhatikan dengan lebih kritis kehidupan beragama dalam Gerejaku. Aku ingat, ketika SLTP sewaktu menjadi baptisan baru, aku pernah mempertanyakan mengapa pimpinan Gereja semuanya laki-laki. Oleh guru agamaku, pertanyaan itu dijawab bahwa itu warisan leluhur, para bapa bangsa, para nabi, dan para rasul, semuanya atau sebagian besar adalah laki-laki. Selain itu, ditunjukkan beberapa ayat yang meneguhkan pendapatnya, seperti misalnya perkataan St. Paulus yang menyebutkan bahwa laki-laki adalah citra Allah dan perempuan adalah citra laki-laki (Korintus 11:7-9); bahwa perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat  1Korintus 11:34-35 dan bahwa perempuan tidak boleh mengajar dan memerintah laki-laki 1Timotius 2:11-15. Tentu saja, aku percaya dengan jawaban itu, tetapi sekarang muncul dalam permenunganku, mengapa demikian? Mengapa peran perempuan Katolik lebih banyak sebagai supporting system bagi pelayanan pastor?
Semakin aku mengamati, makin aku bertanya-tanya, benarkah peran supporting system bagi perempuan Katolik itu karena mereka tidak mampu ikut duduk dalam kelompok pengambil keputusan dalam Gereja? Banyak perempuan Katolik berpikiran maju dan keterlibatan mereka di masyarakat dapat diandalkan, tetapi mengapa ketika masuk dan berkegiatan dalam Gereja, aktivitas mereka hanya sebatas kegiatan-kegiatan liturgis dan karitatif atau sosial. Jabatan kepengurusan yang biasa mereka pegang umumnya bendahara, sekretaris, atau seksi sosial. Mengapa? Apakah benar perempuan Katolik tidak mampu ikut memimpin Gereja?
Sejauh yang kuketahui, dalam struktur Gereja Katolik, ada pengkelas-kelasan berdasarkan status. Para pastor yang sering disebut “gembala umat” dikategorikan sebagai “panutan” atau “raja” di hadapan umat. Di kalangan umat sederhana, mereka dianggap “dewa” yang tidak pernah bisa salah, harus dilayani, didengarkan dan dilindungi. Karena para pastor ini hidup demi melayani umat, maka seluruh hidup mereka pun ditanggung oleh umat yang kadang kala sering berlebihan melayani mereka. Salah satu contoh adalah bagaimana umat berusaha keras menyajikan masakan yang sangat istimewa untuk pastor ketika mereka mendapatkan giliran “caos dhahar kagem pastor” menyediakan makanan bagi pastor, walaupun untuk keluarga sendiri tak lebih dari tahu tempe setiap hari. Selain pastor, para suster dan bruder juga terkategori sebagai kalangan elit Gereja.
Jika boleh jujur, aku menilai bahwa setiap orang yang memilih hidup menjadi pastor, bruder, suster di Indonesia termasuk aku dulu secara langsung mengalami perubahan status sosial, dari kalangan rakyat biasa menjadi “termasuk dalam kalangan elit Gereja.” Segala hak istimewa, jaminan, penghormatan, dan kemudahan-kemudahan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Semua hal yang biasa dilakukan di rumah kemudian harus berubah dan berganti dengan gaya hidup baru yang mungkin sama sekali lain dari budaya di rumah, karena besarnya pengaruh budaya barat di seminari-seminari dan biara-biara.
Kaum elit Gereja sering menyebut diri “pelayan Tuhan” atau “para pekerja kebun anggur Tuhan,” sebutan yang sangat kontradiktif dengan realitasnya. Aku menyebut “kami” karena aku merasa pernah termasuk menyamakan diri dengan para buruh kasar, kelas rendah, kaum sudra, tetapi kedudukan dan posisi kami adalah “tuan pemilik kebun anggur”, “tuan rumah,” “boss,” “orang yang menggaji para buruh itu.”  Kami punya sekian jumlah pelayan yang secara halus kami sebut “karyawan” atau “mitra kerja.” Aku merenungkan, berapa banyak karyawan dan mitra kerja kami yang demikian penuh dedikasi mendukung pelayanan kami kaum elit Gereja, tanpa mengeluh, walaupun mendapat upah yang kurang memadai, dan sering mendapat perlakuan yang tidak adil dari “para pelayan Tuhan” ini? Sering, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah sebenarnya kekhususan kaum elit Gereja ini? Benarkah kekhususan itu boleh dijadikan alat legitimasi terciptanya perbedaan kelas dan perlakuan tidak adil terhadap kelas lebih rendah?
Di antara kaum elit Gereja sendiri, perempuan tetap menjadi kelompok termarginal. Para suster yang berkaul ketaatan (selain kemiskinan dan kemurnian) harus taat pada pemimpin termasuk para pemimpin Gereja. Maka sebagian besar hidup mereka, terutama kehidupan rohani, sangat tergantung pada kehadiran pastor. Peran pembimbing rohani dan penasihat biara biasa diserahkan kepada pastor, selain pelayanan sakramen seperti Sakramen Tobat, Sakramen Ekaristi, Sakramen Pengampunan Dosa, dan Sakramen Perminyakan Suci. Sedemikian tergantungnyakah?
Aku semakin terhanyut ketika aku ingat pengalaman-pengalaman yang selama ini kuketahui, tetapi demi keamanan aku pura-pura tidak tahu. Karena posisi tersubordinasi, sering para perempuan religius ini menjadi korban ketidak-adilan dan pelecehan seksual para gembala umat yang kurang bertanggung-jawab. Tidak sedikit, para perempuan ini harus menurut dan tetap diam ketika menjadi pelampiasan nafsu para pastor yang mereka hormati. Tidak sedikit yang terluka akibat permainan cinta yang dilakukan oleh laki-laki yang demi status tidak dapat menikah ini. Yang mneyedihkan, para perempuan ini harus menanggung akibat perbuatan itu sendirian, terluka, keluar, dan menjadi single parent karena sering para gembala umat ini tetap ingin mempertahankan status mereka. Lebih menyedihkan, karena Gereja nampaknya lebih memilih sikap “diam adalah emas” dan tidak bertindak apa-apa melihat ketidak-adilan ini.
Pergulatan di atas ternyata tidak hanya sebatas pergulatan di tingkat pemikiran, tetapi juga menjadi pengalaman pribadi. Keputusanku tinggal di luar biara sebagai perempuan biasa ternyata melemparkan aku dari status perempuan yang “berkasta brahmana” ke status perempuan yang “berkasta paria,” menurut kalangan umat Katolik. Suatu hari, aku hadir dalam sebuah pertemuan perempuan Katolik. Salah seorang teman memperkenalkan aku pada seorang ibu dengan sebutan “bekas suster,” dan segera kulihat reaksi pandangan mata dan sikap yang sulit kuterjemahkan. Aku tiba-tiba merasa asing dan kikuk. Dalam hati, aku marah dan merasa termarginalkan. Aku menegur temanku itu, supaya ia tidak lagi memperkenalkan aku sebagai “bekas” suster. Namun, segera aku mengoreksi sikapku sendiri. Jika pilihanku untuk keluar membuatku terlempar ke tempat terendah di antara orang-orang Katolik sendiri, mengapa aku jadi merasa rendah diri? Bukankah dengan demikian aku menjadi senasib dan dapat berempati terhadap orang-orang yang tersisih dan terpinggirkan di masyarakat? Aku merasa menemukan makna yang lebih dalam menjadi perempuan biasa. Selain itu, aku semakin menyadari betapa pengkelas-kelasan dalam Gereja membuat orang tidak lagi bersemangat dalam cinta kasih.
Pengalaman tak terduga lainnya yang kualami selama masa eksklaustrasi adalah ketika aku mengalami ketidak-adilan karena jatuh cinta dengan seorang pastor. Pengalaman ini dimulai ketika seorang pastor penegak hak asasi manusia dan pencinta orang miskin, menyatakan cinta padaku. Aku menjadi terlambung tinggi, karena terus terang, aku mengaguminya sejak dulu. Sebagai seorang perempuan normal, tentu aku kemudian ingin membalas cintanya. Tapi sayang, ia tidak berani jujur, kaulnya untuk tidak menikah seumur hidup membuatnya takut melanjutkan hubungan kami. Jika relasi berlanjut, ia menginginkan relasi itu tetap menjadi sebuah rahasia. Ia menjadi gelisah, antara ingin jujur dan ingin tetap menjadi figur pastor yang ideal. Akhirnya, mungkin ini puncak ketakutannya, ia meninggalkan aku begitu saja tanpa ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Mengapa harus lari dan minggat, bukankah ia cukup dewasa untuk mengajakku berdialog dan mencari jalan keluar masalah ini bersama-sama? Nampaknya, ia tak punya cukup keberanian untuk secara dewasa menyelesaikan masalah kami, maka ia memilih lari. Tentu saja, aku marah dan memberontak. Sulit bagiku mempercayai, bahwa seorang pejuang hak asasi manusia seperti dia bisa demikian pengecut dalam mengatasi kemanusiaannya sendiri.
Jika aku berseru menuntut keadilan, sudah tentu aku yang akan dicap bersalah, penggoda, genit, dst.  Bukankah selalu demikian stigma bagi perempuan? Ia seorang gembala umat yang saleh dan figur andalan, bagaimana mungkin melakukan hal yang demikian menggelikan, pasti si perempuan yang berusaha menggoda! Pengalaman ini mendorongku untuk mempertanyakan arti “imamat” yang demikian dijunjung tinggi oleh umat Katolik dan mungkin oleh masyarakat. Apa arti imamat sebenarnya? Apakah demi status agung tersebut seorang imam dianggap sah bersifat munafik, melakukan tindakan pengecut dan tidak bertanggungjawab? Aku telah menulis surat kepada seorang Uskup yang kukenal untuk meminta keadilan, tetapi hingga tulisan ini kubuat belum juga ada langkah pasti yang mejawab seruanku. Mengapa pimpinan Gereja selalu bersikap diam membisu? Masihkah Gereja bercita-cita memihak kaum miskin dan tertindas?


Mimpiku, Harapanku
Pengalaman pergulatqan yang kualami secara mendalam selama masa eksklaustrasi benar-benar mendorongku menemukan makna yang lebih berarti dalam hidupku sebagai perempuan biasa. Ada proses pemurnian dalam diriku bahwa “hidup mengabdi Tuhan,” bukan soal status, tetapi kesungguhan terlibat dalam hidup orang lain yang membutuhkan. Hidup mengabdi Tuhan memerlukan kebebasan dan ketulusan batin. Bukan demi kebesaran nama sendiri, tetapi demi dibebaskannya banyak orang dari kemiskinan mereka. Makna baru ini membawaku pada keputusan untuk tidak kembali ke biara dan terus bertekun dalam kegiatan yang hingga sekarang kulakukan bersama teman-temanku. Walaupun demikian, sebagai perempuan Katolik biasa aku tetap mempunyai harapan dan impian:
Aku bermimpi, Gereja Katolik, yang banyak dikenal mencintai perdamaian dan mengajarkan cinta kasih, berani berkaca diri dari pengalaman sehari-hari para pemimpin dan umatnya.
Aku bermimpi, Gereja Katolik berani membuka karpet indah di altar, dan belajar dari tindak ketidak-adilan yang dilakukan para pastor terhadap perempuan. Jika kekuasaan sering disalah-gunakan untuk menindas dan mensubordinasi manusia yang berjenis kelamin perempuan, beranikah Gereja Katolik mulai membuka mulut dan bersuara membela kaum tertindas ini?
Aku bermimpi, Gereja Katolik bersedia mengkaji kembali apakah “imamat” menjadi identik dengan arti “harus tidak kawin?” Mengingat imamat itu sakramen persembahan diri yang luhur dari seorang pastor kepada Allah, bukankah lebih baik dilakukan dengan kebebasan batin tanpa keterpaksaan? Jika di antara para pastor itu ada yang tidak kuat menahan segala gejolak kemanusiaannya, bukankah lebih baik diijinkan menikah, daripada secara membabi buta mencari pelampiasan dan selalu yang menjadi korban adalah para perempuan?
Aku bermimpi, bahwa pengkelas-kelasan dalam Gereja dihapuskan saja, sebab banyak membuat manusia yang berusaha mewujudkan cintakasih justru menjadi tidak manusiawi. Menurutku, selama hierarki Gereja Katolik bersifat sentralistik dan struktural, pengkelas-kelasan dalam hidup orang Katolik tetap terjadi dan sikap “solider” tidak pernah menemukan makna yang utuh, karena penguasa tak mungkin memiliki sikap solider sejati terhadap hambanya. Selalu ada gap, berupa kekuasaan, kekayaan harta milik, gaya hidup, peluang, kemudahan, hak istimewa yang membuat penguasa tak bisa setara dengan hambanya.
Aku bermimpi, Gereja Katolik berani membongkar hierarkinya yang sentralistik dan menyusun kembali sebuah hierarki yang setara berkeadilan. Hierarki ini nampaknya lebih menjanjikan peluang untuk perwujudan cintakasih sejati, karena memberi tempat setara antara perempuan dan laki-laki.
Aku bermimpi, hierarki setara yang berkeadilan tidak meletakkan kepemimpinan mutlak di tangan laki-laki, karena memang tak satu dokumen Gereja atau ayat Kitab Suci atau hukum apa pun yang mengharuskan kepemimpinan di tangan laki-laki. Di hadapan Allah semua manusia sama dan setara, maka sudah waktunya Gereja melibatkan para perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Aku bermimpi, hierarki setara yang berkeadilan mengusahakan sebuah relasi manusia yang setara, maka kelas-kelas dalam Gereja benar-benar harus dihapus. Karena semua orang dipanggil pada kekudusan, maka tidak perlu ada kekuasaan, fasilitas, hak-hak istimewa, kemudahan-kemudahan serta penghormatan secara berlebihan dari umat kepada kaum elit Gereja. Di hadapan Allah, semua manusia setara. Kekhususan kaum elit Gereja tidak terletak pada besarnya kekuasaan mereka terhadap umat, tetapi pada pilihan dan cita-cita luhur mereka yang benar-benar ingin melulu mengabdikan seluruh hidup mereka bagi Allah, tidak kawin demi Kerajaan Surga.
Aku bermimpi, bahwa yang membuat umat memberikan penghargaan dan penghormatan kepada kaum elit Gereja bukanlah status mereka, tetapi karena kesetiaan, mereka kepada kaul, kesediaan mereka meninggalkan semua karena Kristus (bdk. Markus 10:28), keinginan mereka mengikuti Yesus sebagai satu-satunya yang diperlukan (bdk. Lukas 10:39), dan prihatin tentang hal-hal yang menjadi urusan-Nya (bdk. 1Korintus 7:32).
Aku mengerti, ada satu kesulitan yang mungkin dihadapi untuk melakukan penghapusan kelas, yaitu harta milik kaum elit Gereja yang banyak, berupa rumah-rumah megah, tanah yang luas, dll.  Mau dikemanakan semua hal itu? Aku mengerti, tak mungkin diwujudkan kesetaraan dengan kenyataan bahwa harta milik tersebut yang membuat kaum elit Gereja lebih tinggi daripada yang lain. Tetapi, aku ingat kata Yesus “Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung daripada dengan utuh kedua tanganmu kamu dibuang ke dalam neraka. Dan jika matamu menyesatkan engkau cungkillah, karena lebih baik engkau bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, dimana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam” (Markus 9:43,47,48).
Bisa jadi semua harta itu yang membuat hati para elit Gereja jadi takut melayani dengan total. Maka menurutku, karena tujuan pelayanan kaum elit Gereja adalah kesejahteraan umat manusia, mengapa harta-harta tersebut tidak diserahkan saja semuanya untuk kesejahteraan orang miskin di sekitar mereka, termasuk karyawan dan hamba yang biasanya diperlakukan dengan “pelit” dan kurang manusiawi?
Aku berharap bahwa tahun rahmat Jubileum menjadi saat tepat bagi Gereja Katolik untuk memulai perubahan, mewujudkan hierarki yang setara berkeadilan, dimana semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, baik para religius maupun awam, bersama-sama dalam posisi yang setara, mengusahakan kesejahteraan masyarakat dengan menyumbangkan kemampuan masing-masing.

Tahun rahmat Jubileum ini juga menjadi awal sebuah hidup baru bagiku, hidup baru sebagai seorang perempuan Katolik biasa yang tetap percaya bahwa bagaimanapun aku, apapun statusku, dan siapapun diriku, perwujudan cinta kasih tetap menjadi nomor satu.

 

 

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN

KESAKSIAN KISAH NYATA

 

 


 

 

 

 DR. dr. RM Tedjo Oedono Oepomo

 Saat ini beliau berprofesi sebagai dosen Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas GAJAH MADA, dan berjemaat di Gereja Yerusalem Baru, Jogjakarta
================================================================================

 

ILMU HITAM & PUTIH VS KEBENARAN

 

Keluarga Dukun Keraton
Aku dilahirkan di dalam lingkungan keluarga keraton. Dan keluargaku adalah trah keluarga dukun keraton. Sejak kecil aku sangat mengagumi ilmu-ilmu kadigdayan gaib yang dimiliki oleh para sesepuh keluarga.
Kakekku memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ia bisa menghilang. Bahkan hadir di empat tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Beliau juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan tenaga gaibnya. Pamanku juga sangat tinggi ilmunya.
Di lingkungan keraton, sejak usia sekolah dasar aku mendapatkan guru-guru khusus. Mereka mengajarkan tentang berbagai ilmu agama dan falsafah Jawa.
Salah satunya adalah ilmu kebatinan. Aku sangat tertarik dan tekun mempelajari ilmu-ilmu ini. Selain kekagumanku pada misteri keajaibannya, melalui ilmu-ilmu ini aku juga ingin hidup mendekatkan diri pada Tuhan yang Mahakuasa.

Ilmu-ilmu Perdukunan
Di dalam ilmu perdukunan dan kebatinan dikenal adanya empat tingkatan. Yaitu tingkat kasantosan, kadigdayan, kawijayan dan kasampurnan.
Kasantosan berarti menguasai berbagai ilmu dasar seperti mendapatkan dan memelihara jimat-jimat, ilmu kekebalan dan gendam. Kadigdayan, selain menguasai ilmu dasar, juga menguasai ilmu yang lebih tinggi lagi. Seperti ilmu santet, ilmu terawang. Berikutnya adalah kawijayan. Di tingkat ini seseorang akan memiliki kemampuan rogoh sukma dan transfer roh-roh. Sedang kasampurnan adalah tingkatan tertinggi dalam ilmu perdukunan. Orang itu menyatu dengan roh yang dia ikuti dan ini kekuatannya sangat tinggi sebanding dengan roh yang dia ikuti itu.
Untuk mendapatkan ilmu-ilmu ini, tidaklah mudah jalan dan caranya. Berbagai syarat dan ritual harus dijalani dengan berbagai resikonya.
Banyak yang gugur sebagai murid perdukunan dan tidak sedikit yang menjadi gila. Karena sulitnya itu, aku menganggap inilah jalan "Tuhan" yang sejati.

Menjadi Murid dan Guru
Minatku belajar okultisme atau ilmu perdukunan makin bergairah dan aku termasuk seorang anak yang dianggap sangat berbakat. Hal ini tidak mengherankan. Karena sejak dalam kandungan aku telah di "doa" kan oleh kedua orang tuaku dan para sesepuh keluarga. Dengan harapan, aku kelak menjadi orang yang memiliki kadigdayan atau memiliki kemampuan yang tinggi dalam ilmu kabatinan.
Berbagai ilmu telah aku kuasai sejak masa kecilku, di antaranya: ilmu santet, ilmu pelet, ilmu terawang, ilmu gendam, telepati atau ilmu sirep, kekebalan, dan lain-lain. Oleh sebab itu, aku menjadi anak yang sangat popular, disegani dan ditakuti di lingkunganku pada waktu itu. Inilah yang menjadi akar dari adanya rasa kesombongan dalam diri seseorang yang belajar ilmu kebatinan. Diakui atau tidak diakui, ia akan merasa lebih super daripada manusia-manusia lainnya, demikian juga keadaanku pada waktu itu.
Selain menjadi murid, aku juga seorang guru. Aku mengajarkan ilmu kebatinan ini kepada murid-muridku sendiri. Dan muridku itu rata-rata umurnya lebih tua dari aku bahkan ada orang-orang yang sudah lanjut usia.
Waktu itu aku masih duduk di kelas 5 SD, namun secara ilmu aku dianggap lebih tua. Dan ini terus berlangsung sampai aku dewasa dan kuliah di Fakultas Kedokteran.

Mempraktekkan Ilmu
Bagi seseorang yang telah mendapatkan ilmu, mempraktekkan ilmunya adalah sesuatu kebanggaan dan kepuasan tersendiri. Waktu kecil aku telah mempraktekkan ilmu santetku. Suatu hari aku dikecewakan dan dicaci maki oleh seseorang penjahit pakaian. Karena tidak terima atas perlakuannya ini, maka aku santet orang itu.
Yaitu dengan menempatkan seekor kodok dalam baskom yang berair. Melalui mulut kodok itu aku masukan satu balon udara kedalam perutnya dengan ujung balon menjulur keluar. Aku meditasi dengan membaca mantra-mantra sambil memandang foto orang itu, balon aku tiup, maka perut kodok itu menjadi menggelembung. Kemudian aku ikat dan aku lepaskan kodok itu di baskon tadi. Di rumahnya, penjahit itu tiba-tiba perutnya menggelembung dan merasakan kesakitan. Dia telah kena ilmu santetku. Dia keluar masuk rumah sakit sampai uangnya habis tapi penyakitnya tidak ditemukan dan tidak sembuh-sembuh. Kemudian dia pergi ke seorang dukun.
Dukun itu memberitahu si penjahit agar datang ke rumah seorang anak yang pernah dia caci maki untuk minta maaf. Karena anak kecil itu adalah seorang dukun. Ketika penjahit itu datang dan minta maaf. Mudah saja bagiku menyembuhkan orang itu, aku cabut balon itu dari katak dan orang itupun sembuh. Itulah keasyikannya.
Ilmu lain yang juga aku praktekkan adalah ilmu gendam. Jika aku ingin makan durian, aku tidak perlu membelinya. Aku datangi saja penjual duren. Kemudian aku tepuk orang itu, maka dia akan memberikan duren-duren yang aku minta tanpa membayar. Nanti kalau aku sudah pergi, penjual itu akan kebingungan karena beberapa durennya tidak ada. Kemudian dia sadar bahwa dia telah kena tipu dengan menggunakan ilmu gendam, istilah umumnya adalah ilmu tepuk.
Aku juga punya ilmu untuk menebak nomor buntutan. Tinggal siapa yang membayar lebih banyak. Bandarnya atau pembelinya. Karena bagiku mudah saja menebak nomor yang akan keluar. Dari sini aku bisa mendapatkan uang banyak sekali. Maka sejak kecil aku menjadi tidak menghormati dan meremehkan orang tua, karena sudah bisa mencari uang sendiri. Bahkan bisa mengambil uang yang disimpan orang tua di almari besi yang terkunci. Karena aku punya tuyul-tuyul. Tinggal memerintahkan tuyul itu untuk mengambil uang.
Dari sini seharusnya sudah dapat aku sadari, sebenarnya siapa yang aku ikuti. Namun karena terpesona dengan kemampuan-kemampuan gaib itu, maka hati menjadi tertutup dan tidak mau menanyakan lagi siapa sebenarnya di balik ilmu-ilmu itu.

Keluar Dari Ilmu Hitam
Dengan seringnya mempraktekkan ilmu gendam dan beberapa ilmu lainnya, lama-lama timbul kesadaran dalam diri. Aku ini dari keluarga terhormat dan bapakku adalah seorang profesor di perguruan tinggi terkenal dan tokoh masyarakat. Sebagai anaknya perasaanku menjadi tidak enak dengan perbuatan-perbuatanku itu. Kemudian aku keluar dari perguruan ilmu hitam masuk ke perguruan ilmu putih.
Di dalam perguruan ilmu putih ini, aku harus mengalami pelepasan terhadap ilmu-ilmu hitam yang aku miliki. Inilah keanehannya, aku belajar pada sumber yang sama, tetapi harus kelepasan ketika mengambil jurusan berbeda.
Sebenarnya sumber dari dua ilmu ini adalah sama, yaitu dunia roh-roh. Maka pada keadaan tertentu seseorang itu bisa menyandang ilmu hitam sekaligus ilmu putih. Dia bisa menyembuhkan seseorang tapi juga bisa mencelakai seseorang dengan ilmu santetnya. Perbedaan yang nyata adalah pelajaran di perguruan ilmu putih ini adalah hal-hal kebaikan, kesabaran, dan ketekunan.
Juga hal-hal untuk saling mengasihi, mengasuh, dan mengasah di antara para murid perguruan sangat dijunjung tinggi. Di sini tidak ada pertunjukan untuk pamer kekuatan, atau pamer kadigdayan. Semua dipakai untuk kebaikan, untuk kesembuhan sesamanya. Sehingga kami merasa makin mantap bahwa inilah jalan Tuhan itu. Di tempat ini aku merasa menemukan yang kucari selama ini, yaitu mendekatkan diri pada Tuhan yang sejati dan Tuhan yang benar.
Karena jalannya memang benar-benar sulit. Untuk naik satu tingkat saja, butuh perjuangan yang sangat keras dan waktu yang lama, dengan berbagai syarat dan ritual. Di perguruan ini, aku sampai pada tingkat kawijayan. Di tingkat ini aku bisa bercakap-cakap dengan roh-roh yang aku panggil. Juga menguasai ilmu transfer roh. Yaitu bisa membuat orang gila menjadi waras atau orang waras dijadikan gila dengan cara mengirim dan mengambil roh dari seseorang. Aku juga menguasai ilmu terawang roh. Bisa menebak keadaan seseorang dengan memandang orang itu. Juga ilmu rogoh sukmo. Dengan duduk semedi ke kamar, aku bisa melihat keadaan dan keramaian kota. Dan berbagai ilmu aku dapatkan, sehingga aku merasa benar-benar di atas manusia normal. Maka sering disebut sebagai paranormal.
Dan akupun dicalonkan menjadi pengganti kepala dukun. Di sini aku semakin merasa menjadi manusia super dan memandang remeh agama dan Tuhan.
Pendapatku waktu itu, apa itu agama? Hanya omong ini omong itu saja, tapi tak ada apa-apanya. Sedangkan di perdukunan kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan dengan kuasa gaib dan itu nyata. Aku menganggap tuhannya agama-agama itu tuhan yang palsu. Sedang tuhan yang aku ikuti itu Tuhan yang sejati!

Peristiwa Di Atas Gunung
Suatu hari kami sepakat berlima untuk mengadakan semedi di atas gunung "Selo Kemloso". Gunung yang terletak di antara Gunung Merapi, Gunung Turgo dan Gunung Plawangan di Jawa Tengah. Beberapa hari kami telah berhasil semedi dan dialog dengan roh-roh yang kami inginkan. Kami merasa senang sekali tapi juga merasakan perut lapar. Kemudian malam itu kami berlima kembali sepakat berdoa mohon kepada "Tuhan" yang maha kuasa itu, untuk mendapatkan makanan dan minuman. Ajaib sekali, tiba-tiba di depan kami tersaji lima piring nasi lengkap dengan lauk pauk dan minumannya. Wah kami merasa senang luar biasa. Berarti tidak perlu masak, bisa menikmati makanan yang lezat.
Kemudian pagi harinya kami turun dari gunung untuk pulang kembali ke kota. Ketika kami tiba di sebuah kampung di lereng gunung, kami melewati sebuah rumah. Sepertinya tadi malam baru saja diadakan pesta perkawinan. Pagi itu, mereka telah selesai menghitung piring-piring untuk dikembalikan.
Mereka bingung mencari piring dan gelas yang hilang masing-masing sebanyak lima buah. Sudah dicari-cari tapi tidak juga ketemu. Betapa kagetnya kami, ternyata piring dan gelas yang hilang itu persis dengan piring dan gelas yang kami pakai untuk makan di atas gunung dan jumlahnya lima buah. Hari itu, perasaanku benar-benar terpukul. Bagaimana bisa "tuhan" yang aku sembah dan aku ikuti dengan susah payah, ternyata "mencuri" makanan.
Berarti "tuhan" ku itu pencuri. Hatiku benar-benar hancur. Keinginan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang benar dan sejati, ternyata salah alamat.
Beberapa peristiwa beruntun sangat mengguncang hatiku. Salah satu guruku yang berilmu tinggi telah menceburkan diri ke dalam sumur dan mati. Dan itu sebagai tumbal bagi ilmu yang dia punyai. Kematian paman ini mulai menggores kesadaranku akan jalan yang aku tempuh selama ini. Teman seperguruan kakekku yang juga berilmu sangat tinggi, menjelang kematiannya sekujur tubuhnya membusuk dan bentuknya seperti monster. Berbagai penyakit yang pernah ia sembuhkan seakan semua ikut menempel ke dalam tubuhnya. Mengerikan sekali, satu bulan lebih didoakan baru bisa meninggal dunia.
Aku melihat nasib kakekku yang seperti itu, aku sendiri menjadi sangat ngeri dan takut. Seorang yang sakti luar biasa, akhir hidupnya kok sangat mengenaskan. Sedangkan mereka adalah orang-orang yang sangat aku kagumi sejak masa kecil.
Maka aku menemui guruku. Tiba di padepokan aku melihat mimik wajah guru nampak sangat sedih. Dan beliau mengatakan bahwa hari Jumat minggu depan ia akan meninggal dunia. Luar biasa bisa tahu hari kematiannya. Tetapi mengapa beliau sangat bersedih? Beliau mengungkapkan kesedihannya, karena tidak tahu bagaimana nasibnya setelah kematiannya. Inipun membuat aku semakin terpukul. Guru saja tidak tahu nasibnya setelah kematiannya, apalagi aku. Dan ketika aku tanya kepada roh-roh yang selama ini mengaku sebagai utusan Tuhan, mereka tidak mau menjawab apa yang terjadi setelah kematian. Aku merasa benar-benar tertipu.

Ditaklukkan Oleh Penjual Bakmi
Tujuan hidupku tiba-tiba gelap gulita. Kekagumanku pada para sesepuh yang berilmu tinggi rontok karena akhir hidup mereka. Dan "tuhan" yang aku ikuti ternyata mencuri makanan. Ilmu yang aku miliki dengan roh-roh gaibnya tidak mampu member jawaban tentang kehidupan setelah kematian.
Jalan terang yang aku inginkan ternyata ujungnya menuju maut. Aku benar-benar frustasi, kubuang jimat-jimat, dan aku putuskan, jika Tuhan yang sejati itu sulit dicari, maka aku akan menjadi orang atheis, tidak percaya pada Tuhan lagi. Di tengah kebingungan dan kegalauan hati, aku tumpahkan dengan naik sepeda mengelilingi kota tanpa tujuan yang pasti.
Dua hari dua malam aku bersepeda untuk menumpahkan segala kekecewaan hatiku. Sampai di suatu tempat, aku berhenti di warung bakmi pinggir jalan untuk makan bakmi rebus. Waktu penjual itu menghidangkan bakmi, dia bertanya "Bapak sedang mencari kebenaran ya?"
Aku sangat terkejut dengan pertanyaan penjual bakmi ini. Biasanya akulah yang tahu dan bisa menebak persoalan orang lain, tetapi mengapa penjual bakmi ini malah bisa mengetahui keadaan hatiku? Dan ketika aku terawang dia, ilmuku tidak bisa menembus untuk "melihat" keadaan dia. Dilihat secara nalar, penjual bakmi ini tidak ada keistimewaan apa-apa. Dia hanyalah seorang tua setengah baya, kurus, dan keturunan Tionghoa. Ternyata dia seorang Kristen.
Waktu itu aku tidak tahu kalau orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dalam dirinya ada Roh Allah. Sehingga tidak tembus di terawang dan juga tidak mempan disantet.
Dia memberiku sebuah kitab Injil untuk dibaca. Dia bilang dari buku ini aku bisa menemukan apa yang aku cari. Karena aku merasa kalah, maka aku terima apa yang dia berikan.

Tersingkap
Aku baca dan teliti kitab itu dengan seksama. Sebelumnya aku tidak pernah dan tidak boleh membaca buku Injil. Karena dianggap itu bukunya orang kafir, kitab palsu. Sekarang alasan itu malah membuat aku makin penasaran, mengapa kok tidak boleh membacanya.
Setelah aku baca buku Injil itu, aku menemukan satu nama yang luar biasa, yaitu nama Yesus Kristus. Pribadi ini berkata "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:16a). Selama ini yang aku terima hanyalah petunjuk jalan atau yang menunjukkan ada jalan kepada Allah yang sejati. Dan ketika aku ikuti ternyata tidak bisa menemukan jalan itu. Disuruh ini itu, tirakat ini itu, melakukan ini itu tapi jalan ini bukan makin terang malah makin gelap dan akhirnya tanpa jawaban yang pasti.
Tetapi pribadi Yesus berkata: Akulah Jalan! Akulah Kebenaran! Akulah Hidup! Bagiku ini suatu pernyataan yang luar biasa. Dia tidak menunjuk pada sesuatu. Tetapi Dia menunjukkan diri-Nya? Itulah jalan dan kebenaran dan Hidup kekal.
Siapakah pribadi ini yang berani mengatakan seperti itu? Belum pernah aku membaca atau mendengar seorang tokoh dunia sehebat apapun yang berani mengatakan seperti itu. Siapa pribadi ini, yang oleh orang Kristen dianggap sebagai Tuhan-nya? Dulu aku hanya mendengar tentang Yesus yang banyak melakukan mukjizat. Maka aku menyebutnya sebagai dukun Israel. Tapi kali ini aku membaca langsung kisahNya. Makin aku baca makin penasaran dibuatnya. Bahkan tentang kematian, Yesus memberi jawaban yang pasti:
"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya." - Yohanes 11:25,26.
Jaminan kehidupan kekal bagi orang yang percaya kepada-Nya. Guruku tidak bisa menjawab, roh-roh yang aku ikuti tidak memberikan jawaban. Kakekku dan pamanku selain tidak punya jawaban juga akhir hidupnya sangat mengenaskan.
Tetapi dari buku Injil ini, menyingkap dan member jawaban apa yang menjadi kebutuhan dan pertanyaan manusia yang menacri Tuhan yang hidup dan yang sejati. Dan buku Injil mengungkapkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Firman Allah yang menjelma menjadi manusia. Hidup di bumi sebagai manusia Allah untuk menyatakan kasih Allah akan dunia ini, menyatakan kuasanya, bahkan rela mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Bukan mati untuk dikubur selamanya.
Tetapi tiga hari bangkit kembali dan naik ke Surga. Dan dari surga mengkaruniakan Roh Kudus yaitu Roh Yesus Kristus itu sendiri kepada setiap orang yang mau percaya kepada-Nya. Luar biasa, inilah yang disebut tingkat kasampurnan dalam ilmu perdukunan, yaitu menyatunya roh manusia dengan roh "Tuhan".
Dengan Roh itu manusia menjadi ciptaan baru, menjadi memiliki hayat kekal Allah, memiliki hidup yang kekal, luar biasa. Ini benar-benar kasampurnan atau sempurna, menyatunya roh manusia dengan Roh Allah. Dan jalan-Nya begitu mudah, yaitu hanya percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya. Bagiku ini suatu yang sangat mustika.
Dua bulan aku mendalami buku Injil dan membandingkannya dengan buku-buku kebatinan lainnya. Dalam kepercayaan Jawa diyakini akan datangnya sang Ratu Adil.
Dan jika seseorang menjadi pengikut ratu adil, dia akan dikatakan menjadi orang yang "Sekti tanpa aji", artinya sakti tanpa harus membawa atau mempunyai ajian atau jimat-jimat. Jika seseorang masih mengandalkan jimat, atau memegang jimat-jimat berarti orang itu belum ketemu dengan sang Ratu Adil yang sesungguhnya.
Di buku Injil dikatakan seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus, akan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah: "Barangsiapa mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam Dia dan Dia di dalam Allah". - 1Yohanes 4:15.
Maka orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dalam dirinya ada Roh Allah.. Dia tidak membutuhkan jimat untuk menangkal santet dan tenung.
Karena dalam diri orang Kristen yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, dalam dirinya ada Roh Allah. Dan tidak ada orang yang mampu melawan Allah. Maka dapat dikatakan orang yang percaya Yesus menjadi orang yang sekti tanpa aji. Berarti Yesus inilah yang dimaksud sebagai Sang Ratu Adil dalam kepercayaan Jawa. Secara teori buku Injil memang lebih meyakinkan aku. Dan aku menerima kebenaran ini, tapi tetap sebagai teori.

Bertanya Kepada Roh Bima
Seperti yang dikatakan oleh penjual bakmi, aku akan menemukan kebenaran jika aku membaca buku Injil. Tetapi aku tidak bisa begitu saja menerima kebenaran dari buku itu. Meskipun itulah yang aku cari. Dan aku juga tidak mau lagi bertanya kepada manusia. Karena aku merasa diapusi terus atau tertipu terus oleh orang-orang.
Dan satu hal yang aku dapatkan di perguruan ilmu putih, roh-roh putih kalau ditanya maka dia akan menjawab. Hanya kalau ditanya tentang akhir kehidupan manusia atau kehidupan setelah kematian, roh putih tidak pernah mau menjawab, atau mengatakan keadaan yang sesungguhnya.
Waktu itu aku masih percaya bahwa roh putih tidak akan berbohong. Karena sudah mencapai tingkat ilmu kawijayan, maka aku bisa berdialog dengan roh-roh. Aku semedi untuk berkontak dengan roh yang menamakan dirinya roh Bima. Bima adalah nama tokoh dalam wayang Jawa. Dalam ilmu kebatinan, roh-roh ini mempunyai nama tokoh tertentu sesuai dengan kekuatan roh itu. Biasanya nama tokoh sejarah ataupun tokoh pewayangan. Roh Bima inilah yang selama ini aku ikuti dan yang memberikan kekuatan gaib padaku.
Dua hal aku tanyakan pada roh Bima ini. Satu, apakah isi kitab Injil itu benar adanya? Dan yang kedua, siapa Yesus Kristus itu?
Jawaban yang aku dapat dari Roh Bima adalah:
Isi kitab Injil benar adanya. Jawaban ini sesuai dengan yang tertulis di surat Efesus 1:13, "Karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu". Jadi Injil adalah Firman Kebenaran.
Yesus Kristus Adalah Roh Yang Paling Kuat Di Dunia dan Di Akherat.
Jawaban ini seperti yang tertulis di surat 1Yohanes 4:4b, "Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia." Dan ini sesuai dengan dikatakan Yesus seperti yang tertulis di Injil Matius 28:18, Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di Surga dan di bumi."
Jawaban ini membuatku tidak bisa berdalih lagi. Mau tidak mau aku harus percaya pada Injil dan juga pada Yesus Kristus. Karena berdasarkan pengalamanku selama ini roh putih tidak pernah membohongiku. Dan juga ketika aku membaca Injil dengan seksama, aku mendapatkan kebenaran-kebenaran yang selama ini tersembunyi bagiku.
Injil adalah kebenaran dari Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan. Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada orang yang bisa sampai pada Allah yang benar dan sejati (Bapa) tanpa melalui nama Yesus Kristus.
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." Yohanes 14:6, hanya nama Yesus Kristus inilah yang diberikan kepada manusia yang oleh-Nya, manusia dapat diselamatkan, dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan". - Kisah Para Rasul 4:12.

Lumpuh
Setelah mendapatkan jawaban dari roh itu. Maka aku menjadi mantap dan pasti. Nama Yesus itulah yang harus aku ikuti! Maka aku minta kepada roh Bima untuk aku dapat berkontak dengan Roh Yesus Kristus. Biasanya jika aku ingin kontak dengan roh-roh yang aku inginkan, maka roh Bima akan melayani dengan baik. Jika aku ingin bertemu dengan roh Nyai Roro Kidul pun akan dikabulkan. Dengan semedi di Pantai Selatan, maka roh Nyai Roro Kidul akan muncul, sehingga aku bisa melihat dan berkontak dengan roh itu. Namun permintaanku untuk dapat kontak dengan Roh Yesus Kristus ditolak mentah-mentah, bahkan dihalang-halangi.
Sekarang aku bisa mengerti mengapa roh Bima menolak untuk aku bisa kontak dengan Roh Yesus Kristus. Memang roh itu tidak berbohong dalam memberi jawaban atas pertanyaanku. Tetapi jika berkaitan dengan keselamatan dan kehidupan kekal dia menolak bahkan menghalangi seseorang untuk mendapatkan keselamatan. Inilah tipu daya atau dusta iblis. Dia memberikan kesaktian tetapi dia menjauhkan manusia dari keselamatan kekal. Seperti yang tertulis di Injil Yohanes 8:44, "Iblislah yang menjadi bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta."
Karena roh Bima ini menghalang-halangi aku untuk bisa berkontak dengan Roh Yesus Kristus yang adalah jalan kebenaran dan kehidupan ini, aku menjadi makin penasaran. Berarti roh ini bukan roh utusan Tuhan, sebagaimana dia mengaku selama ini. Melalui buku Injil yang aku baca, aku menjadi paham bahwa roh yang aku selama ini adalah roh-roh gelap, roh setan. Dan seperti yang aku baca dalam kitab Injil tentang mengusir setan-setan: "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku". - Markus 16:17.
Maka aku lakukan saja, aku mencoba berdoa mengusir roh Bima dalam nama Tuhan Yesus. Saya katakan "Seperti yang ditulis dalam buku Injil, aku usir roh Bima dalam nama Tuhan Yesus Kristus! Aku usir roh Bima dalam nama Tuhan Yesus Kristus! Amin!
Ajaib sekali, aku merasakan roh Bima itu meninggalkan tubuhku. Seperti hembusan angin segar datang dan menyapu debu-debu dalam diriku. Roh Bima itu pergi dan tidak pernah kembali lagi. Aku mendapatkan damai sejahtera yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan.
Selama berada dalam perguruan kebatinan aku belum pernah mendapatkan damai sejahtera yang seperti itu, bahkan sebaliknya lebih banyak kecemasan dan ketakutan dalam batin. Jika dibandingkan seperti bumi dengan langit.
"Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah." - Roma 8:15.
Dalam dunia ilmu kebatinan, manakala kita mendapatkan ilmu tertentu, kita merasa senang. Tapi di balik itu, akan begitu banyak hal yang menakutkan yang membuat hati tidak tenang. Ada banyak pantangan-pantangan yang tidak boleh kita langgar.
Jika kita melanggar maka kita akan celaka atau mati. Inilah roh perbudakan. Belum lagi adanya ancaman lawan dari perguruan yang lain. Kita setiap saat bisa diserang oleh orang lain yang ilmunya lebih tinggi dari kita, dan kita bisa celaka. Seperti pengalamanku bersama seorang teman, ketika mendapat tugas dari guru kami untuk mengambil pusaka di daerah Madiun. Di dalam bis di tengah perjalanan tiba-tiba teman sebelahku muntah darah dan mati. Itu berarti kami mendapat serangan dan temanku kena. Kamipun batal pergi ke Madiun.
Hal ini menimbulkan beban dan kecemasan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang kami dapat dari ilmu kebatinan, yaitu kecemasan dan ketakutan. Saat roh Bima meninggalkan tubuh, aku seperti mendapatkan aliran roh yang baru. Saat itu aku belum tahu bahwa itulah Roh Kudus, Roh Yesus Kristus sendiri. Namun pada waktu yang bersamaan aku juga merasakan bahwa semua kekuatan ilmu-ilmuku telah lumpuh total. Aku tidak lagi mempunyai kemampuan paranormal, tidak lagi kebal, ilmu terawang, ilmu santet dan ilmu-ilmu yang lain telah hilang semua. Aku menjadi manusia biasa lagi.
Beberapa waktu aku merasakan suatu kegalauan dalam pikiranku. Namun pengalaman damai sejahtera itu tidak mudah dilupakan. Bahkan menjadikan kegairahan baru untuk terus dan tetap mengikuti jalan Tuhan yang hidup dan yang sejati, yaitu Yesus Kristus Tuhan. Aku mantap mengikuti nama itu.
Sesungguhnya kebutuhan manusia yang utama dan terutama adalah keselamatan jiwanya dan bukan kesaktian. Apa gunanya seseorang memperoleh kesaktian yang luar biasa dalam dunia ini, namun tidak mendapatkan keselamatan hidup di alam kekekalan. Seperti tertulis di Injil Matius 16:26, "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya."

Okultisme dan Iman Kristen
Setelah mengikuti jalan Tuhan, aku mendapatkan terang dari Firman Tuhan.
Di dunia ini hanya ada dua sumber kekuatan gaib, yaitu dari Tuhan atau dari Setan! Tidak ada sumber yang lain. Apapun istilahnya: ilmu hitam, putih atau abu-abu hanya ada dua sumber, dari Tuhan yang benar atau dari setan! Kenali siapa yang anda ikuti! "Demikian kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah". - 1Yohanes 4:2,3a.
Hanya di dalam Tuhan Yesus, kita ada pada tingkat kasampurnan atau sempurna. Karena siapa saja yang percaya kepada Yesus, maka Roh Allah akan menyatu dalam dirinya. Menerima Roh Allah berarti lahir menjadi anak-anak Allah. "Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus Kristus) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama Yesus Kristus: orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani, melainkan dari Allah". - Yohanes 1:12,13.  "Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa!". - Roma 8:15b. "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu Roh dengan Dia". - 1Korintus 6:17.
Roh Yesus Kristus itulah Roh yang paling kuat. Tidak mempan santet dan tidak ada yang mampu mengalahkan. Itu juga diakui oleh orang-orang yang berada dalam ilmu perdukunan. Mereka tidak mampu melawan Roh Kudus yang berada di dalam diri orang Kristen yang betul-betul hidup di dalam Tuhan.
"Kamu berasal dari Allah, anak-anak Ku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia".
Di dalam dunia ini ada roh-roh yang ingin disembah oleh manusia. Dialah roh-roh gelap, yang menipu manusia dalam berbagai bentuk dan istilah. Ilmu hitam, ilmu putih, arwah orang mati, dll. Semua itu sebenarnya hanyalah manifestasi dari iblis untuk menipu manusia supaya takluk dan takut pada roh-roh dunia ini. Dan ujungnya menuju maut yaitu kematian kekal di neraka. Itulah tujuan iblis menyesatkan manusia. Sungguh mengerikan. "Pencuri (iblis) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan". - Yohanes 10:10a.
"Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging (manusia), tetapi melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara". - Efesus 6:11,12.
"Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut". - Amsal 14:12.
Orang yang percaya Tuhan Yesus, diberi kuasa untuk mengusir setan dengan segala atributnya dan menjadi orang-orang yang bebas dari belenggu kuasa gelap. Hanya nama Yesus yang berkuasa di Surga dan di bumi.
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di Surga dan di bumi". - Matius 28:18.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: "Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku". - Markus 16:17a.
Bagi saudara-saudara yang selama ini berhubungan dengan kuasa-kuasa gelap, aku menasehati dengan segala kerendahan hati, bertobatlah dan tinggalkan jalanmu itu. Kamu sedang ditipu! Percaya dan terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu. Ia akan membebaskanmu dari kegelapan, mengampuni dosa-dosamu dan memberikanmu hayat kekal-Nya, untuk kehidupan kekal.
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia, barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup". - Yohanes 6:12.
"Aku (Yesus) datang supaya kamu mempunyai hidup kekal dan mempunyainya dalam segala kelimpahan". - Yohanes 10:10b.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan mensucikan kita dari segala kejahatan". - 1Yohanes 1:9.
"Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu". - Yohanes 10:28.
Bagi orang-orang Kristen yang setengah-setengah, anda adalah makanan empuk untuk dipermainkan oleh Iblis. Jadilah kuat oleh firman Tuhan. "Tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis, maka Ia akan lari daripadamu." - Yakobus 4:7
"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh", - 1 Petrus 5:8,9a.
Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus"? Kisah Para Rasul 2:38.
"Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan", - Roma 10:9-10.

Demikianlah kesaksianku. Masih banyak perkara yang tidak kutuliskan di sini.. Namun yang pasti hanya di dalam pribadi Yesus Kristus, kita dapat mencapai tujuan iman kita. Yaitu keselamatan jiwa di dunia dan di akhirat.
Amin.

 

BY YOUR FAITH YOU HAVE SALVATION

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved