THE GOLDEN ADVENTURES OF  VERINA & VINCENT  IN EUROPE

11 October - 05 November 2004

 

 

Dimulai dari Rome hingga berakhir di Frankfurt

 

Hari Senin tanggal 11 Oktober 2004, berangkat pukul 20:15 WIB dengan pesawat SQ-167 dari Bandara Soekarno-Hatta Airport Jakarta menuju Singapore. Setelah 1,5 jam terbang, kami tiba di Changi Airport Singapore pukul 22.50. Waktu luang selama 2 jam kami gunakan jalan-jalan window shopping di Changi Airport. Karna sudah banyak toko yang mulai tutup, maka kami pergunakan waktu dengan beristirahat di Lounge First Class Singapore Airlines selama setengah jam. Lumayan bisa nyomot sesukanya secara gratis ice cream Haagen-Dazs berbagai rasa, dan juga mencicipi beberapa macam sup hangat, ada sup buntut ala internasional (jangan harap ada tulang ekor besar-besar seperti sup buntut ala kita di Surabaya, yang ada hanya kuah dan daging halus, en rasanya asin). Sebetulnya di situ ada banyak ragam masakan enak beserta aneka kue yang lezat, tapi perut cuma ada satu. Tak ketinggalan sebagai kebiasaan orang Indonesia yang suka main sapu, ketika masuk toilet di sana disediakan sikat gigi, sisir, alat cukur kumis yang bisa diambil secara gratis. Pukul 01.00 terbang lagi dengan SQ-340 menuju Rome.

Setelah terbang mengelilingi setengah bola dunia selama 14 jam, pukul 07.40 mendarat di Fiumicino Airport Rome. Udara dingin 18 derajat Celcius menyejukkan mulai terasa. Pagi itu petualangan langsung dimulai, mengingat waktu sangat berharga (apalagi saat itu nilai mata uang euro lebih tinggi 25% daripada US$).

 

Hari Selasa tanggal 12 Oktober 2004, jam 09:00 keluar dari Fiumicino Airport Rome. Di seberang ada stasiun kereta api dengan membeli tiket 5 euro per orang menuju Stasiun San Paolo. Barulah di stasiun ini kami membeli tiket lagi berupa tiket terusan (harganya 4 euro) yang berlaku seharian naik turun metro, bus, maupun tram (jauh lebih irit daripada setiap kali naik transportasi membeli tiket sektoral). Dari stasiun ini kami jalan beberapa ratus meter menuju Basilica of Saint Paul Outside the Walls atau Fuori Mura (Basilika Santo Paulus di Luar Tembok), merupakan basilika terbesar kedua setelah Basilika Saint Peter, di sini ada Porta Santa (artinya Pintu Suci, yang dibuka oleh Paus setiap 25 tahun sekali yang dinamakan Tahun Jubileum). Di depan gereja terdapat patung Santo Petrus di sebelah kiri yang membawa kunci, dan Santo Paulus di sebelah kanan yang membawa pedang. Keduanya dikenal sebagai dua sejoli yang mempunyai karakter sangat berbeda, namun menghasilkan sinergi yang merupakan suatu kekuatan. Di dalam gereja ini, posisi kedua tokoh ini menjadi terbalik dalam lukisan, Santo Petrus di sebelah kanan dan Santo Paulus di sebelah kiri. Letak lukisan di atas patung, yang menggambarkan pengadilan terakhir keadaan di Surga yang berbeda dengan di dunia. Atau dapat dikatakan, apa yang menjadi pikiran dan penilaian manusia akan berbeda dengan pikiran dan penilaian Tuhan. Pada bulan Juli 1823 hampir seluruhnya dimakan oleh api. Kebanyakan bangunan, termasuk gereja, di Eropa dalam sejarahnya pernah dirusak, baik oleh bencana alam, kebakaran, ataupun dirusak oleh perang (mereka menyebutnya serangan oleh bangsa Barbar) dan karena itu rata-rata sudah pernah direnovasi, tinggal gradasinya aja, ada yang total, tetapi ada pula yang parsial. Bagian depan dihias dengan mosaic besar, dengan 80 kolom (tiang) besar, sehingga sepintas terkesan seperti gaya istana raja-raja. Gereja ini dihiasi dengan berbagai karya seni yang tak ternilai harganya, antara lain mosaic yang berasal dari abad ke 5 ataupun abad ke 13 yang menampilkan Yesus dan para rasul, tempat lilin dari abad 12 dan berbagai karya dari keluarga Vassalleto. Mulai dari dinding hingga atap bangunan penuh dengan lukisan dari mosaic yang memberikan nuansa gerejani. Di depan altar ada kuburan Rasul Paulus (ditandai oleh lampu merah menyala).

Di depan basilika ada kolam pembaptisan yang kini nampak sebagai taman, sementara bekas kolam tidak kentara lagi. Pembaptisan dilakukan dengan cara membenamkan orang ke dalam air. Untuk baptis selam ini mereka harus menuruni 7 anak tangga yang menyimbolkan pelepasan 7 dosa pokok. Sejalan dengan waktu dan aspek kepraktisan mulai menjadi pertimbangan, hingga akhirnya cara itu tak dipakai lagi di Gereja Katolik. Salah satu yang menarik dalam basilika ini terpampang jelas gambar potret secara urut semua Paus, dari Paus Pertama (Rasul Petrus) hingga terakhir Paus Johannes Paulus II. Hal ini menunjukkan tradisi Roma, bahwa segala sesuatu (event) yang pernah terjadi di Roma selalu tercatat dengan rapi dari jaman ke jaman, sekaligus menunjukkan bahwa Ajaran Katolik merupakan Ajaran Rasuliah yaitu berdasarkan tradisi dan ajaran yang berasal dari Rasul Petrus (murid Yesus sendiri, sebagai Paus Pertama) yang kemudian diteruskan para Paus hingga Paus Johannes Paulus II yang sekarang ini.

Untuk mencapai Basilika San Paolo di Luar Tembok ini ada banyak cara, yaitu naik metro A menuju Stasiun Termini, dan kemudian naik metro B berhenti di San Paolo. Atau menggunakan bus 23, 170, 223, 673, 702, 707, 766 (bus-bus tersebut dari berbagai rute akan melewati Basilika Saint Paul Outside the Walls).

Di kota Roma ini ada 4 basilika utama (dan memiliki Porta Santa), yaitu St. Peter, St. John Lateran, St. Paul Outside the Walls, dan St. Mary Major.

Setelah itu kami naik bus menuju Bocca della Verita (Mulut Kebenaran), yaitu suatu patung atau mungkin lebih tepatnya topeng besar berupa kepala dengan mulut yang besar. Menurut legenda, untuk menguji seorang saksi yang kebenaran kata-katanya diragukan, orang meminta dia memasukkan tangannya ke dalam mulut patung ini. Bila ia berbohong maka tangannya akan digigit. Den Vincent mencobanya, dan .......... tidak ada gigitan apapun di tangannya, berarti tahu kan artinya :~)  Bocca della Verità ini ada di gang depan sebuah gereja yang bernama Santa Maria di Cosmedin yang dibangun sekitar abad 6. Nama Cosmedin mungkin diambil dari gelar "kosmidion" (dihiasi dengan baik) mengacu pada "Bunda kita yang dihiasi" karena di sini ada gambar Maria yang dihias dengan baik, tetapi mungkin pula berasal dari kata "Kosmidion", biara Constantinopel. Sesungguhnya inilah satu-satunya gereja Byzantium dengan budaya Yunaninya yang bertahan di Roma.

Di seberang gedung ini ada bangunan kuno yang terpelihara cukup baik yaitu kuil untuk pemujaan dewa-dewa, Dewa Etruskan dan Yunani. Orang Etruskan adalah suku yang sangat maju dalam keberadabannya di Italia sejak tahun 2000 SM. Budaya mereka kemudian tergusur oleh budaya Yunani, yang akhirnya dikalahkan oleh budaya Romawi. Ini membuktikan bahwa umat Katolik sebagai mayoritas bangsa Romawi saat itu sangat toleran terhadap penganut kepercayaan lain.

Dari sini kami terus berjalan kaki (bersama Romo Paskalis Paska yang dengan kasihnya mengantar kami selama di Rome) menuju Circo Massimo, tempat orang mengadu ketangkasan mengendarai kereta berkuda pada zaman Ben Hur (berarti sekitar abad pertama yaitu peristiwa kelahiran Yesus).

Palatine Hill adalah bukit yang merupakan cikal bakal bangkitnya kota Roma, sesudah jatuhnya Kerajaan Romawi, sejarah arsiteknya diteruskan abad 11 dengan bangunan-bangunan gereja, benteng, dan asrama untuk biara.

Hari sudah siang pukul 14.00 (beda 5 jam saat itu, berarti di Surabaya sudah jam 19.00 WIB, maklum hari pertama masih ngikut kondisi Indonesia donk) pantesan perut keroncongan, langsung kami makan siang Chinese food di Restoran La Primavera Srl (del Sudario 38, Roma). Masakannya enak, kami memilih sistem paket terdiri 5 macam masakan seharga 12 euro per-orang dimana nasi dan air springnya gratis sesukanya.

Perjalanan dilanjutkan naik bus menuju Basilika Santa Croce in Gerusalemme. Gereja ini dibangun sekitar tahun 330 oleh Paus Sylvester (pada abad ke 4) dan mengalami renovasi dengan perombakan model pada abad-abad selanjutnya. Menurut tradisi yang lain, ia dibangun oleh Kaisar Constantinus sebagai ucapan syukur atas kemenangannya melawan Maxentius dan didedikasikan untuk menghormati "Salib" karena sebelum mengalahkan Maxentius, Constantinus melihat penampakan salib yang memprediksi kemenangannya. Oleh karena itu dalam basilika ini ditemukan banyak relikwi yang berkaitan dengan salib: jari telunjuk Santo Thomas yang dipakai menunjuk lambung Yesus, paku-paku untuk menyalibkan Yesus, mahkota duri yang dikenakan Yesus, bagian Salib Yesus dan salib si penjahat yang bertobat di sisi Yesus. Kesemua benda relikwi tersebut dibawa St. Helena (ibunda Constantinus) dari tanah Israel ke Roma dan kini disimpan dalam Basilika Santa Croce in Gerusalemme.
Kemudian kami melanjutkan dengan naik bus menuju Basilika John Lateran, yang merupakan ibu dan kepala semua Gereja Katolik di dunia. Di tempat inilah dulu Paus selama ratusan tahun tinggal dan memimpin seluruh Gereja Barat sebelum akhirnya pada tahun 1929 pindah ke Vatican, dimana ada Basilika St. Peter. Gereja ini dibangun pada awal abad 4 di atas tanah bekas milik keluarga Lateran, yang kepala keluarganya Plautius Lateran dibunuh oleh Nero tahun 66. Tanah dan istananya kemudian diambil oleh kaisar. Entah karena sumbangan dari keturunan Lateran atau sumbangan kaisar kepada Uskup Roma, tempat ini lalu menjadi Katedral Uskup Roma. Kemungkinan besar Kaisar Constantinus menyumbangkannya kepada Paus Miltiades pada tahun 313. Paus Sylvester (pengganti Paus Miltiades), memulai pembangunan basilika ini atas anjuran Konstantinus (314-335).

Pernah mengalami kerusakan karena kebakaran dan gempa bumi, termasuk karena serangan bangsa bar-bar, maka basilika ini terus menerus mengalami perbaikan, diperbesar dan diperkaya dengan berbagai dekorasi yang sangat berharga dengan nilai seni yang tinggi. Renovasi selanjutnya dilakukan pada abad 17 dan 18. Ada 5 pintu masuk ke dalam basilika, di tengah-tengah adalah pintu dari perunggu gaya Romawi, sedangkan salah satu pintu di sebelah kanan adalah Porta Santa.

Di tengah-tengah gereja ada satu pilar yang sangat besar, dan di sekeliling gereja, sebagaimana gaya gereja-gereja di Eropa pada umumnya, dipenuhi dengan lukisan-lukisan dan patung-patung, di antaranya patung 12 Rasul Yesus dan para pendiri ordo yang diletakkan di celah-celah (lekuk) ruangan. Di antara benda-benda berharga di sana, salah satunya yang menonjol adalah Tabernakel yang terletak di atas altar dengan ukiran-ukiran dari Giovanni di Stefano pada abad 14 yang mengabadikan kepala dari Santo Petrus dan Paulus. Di depan altar ada semacam tangga melingkar turun 1½ meter di situ ada makam Paus Martin V (1417-1431) yang dipenuhi dengan koin-koin dari lemparan orang sebagai kenangan akan kedermawanan paus ini. Paus inilah yang memulihkan keteraturan kepausan di Roma setelah paus kembali dari pengasingan di Avignon (1313), membuat banyak restorasi bangunan-bangunan di Roma termasuk atap Pantheon dan orang pertama yang menunjuk Swiss Guard (tentara Swiss) yang menjaga Vatican.

Keluar dari Basilika John Lateran, kita menyeberang jalan samping kiri dan masuk sebuah bangunan Kapel St.Laurence yang kaya akan dekorasi hasil kerja karya seni tinggi, dibangun pada abad 16.  St. Helena saat itu memiliki 28 tangga yang dipercayai sebagai Tangga Pilatus yang dipindahkan dari Yerusalem ke Roma, pada tangga ini terdapat tetesan darah Yesus dari mahkota durinya. Untuk ikut mengenang saat-saat kesengsaraan berat yang dialami Yesus ketika dihadapkan pada pengadilan Pontius Pilatus, di sana kita diajak 'napak-tilas' menaiki tangga yang dinamakan Scala Santa, dengan berjalan pada kedua dengkul kita dari tangga bawah hingga ke atas (depan altar suci). Martin Luther (tokoh reformasi gereja Katolik) pada tahun 1510 dengan lutut telanjang merangkak naik Scala Santa sambil mendoakan jiwa kakeknya di Api Penyucian.

Untuk mencapai Basilika John Lateran ini ada beberapa cara, yaitu naik metro A berhenti di San Giovanni, atau menggunakan bus 4, 13, 15, 16, 30, 81, 85, 87, 673, 714, 715.

Dari Basilika John Lateran, berjalan kurang lebih 1 km atau naik tram ke Colosseum, bangunan kuno terkenal untuk mengadu gladiator (seperti dalam film dengan pahlawan Maximus). Nama amphitheatre ini berasal dari Colossus, yakni patung Nero yang sangat besar. Bangunan ini dirintis oleh Kaisar Vespasianus tahun 72 dan diselesaikan oleh Titus (putranya) pada tahun 80, dengan kapasitas 50.000 penonton yang berada di sekeliling bangunan untuk menyaksikan pertandingan para gladiator (para budak yang dilatih khusus) yang seringkali terkesan kejam. Binatang-binatang liar yang menjadi lawannya dibawa dari luar kota Roma. Colosseum juga menjadi tempat pembantaian para martir Kristen, sekaligus sebagai bukti dari berbagai kemampuan teknik bangunan dan penemuan yang mengagumkan dari bangsa Romawi. Karena itu tidak heran bila bangunan ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak artis jaman Renaissance.

Perjalanan dilanjutkan ke Piazza Venezia (merupakan pusat kota Roma dan titik pertemuan jalan-jalan penting di Roma). Karena pemandangannya yang khas dan posisinya yang strategis sebagai pusat kota, maka tempat ini menjadi salah satu objek yang disukai para turis. Tampak menonjol adalah Monumen Victorius Emanuel II, bangunan yang dianggap sebagai the Altar of the Nation (Altar Bangsa) dan merupakan makam dari para prajurit yang tak dikenal, yang gugur dalam memperjuangkan negara dalam Perang Dunia I. Bangunan yang terbuat dari marmer berwarna putih ini merupakan "wedding cake" yang dipersembahkan kepada Raja Italia yang pertama, Vittorio Emanuelle II. Patung dan ukiran-ukiran yang menampilkan gaya kepahlawanan dan nilai-nilai militer menjadi ciri khas dari bangunan besar ini. Bangunan lain yang terletak di lokasi ini adalah Palazzo Venezia (termasuk bangunan pertama gaya Renaissance di kota Roma) yang sekarang digunakan sebagai museum yang mengoleksi karya seni dan barang-barang porselen serta perak dari berbagai jaman. Juga Basilika San Marco (Venice) yang dibangun pada abad 4, dengan altar dan lukisan dari Santo Markus.

Setelah itu dengan berjalan kaki kami menuju Imperial Forums (sebelah kanan dari Monumen Victor Emanuel), ada Gereja Santa Maria di Loreto dan Gereja Holy Name of Mary (abad 18). Di depannya ada Forum of Trajan yang didesign oleh Apollodorus dari Damascus yang dibangun tahun 107-113 (ini merupakan akhir akhir dari Imperial Forums yang dibangun).

Di situ ada lapangan dengan Basilika Ulpia beserta perpustakaannya, dan di belakangnya ada Temple of Trajan. Di salah satu sisi Basilika Ulpia dapat kita lihat Trajan's Column (tingginya 40 meter), sebagai pengabdian pada Ulpius Traianus. Di puncak atas kolom, sejak 1587 ditaruh patung Santo Petrus dari perunggu.

Foro Romano (Roman Forum) ini dapat dimasuki melalui Fori Imperiali. Di situ ada Temple of Vespasian (dibangun Domitian tahun 81) dan Temple of Concord (dibangun 367 sebelum Kristus). Di dekatnya ada Gereja San Giuseppe dei Falegnami (1598), yang di bawahnya ada Mamertine (Penjara Mamertinum). Menurut legenda, titisan Saint Peter membuat air mancur di tanah (tidak pernah kering) untuk membaptis orang yang ingin menjadi pengikut Yesus. Di situ ada Tugu Septimius Severus, dan di akhir via Sacra ada Arch of Titus (Tugu Titus).

Dengan naik bus, perjalanan dilanjutkan ke Fontana Trevi, tempat orang melempar koin dengan cara membelakangi Fontana, dengan harapan kelak bisa kembali ke Roma, memang bagaimanapun juga harus diakui bahwa objek wisata di Roma rata-rata bagus dan mengagumkan, terutama peninggalan sekian abad lamanya. Dekat daerah itu banyak wisatawan berkumpul, sehingga otomatis banyak juga toko-toko yang buka di sana, termasuk ada restoran Cina yang cukup enak dan tidak mahal, yakni Restoran Grand Dragon. Persis di sebelah Trevi Fountain (persis ujung jalan) ada es cream enak 3,5 euro (2 cope). Namun kalau mau lebih enak dan murah ada di seberang Trevi Fountain (2 euro).

Kalau jalan dilanjutkan, kita akan sampai pada Pantheon. Bangunan ini dibangun pada tahun 27 sebelum masehi untuk menghormati dewa-dewa. Tempat ini dibangun oleh Marcus Agrippa, menantu Kaisar Augustus, dan hingga saat ini interiornya masih tetap dipertahankan keasliannya. Pada tahun 609 tempat ini dijadikan gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dan semua Santo yang menjadi martir. Maka di situ kita dapat melihat lukisan Bunda Maria pada dinding dengan ukuran besar. Kekhasan dari bangunan ini adalah kubahnya yang berlubang besar persis di tengah-tengah dengan diameter 9 meter. Kata orang kalau hujan deras sekalipun, bangunan ini tetap tidak kemasukan air, karena perhitungan yang cermat dalam membangunnya. Itulah kehebatan para pemikir dan arsitek Romawi.

Setelah makan kenyang di Grand Dragon, kami menuju Hotel Selene yang letaknya di Pomezia (daerah industri) dan sangat jauh dari kota lama Rome.

 

Hari Rabu tanggal 13 Oktober 2004, pagi, semula kami menjadwalkan untuk ke Basilika Saint Peter, namun pagi itu adalah hari Rabu yang secara rutin dipergunakan Papal Audiensi, maka perjalanan kami tukar dengan menuju Catacombs of San Sebastiano (catacombe kedua terbesar setelah Catacombs of Saint Callixtus). Catacombe di sini ada 3 tingkat ke bawah dan merupakan kuburan pertama-tama bagi pengikut Ajaran Kristus. Memasuki bangunan depan adalah basilika St. Sebastian yang dibangun pada abad 4, dimana di situ ada makam St. Sebastian. Konon jenasah St. Peter dan St. Paulus pernah disembunyikan di sini. Lorong di catacombe ini mencapai 11 km, dengan banyak mosaic dan graffiti. Di Roma tercatat ada 69 catacombe, kini tinggal 5 catacombe yang dapat dipertontonkan pada umum. 6 catacombe diantaranya adalah milik orang Yahudi (namun 4 diantaranya sudah lenyap tak berbekas).

 

 

Apabila kita pergi ke Catacombs of Saint Callixtus (atau San Callisto ini yang paling terkenal dari sekian catacombe), kita akan menyaksikan kuburan para martir di bawah tanah yang mengagumkan (dibuat 4 dan kadang 5 tingkat di bawah tanah, dengan luas area 90 acres) beserta ruangan-ruangan dengan meja kecil sebagai altarnya untuk tempat ibadah selama para pengikut Yesus saling menyebarkan Ajaran Kristus secara sembunyi-sembunyi. Tempat ini memang menakjubkan, apalagi bila kita bayangkan bahwa ini terjadi pada jaman abad ke 1. Ruangan-ruangan ini berada kira-kira 20-30 meter (yang diperbolehkan untuk turis hanya 3 tingkat) di bawah permukaan tanah dengan lorong-lorong yang berkilo meter panjangnya (total panjangnya lorong-lorong ini 17 kilometer, memang luar biasa) untuk tempat pelarian bila mereka dikejar-kejar oleh Tentara Romawi pada waktu itu (abad pertama, kira-kira tahun 50 setelah Yesus wafat dan naik ke Surga) hingga tahun 340 an sampai Ajaran Yesus menjadi agama resmi negara yaitu ketika Kaisar Constantinus (raja Romawi) dibaptis menjadi pengikut Yesus. Yang mengagumkan pula di semua ruangan bawah tanah ini temperaturnya tetap dingin dan stabil sepanjang tahun, baik dalam musim panas maupun pada musim dingin. Di beberapa ruangan pada langit-langit atau dinding yang banyak ditemukan gambar-gambar tangan tentang Last Supper, lambang-lambang Kristus, dsb. Ruangan-ruangan tersebut diselang-seling dengan ratusan ribu kuburan (totalnya pernah mencapai 160.000 jenasah) yang ditanam pada dinding kiri-kanan lorong secara tumpuk. Di sini dimakamkan jenasah 9 orang martir pengikut Ajaran Kristus awal dan 16 Paus (Pontianus, Antherus, Fabian, Lucius, Eutichian, and Pope Sixtus II) sekitar tahun 280 serta makam Santa Cecilia (santa permusikan). Jenasah Rasul Petrus dan Santo Paulus sempat disembunyikan di sini untuk pengamanannya waktu itu hingga akhirnya dipindahkan ke Basilika Saint Peter dan Basilika San Paolo. Di Catacombe ini disediakan secara gratis guide yang menguasai beberapa bahasa. Selain untuk menjelaskan sejarah catacombe, mereka juga membimbing arah perjalanan selama berada di bawah tanah tadi. Lorong-lorong yang begitu banyak dan berkelok-kelok sungguh membingungkan (seperti jalan tikus) yang memang dibuat sedemikian rupa supaya para tentara Romawi akan kesulitan untuk menangkap mereka.

Catacombe adalah bukti sejarah bahwa gereja pada mulanya adalah gereja para martir dan orang-orang Kristen yang telah membuktikan cinta dan kesetiaan kepada Kristus dalam hidup kesehariannya. "Hari ini Gereja kembali telah menjadi Gereja Para Martir" (kata Paus Johannes Paulus II). Kenangan akan asal mula dan kunjungan ke Catacombe membantu kita untuk memahami dengan lebih baik lagi arti dan nilai kesaksian para martir, yang ditawarkan oleh gereja kepada dunia di akhir milenium ketiga.

Dari Catacombe San Callixtus, persis di pintu keluar ada ‘pertigaan/persimpangan’ jalan, yang dikenal sebagai jalan Appia Antica, yakni jalan yang dilalui Rasul Petrus ketika melarikan diri dari Penjara Mamertine di Roma, karena tidak tahan siksaan dan perlakuan orang Romawi, Petrus kemudian memutuskan untuk meninggalkan Roma yang diartikan sebagai meninggalkan penderitaan. Ketika Petrus tiba di suatu persimpangan jalan tadi (yang bercabang dua, persis di depan pintu masuk gerbang Catacombe), ia bertemu dengan seorang asing, yang kemudian disapanya dengan kata: "Domine, quo vadis?", yang kurang lebih artinya "Tuan, mau ke mana?". Orang asing itu kemudian menjawab: "Venio iterum crucifigi", artinya "Aku akan kembali ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya". Petrus terhenyak mendengar jawaban itu; ia merasa tersindir dan disadarkan kembali untuk balik ke Roma, karena tugasnya belum selesai. Kemudian orang tersebut lenyap dengan meninggalkan jejak kaki pada batu tempat berpijaknya. Diyakini bahwa orang asing tersebut adalah Yesus sendiri. Maka di dekat tempat itu dibangun kapel kecil yang dinamakan the Church of Domine Quo Vadis.

Petrus sendiri di akhir hidupnya dipenjara dan dihukum mati dengan cara disalib terbalik. Petrus bersama-sama dengan Paulus banyak berkarya di Roma, yang kemudian secara Ajaran Rasuliah terus berkembang menjadi Katolik turun temurun hingga sekarang ini ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, China, Rusia, Amerika Latin, dll.

Setelah kenyang makan siang di restoran Jing Yuan (belakang Vatican City), perjalanan dilanjutkan ke Musei Vaticani (Museum Vatican) dan Sistine Chapel yang terkenal lukisan masterpiece Michelangelo yaitu Penghakiman Terakhir. Untuk memasuki Museum Vatican, kita harus beli tiket 12 euro per orang. Masuk melalui Viale del Vaticano, melalui tangga spiral kita tiba di galeri lukisan-lukisan (Pinacoteca). Pinacoteca Vaticana ini terdiri dari 15 ruangan yang menyajikan berbagai goresan dari primitive hingga yang abad 18. Ruangan pertama adalah lukisan-lukisan primitif "Penghakiman Terakhir" (abad 11) oleh Giovanni dan Niccolo. Ruangan ke sembilan adalah lukisan dari Leonardo da Vinci berjudul "St. Jerome" dan ada lukisan yang belum selesai. Selesai ruangan ke limabelas yaitu ruangan berisi potrait-potrait, kita memasuki museum antik yang kaya akan koleksi seni klasik dunia, dimana banyak koleksi dari para Paus terdahulu (Clement XIV, Pius VI, Pius VII, dan Gregory XVI). Semua yang kita saksikan yaitu lukisan-lukisan dan ukiran patung dari batu marmer yang memang sungguh luar biasa, mungkin terindah dan terbaik di dunia yang tiada bandingannya.

Akhirnya kita memasuki Sistine Chapel (Kapel Sistina), didesign oleh arsitek Giovannino de'Dolci untuk Paus Sixtus IV sebagai kompleks yang sangat penting dari sisi artistik, kepercayaan, dan sejarah. Kapel ini masih dipakai sebagai tempat pertemuan para kardinal untuk pemilihan paus baru, yang kemudian menyiarkan hasilnya kepada dunia melalui asap yang dikeluarkan (asap hitam berarti belum ada keputusan pemilihan, dan asap putih berarti sudah ada paus yang terpilih). Lukisan dinding di Sistine Chapel 1481-1483 dan lukisan pada langit-langit (ceiling) berlangsung 25 tahun berikutnya, melibatkan pelukis terkemuka Michelangelo, Pinturicchio, dan Signorelli; Botticelli, Ghirlandaio, dan Cosimo Rosselli.

 

Yang paling hebat tiada bandingnya adalah lukisan ceiling tahun 1508-1512 oleh Michelangelo, melukiskan cerita dari Alkitab (yang kalau dirinci ada 300 lukisan). Dengan perpaduan pahatan marmer dari Ignudi mempersembahkan gambar besar 'Seven Prophets and Five Sibyls' (7 Nabi dan 5 Sibyls).

Lukisan yang di tengah-tengah ceiling menggambarkan skenario Kitab Kejadian, dimulai dari atas adalah Nabi Yunus (Jonah):

- Penciptaan adanya terang.

- Penciptaan bintang dan tumbuh-tumbuhan.

- Allah memisahkan tanah dari air.

- Penciptaan Adam.

- Penciptaan Hawa.

- Jatuhnya dosa dan pengusiran dari Taman Eden.

- Pengurbanan Nabi Nuh.

- Banjir.

- Mabuknya Nabi Nuh.

Kemudian pada dinding altar oleh Michelangelo dilukis The Last Judgement (Penghakiman Terakhir), ini salah satu karya hebatnya sang maestro segala abad Michelangelo. Setelah puas memandangi dan menikmati lukisan masterpiece tersebut, kita memasuki Raphael Rooms. Di situ Paus Julius II menunjuk anak muda berumur 25 tahun bernama Raphael Sanzio di musim gugur tahun 1508 melukis dinding "Kebakaran di Borgo", "Sala della Segnatura" (ada lukisan "The School of Athens"), "Room of Heliodorus", "Room of Constantine" (lukisan ini setelah Raphael mati, diteruskan muridnya) dan di ruangan ini ada Chapel of Nicholas V. Setelah hati dan pikiran ini takjub yang tak habis-habisnya selama menyaksikan kehebatan para seniman jaman dahulu (berabad-abad yang lalu) di Museum Vatican dan lebih-lebih di Sistine Chapel dengan mahakarya Michelangelo, kami menuju Basilika Saint Peter yang letaknya bersebelahan dengan Sistine Chapel. Roma merupakan pusat dan asal mula Ajaran Yesus ke seluruh dunia. "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku", kata Yesus kepada murid-Nya bernama Simon alias Peter (yang artinya 'batu karang'). Dan ternyata penyebaran 'Kabar Baik' Ajaran Yesus ke seluruh dunia yang terbesar memang dari karya Peter dimulai dari Roma.

Kota Vatican adalah negara kecil yang terpisah dari Roma, dengan kepala negaranya adalah Paus. Konon dahulu Roma juga mencakup Vatican, tapi karena dari sejarah gereja, bilamana dua kekuasaan dipegang oleh tangan yang sama (sebagai kepala negara dan kepala agama), maka akan terjadi kekacauan dan penyimpangan-penyimpangan, maka keduanya kini dipisah. Di sinilah tempat para martir, termasuk Santo Petrus, menghadapi ajalnya. Basilika Saint Peter dibangun pada tahun 324 oleh Kaisar Constantinus untuk menghormati ke 12 Rasul Yesus. Berbagai perubahan juga terjadi di sini. Di depan basilika ada lapangan besar berbentuk setengah lingkaran. Di tengah-tengah lapangan ada obelisk, yang merupakan bukti kejayaan Kaisar Nero. Kabarnya obelisk ini dibawa dari tempat asalnya Mesir sebagai simbol, bahwa dimana ada penderitaan dan kekejaman terbesar, di situlah terjadi kebesaran Tuhan dan kebangkitan bagi yang tertindas (yakni martir-martir yang dibunuh). Di dekat obelisk ini ada tanda seperti bintang; bila kita berdiri di titik itu, maka semua pilar bersusun tiga lapis yang mengelilingi lapangan akan tampak seolah-olah hanya satu lapis pilar. Ini membuktikan salah satu kehebatan para arsitek jaman Romawi. Di sisi obelisk terdapat 2 air mancur karya arsitek terkenal Bernini. Di lapangan inilah biasanya dilakukan berbagai upacara keagamaan, termasuk untuk acara audiensi Paus. Setiap hari Rabu diadakan Doa Angelus yang biasanya dipimpin langsung oleh Paus Johannes Paulus II tepat jam 12:00. Doa berlangsung selama 30 menit.

Basilika Saint Peter dari luar menampakkan 9 buah balkon, satu diantaranya tempat Paus biasa melambaikan tangan dan memberkati umatnya (Urbi et Orbi) pada hari Natal dan Paskah. Ada 5 pintu masuk, dengan atrium yang dihiasi oleh patung-patung besar. Di pintu tengah ada figur Santo Petrus dan Paulus, sebagai salah satu karya seni dari para pemahat. Pintu di sebelah paling kanan adalah Porta Santa. Pintu inilah yang dibuka oleh Paus setiap kali mengawali tahun Jubileum dengan menggunakan palu untuk upacara. Saat memasuki basilika, yang ada hanyalah rasa kagum, terharu, dan heran yang tidak habis-habisnya. Decak kagum tak lepas-lepas keluar dari bibir, rasanya perpaduan antara karya seni yang hebat, keanggunan, kemegahan, sekaligus ekspresi iman yang begitu kuat untuk memuji dan memuliakan Allah. Mengagumi tempat suci yang bukan sekedar untuk disakralkan dan jauh dari umat, namun justru begitu memasyarakat dan boleh didekati oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang non-Kristen. Terlihat juga pengunjung yang berasal dari Arab dengan memakai jilbab menyaksikan kebesaran Basilika Saint Peter yang mengagumkan ini. Begitu terbukanya gereja bagi manusia, yang secara konsekuen membuktikan filosofi yang dianut, bahwa Tuhan terbuka bagi siapapun. Seluruh gedung dan dekorasi bergaya Renaissance dan Baroque serasa turut memuji kebesaranNya, dikemas dalam selera seni yang tinggi, mencerminkan kesucian Gereja Katolik. Mulai dengan tempat air suci yang dibuat pada abad 18 dan patung perunggu Santo Petrus (abad 13), patung berikutnya adalah karya terkenal dari Michelangelo pada tahun 1499-1500, yakni "Pieta". Patung ini dibuat ketika Michelangelo berusia 24 tahun, satu-satunya karya yang memuat tanda tangannya. Ide yang dimunculkan adalah perpaduan antara kecantikan dan dampak emosional yang kuat serta kelembutan dari Bunda Maria yang sedang menggendong jenasah Yesus, anaknya.

Di pinggir gereja ada kapel-kapel yang diberi nama para Santo, masing-masing mempunyai ciri khas sendiri dalam dekorasinya (Kapel Santo Sebastian, Kapel Sakramen Kudus, Kapel Gregorian, Kapel Santo Michael, Kapel Santo Clementine, kapel untuk paduan suara, kapel untuk presentasi, dll.). Pada Altar Utama (Papal Altar) tampak ada satu kursi singgasana, dengan keempat kakinya disangga oleh 4 Santo, yakni kedua kaki kursi depan disangga oleh St. Ambrose dan St. Augustine dari Gereja Roman serta St. Athanasius dan St. John Chrysostom dari Gereja Greek. Kesemua santo tersebut secara konsisten selalu mengajarkan sesuai doktrin teologi dari St. Peter. Ini memberikan arti bahwa gereja terbuka untuk dunia mana saja, baik Barat maupun Timur. Persis di bawah Papal Altar inilah kuburan Rasul Petrus yang berada di basement basilika. Latar belakang altar utama adalah ruangan dinamakan Chapel Cathedra, dimana di situ ada jendela kaca berbentuk bulat agak oval vertikal bergambar burung merpati sebagai lambang Roh Kudus.

Makam Rasul Petrus (murid Yesus yang sekaligus Paus Pertama), yang ditandai dengan adanya lampu merah menyala. Berjejer setelah makam Petrus terdapat 147 kuburan para Paus yang seluruhnya terbuat dari marmer. Termasuk di antaranya adalah kuburan Paus Johannes Paulus I, Paus Johannes XXIII, Paus Paulus VI, dll. Semua makam tadi berada di basement persis di bawah lantai Basilika Saint Peter yang sangat besar itu, memang sungguh luar biasa.  

Di bagian kiri gereja tampak dua orang penjaga yang kabarnya merupakan prajurit Swiss (keamanan di Vatican menjadi tanggung jawab pemerintah Swiss). Mereka mengenakan pakaian kreasi Michelangelo dengan warna mencolok dan masih dipertahankan keasliannya sampai sekarang.

Berjalan kurang lebih 300 meter ke luar dari Vatican, ada toko souvenir 'Soprani', yang terkenal murah meriah dengan kualitas yang sepadan. Untuk mencapai Basilika Saint Peter ini ada beberapa cara, yaitu naik metro A berhenti di Ottaviano, atau menggunakan bus 62, 98, 46, 482, 881.

Sorenya kami menuju Basilika Santa Maria Maggiore (St. Mary Major Basilica) dengan menggunakan metro A atau metro B berhenti di Stasiun Termini, atau bisa juga menggunakan bus 4, 9, 14, 16, 27, 70, 71, 613, 714, 715.

Dari depan luar basilika, tampak bangunan bergaya baroque. Persis di tengah lapangan depan basilika, berdiri kolom marmer dari basilika awal Massentius. Obelisk kuno ini dibawa dan ditaruh ke situ oleh Paus Sixtus V. Masuk ke dalam basilika ini, kita akan kagum kemegahan bangunan dengan interior menampilkan baldacchino serba ukiran wah dan cantik karya Gian Lorenzo Bernini. Ruangan utama dalam basilika ini adalah Sistine Chapel yang dipenuhi karya seni tinggi pada dinding dan ceiling. Ruangan bagus lainnya adalah Kapel Pauline dan Kapel Koor Musim Dingin. Ukiran kayu pada ceiling karya Antonio da Sangallo. Pada altar Kapel Pauline terpampang ikon Sang Perawan.

silakan klik virtual Pauline chapel:  www.vatican.va/various/cappelle/paolina_vr/index.html

Kami juga sempatkan mampir Tre Fountain, tidak jauh dari sana. Begitu memasuki pintu gerbang kompleks Tre Fountain, di sebelah kanan jalan dapat dilihat patung yang bertuliskan Ora et Labora. Konsep dan istilah Ora et Labora yang terkenal itu memang lahir dari tempat ini. Di sinilah juga tempat berkaryanya Benedictians, yakni para pengikut Santo Benedictus. Di sebelah kiri jalan tempat bermukimnya para rahib trapis, yang seperti juga di Indonesia, mereka makan dan mencari nafkah dengan cara bercocok tanam dan beternak, sekaligus juga mendidik dan menularkan ketrampilan ini kepada penduduk setempat. Jadi pekerjaan mereka antara lain membuka lahan-lahan baru untuk keperluan itu. Tidak jauh dari situ kami tiba di gereja kecil yang sedang mengadakan misa, maka kami sempat mampir sebentar di sana untuk merasakan suasana di dalamnya. Lagu yang diperdengarkan begitu syahdu dan menyentuh hati, serta dinyanyikan secara kompak oleh para umat. Setelah itu kami berjalan ke belakang gereja dan di situ terdapat tempat dengan lampu merah menyala yang sepintas terkesan agak seram. Ternyata tempat itu merupakan tempat pembantaian 10.203 tentara Kristen yang wafat sebagai martir. Ketika kami membaca kisah tersebut di tembok, terdengar nyanyian dari misa yang sedang berlangsung, dengan irama yang menyayat hati (membuat bulu kuduk ini merinding). Akhirnya kami tiba di tempat bersejarah yang dikenal sebagai Tre Fountain (tiga air mancur), yang diwujudkan dalam bentuk bangunan seperti kapel. Pada tembok atas terlukis suasana eksekusi pemenggalan kepala Santo Paulus yang menurut cerita, kepala tersebut jatuh ke tanah di tiga tempat. Di sudut kanan kapel terdapat tiang setinggi kira-kira satu meter yang dipakai sebagai tempat pemenggalan. Kira-kira berjarak satu meter dari tiang itu, diyakini tempat pertama kali jatuhnya kepala Santo Paulus, dan kira-kira 2 meter berikutnya juga tempat jatuhnya kepala yang kedua dan ketiga kalinya. Di ketiga titik jatuhnya kepala Santo Paulus ini muncul mata air yang hingga kini terus menerus mengalir keluar dari dalam bumi dan tak pernah habis. Memang terdengar suara air mengalir di 3 titik tersebut, ada yang keras dan ada yang cukup keras.

 

Hari Kamis tanggal 14 Oktober 2004, perjalanan diteruskan ke Pisa. Gereja Katedral dengan menara loncengnya yang miring, terbuat dari marmer putih abu-abu. Galileo Galilei (1564-1642) mengadakan percobaan benda jatuh dengan menghitung kecepatannya, dan berhypothese bahwa kecepatan benda jatuh adalah sama bila beratnya sama. Inilah yang namanya percobaan gravitasi. Pada tahun 70-an, menara lonceng yang tingginya 55 meter itu sudah ambles (settlement) 2 meter, jadi kira-kira miringnya 6 derajat. Di kota ini pula disimpan ring magnet yang pertama, dimana arus searah dialirkan melalui kumparan, yang kelak oleh Antonio Pacinotti menjadi asas dasar elektromotor. Di Pisa kita bisa melihat patung Maria yang sedang meneteki Yesus dengan sebutan Madonna del Latte, karya Nino Pisano. Banyak bentuk façade gereja yang cantik-cantik di Pisa, hal ini menarik untuk mata pelajaran arsitek ‘kirchenbauer’ (bangunan gereja).

Sore hari kami menuju kota Florence, dan kami makan malam di I Falciani Restaurant (Via Cassia 245, Florence). Restoran cukup besar dengan suasana romantis, selain aneka hidangan khas Italy yang enak-enak dan cocok untuk lidah kita, juga disuguhi musik berbagai macam lagu gembira secara live (termasuk lagu 'Bengawan Solo') yang dimainkan seorang Italy secara piawai, sebagian tamu dengan kegembiraan tersendiri berjoget berdansa dengan berbagai gaya seadanya, tentunya hampir semua bule donk.

 

Hari Jumat tanggal 15 Oktober 2004, Florence (lebih dikenal Firenze). Basilika San Lorenzo dibangun 393, dimana bangunan sebelah dalamnya didesign oleh Michelangelo. Salah satu bagian dalam bangunan ini adalah perpustakaan Laurentian yang selesai dibangun pada tahun 1578 di bawah pengawasan Michelangelo. Di sebelahnya ada jalan untuk pasar, tempat orang biasa shopping barang-barang dari kulit, termurah lagi di Italy. Cathedral Santa Maria del Fiore (1296) dikenal bangunannya dengan campanile cantik rancangan Giotto. Dari segi struktur konstruksi, katedral ini merupakan terbesar ketiga setelah Basilika Saint Peter di Roma dan Cathedral Saint Paul di London. Gereja Baptistery dibangun pada abad 11 berbentuk oktogonal dan beratap bentuk piramida, sebagai dedikasi pada Santo Yohanes Pembaptis. Yang sangat menarik dan mengagumkan adalah pintu gereja. Ada 3 daun pintu (menghadap utara, selatan, dan timur). Pintu pertama yang menghadap selatan dibuat tahun 1330 oleh Andrea Pisano. Pada pintu ini menggambarkan cerita Yohanes Pembaptis. Pintu kedua yang menghadap utara dibuat tahun 1403-1424 dan pintu ketiga yang menghadap timur dibuat tahun 1425-1452, keduanya dibuat oleh Lorenzo Ghiberti. Pintu kedua menggambarkan cerita dalam Perjanjian Baru, sedangkan pintu ketiga menggambarkan cerita dalam Perjanjian Lama. Dari ke 3 pintu tersebut, pintu ketiga yang menghadap timur adalah yang terkenal dengan sebutan the Gate of Paradise.

Palazzo della Signoria merupakan salah satu contoh terbaik arsitektur abad 14. Di depan bangunan ini adalah the Loggia dell'Orcagna yang dibangun pada tahun 1376-1382 oleh Benci di Cione dan Simone Talenti, memamerkan bentuk bangunan campuran antara Gothic akhir dan awal Renaissance, dan di sana ada 6 patung gaya Romawi. Perjalanan dilanjutkan ke bangunan sebelahnya, yaitu bangunan abad 16 the Uffizi. Setelah itu menuju Gereja Santa Croce, dibangun tahun 1294-1295 yang di dalamnya ada makam Foscolo dan para pahlawan bersejarah lainnya, juga ada makam Galileo Galilei yang terlanjur dihukum mati karna teorinya bahwa bumi ini bulat, juga ada makam Marconi yang berjasa menemukan radio, juga makam artis besar lainnya seperti Rossini, serta Ghiberti yang terkenal ukiran pintu the Gate of Paradise di Gereja Baptistery. Stained-glass pada jendela-jendela dan jendela mawar pada facade sebelah dalam. Michelangelo meninggal pada usia 88 tahun, akhirnya dimakamkan di ruangan utama dalam Gereja Santa Croce.

The Accademia Gallery ditemukan oleh Cosimo I de' Medici pada tahun 1562. Di sini banyak kumpulan benda-benda seni dari karya berbagai sekolah seni di Florence. Mulai tahun 1873, beberapa karya Michelangelo ditaruh di hall utama dan di tribune galeri. Pada akhir hall besar ditaruh patung ukiran karya masterpiece Michelangelo "David".

Florence ini merupakan kotanya Michelangelo waktu masih muda, konon menurut cerita diduga Michelangelo itu gay. Donatello juga berkembang seninya di kota Medici ini. Dari tempat ini (yang seperti bukit) kita bisa melihat kota Florence dari ketinggian lereng bukit, dengan patung "David" tiruannya karya Michelangelo berdiri megah di sana. Memang pemandangannya indah berkilauan cahaya emas di sore hari. Terlihat Ponte Vecchio (The Old Bridge) yaitu jembatan tertua di atas Sungai Arno yang membelah kota Florence. Jembatan ini merupakan saksi bisu karna menjadi satu-satunya bangunan tua yang selamat dari gempuran bom sewaktu perang dunia yang meratakan seluruh kota Florence. Jembatan ini sudah ada sejak abad 10, tapi mengalami kerusakan akibat kebanjiran tahun 1333, duapuluh tahun kemudian jembatan ini dibangun lagi hingga sekarang menjadi terkenal karna penampilannya yang unik.

Siang ini kami menuju Venice (lebih dikenal Venezia). Kanal besar (The Grand Canal) merupakan jalan utama Venezia. Kanal besar ini diseberangi 3 jembatan besar yaitu Scalzi Bridge, Academia Bridge, dan Rialto Bridge. Rialto Bridge merupakan salah satu ciri dan menjadi simbol monumen di Venezia. Tujuan utama para turis adalah San Marco Square, sebagai pusat bertemunya orang-orang yang ingin menikmati keindahan dan santainya kehidupan Venezia. Pusat dari lapangan ini adalah Gereja Katedral San Marco, yang berdiri megah dan anggun, dengan kesan kuno/antik, dibangun pada pertengahan abad 17 sebagai tempat penyimpanan jenasah Santo Markus, yang dibawa ke Venezia pada tahun 829. Di tengah lapangan beterbangan burung dara yang tampaknya sudah terbiasa hidup menyatu dengan manusia. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa turis yang asyik bermain dengan burung-burung dara, sambil menebarkan makanan burung yang bisa dibeli di tengah-tengah lapangan itu.

Dengan naik perahu bermotor ke Pulau Murano yang tidak jauh, hanya menyeberang satu pulau di depan (Pulau San Giorgio), kita akan sampai pada industri buatan tangan berbagai produk dari gelas yang terkenal dengan sebutan gelas tiup. Tangan-tangan yang sangat piawai membentuk berbagai bentuk patung dan aneka lampu (sering dengan ditiup) yang beraneka warna-warni dibuat di beberapa rumah penduduk, dan dari sini produk gelas tiup sampai terkenal di berbagai negara.

Doge’s Palace merupakan bangunan istana abad 15 yang cantik sekali dengan keunikan dekorasi dan design arsitekturnya. Kita dapat melihat tangga besar sebagai jalan masuk ke istana, dan di dalamnya ada tangga emas. Masuk ke sebuah ruangan dengan 4 pintu yang didesign Palladio, serta lukisan dan ukiran ceiling yang sangat indah. Pada ruang senat (pernah rusak karna kebakaran 1547), lukisan pada dinding dan ceiling oleh Tintoretto, Palma, dan Vicentino.

Di samping Istana Doge, ada jembatan terkenal sekali yang dibangun Antonio Contin pada tahun 1589 namanya Bridge of Sighs, menghubungkan gedung pengadilan dan penjara. Disebut Bridge of Sighs karna suara rintihan terhukum setelah dijatuhi hukuman mati, melewati jembatan itu untuk dipisah dengan terhukum lainnya dan melihat cahaya hari itu untuk terakhir kali dalam hidupnya.

Suasana malam hari adalah yang menjadi incaran para turis, suasana romantis yang diwarnai dengan musik dari beberapa orkestra, kursi-kursi bertebaran di depan restoran, dan banyaknya pasangan yang berasyik masyuk menambah romantisme suasana yang terbentuk. Bayang-bayang air yang ditimpa cahaya lampu mengesankan seolah seluruh tempat bermandikan cahaya dan kilapan-kilapan air. Para turis asyik menikmati berbagai macam atraksi yang ditampilkan, termasuk para penyanyi di café-café sekitarnya. Kehidupan malam seolah tidak pernah berhenti, tengah malampun suasana masih ramai.

    

Hari Sabtu tanggal 16 Oktober 2004, siang perjalanan kami (300 km) tiba di Katedral Milan (Lombardy) yang sungguh sungguh cantik dan memang megah. Arsitektur yang luar biasa indah detilnya, dengan patung-patung yang terdapat pada setiap bagian runcing pada atap yang membentuk gereja hingga sampai atap bangunan gereja tua ini, mengesankan seluruh gereja terbuat dari patung dengan bentuk yang runcing-runcing. Sungguh karya seni arsitektur yang luar biasa indahnya! Melalui pintu kecil memasuki bagian dasar gereja (basement) dan melihat konstruksi mentahnya bangunan gereja ini, untuk menunjukkan kepada generasi kita bagaimana konstruksi gereja ini didirikan pada jaman itu (1386), dan di situ juga terdapat kuburan Santo Carolus Borromeus. Katedral Milan merupakan katedral terbesar ke 4 di dunia, yang terkenal cantik dan anggun saat itu sedang direnovasi sehingga tertutup tidak terlihat untuk dinikmati dan diambil photo.

Duduk-duduk di pinggir lapangan yang habis diguyur hujan, sambil menikmati Pizza yang enak rasanya dari Restoran Spizzio. Memang selama di Italy, sebaiknya membeli es krim yang kabarnya memang paling enak di seluruh jagad ini. Di sisi lain dari Katedral terdapat daerah pertokoan yang megah, dipenuhi oleh butik-butik bermerk terkenal dunia bagaikan sorga dunia bagi mereka yang senang shopping.

Menjelang makan malam, perjalanan (250 km) dilanjutkan ke kota Lucerne (Luzern) negara Swiss (Switzerland) yang segalanya serba hebat dan bagus, taraf hidup yang tinggi, so ya serba mahal donk buat kita, haiyaaa :~(  Tepat pukul 20.15 kami memasuki perbatasan negara Swiss, dan tanpa adanya pemeriksaan paspor, perjalanan dilanjutkan dengan pemandangan bercahayakan lampu di sana sini yang indah sekali dan juga melalui banyak terowongan yang bersih dan nyaman, sampailah di sebuah restoran yang makanannya lezat semua (lha wong jam 22.00 sudah kelaparan kok) sebelum masuk kota Luzern. Akhirnya tiba jam 23.40 di Hotel Europe (Haldenstrasse 59, Luzern). 

 

Hari Minggu tanggal 17 Oktober 2004, pagi-pagi kami menikmati udara sungguh bersih dan segar dengan kemolekan Danau Luzern dan jajaran Gunung Alps bersalju terlihat jelas dari jendela kamar kami. Hotel ini memang enak sekali, juga disediakan internet dengan membayar 5 Swiss Frank (kira-kira Rp 40.000,-) selama 15 menit, cukup mahal. Bandingkan dengan warnet di dekat Universitas Petra Surabaya tarifnya Rp 2000,- per jam.

Titlis merupakan tempat tamasya di gunung tertinggi di Swiss bagian tengah, serta merupakan sorga main ski dan snowboard terbesar di daerah sana, tempat bersukaria dengan salju sepanjang tahun.

Titlis (ketinggian 3020 meter di atas permukaan laut) memang sorga salju dan gletser yang unik, yang dapat dicapai dari Lucerne, Zurich, maupun Basel.

Dari Engelberg (ketinggian 1000 meter), kita naik cable-car (maksimum 6 orang) sampai Trubsee (ketinggian 1800 meter). Dilanjutkan naik rotair cable-car yang lantainya berputar di sumbunya (maksimum 80 orang) menuju stasiun gletser Stand (ketinggian 2428 meter), temperatur menunjukkan nol derajat Celcius. Di Titlis, kita naik rotair cable-car yaitu kereta gantung putar pertama di dunia. Di dunia hanya ada 2 kereta gantung putar ini, satu lagi di San Fransisco. Sepanjang perjalanan pemandangannya bukan main cantiknya. Tak henti-hentinya kami memotret hingga ratusan potret. Saat berangkat udara cukup cerah dan matahari masih terlihat. Beberapa saat kami tiba di puncak Titlis dan selagi menikmati guling-gulingan di atas salju, tiba-tiba hujan salju yang menambah semarak untuk berphoto-ria, namun pemandangan menjadi terbatas sekali. Tak ketinggalan kami masuk ke goa es untuk merasakan bagaimana rasanya masuk kulkas itu (kulkas di rumah kita kan nggak muat ya?).

Jika ada waktu cukup panjang, kita dapat menikmati panorama puncak Gunung Titlis yaitu dengan bermain ski maupun snowboard, dan bisa jalan-jalan biasa ke taman gletser sambil pura-pura jatuh enak di atas salju.

Puas mejeng-mejeng dipotret sambil bermain salju, kami makan siang di Panorama Restaurant (Postfach 754, Engelberg) di puncak Titlis dengan aneka hidangan yang disajikan secara profesional dan pelayanan yang ramah sekali. Masakannya uenak semua, tersajikan dengan kehangatan yang membuat kita makan sampai kekenyangan. Di sana juga ada es krim enak Movenpick dengan aroma wafelnya yang harum.

Jam 14.00 kami menggunakan cable-car turun kembali ke kota Engelberg. Pemandangan pohon-pohon cemara yang diselimuti salju putih bertaburan di atasnya membuat pandangan yang enak dilihat. Juga beberapa rumah peternak sapi dengan perkebunan berbagai pohon beraneka warna daun (hijau, merah tua, kuning, coklat) menambah semarak pemandangan yang memang luar biasa cantiknya di sana sini.

Jam 17.00 kami menuju kawasan Denkmal tiba di Monumen Singa menangis di tengah perisai sebagai ikon kota Luzern. Lion Monument ini dibangun pada tahun 1812 untuk memperingati tentara Swiss yang gugur di medan perang di Tuileries (dekat Paris) tahun 1792. Setelah itu kami shopping ke toko Bucherer (depan Vierwaldstattersee), tempat menjual aneka merk jam terkenal dunia: Rolex, Tissot, Breitling, Tagheuer, dll. Karna kami tidak membeli jam Rolex, namun supaya terlihat aktifitas belanja, ya kami membeli macam-macam permen coklat yang rata-rata memang lezat karna serba asli dengan kualitas terjamin paling tinggi di sana. Untuk membeli aneka coklat serba enak dan terkenal (dan tidak dimahalin toko), kita dapat membelinya di belakang toko Bucherer ada perempatan yang salah satu ujungnya ada toko cukup besar (lupa namanya) menjual aneka coklat.

Tak ketinggalan kami jalan-jalan ke Kapel-Brucke yaitu jembatan dekat menara air yang terkenal dari kota Luzern. Aneka jenis bebek dan angsa yang cantik warnanya menghiasi danau yang sudah indah untuk dilihat itu. Semua sudut pandangan memang serba indah sekali di sana.

 

Hari Senin tanggal 18 Oktober 2004, pagi kami melanjutkan perjalanan (365 km) menuju Beaune (dekat perbatasan di negara Perancis) untuk makan siang di Dragon Celeste Restaurant (29, Rue Chaudronnerie-Dijon). Setelah itu perjalanan (310 km) diteruskan menuju Paris, melewati pabrik dan lapangan besar untuk menimbun barang jadi mobil kebanggaan Perancis yaitu Peageot dan Citroen di kota Mont Beliard. Jam 20.30 tiba di kota Paris dan langsung menuju China Town Paris (daerah 13 kalau lihat peta Paris) untuk makan malam jam 21.00 di Phuong Hoang Restaurant (52, Rue De Javelot-Paris).

Jam 23.00 kami tiba di Holiday Inn (39 Boulevard de Lagny, Bussy-Saint Georges), hotelnya jauh sekali di luar kota Paris yaitu daerah pengembangan baru (dekat sekali dengan Disney-Land), merupakan zone 3 untuk per-metroan.

 

Hari Selasa tanggal 19 Oktober 2004, setelah makan pagi di hotel, kami menuju Istana Versailles.

Istana Versailles, harus antri cukup lama (tiketnya 7,5 euro per orang) karna banyak turis manca negara yang harus diatur secara 'batch'. Di sini memang salah satu karya besar kebanggaan bangsa Perancis, yang membuktikan betapa hebatnya nenek moyang mereka, sehingga memiliki istana sebesar dan semegah serta semewah itu (terlebih sejak beberapa abad yang lalu). Luas kompleks istana ini beserta kebun dan tempat istirahat raja-raja hampir sama dengan luas kota Paris sekarang ini. Dengan ikut keliling ke halaman belakang istana, mengitari sebagian taman yang sangat luas dan terawat sekali adalah sungguh indah dan memang sangatlah cantik. Kebudayaan bangsa Perancis memang sudah tinggi sekali, tampak pada karya seni yang terdapat di dalam 3 bangunan utama. Masuk pintu istana, ruangan pertama yang kita jumpai adalah the Royal Chapel dengan kolom-kolom Corinthian berdiri sepanjang galeri lantai satu. Ceiling setengah kubah memanjang dipercantik dengan lukisan Coypel. Salah satu lukisannya mengenai "Allah Bapa yang mengabarkan kedatangan Juruselamat ke dunia". Pada altar menampilkan dekorasi serba perunggu oleh Van Cleve. Dalam bangunan A yang berisi banyak lukisan-lukisan besar di dinding menggambarkan heroisme nenek moyang bangsa Perancis. Kemenangan yang diperoleh dari setiap perang yang dilakukan para pahlawannya digambarkan dalam lukisan, sehingga di sepanjang dinding penuh dengan lukisan peringatan kemenangan tersebut. Juga lukisan dengan ukiran-ukiran timbul di dinding serta langit-langit di setiap ruangan (tempat rias ratu, kamar tidur ratu, dsb). Bangunan lain adalah galeri kaca yang luar biasa wahnya, berisikan macam-macam lampu kristal dan patung-patung besar serta perhiasan dari perunggu, tampak mewah, juga lukisan-lukisan besar di tengah galeri Batailles yang memang bagus.

Dengan kereta yang menuju bagian belakang atau taman istana, ada villa yang diberikan raja kepada Marie Antoinette. Semua serba putih karena seluruh bangunan terbuat dari marmer dan terasa sejuk. Semua ruangan beserta asesoris sampai kamar tidur sang ratu diperlihatkan kepada wisatawan. Patung kuda di tengah kolam di area taman belakang tampak megah dan gagah, melambangkan heroisme juga. 

Kesimpulannya, Paris memang tempatnya untuk jalan-jalan. Suasananya serba mendukung dan menyenangkan, romantis, sarana lengkap tersedia, enak untuk dinikmati dimana-mana. Banyak sekali objek yang indah dan layak untuk dikunjungi dan dinikmati, seakan-akan tak ada habisnya. Di Paris saja selama seminggu mestinya tidak cukup, apalagi ditambah objek-objek di Cannes, Nice, Lourdes, Lyon, Avignon, Mont Saint-Michel, dll. Siang itu kami makan siang di Mandarin Royal Restaurant (5, Rue Ste-Genevieve-Versailles) berjalan kaki 400 meter dari gerbang luar Istana Versailles. Kami sempatkan mampir persis di seberang restoran tadi yaitu Notre Dame The Royal Paris Church of Versailles. Gereja Katolik ini dibangun pada abad 17 dimana peletakan batu pertamanya oleh Raja Louis 14 pada tanggal 10 Maret 1684. Gerejanya lumayan besar dengan stained-glass pada jendelanya bagus-bagus. Setelah itu kami naik bus menuju Paris untuk keliling kota melewati object-object turis. Pukul lima kami memasuki Lafayette Departement Store, yang merupakan tempat belanja kaum menengah atas dari turis manca negara. Di sana tersedia berbagai kosmetik, parfum, dsb. berbagai merk terkenal kelas dunia, demikian juga barang-barang dari kulit seperti Louis Vutton tersedia di sana dengan model terbaru akan hadir di konter tersebut. Sebelum masuk Lafayette, terlihat oleh kami bangunan gereja persis di ujung jalan, kami ke sana terlebih dahulu yaitu Gereja St.Lazare. Gereja ini unik, banyak didatangi orang sampai antri khusus untuk pengakuan dosa.

Setelah selesai dari Lafayette, kami makan malam di Printemps De Jade Restaurant (55, Rue De Provence, Paris), kemudian dilanjut menuju Sungai Seine untuk cruise city tour naik Bateaux-Mouches (kapal semacam ferry khusus untuk turis) menyusuri Sungai Seine menuju Menara Eiffel. Sepanjang jalan menyusuri sungai tampak suasana cantik, banyak bangunan-bangunan kuno yang bermandikan cahaya lampu fluorescent kuning mengesankan keanggunan dan didukung perawatan yang baik sekali, sehingga masih tetap dapat dijadikan objek turisme yang amat handal.

Menara Eiffel yang sangat tinggi dan megah terlihat dengan permainan lampu dari atas hingga kaki menara. Place de Warove adalah tempat dimana pemandangan Menara Eiffel dari titik ini sungguh cantik di kegelapan malam. Menara Eiffel dengan ketinggian 984 feet terealisasi tahun 1889 karya Alexandre Gustave Eiffel dan menjadi simbol Paris di seluruh dunia. Dari lantai tiga kita dapat menikmati kota Paris terutama di sore/malam hari.

Sebelum mengakhiri 'city tour' malam itu kami menuju Avenue des Champs-Elysees. Menikmati suasana malioboronya Paris, toko/butik dengan rancangan designer terkenal dan merk-merk dunia bertebaran di sana untuk para artis papan atas tentunya. Juga kami melewati cafe restoran milik Alain Delon yang selalu dipenuhi pengunjung. Puas menikmati sekilas suasana itu, kami masuk nonton Cabaret Lido Show dengan harga tiket tiga juta rupiah untuk kami berdua. Cabaret Paris merupakan salah satu terbaik di dunia kan? Jangan berpikir bahwa nonton cabaret itu sama dengan nonton porno. Mereka menyuguhkan tontonan tarian secara profesional sekali dalam segala-galanya (pemilihan artis berbakat, gerakan tarian, kostum yang ditampilkan, kemerduan suara sang artis/aktor, dsb.). Memang dalam kesenian itu tidak dapat dipisahkan dengan keindahan tubuh, maka banyak tampilan yang terbuka dadanya, namun kita bisa menilai apakah itu untuk menonjolkan kepornoannya atau tidak dari alur gerakan yang mereka sajikan. Semua dikemas dengan sangat apik dan profesional sekali.

 

Hari Rabu tanggal 20 Oktober 2004, merupakan hari pertama bagi kami berdua untuk berpetualangan yang sesungguhnya setelah 10 hari untuk penyesuaian diri serta mengumpulkan tenaga di Italy dan Swiss. Selesai makan pagi di hotel, kami berjalan kaki 7 menit menuju Stasiun Bussy-Saint Georges untuk naik metro ke kota Paris menuju Katedral Notre Dame di pinggir Sungai Seine. Di mana-mana terlihat orang bermesraan, dengan berbagai macam adegan dan berbagai taraf kesukaran en kehangatan. Namanya juga Paris, kota romantis. Pokoknya merata di segala usia. Kapal pesiar mulai dari yang sederhana hingga yang cukup mewah dipenuhi oleh turis-turis yang mengelilingi kota Paris melalui sungai Seine. Suasana romantis benar-benar terasa, dan harus diakui bahwa jalan-jalan di kota ini sungguh menyenangkan untuk digunakan berjalan kaki, tak habis-habisnya objek yang dapat dinikmati sambil berjalan-jalan, sehingga tidak terasa lelah walaupun harus berjalan jauh.

Cathedral of Notre Dame, karya besar bangunan gothic ini dari Maurice de Sully yang dibangun antara 1163-1345. Jaringan jalan kota Paris memperhitungkan titik nol kilometer ada di lapangan katedral ini. Dalam katedral ini memang semua ornamen patung dan lukisan terhitung bagus-bagus. Bangunan yang termasuk besar dan megah. Menara katedral ini memiliki 13 nada lonceng besar berdiri di atas the Ile de la Cite.

Setelah itu kami berjalan kaki ke arah belakang katedral menyeberang jalan dan jembatan Pont Saint Louis, di sana ada es krim enak dengan resep kuno khas Perancis namanya 'bertillon' (hanya ada di siang hari). Saat itu hujan turun sangat deras, kami menunggu hujan cukup lama, dan terdampar di dekat situ ada Gereja Katolik lagi (lupa namanya). Wah bagus juga di dalamnya, interior gothic dan kaca stained-glass nya bagus. Karna masih mendung gelap dan hujan tidak berhenti, kami sedikit demi sedikit jalan diteruskan hingga tiba di Palais de la Cite. Masuk ke dalam area gedung pengadilan ini, kita akan menjumpai Sainte Chapelle yang bukan main uniknya (dibangun 1242-1248 untuk Raja Louis IX). Masuk ke dalam kapel kita harus bayar 7 euro per orang. Begitu masuk kapel, yaitu lantai satu dengan portal kembarnya, untuk penghormatan pada Bunda Perawan Maria. Lantainya dari marmer (di bawahnya merupakan kuburan) yang karna terlalu sering diinjak para turis berabad-abad, menjadikan reliefnya hilang. Naik ke atas melalui tangga sempit di sudut depan ruangan lantai satu tadi. Tiba di lantai dua, wow.........bukan main menakjubkan ruangan yang tidak besar namun lumayan tinggi dengan seni arsitektur gothic bangsa Perancis untuk upacara misa. Lebarnya 17 meter, dan tingginya 20 meter. Seluruh ruangan dipenuhi 15 jendela polychrome gothic stained-glass abad 13 dengan ukiran cerita dalam Alkitab, dan masing-masing kolom antar jendela diberi patung ukiran para santo. Bukan main indahnya suasana dalam ruangan itu dengan menikmati corak stained-glass berwarna merah maron semua.

Jalan-jalan diteruskan pantang mundur, kami menuju Centre George Pompidou. Dalam gedung ini terlihat bola-bola hitam besar tergantung di hall depan sebagai lambang atom atau mengesankan ilmu pengetahuan, juga ada museum seni modern, dan kita bisa santai sambil menambah ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati orang bernyanyi dengan alat musik tertentu secara piawai (tidak ada yang asal-asalan). Di sana juga disediakan perpustakaan yang banyak diminati orang. Juga ada galeri lukisan, ada theatre, concert, dll. Kita bisa berjam-jam di sana tanpa ada yang mengusik.

Kemudian kami naik bus dan terdampar di Hotel de Ville (Gedung Balai Kota), tampak luar memang cantik apalagi bermandikan cahaya di malam hari menjadikannya lebih artistik. Karna hujan cukup deras, kami masuk ke dalam plasanya.

 

Hari Kamis tanggal 21 Oktober 2004, pagi setelah sarapan pagi di hotel, kami memutuskan pindah hotel ke tengah kota Paris agar segalanya tidak buang waktu perjalanan yang jauh. Akhirnya kami terdampar di Hotel Villa des Ternes (97, Avenue des Ternes), hampir dekat la Defense. Siang itu kami naik metro menuju Stasiun La Defense, begitu keluar stasiun, tampaklah bangunan-bangunan modern sangat megah dan indah, seperti La Grande Arche, gedung CNIT, dan pusat bisnis. Dan juga ada air mancur menari, cukup jalan-jalan di situ mengasyikkan melihat pemandangan megah dan serba modern.

Kami melanjutkan naik metro ke Place de la Concorde, sebuah istana yang dibangun 1757-1779, dan di depannya ada lapangan luas dibangun tahun 1795. Di tengah lapangan berdiri Obelisk bangsa Mesir setinggi 23 meter dari Kuil Luxor yang disumbangkan Mehmet Ali kepada Raja Louis Philippe pada tahun 1831. Menikmati pemandangan dari lapangan ini (ada air mancur artistik sekali) dengan banyak objek yang terlihat indah sekali dari situ yaitu: Menara Eiffel, des Invalides yang seolah bercahaya ukiran emas pada atap berbentuk kubahnya, Gereja Madeleine. Dari situ juga bisa kita lihat (merupakan ujung Avenue des Champs-Elysees) ke arah Arc de Triomphe ..........wah bagus sekali melihat pemandangan dari titik itu, maka tak heran sering photographer profesional seperti Den Vincent ini juga mengambil gambar dari posisi di situ. Dan di seberang salah satu sisi lapangan ini terlihat Hotel Crillon yang jaman tahun 1960 an pernah diinapi Presiden Soekarno. Konon dari hotel itulah Soekarno melihat tugu besar Obelisk dan muncul ide membuat Tugu Monas di Jakarta.

Arc de Triomphe (Gerbang Kemenangan) yang terkenal, dibangun oleh Chalgrin 1806-1836 pada pemerintahan Napoleon I. Kita dapat naik tugu ini dengan membeli tiket. Setelah tiba di lantai atas, di sana ada diorama sejarah dan perjuangan di kota Paris. Kemudian kita menuju lantai paling atas (terbuka), di sana kita bisa melihat kota Paris dari ketinggian yang cukup dan berada persis di tengah-tengah kota Paris. Avenue des Champs-Elysees terlihat jelas hingga samar-samar Place de la Concorde. Nun jauh di atas Bukit Montmartre terlihat bangunan gagah beratap kubah Sacre-Coeur (Sacred Heart Basilica). Udara dengan angin sangat dingin berhembus menusuk tulang membuat kami tidak tahan berlama-lama di sana.

Kami naik metro menuju bangunan des Invalides, yaitu makam Kaisar Napoleon Bonaparte yang mati 5 Mei 1821, masuk gedung ini membayar 7 euro per orang). Bangunan ini tampil sebagai kompleks bersejarah yang membanggakan. Kubah bangunan ini adalah karya besar arsitektur yang dibangun oleh Jules Hardouin-Mansart. Makam Napoleon ada di lantai bawah di tengah lingkaran terbuka yang dapat terlihat secara megah perkasa dari kedua lantai. Di atasnya sebelah dalam ada altar yang mewah dan di belakangnya ada Kapel Napoleon.

 

Hari Jumat tanggal 22 Oktober 2004, pagi kami memutuskan pindah hotel lagi yaitu ke Hotel Jean Bart (9, rue Jean Bart), lokasi dekat Taman Luxembourg. Setelah check-in, kami berjalan kaki cukup dekat ke Palais du Luxembourg. Tamannya besar sekali dengan pohon-pohon besar dan indah dilihat. Di tengah ada kolam air bundar besar menambah artistik pemandangan. Banyak orang duduk-duduk santai di kursi yang bertebaran yang memang disediakan. Di sisi lain dekat kolam, terlihat banyak mahasiswa yang sedang berdiskusi berkelompok serius sekali. Tampak pula di situ Gedung Senat Jardin Luxembourg. Di dekat situ ada Universitas Sorbonne, tempat kuliah orang-orang terkenal seperti Erasmus, Calvin, Martin Luther, Ignatius Loyolla, Secapramana. Keluar dari taman itu, kita bisa menyeberang jalan dekat bundaran menuju bangunan Pantheon yang sudah terlihat dari jauh. Pantheon adalah bangunan yang di dalamnya ada makam para pahlawan Perancis yang tak dikenal, dan untuk masuk ke dalam gedung megah itu kita harus bayar 7 euro. Di seberang Pantheon, tampak the University of Paris. Dan di samping Pantheon ada bangunan Gereja Saint-Etienne du Mont, kami hampiri dan masuk ke dalam. Ternyata gereja ini cukup besar dan indah sekali interiornya terutama tangga spiralnya, dibangun pada awal abad 13. University of Paris tadinya berlokasi di sini, dimana universitas ini menjadi terkenal di dunia dengan budaya baratnya karna ada 2 guru besar yang terkenal yaitu Santo Bonaventura dan Santo Thomas Aquinas. Kemudian gereja ini dibangun tahun 1492, tetapi baru diselesaikan tahun 1622. Ketika kami masuk ke dalam gereja, para biarawan dan biarawati sedang berlatih main sandiwara untuk suatu pertunjukan. Mereka berlatih dengan serius sekali dan kadang diiringi musik macam-macam dan lagu-lagu yang mereka lantunkan secara baik sekali.

Setelah itu kami bermaksud melanjutkan perjalanan menuju Kapel Santa Catharina Laboure, namun saat itu agak kesulitan mencarinya, malah terdampar pada bangunan gereja yaitu Gereja Saint Sulpice. Gerejanya besar sekali dan bagus, ternyata merupakan gereja kedua terbesar di Paris setelah Notre Dame. Gereja ini dirancang oleh 6 arsitek selama 134 tahun. Di depan gereja ada lapangan yang cukup besar dan di tengahnya ada air mancur dengan monumen kotak diberi patung 4 kardinal. Ketika kami berada di sana, banyak mahasiswa arsitektur tersebar di beberapa lokasi gereja untuk melakukan kegiatan menggambar bagian-bagian gereja ini yang memang bagus dari segi arsitektur bangunannya. Salah satu ruangan di sebelah kanan dekat altar, ada kapel dan kuburan kardinal (lupa namanya), dan ada photo terpampang gambar Paus Johannes Paulus II pernah mengunjungi tempat itu dan berdoa di situ.

Pukul tiga sore kami naik metro menuju Stasiun Vaneau, begitu keluar dari stasiun, persis di seberang jalan adalah Biara Vincent de Paul, dan di sebelahnya adalah Kapel Vincent de Paul dimana kita bisa menyaksikan jasad utuh Santo Vincentius de Paul dalam peti kaca relikwi yang ditaruh pada tembok di atas altar.

Dengan berjalan kaki 100 meter setelah keluar dari Kapel Vincent de Paul menuju perempatan Au Bon Marche (supermarket besar terkenal di daerah itu), lantas belok ke kiri adalah jalan Rue du Bac. Dari perempatan tadi berjalan kaki lagi 100 meter akan ketemu nomor rumah 140, itulah Kapel Catharina Laboure. Begitu memasuki kapel ini, kesan pertama kami adalah kapel ini sungguh cantik dengan keserasian warna dan lukisan serta ornamen dinding di sekitar altar. Di sebelah kiri altar dapat kita lihat jasad utuh Santa Catharina Laboure dalam peti kaca relikwi. Suasana hening dan khidmat masing-masing hadirin berdoa secara khusuk. Di kapel ini juga disediakan barang souvenir terutama terkenal medali wasiat dari Santa Catharina Laboure. Santo Vincentius de Paul dalam karyanya bekerja sama dengan Santa Catharina Laboure, mendirikan secara khusus Konggregasi Misi Putera Puteri Kasih pada abad 17.

Dari situ kami melanjutkan perjalanan dengan naik metro dari Stasiun Vaneau ke Stasiun Abbesses. Dari Stasiun Abbesses berjalan kaki 200 meter kami tiba pada sebuah bangunan megah nan indah Sacre-Coeur (Basilika Hati Kudus). Karna bangunan ini letaknya di atas bukit, maka harus menaiki tangga yang cukup jauh (disediakan juga sarana angkutan semacam kereta metro dengan membeli tiket 1,1 euro). Berada di sekitar basilika, kita dapat melihat pemandangan kota Paris yang sungguh indah, baik untuk pagi, siang, sore, terlebih di malam hari. Bangunan apapun cukup terlihat dari sini, dan pada sore hari sering tampak kota Paris berkilauan emas, dan pada malam hari sungguh menjadi sangat indah dengan kilauan lampu di sana sini. Masuk ke dalam basilika, memang besar dan indah sekali di dalamnya. Atap bangunan ini berbentuk kubah besar dan dihiasi gambar tentang cerita Alkitab tentunya. Keluar dari basilika dan kita turun ke bawah tanah, di sana ada kapel tempat kaul Santo Ignatius de Loyola bersamaan dengan 10 Imam Yesuit lainnya. Di sekitar Montmartre ini (kita harus ekstra hati-hati karna banyak sekali copet) disediakan kereta api mini dan bus kecil secara gratis untuk keliling dekat situ seperti suatu kota kecil tersendiri yang bagus sekali untuk dilihat dan dinikmati. Juga di dekat basilika ada pasar seni, orang melukis dan dilukis, orang bermain musik, jualan souvenir barang-barang kesenian. Ada juga tempat dengan sarana anak bermain seperti 'merry go round', dll.

Puas berada di Montmartre, kami kembali ke Stasiun Abbesses untuk naik metro menuju China Town nya Paris. Di sana kami menikmati makan malam dengan nuansa hong-kong la. Dan tidak lupa membeli kartu telepon Latino yang 15 euro, kartu tilpon ini dapat kita pakai untuk tilpon ke Indonesia (menggunakan tilpon hotel dari dalam kamar dan ikuti petunjuk dalam kartu) selama 400 menit, murah sekali.

 

Hari Sabtu tanggal 23 Oktober 2004, pagi kami menuju Stasiun Montparnasse untuk menuju Mont Saint-Michel. Tiket Eurail sebelum pertama kali digunakan, harus divalidasi terlebih dahulu di stasiun (bila kelupaan dan keburu naik kereta, maka di kereta itu akan terkena denda besar sekali). Kereta TGV berangkat dari Montparnasse pukul 09.05, tiba di Stasiun Rennes pukul 11.08. Duapuluh menit kemudian disambung naik bus Courriers Bretons selama sejam, dan akhirnya tiba di Mont Saint-Michel hampir pukul satu siang. Dari jauh sudah terlihat kemegahan The Great Benedictine Abbey Church of Mont Saint-Michel.

Mont Saint-Michel berada di atas tanah batu, berbentuk kerucut, di sebelah barat laut Perancis, terletak di Teluk Saint-Malo. Kawasan di sini memiliki rumah-rumah dan toko-toko kecil pada lantai dasar. Di atasnya berdiri bangunan-bangunan monastic yang kebanyakan sudah ada sejak abad 13 dengan arsitektur gothic, dan bangunan di pucuk adalah gereja abbey di ketinggian 73 meter. Kapel pertama ditemukan tahun 708 oleh Aubert (Uskup Avranches) setelah Archangel Michel muncul dalam mimpinya pada tahun tersebut. Kemudian Abbey mengambil nama Mont Saint-Michel. Tahun 966 Richard I (Duke Normandy) menetapkan biarawan-biarawan Benedictine dari St. Wandrille Abbeyunder di sana yang mengarahkan Abbot Maynard untuk membangun gereja dan bangunan-bangunan lainnya. Tahun 922 gereja tersebut terbakar, dan dibangun kembali tahun 1023. Terbakar lagi tahun 1856, dan 1874 dibangun kembali. Bangunan Mont Saint-Michel terbuat dari batu granite, dan batu kapur banyak dipakai pada bangunan cloister. Mont Saint-Michel dibangun sebagai puri medieval, dengan 2 buah menara besar sebagai benteng jalan masuk ke puri.

Pukul 16.00 berangkat lagi naik bus (bayar 3,6 euro) menuju Stasiun kecil Pontorson kira-kira duapuluh menit. Sekitar stasiun ada beberapa toko kue ala Perancis yang memang enak semua, serta ada toko menjual mainan anak, toko beraneka ham. Setelah membuat photo-photo di sekitar toko dan stasiun, kereta kami berangkat pukul 16.44 menuju Stasiun Rennes (tiba pukul 17.37). Lantas berangkat lagi dari Stasiun Rennes pukul 18.35 dan tiba di Stasiun Paris Montparnasse pukul 20.40. Perut mulai menabuh keroncong kemayoran, kami keluar dari stasiun langsung menuju seberang yang terlihat restoran Thailand, masakannya dimana-mana hampir sama rasa enaknya dengan restoran Chinese maupun Vietnam. Selesai makan, kami sadar bahwa ini merupakan malam terakhir di Paris, maka kesempatan digunakan sekali lagi dengan naik metro menuju Palais de Chaillot untuk menikmati pemandangan Eiffel Tower dan suasana malam di Paris. Setelah puas, kami kembali menuju hotel tengah malam.

 

Hari Minggu tanggal 24 Oktober 2004, pagi kami check-out hotel dan menitipkan koper ke concierge hotel, karna malam hari pukul sepuluh kami akan naik kereta malam menuju Barcelona (Spanyol).

Pagi itu kami manfaatkan keliling kota Paris menggunakan tiket terusan seharian, diawali tiba di Musee du Louvre, di sana ada lukisan asli Mona Lisa yang sangat terkenal dengan senyum misteriusnya. Museum ini dibagi menjadi 7 departemen, dari barang antik hingga abad 19 awal. Bangunan piramida diselesaikan oleh Leoh Ming Pei tahun 1989. Puas dengan Louvre, kami berjalan kaki menyeberang jalan dan Sungai Seine menuju ke arah kanan hingga tiba di Museum d'Orsay (masuk membayar 7 euro), menyajikan lukisan-lukisan, patung-patung ukiran, dan barang-barang seni yang terbuat antara 1848-1914. Setelah itu jalan kaki kami teruskan menuju Museum Rodin (khusus mengetengahkan seni patung, juga harus bayar 7 euro). Di tengah perjalanan yang cukup sulit, kami mampir sebuah gereja Katolik (lupa juga namanya), dan kebetulan sedang ada pemberkatan perkawinan (orang bule donk). Saat itu kami menyimpulkan bahwa kebanyakan gereja Katolik di Paris besar-besar dan bagus-bagus.

Setelah makan siang di Chinese Restaurant, kami habiskan keliling kota Paris dengan naik-turun bus segala jurusan. Siang itu kami melewati patung Joan of Arc di pusat Place des Pyramides. Kami mampir Gereja Madeleine, wow.......gerejanya megah besar sekali dan artistik dari luar (seperti bangunan istana) maupun di dalamnya, dibangun tahun 1814 sebagai dedikasi pada Santa Maria Magdalena. Juga kami mampir Opera House (dekat Lafayette), masuk sini juga bayar 7 euro. Sebenarnya kami sudah letih juga, tapi sikat terus naik bus keliling Paris melewati Place Vendome (di situ ada Hotel Ritz dimana Lady Diana menginap sebelum kecelakaan) dan tentunya mampir ke monumen tempat Lady Diana mati romantis yaitu sebuah jalan raya masuk ke bawah terowongan. Banyak turis ke situ silih berganti dan tak jarang yang membawa bunga bagus-bagus untuk ditaruh di monumen. Akhirnya kami habiskan waktu sore hari dengan jalan-jalan di pinggir Sungai Seine sambil menuju Menara Eiffel menikmati pemandangan serba indah dan romantis dengan cuaca agak mendung dan suhu cukup dingin. Menara ini tingginya 320 meter, dibangun oleh Gustave Eiffel (dimulai 1887 hingga selesai 1889). Gustave Eiffel jugalah perancang patung Liberty (New York), yang merupakan hadiah dari Perancis bagi Amerika. 

Tampak pula bangunan Ecole Militaire (Akademi Militer) yang artistik dari kejauhan.

Pukul 19.30 kami sudah tiba di Hotel Jean Bart untuk mengambil semua kopor, setelah itu naik metro ke Stasiun Paris Austerlitz. Pukul 21.56 kereta malam dengan posisi couchette (seperti kereta bima kita) berangkat menuju Port Bau (perbatasan Perancis-Spanyol).

 

Hari Senin tanggal 25 Oktober 2004, pagi pukul 08.22 kereta kami sudah tiba di Stasiun Port Bau (masuk wilayah Spanyol). Begitu turun dari kereta, semua penumpang langsung disambut 2-3 petugas imigrasi untuk pemeriksaan paspor. Kami menunggu kereta berikutnya yang menuju Barcelona pukul 09.52. Rupa-rupanya jadwal kereta di negara Eropa memang serba tepat, termasuk kota kecil sekalipun seperti Port Bau juga demikian.

Tiba di Stasiun Barcelona Sans pukul 11.46. Setelah menunggu dan konsultasi di loket informasi untuk turis, kami membeli tiket terusan untuk 2 hari seharga 10 euro per orang, dan naik metro ke Stasiun Hospital Clinic, dan menuju Hotel Junior (Avda. Sarria 9, Barcelona).

Pukul 15.00 kami makan di restoran Chinese dekat hotel, kemudian naik metro mulai berpetualang ke Sagrada Familia (Keluarga Kudus), bangunan gereja rancangan sang arsitek Antonius Gaudi yang luar biasa indah dan menakjubkan dari segi arsitektur. Untuk masuk Sagrada Familia harus membeli tiket 9 euro, dimana dana ini untuk membangun gereja yang diperkirakan selesai 30 tahun lagi. Bentuk dan model bangunan sangat berbeda dengan bangunan apapun di dunia manapun, ini akan merupakan daya tarik tersendiri yang luar biasa bagi kota Barcelona (terlebih di masa mendatang). Bangunan ini (yang di dalamnya ada kuburan Antonius Gaudi) terletak di blok yang diapit jalan Provenca, Sardenya, Mallorca, dan Marina. Di sebelah barat terdapat Placa La Sagrada Familia, sebuah taman yang dipenuhi pepohonan, tempat bermain anak-anak dan bangku-bangku panjang untuk bersantai. Di sebelah timur ada Placa Antoni Gaudi, sebuah ruang terbuka hijau dengan kolam air. Dari arah utara dengan sudut diagonal, ada Avenue Gaudi. Dari jalan itu, terutama di kala senja hari menara-menara bangunan neogotik yang mulai dibangun tahun 1882 ini terlihat anggun berbentuk siluet yang dibalut cahaya senja. La Sagrada Familia memiliki 3 facade, yaitu: Nativity Facade, Passion Facade, dan Glory Facade. Nativity Facade berada di bagian timur (jalan Marina). Dengan posisi menyongsong matahari terbit, facade ini melukiskan kelahiran dan kehidupan Yesus. Passion Facade berada di sebelah barat di jalan Sardenya, berkisah mengenai kepedihan, kesakitan, pengorbanan, peristiwa dramatik, dan wafat Yesus. Bagian ini penuh ornamen. Glory Facade masih dibangun berada di sisi selatan di jalan Mallorca. Bagian ini merupakan penggambaran nilai-nilai keselamatan dan kejayaan Yesus Kristus.

Sore itu kami menikmati jalan kaki di Las Ramblas, boulevard terkenal di Barcelona yang memanjang 2 km dimulai dari Placa de Catalunya (bundaran simpang lima seperti Simpang Lima di Semarang) dan berakhir di Monumen Columbus (dermaga kapal daerah marina). Kita dapat menyaksikan masyarakat sana dari berbagai umur dan kelas sosialnya, anak-anak penyemir sepatu, street-theaters, galeri-galeri besar, dll. Tampak bangunan-bangunan  yang menarik seperti Academia de Sciencias (Academy of Science) dengan jam raksasanya sejak tahun 1868, bangunan Gereja de Betlem (perpaduan gaya gothic-baroque), dan bangunan Palacio de Moya dengan hall nya yang cantik dihiasi lukisan-lukisan dinding bagus sekali. Di tengah Las Ramblas sebelah kiri jalan kami masuk ke dalam, di sana tempatnya toko-toko seperti suasana di Bali. Berbagai produk ada di sana, dengan banyak restoran dan cafe di sudut-sudut jalan serta adanya lapangan/taman. Lampu-lampu yang menerangi toko-toko menjadikan suasana romantis. Kami pun menjumpai Gereja Santa Maria del Pi, yang dibangun 1322 dan selesai 1453. Di sana ada crypt abad 16. Memasuki gereja ini juga terkesan sebagai gereja yang bagus peninggalan gereja kuno dengan arsitektur dan ukiran-ukirannya yang indah, mempunyai menara lonceng oktogonal setinggi 54 meter. Pintu samping gereja yang dibuat abad 13 juga menarik. Di dekat gereja ini juga berdiri Gereja Santa Anna dengan konstruksi Romanesque namun dengan banyak elemen gothic.

Las Ramblas terkesan tempat jalan-jalan yang enak dan santai sekali digemari turis siapapun. Salah satu yang khas di situ ada banyak kios menjual aneka burung dan binatang (kelinci, marmot, hamster, iguana, ikan hias, dll.) beserta makanan dan segala peralatannya. Juga kios menjual beraneka macam bunga dan tanaman taman, serta kios koran dan majalah. Berjalan sampai ke tengah, sebelah kanan akan terlihat pasar tradisional St. Joseph (kondisi bersih dan tidak bau), di situ banyak kios menjual bumbu masakan, aneka buah-buahan, macam-macam sayuran, daging mentah, berbagai ham, dsb. Benar-benar lengkap dan serba murah. Di kedua sisi jalan adalah ruko dengan model rumah sudah setengah modern, menjual macam-macam: ice-cream, restoran, furniture, dsb. Kami mencoba minum es juice avocado harganya per gelas 4 euro, sedangkan di Surabaya berharga seperdelapannya yaitu sekitar Rp 5000,-  Setelah tiba di Monumen Columbus, kami teruskan menyeberang ke tepi dermaga laut untuk menikmati pemandangan laut dan pelabuhan dengan latar belakang Mont Juic, daerah itu namanya La Rambla del Mar. Suasana di situ menyenangkan sekali untuk dinikmati. Apabila mata kita tertuju ke tepi air laut, wouw..........ikannya buanyak sekali dan tidak kecil lho, apalagi bagian tertentu terkena sinar lampu. Daratnya maupun air lautnya serba dijaga sangat sangat bersih. Memang terlihat banyak polisi berpakaian preman tersebar di mana-mana untuk menjaga keamanan dan kebersihan. La Rambla del Mar ada jembatan untuk orang berjalan menuju Plasa dan restoran sea-food, dan jembatan itu bisa diputar (sebagai pintu) untuk dilewati kapal motor, kapal patroli, ataupun kapal layar.

 

Hari Selasa tanggal 26 Oktober 2004, setelah breakfast di hotel, kami naik metro menuju Parc de Guell. Lokasinya ternyata berbukit-bukit cukup tinggi dengan berjalan kaki. Ketika dalam perjalanan ini, kami sering menjumpai kucing-kucing anggora dengan bulu tebalnya dan ekor yang mekrok bagus-bagus berkeliaran di pinggir jalan. Di sana ada taman-taman yang dirancang indah sebagai karya seni Antonius Gaudi, dan di dekatnya ada eks rumah tinggal almarhum Antonius Gaudi yang kini digunakan sebagai museum sang arsitek Templo La Sagrada Familia. Pemandangan kota Barcelona dari ketinggian bukit Parc de Guell juga merupakan keunggulan tersendiri. Tampak The Holy Family Temple (La Grada Familia) dari atas ketinggian, menara-menaranya mengerucut menjulang ke langit, mirip barisan pena atau pensil di antara tumpukan buku.      

Dalam perjalanan pulang dari menikmati Taman Guell, semua turis harus berjalan sekitar 1 km untuk mencapai pinggir jalan yang dilalui bus ataupun stasiun metro. Kami naik metro dari Stasiun Vallcarca menuju Placa Espanya yaitu berupa bundaran yang ramai sekali lalu-lintasnya. Di sekitar bundaran, selain gedung perkantoran dan Hotel Plaza, juga ada bangunan lama Les Arenes bullring. Biasanya turis dari sini berjalan kaki sepanjang Av de la Reina Maria Christina, dan saat itu sedang ada exhibition besar-besaran sehingga semua bangunan sebelah kiri dan kanan dipakai untuk keperluan exhibition internasional. Kami berjalan kaki hingga naik ke atas seperti bukit (tapi sudah tertutup bangunan-bangunan), tiba di Palau Nacional of Mont Juic. Di belakang bangunan ini adalah bukit Mont Juic, yaitu bukit yang tinggi sehingga pada salah satu ujung bukit, kita bisa menikmati panorama kota Barcelona dan Pelabuhan Barcelona. Juga terlihat cable-car menyeberang hingga ke Barceloneta (daerah pinggir laut). Tadinya Mont Juic adalah kawasan kuburan orang Yahudi, karna makin tinggi akan makin dekat ke Surga katanya :~)

Kemudian kami habiskan waktu sore itu dengan naik bus keliling kota ke segala arah melalui pusat kota Barcelona, dan salah satunya melewati Paceo de Gracia, yaitu boulevard besar dan lurus melalui banyak bangunan gedung historic. Setiap menjumpai perempatan, dari situ terlihat semua jalan raya sungguh lurus, rapi, dan bagus sekali pengaturannya.

Malamnya kami sengaja kembali ingin menikmati santainya Las Ramblas. Dan kami menuju Cathedral Santa Eulalia yang berada tak jauh dari Gereja Santa Maria del Pi. Terkesan katedral ini berada di tengah-tengah shopping-centre yang memang enak untuk dinikmati turis dengan berjalan kaki seperti suasana pertokoan di Kuta Bali. Banyak juga cafe di sana dengan diadakan musik beserta penyanyinya, sehingga menambah semarak suasana. Kami masuk katedral ini dengan membayar tiket masuk 4 euro untuk dana renovasi katedral. Katedral ini adalah bangunan kuno yang memang bagus dan besar sekali. Altarnya yang tinggi diselesaikan tahun 1337, di bawah altar ada kuburan Santa Eulalia, seorang martir abad 4. Dekat situ (bagian tengah utama gereja) dibuat daerah tempat duduk yang sungguh eksklusif dengan ukiran kayu tempat duduk yang sangat megah dan mewah. Hal ini dipergunakan untuk petinggi negara (keluarga istana) dan tamu terhormat yang menghadiri misa. Semua jendela dihiasi stained-glass bagus-bagus. Di semua sisi dalam katedral ada ruangan-ruangan kapel yang ditata bagus sekali. Dari pintu masuk, sebelah kirinya ada kapel untuk baptisan dengan marmer air mancurnya abad 15, sedangkan sebelah kanan pintu masuk tadi ada Kapel Immaculate Conception.

Setelah puas menikmati kebesaran katedral ini, kami berjalan kaki menikmati Las Ramblas, membeli sekilo anggur di pasar tradisional St. Joseph, dan akhirnya mampir lagi menikmati pemandangan pinggir laut dekat Monumen Columbus.

 

Hari Rabu tanggal 27 Oktober 2004, selesai breakfast pagi-pagi, naik metro tiba di Stasiun Barcelona Sants, pukul 09.17 kereta berangkat menuju Latur de Carol. Tiba di stasiun kecil (lupa namanya) pukul 12.30, semua penumpang turun untuk langsung disambung naik bus yang tersedia (seperti bus turis juga), ini dikarenakan sepotong jalan selama setengah jam melewati jalan berbukit-bukit batuan keras dengan pemandangan yang indah. Berangkat lagi dari Stasiun Latur de Carol pukul 13.11 menuju Toulouse. Di tengah perjalanan ketika tiba di stasiun kecil (lupa juga namanya), ada seorang penumpang gadis remaja yang terganggu kesehatannya. Maka kereta berhenti agak lama (20 menit) menunggu kedatangan ambulans yang tampaknya setelah serah terima dari kondektur kereta kepada petugas ambulans, barulah kereta diberangkatkan lagi (bukan main, nyawa satu orang saja sangat diperhatikan dengan penuh rasa tanggung jawab dan dihormati sekali di sana), berarti kali ini kereta mengalami keterlambatan 20 menit. Akibatnya kami jelas tertinggal kereta berikutnya untuk menuju Lourdes, dan ternyata diumumkan dalam kereta (berbahasa Perancis) bahwa yang mau melanjutkan ke Lourdes, ada kereta berangkat jam 17.00 dari Stasiun Toulouse Matabiau. Akhirnya kami selamat tiba di Stasiun Lourdes pukul 19.05, hanya terlambat sejam dari jadwal kami. Memang manajemen transportasi di Eropa amat bagus/handal. Sistem dan sarananya serba lengkap dan nyaris sempurna.

Di Stasiun Lourdes cuaca dingin dan hujan cukup deras. Kami naik taxi (karna sudah sepi sekali tidak ada sarana kendaraan lain kecuali taxi) dengan membayar 8 euro hingga tiba di Hotel Saint Sauveur (9, Rue Sainte-Marie, Lourdes).

Pukul 20.30 kami sudah berada di tengah kerumunan umat Katolik seluruh dunia yang sedang berdoa dengan penuh kerinduan dan pasrah kepada Tuhan melalui Bunda Maria. Macam-macam lagu Katolik yang terkenal dan sering kita nyanyikan di Indonesia dinyanyikan di sana dalam berbagai bahasa. Suhu dingin di malam hari, menciptakan suasana syahdu, khidmat, yang menyentuh kalbu. Hati ini mengucap syukur kepada Allah atas berkat dan kasihNya.

 

Hari Kamis tanggal 28 Oktober 2004, pagi itu jam sembilan kami menyempatkan diri mengikuti misa di Kapel St. Joseph dalam bahasa Inggris yang dipimpin 3 pastor dari berbagai negara.

Terlihat dari kejauhan, di atas Grotto Massabielle (artinya goa batu tua, yaitu goa tempat Bunda Maria menampakkan diri), ada 3 tingkat gereja (The Basilica of the Rosary, The Crypt Church, The Basilica of The Immaculate Conception). Semua berjalan tertib dan tenang. Muncul rasa bangga dan syukur yang mendalam, karena bisa berada di tengah-tengah saudara seiman dari berbagai negara di dunia. Kami saling tolong menolong menyalakan lilin bergantian, saling menawarkan untuk membantu pemotretan, dsb. Sesudah prosesi, kami ikut antri untuk meraba dan menyentuh the Grotto of the Apparitions yang dialiri rembesan air sendang, persis di bawah patung Bunda Maria, sambil berdoa.

The Grotto of the Apparitions (Massabielle Grotto), yang merupakan jantung dan perhatian utama dari Lourdes. Di sini Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette sebanyak 18 kali. Penampakan pertama pada tanggal 11 Pebruari 1858, kira-kira pukul sebelas siang.  Penampakan yang ke 18 kali pada tanggal 16 Juli 1858. Dalam kenyataannya tempat ini merupakan batu alam setinggi 27 meter yang dikelilingi oleh pohon-pohon dan tertutup oleh semak-semak dan tumbuhan merambat. Asap yang berasal dari lilin yang tak pernah padam (ditempatkan pada tempat lilin tumpuk di depan goa) tampak menyelimuti pemandangan di depan goa. Pada celah-celah batu gunung berbentuk oval itulah tempat Bunda Maria menampakkan diri kepada 3 gadis desa (Antoinette, Jeanne Abadie, dan Bernadette Soubirous). Pada tanggal 4 Maret 1864 dibuatlah patung dari marmer putih Carrara, sebagai hasil karya Fabisch dari Lyons. Persis di bawah kaki patung Bunda Maria, tertulis "Que soy era Immaculada Councepcio" (I am the Immaculate Conception). Di tengah-tengah didirikan altar untuk perayaan Misa Suci ataupun perayaan keagamaan lainnya. Setiap hari pada musim ziarah, dari jam 6 pagi hingga 20:30, diadakan misa suci dalam berbagai bahasa.

The Rosary Basilica yang dibangun 30 tahun setelah penampakan Bunda Maria. Pintu gaya Romawi tampak menonjol, mengesankan keanggunan dan kemegahan. Di atasnya terdapat 3 figur patung yang menggambarkan Bunda Maria menggendong bayi Yesus dengan satu tangan, sementara tangan lain menyerahkan rosario kepada Santo Dominic. Tampak anggun dan ekspresif sekali. Gereja dengan gaya bangunan Yunani dipadukan dengan gaya arsitektur Romawi sebagai rancangan interiornya. Dengan tinggi 52 meter dan lebar 48 meter, gereja ini mampu menampung 2000 orang. Pemandangan utama yang menarik dari basilika ini adalah 15 misteri Bunda Maria yang ditampilkan pada mozaic yang indah di sekeliling gereja, membentuk kapel-kapel. Secara keseluruhan interior gereja didominasi oleh mosaik besar yang menggambarkan Immaculate Conception.

Siang itu kami menuju pintu St. Michel, sebelah kiri pintu ada gedung diorama yang memperagakan peristiwa penampakan Bunda Maria kepada Bernadette. Juga disediakan Cinema Bernadette yang menyajikan 2 pertunjukan yaitu 'Bernadette' (2 jam) dan 'La Passion de Bernadette' (hampir 2 jam). Kami juga menyempatkan diri keluar dari pintu St. Michel menuju rumah tinggal Bernadette Soubirous. Setelah makan siang, jam dua kami menuju Grotto Massabielle yang diteruskan lagi untuk ikut mandi selam secara antre dipandu oleh sukarelawan. Mandi selam ini juga merupakan perintah Bunda Maria kepada Bernadette yaitu agar semua orang yang ke situ minum air spring dari grotto dan cucilah badanmu di situ. Air melambangkan tanda cinta Yesus yang menyerahkan hidupNya untuk orang berdosa, serta air sebagai tanda baptis, dan tanda Sakramen Pengampunan Dosa.

Pukul 22.32 kereta malam dengan couchette berangkat menuju Paris. Malam itu kami tidur pulas di atas kereta, lha wong posisi tidur di atas matras dalam kamar di atas kereta sepanjang malam.

 

Hari Jumat tanggal 29 Oktober 2004, pukul 07.10 tiba di Stasiun Paris Austerlitz. Setelah cuci muka dan pipis segala, kami berjalan kaki keluar dari stasiun dan menyeberang perempatan menuju Stasiun Paris Gare de Lyon untuk menuju kota Nevers.

Pukul 08.47 kereta berangkat dan tiba di Stasiun Nevers pukul 10.47. Dengan berjalan kaki 15 menit, keluar dari Stasiun Nevers langsung ke kiri sampai ketemu belokan ke kanan yang tajam 30 derajat dan berjalan lagi tinggal 3 menit dari situ, tibalah di sebelah kiri jalan (sebelum perempatan) yaitu Novent St. Gildard (asrama biarawati).

Memasuki area St. Gildard suasana sepi sekali, sebelah kiri adalah bangunan dengan ruangan untuk toko souvenir (barang yang berhubungan dengan Bernadette dan Lourdes), ruangan museum riwayat hidup Bernadette, dan toilet. Di belakang bangunan tadi adalah bangunan eks asrama biarawati (kini digunakan untuk ruang serba guna melayani turis dalam grup). Sebelah bangunan ini adalah kapel, yang di sebelah kanan altar ditaruh jasad utuh Santa Bernadette dalam peti kaca relikwi dengan rangka perunggu. Tampak suasana dalam kapel yang hening dan sederhana. Orang-orang khusuk berdoa dan beberapa mengambil photo secara teratur. Memang luar biasa, jasad yang masih lengkap terbujur dengan penampilan manis penuh kedamaian, padahal jasad itu sudah terkubur selama 30 tahun dalam kuburan, yang kemudian digali kembali ketika dalam proses beatifikasi pengangkatannya sebagai Santa Bernadette.

Berseberangan kapel (masih di dalam kompleks biarawati), di situ ada 'grotto' tempat untuk berdoa yang dulu sering digunakan Bernadette untuk berdoa. Bentuknya juga mengikuti seperti yang di Lourdes, dimana Bunda Perawan Maria menampakkan diri padanya di Grotto Massabielle, Lourdes.

Pukul 14.34 dari Stasiun Nevers kereta berangkat menuju Paris. Tiba di Stasiun Paris Gare de Lyon jam 16.34, dilanjutkan naik metro menuju Stasiun Paris Gare du Nord. Jam 18.55 naik kereta Thalys menuju Amsterdam (reservasi dengan menambah 22 euro per orang berarti duduk di kelas satu), sepanjang perjalanan kami dilayani terus makan dan minum sepuasnya. Akhirnya pukul 23.06 tiba di Stasiun Amsterdam Central. Begitu turun dari kereta, sudah dijemput kakak yang bermukim di Amsterdam. Tinggal jalan kaki 15 menit, kami tiba di hotel prodeo alias rumah kakak (samping Gereja Reform di Centrum).

 

Hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2004, kami berjalan kaki keliling kota Amsterdam di sekitar Dam Square hingga China Town. Ketika jalan-jalan melintasi toko-toko sepanjang jalan, kami terkagum-kagum karena banyaknya toko berjualan khusus alat/instrumen untuk nyabu/isap ganja, seperti tabung-tabung kaca, pipa isap, pompa kecil, dsb., termasuk bahan mentah/materi untuk kegiatan tersebut.  Jangan kaget, toko-toko semacam ini memang legal alias mengantongi ijin, dan ini baru kami jumpai di Amsterdam selama kami melanglang buana di 6 negara Eropa. Demikian juga sex shop di sana terlihat lebih mencolok dibandingkan di negara lainnya. Ada toko besar yang menjual kondom doank dengan aneka ukuran dan model, aneka rasa (jeruk, mint, dsb.), aneka warna dan aneka bau. That's Amsterdam....... Belum lagi kalau mau nonton 'live show' untuk adegan sex (normal, lesbian, atau homo, komplit dah); ada 2 tempat yang terbesar di Red Light District dengan tiket 22 euro per orang (kira-kira untuk satu jam nonton), atau 41 euro termasuk minumannya, salah satunya bernama Casa Rosso. Tapi kalau mau gratis, yah jalan-jalan aja menikmati "pemandangan" kaki tiga di daerah itu. Segala macam model "barang dagangan" ada. Bukan cuma yang langsing semampai, yang gemuk semok pun tersedia. Pemandangan lain yang termasuk khas Amsterdam ada lagi nih. Bagi laki-laki yang pingin pipis, di beberapa ujung jalan ada sarana pipis kotak dari fibre-glass yang dibagi 4 sudut secara terbuka, sehingga diumbarlah bau dan adegannya .....ooh, Amsterdam..........

Semula kami pingin jalan-jalan menggunakan 'canal cruise' yaitu naik perahu bermotor yang tentunya memang khusus untuk turis keliling kota Amsterdam untuk menikmati suasana denyut ekonomi kota dari bangunannya yang ada di kedua sisi sepanjang kali. Namun kami batalkan, karena melihat kondisi kali saat itu kami kuatir kalau-kalau akan tercium bau yang kurang sedap sepanjang perjalanan nanti.

Sorenya dengan menggunakan mobil, kami keliling kota menelusuri jalan-jalan di Amsterdam. Kegiatan transportasi tram masih aktif dan handal untuk kondisi di sana. Banyak dijumpai juga toko-toko barang bekas dengan dalih barang antik. Bagi orang Indonesia, mungkin kurang begitu tertarik belanja pakaian di sana karna dengan harga yang lebih mahal namun modelnya rata-rata masih lebih bagus di Jakarta maupun Bandung/Surabaya.

Malamnya kami beruntung karena kebetulan ikut diundang pada pesta ulang tahun mertua kakak kami. Suasana cukup meriah di tengah kehangatan persaudaraan dan kekeluargaan, mengingat yang hadir adalah keluarga dan teman dekat. Pukul sepuluh kami (tujuh orang) berjalan kaki menelusuri jalan-jalan kecil Red Light Area, China Town, melihat kehidupan malam di daerah tersebut. Berbagai hiburan dunia, mulai dari kebutuhan dasar hingga aneka macam musik, termasuk casino, bar, pub, cafe bertebaran di sana. Berjalan kaki hampir tanpa henti malam itu banyak memberikan kesan tersendiri mengenai gambaran kehidupan orang Londo di Amsterdam, khususnya di malam hari. Petualangan kami berakhir pukul satu malam. Capai juga rasanya kaki ini.

 

Hari Minggu tanggal 31 Oktober 2004, setelah makan pagi, kami sempatkan mampir dulu ke katedralnya Amsterdam yaitu Cathedral St. Francis Xavier Jesuit Fathers. Misa hampir dimulai, terlihat yang hadir hanya orang tua semua (hampir tidak terlihat adanya orang muda) di sana. Maka tidak heran kalau kami mendengar bahwa banyak gereja-gereja di Amsterdam sudah sangat sedikit umat bahkan cenderung kosong, dan bahkan tak jarang terjadi transaksi gereja yang dijual (terutama yang letaknya strategis untuk bisnis).

Setelah itu kami juga mampir Begijnhof Amsterdam (dibangun 1671), di situ seperti kompleks keagamaan Katolik dan Kristen secara kebersamaan; ada gereja aliran reform, ada asrama biarawati, ada pastoran, dan ada kapel. Ketika kami masuk ke dalam kapel, misa hampir dimulai, memang yang hadir sangat sedikit dan hanya terlihat orang tua saja.

Pukul 11.07 naik kereta ICE dan tiba di Stasiun Cologne (Kohln) jam 13.41. Train yang terbaik segalanya memang yang di Jerman (setelah merasakan dan membandingkan pengalaman di 6 negara Eropa). Begitu keluar dari stasiun, belok ke kiri langsung tampak Katedral Kohln yang memang sangat megah. Hanya saja warna bangunan sudah begitu dekil kotoran agak hitam. Memasuki Gereja Katedral yang ternyata besar sekali dengan banyak ornamen gothic, patung-patung ukiran serba marmer. Stained-glass di semua jendela bagus-bagus dengan cerita yang bervariatif. Di altar katedral ada tempat yang dianggap suci berbentuk peti memanjang berwarna kuning emas.

Setelah puas menikmati semua yang ada di dalam katedral, kami keluar dan di situ ada toko menjual berbagai souvenir, diantaranya minyak wangi Cologne 4711 yang sangat terkenal pada jaman 1960 an. Sudah barang tentu minyak wangi ini dijamin keasliannya dari sono.

Tampak dari depan Katedral Kohln ini, menara kembar duomo gothic yang tingginya 515 foot, tentu tak boleh dilupakan untuk mejeng diphoto, dan kemudian segera kembali ke stasiun. Jangan lupa, di Jerman kalau tidak makan sosis itu kurang afdol, kita beli sosis dua setengah euro ........ waduh uenakee rek.........

Naik kereta ICE lagi berangkat pukul 16.46 menuju Berlin. Pukul 21.01 tiba di Stasiun Berlin Zoo. Menurut rencana seharusnya kami dijemput kakak dan ternyata memang dijemput, namun tidak ketemu. Setelah tunggu menunggu lama sekali, akhirnya kami putuskan nanya-nanya dan dengan naik metro melewati 3 stasiun, kami turun. Waduh udah pukul sebelas malam dan suasana stasiun amat sangat sepi, hanya ada manusia 3 orang yang terlihat termasuk kami berdua. Satu-satunya manusia lain itulah yang menjelaskan kami (memakai bahasa isyarat segala) letak hotel yang kami tuju JugendGASTEHAUS (Lehrter Strasse 68, Berlin). Dengan berjalan kaki menyeberangi berbagai ketakutan dan perempatan jalan, akhirnya seperempat jam kemudian kami mampu menemukan hotel yang kami tuju.

 

Hari Senin tanggal 1 Nopember 2004, setelah breakfast di hotel, kami mencoba tilpon kakak dan ternyata rumahnya dekat sekali dengan hotel tersebut. Pukul sepuluh kami bertiga berjalan kaki menyusuri jalan raya menuju daerah Tiergarten yang merupakan taman terbesar di Berlin. Taman ini begitu besarnya dan bersentuhan langsung dengan gedung Reichstag, maka di daerah itu banyak kantor kedutaan negara asing. Taman ini pernah rusak berat karna terkena bom perang dunia kedua tahun 1945, kemudian ditata dan dibangun kembali tahun 1949. Sekarang ini Tiergarten digunakan warga kota Berlin sebagai tempat yang nyaman untuk bersantai, dan lebih digemari sebagai tempat rekreasi serta membuat barbeque. Ke Tiergarten dapat menggunakan S5, S7, S75, S9. Sepanjang jalan terlihat serba bersih sekali dan rapi, kalinya pun bersih, hanya saja saat itu banyak daun rontok dari pohon dimana-mana. Udara terasa dingin sekali karna sesekali ada angin. Tibalah kami di Victory Column yang tingginya 210 foot di Tiergarten Park, tampak gagah dan indah di bundaran jalan raya. Di sekelilingnya adalah taman luas sekali. Setelah mengambil photo, kami teruskan naik bus dengan membeli tiket terusan berlaku seharian sekitar 4 euro (lupa persisnya). Tibalah kami di depan gedung Bundeskanzleramt, kantor Perdana Menteri Jerman. Dari situ kami berjalan kaki menyeberang lapangan yang luas sekali persis depan gedung parlemen Reichstag. Pemandangan di sekitar itu indah dan sangat luas dengan pohon-pohon yang rindang dan diatur rapi sekali dan artistik. Terlihat antrian panjang turis untuk memasuki Reichstag hingga ke tengah lapangan. Untuk masuk Reichstag tidak dipungut bayaran. Gedung ini dimasa lampau digunakan Hitler untuk membuat keputusan penting. Memasuki gedung ini persis di tengah-tengah, kita akan masuk ruang serba kaca sampai atapnya, dengan naik tangga datar melingkar naik ke atas dan di sisi lain barisan orang turun tangga datar melingkar ke bawah yang terkesan aneh karna tidak bertabrakan antara yang naik dan yang turun, arsiteknya hebat dah. Di lantai atas gedung ini kita bisa menyaksikan sejarah Jerman melalui photo-photo dan sarana lainnya. Pada masa lampau, di atas gedung ini bisa melihat kegiatan daerah Berlin Timur dan di situ ada gedung Kedutaan Rusia. Di sebelah Reichstag ada Brandenburg Gate yang dilalui boulevard terkenal Unter den Linden. Kami melewati Brandenburg Gate ke arah daerah timur. Saat itu di situ ada seorang tua yang memainkan komidi putar dengan musiknya. Setelah itu kami melewati hotel (lupa namanya, masih sangat dekat dengan gate tadi) yang konon harganya sekitar 4-5 juta rupiah semalam. Berjalan kaki diteruskan, di situ ada Kedutaan Rusia yang dimasa lampau tentunya sangat berarti dan sangat diperhitungkan oleh dunia barat. Tak jauh dari situ ada shopping plasa dan diteruskan lagi kita jumpai gereja kuno sepertinya Katolik (bersebelahan dengan menara radio dan TV yang tinggi sekali seperti menara TVRI Jakarta). Memasuki gereja ini terkesan gereja Katolik karna banyak patung dan lukisan tentang Maria dan Keluarga Kudus. Ternyata kami kecele, setelah ditanyakan pada orang yang jaga di meja jualan souvenir (yang ternyata pendetanya), gereja itu reform, bukan gereja Katolik, horotoyoh bingung. Dan ternyata nama gereja itu adalah Gereja St. Marien alias Gereja Santa Maria.

Jalan kaki diteruskan lagi, ketemu Opera House (masih di Unter den Linden), dibangun sebagai Royal Opera tahun 1741-1743 dengan gaya klasik Prussian dan sedikit pengaruh gaya klasik Inggris. Pada tahun 1843 mengalami kebakaran dan rusak total. Dibangun kembali tahun 1952-1955 dan dipugar total pada tahun 1983-1986. Ke daerah ini dapat menggunakan S1, S2, S25; Bus 100.

Di dekatnya ada Universitas Humboldt. Di sebelah sisi lain ada bangunan khusus untuk peringatan menghormati para pahlawan yang gugur dalam perang, namanya Neue Wache yang dibangun antara 1816-1818. Pada tahun 1969 sisa beberapa tentara tak dikenal dan beberapa tahanan tak dikenal dari camp konsentrasi dikuburkan di situ. Dan sejak 1993 digunakan sebagai pusat peringatan oleh Pemerintah Republik Federal Jerman kepada para korban perang dan tirani. Dan tak jauh dari situ ada gedung besar museum, dengan lapangan yang luas sekali dan indah pemandangannya. Di sisi lain berdiri megah sekali Berliner Dom, yaitu Katedral Berlin dengan kubah-kubah besar berwarna biru kehijauan. Di dalam gereja ini sungguh luar biasa bagus dan besar karya Raschdorff. Awal mula katedral ini dibangun pada tahun 1747-1750, kemudian digusur dan dibangun tahun 1894-1905 oleh perencana Raschdorff pada masa Kaiser Wilhelm II. Salah satu ruangan di dalam katedral ini adalah Kapel Sermon dengan altar emas menampilkan patung ukiran 12 rasul. Masuk ke dalam gereja ini harus bayar 7 euro. Ke Berliner Dom ini maupun ke Alexanderplatz dapat menggunakan S5, S7, S75, S9; U2, U5, U8; Bus 100, 148, 200.

Setelah itu kami menuju shopping-center Alexanderplatz. Keluar dari stasiun metro Alexanderplatz, terlihat seperti kawasan terbuka luas sekali dengan beberapa bangunan tinggi modern. Suasananya enak untuk jalan-jalan.

Menurut beberapa kenalan yang beberapa tahun sebelum penyatuan Jerman tahun 1990 yang pernah masuk ke Berlin Timur, mereka mengatakan sepanjang 1 km dari pintu perbatasan, tampak bangunan dan jalan raya yang hebat, besar, indah, megah. Namun begitu diteruskan lebih dari 1 km akan tampak pemandangan yang memprihatinkan. Namun kini kami melihat sendiri bahwa semua kawasan di daerah 'eks Jerman Timur' sampai berkilo-kilo meter jauhnya juga sudah bagus. Banyak plaza dan mall baru sudah beroperasi walaupun tidak terlalu banyak terlihat orang berbelanja. Jaringan jalan raya dan bangunan rumah penduduk sudah bagus-bagus mengikuti standard rumah lainnya 'eks Jerman Barat' tentunya. Untuk membedakan suatu daerah itu tadinya eks Jerman Timur atau Barat, salah satu tandanya adalah kalau di kota-kota terlihat adanya tram berarti itu eks Jerman Timur. Sedangkan yang eks Jerman Barat memang sudah tidak diberlakukan adanya tram semenjak sarana metro (kereta bawah tanah maupun atas tanah) sudah demikian maju dan lengkap melewati semua kawasan.

 

Hari Selasa tanggal 2 Nopember 2004, hari ini kami banyak keliling kota Berlin lebih banyak yang daerah 'eks barat' dengan naik-turun bus/metro, mengingat tenaga yang mulai terasa letih (walaupun tetap fit dan greng punya). Kami menuju Charlottenburg Palace (dapat menggunakan U2 atau Bus 309), dan di seberangnya ada Egyptian Museum (yang dibangun 1851-1859) dan Stulerbau. Saat itu kami hanya bikin photo di depan istana, karna secara kebetulan Ratu Elizabeth (dari Inggris) sejam kemudian akan mengunjungi istana Charlottenburg ini.

Diteruskan naik bus ke daerah Ku-Damm yaitu ke tengah kota Berlin dengan berbagai bangunan shopping, kantor, dsb. Kami juga pergi ke Gereja Gendarmenmarkt yang sudah selesai dibangun kembali. Gereja ini berada di tengah dua bangunan yang hampir sama, tapi yang punya nilai sejarah kelihatannya Gendarmenmarkt. Setelah itu kami keliling naik tram dan metro ke banyak shopping-plaza, namun hanya melihat-lihat saja karna banyak barang sudah mudah didapat di Indonesia juga. Lantas kami mampir IKEA Exhibition yang memamerkan barang-barang keperluan rumah tangga secara lengkap dan banyak pilihan.

Sore hari kami mampir Wilhelm Memorial Church di Ku-Damm yang terlihat bentuknya aneh dari kejauhan. Bangunan ini tinggal kenangan setelah mengalami rusak berat terkena serangan udara tahun 1943, kini hanya tinggal sebagian kecil saja dari sesungguhnya yang bertahan sebagai bangunan kuno dan bersejarah di tengah-tengah bangunan baru yang serba modern di sekitarnya. Ke Gereja Wilhelm ini bisa menggunakan S5, S9, S75; U2, U9; Bus 100, 109, 110, 145, 149, 200, 204, 245, 249. Perjalanan kami teruskan ke salah satu daerah Berlin baru yaitu Sony Center di Potsdamer Platz. Di sini bisa kita jumpai perpaduan cinema imax, theatre, restoran, dan tempat untuk shopping. Awalnya daerah ini merupakan lapangan luas dengan banyak persimpangan jalan yang sangat ramai di Eropa. Ketika perang dunia kedua, lapangan ini mengalami rusak berat dan dibagi oleh Amerika, Inggris, dan Soviet dengan batas adanya tembok. Setelah tembok diruntuhkan, daerah Potsdamer Platz ini menjadi kawasan bangunan terbesar di Eropa. Salah satu sudut kawasan ini antara tahun 1993-1998 dimiliki DaimlerChrysler dengan bangunan kantor, pertokoan, hotel, apartemen, sebuah casino, dan restoran (di antaranya Stella Musical Theatre). Pada awal tahun 2004 dibuka Beisheim Center di Lenne-Dreieck. Di dekatnya ada Delbruck Haus yang akan dibuka pada tahun 2005. Ke Potsdamer Platz dapat menggunakan S1, S2, S25; U2; Bus 123, 148, 200. Memang untuk shopping plaza di Berlin terkesan agak kaku, tidak semeriah di Singapore ataupun Paris. Sepertinya harga barang-barang yang dijual di shopping plaza/mall di Berlin 'eks barat' itu lebih tinggi harganya dibandingkan dengan barang yang sama di shopping plaza/mall di Berlin 'eks timur'. Misalkan coklat "Milka" (bukan Secapramana lho :~) di daerah 'eks barat' harganya 23 euro, di daerah 'eks timur' harganya bisa 16 euro.

Udara sangat dingin sepanjang hari, maklum sudah musim dingin. Kadang terlihat orang jual sosis (per biji harganya 1 euro, uenak bener lho) berkeliaran seperti orang kita jual rokok dikalungkan leher dan sosisnya ditaruh di atas nampan kayu di depan dada, so praktis sekali namun bersih (ya paling-paling sedikit ketambahan 'bumbu' dari batuk-batuk atau cipratan mulut penjual sosis kalau lagi ngomong :~)  Malamnya kami membeli 1 ekor ayam panggang utuh harganya 2,5 euro, sedangkan di Surabaya berharga Rp 15.000,- dengan rasa yang sama.

 

Hari Rabu tanggal 3 Nopember 2004, kami naik metro yang perjalanannya jauh menuju Potsdam menggunakan tiket terusan seharian yang berlaku juga nanti di dalam kawasan Potsdam. Sebelum Perang Dunia, Potsdam dikenal sebagai daerah industri yang bermasalah polusi. Industri saat itu adalah lokomotip, tekstil, dan pharmasi. Setelah tiba di Stasiun Potsdam Hbf, kami pelajari terlebih dahulu brosur-brosur yang tersedia di pusat informasi. Keluar dari stasiun sudah tampak tersedianya tram dan bus berbagai jurusan. Kami harus menentukan rute mau kemana saja beserta urutan objectnya, karna di Potsdam ini adalah semacam daerah/kota kecil dengan berbagai tempat bekas istana dan bangunan kerajaan lainnya. Pertama kali kami menuju Istana Sanssouci (dibangun 1745-1747), yang ternyata istana ini luas sekali. Tamannya sangat luas dan ditata apik dan rapi sekali. Di tengah taman ada kolam dengan air mancur dan berbagai bebek dan binatang ada di sana. Dari situ kita bisa berjalan kaki ke New Palace of Sanssouci (dibangun 1763-1769). Sebetulnya masih puluhan bangunan kuno tersebar di Potsdam ini ( dan masing-masing menarik sekali untuk dikunjungi. Dari situ kami teruskan naik bus, kami berhenti dan masuk ke dalam Universitat Potsdam (jurusan Psikologi) dan mencoba masuk kantin yang ternyata dipenuhi mahasiswa/i belajar berkelompok per meja makan, banyak yang menggunakan lap-top dan mereka serius sekali membicarakan pelajaran, begitu tertib dan sopannya. Makan di kantin sekolah ternyata sangat murah (dibandingkan dengan yang berlaku umum di Berlin) dengan makanan serba enak-enak tersedia.

Kemudian kami melanjutkan naik bus ke Cecilienhof (dibangun 1914-1917). Cecilienhof adalah tempat konferensi petinggi negara Amerika (Harry Truman), Rusia (Joseph Stalin), dan Inggris (Winston Churchill) pada Perang Dunia II tanggal 17 Juli - 2 Agustus 1945.

Akhirnya dengan menggunakan tram kami menuju Glienicker Brucke, yaitu jembatan penting sarat bersejarah dimana sebelum ada penyatuan Jerman (1990), bila ada pertukaran tawanan antara barat dan timur dilakukan di jembatan ini, saat itu tentunya suasana yang lumayan mencekam.

Hari sudah malam, kami kembali ke Stasiun Potsdam Hbf untuk naik metro ke beberapa tempat shopping plaza baru (lupa namanya) di daerah 'eks timur'.

 

Hari Kamis tanggal 4 Nopember 2004, pagi-pagi pukul lima kami sudah bangun dan sudah siap berdiri di pinggir jalan pukul enam untuk naik bus kota menuju Stasiun Berlin Ostbahnhof. Jam 07.07 naik kereta menuju kota kecil Lutherstadt Wittenberg, tiba di Stasiun Lutherstadt Wittenberg jam 08.11. Wittenberg merupakan kota kelahiran dan matinya tokoh reformasi Martin Luther. Tanggal 31 Oktober 1517, para biarawan Augustinian dan Doktor Teologi Martin Luther mengumumkan 95 theses pada pintu perunggu Schlosskirche (Castle Church) di Wittenberg. Dan ini sangat kuat untuk jalan pengembangan dari aspek religi, politik, dan kebudayaan pada abad 16 di Jerman. Maka setiap tanggal 31 Oktober dikenal sebagai Hari Reformasi. Dan dengan runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989, Wittenberg (City of Luther) makin ramai dikunjungi orang penduduk Jerman maupun manca negara, dan selalu diadakan festival setiap tahun.

Kami langsung naik bus kota menuju Gereja Istana Luther (cikal bakal aliran Protestan) yang dimotori Pastor Martin Luther, OSA.  Perjalanan bus hanya 10 menit kami sudah tiba persis di depan pintu masuk Gereja Luther, namun gereja dan kantor informasinya masih tutup karna baru buka untuk umum jam sepuluh. Tampak pada pintu yang terbuat dari perunggu bertuliskan 95 dalil dari Pastor Martin Luther, OSA ketika mengkritik gereja. Di atas pintu perunggu itu ada lukisan setengah lingkaran menggambarkan Salib Yesus yang di bawahnya ada Luther membawa Alkitab Jerman di sebelah kanan dan Melanchthon dengan Augsburg Confession di sebelah kiri. Kami sempat keliling taman kota yang tidak jauh dari situ, dan melihat patung Martin Luther. Lapangan tersebut merupakan pusat berkumpulnya berbagai kegiatan masyarakat kota Wittenberg terutama di masa lampau.

Ketika gereja sudah dibuka, kami langsung masuk. Di dekat pintu masuk, ada kuburan salah satu pimpinan negara (perempuan, tapi lupa namanya). Kesan kami melihat phisik gereja itu adalah 100% persis Gereja Katolik, pada dinding kedua sisi gereja dipenuhi hiasan lukisan stase jalan salib serta ukiran patung marmer para rasul. Ini gereja reformasi asli cikal bakal aliran Kristen Protestan, tapi justru melestarikan adanya ukiran seni patung dan altarnyapun banyak dipenuhi patung seni, serta di dalam gereja ini ada 3 kuburan di lantai (Pastor Martin Luther, OSA di sebelah kanan dekat altar, dan Pastor Philipp Melanchthon, OSA di sebelah kiri dekat altar, serta satu lagi yang dekat pintu masuk tadi), so persis tradisi Gereja Katolik (Pastor Martin Luther, OSA dan Pastor Philipp Melanchthon, OSA hingga meninggal tetap berstatus sebagai pastor katolik, walaupun mereka dikenakan sanksi ex-comunicatie dari Paus Leo X pada tanggal 15 Juni 1520). Lha bayangkan kalau ada Gereja Protestan seperti ini di Indonesia, banyak aliran yang umatnya kelewat kuat semangat kekristenannya (melebihi yang aslinya di Gereja Lutherstadt Wittenberg :~), sampai-sampai begitu melihat ada ukiran patung Yesus, Maria, atau rasul, langsung dianggap berhala, dsb. apalagi ada kuburan dalam gereja, bisa-bisa dianggap setan, dst., tak pelak hal ini harus dihancurkan atau dibuang. Gereja Luther ini sampai sekarang masih aktif dipakai untuk pelayanan kebaktian rutin tiap hari Minggu pagi pukul sepuluh dan sore hari pukul lima. Sering pula pada hari-hari tertentu digunakan untuk kebangunan rohani dengan mengundang pembicara doktor-doktor teologi. Pada saat itu mumpung terlihat hanya ada 10-an pengunjung manca negara, maka bergegaslah Pendeta Den Vincent dari Indonesia naik ke atas mimbar (eks Martin Luther berkotbah dan melakukan protesnya) membawakan kotbah 'satu baptisan' (tapi cuma komat-kamit action doank........ biar dipotret Jeng Verina donk :~)

Karna sudah hampir pukul sebelas, kami segera ke toko souvenir di seberang gereja. Di situ kami membeli beberapa gambar dan buku tentang perjuangan Pastor Martin Luther, serta tak ketinggalan 2 botol red-wine asli bikinan Wittenberg (beruntung tinggal 2 botol terakhir).

Pukul 11.28 naik kereta ICE menuju kota Leipzig, dan tiba di Stasiun Leipzig pukul 12.01. Stasiunnya termasuk besar dan dilengkapi toko-toko dan restoran seperti suasana plasa. Keluar dari stasiun, kami naik tram menuju Gereja St.Thomas (Thomas Kirche). Sebelum masuk pintu gereja, di situ ada Thomas Kirche Square semacam lapangan samping gereja yang tidak begitu besar, dan di situ ada patung Johann Sebastian Bach. Gereja ini semula bergaya baroque, dan kemudian pada masa Bach tahun 1723-1750 dirubah arsitektur bergaya neo-gothic. Di gereja ini sering diadakan konser musik hingga saat ini, Bach memimpin paduan suara selama 25 tahun, dan pada altar gereja ini ada kuburan Johann Sebastian Bach yang sangat terkenal dalam jasa permusikan klasik.

Pukul 15.47 naik kereta ICE menuju Frankfurt, tiba di Stasiun Frankfurt Main HBF jam 19.36. Kemudian kami naik metro menuju airport internasional (hanya kurang dari 10 menit sudah tiba, luar biasa Jerman). Kesan kami selama di Jerman, ternyata masyarakatnya paling ramah dan suka membantu, sama seperti yang kami alami di Perancis.

Pukul 22.20 naik pesawat SQ-325 menuju Singapore, begitu masuk pesawat dan duduk, nggak lama kemudian kami berdua tanpa dikomando siapapun, langsung pulas tertidur (begitu capainya hari itu) hingga Singapore keesokan harinya.

 

Hari Jumat tanggal 5 Nopember 2004, pukul 17.10 tiba di Changi Airport Singapore. Masih sempat sedikit shopping, langsung boarding en naik pesawat SQ-166 menuju Jakarta. Pukul 19.20 kami mendarat di Bandara Soekarno-Hatta terminal D.

Pukul 22.00 kami akhirnya naik pesawat Merpati menuju Surabaya, en tiba di Juanda Airport pukul sebelas seperempat, udara terasa sangat panas, langsung naik taxi pulang ke rumah. Sejuta kenangan ….. sejuta pikiran …… sejuta perasaan ……….. kami bawa pulang. Bukankah itu salah satu cara untuk memahami kehidupan, memperluas wawasan, meningkatkan kebijakan dan kemanusiaan?
Bagaimana menurut pendapat anda?

 

Akan lebih semarak apabila anda membuka semua lembaran website ini dalam bentuk gambar secara urut.

Kadang dalam membuka lembaran website nanti ada beberapa gambar tidak keluar (hanya kotak kosong), taruhlah cursor pada kotak tersebut dan klik kanan, kemudian klik 'Show Picture' pada menu pilihan. Gambar akan muncul secara lengkap.

 

 

silakan klik

GAMBAR  PERJALANAN  BERURUTAN

Dimulai  dari  ROME  hingga  berakhir  di FRANKFURT

 

 

 

 

PERJALANAN SEPEKAN SEJUTA KENANGAN DEN VINCENT KE OSLO & PARIS 2011

 

Hari Minggu 18 September 2011 jam 18.40 WIB dengan menggunakan pesawat Silk Air, Den Vincent berangkat menuju Singapura untuk transit. Tiba di Terminal 2 Singapore Changi Airport jam 21.40, selanjutnya pindah ke Terminal 3 untuk boarding di gate B2. Terminal 3 adalah terminal yang baru dioperasikan 2 tahun lalu untuk penerbangan Singapore Airlines. Suasana terminal benar-benar mirip mall dengan aneka kedai dan toko yang tertata rapi dan apik sekali. Berbagai fasilitas dari kursi pijet elektrik sampai kursi rebahan santai berjajar (menghadap ke arah run way pesawat) di mana-mana secara gratis. Yang namanya komputer untuk berinternet disediakan di mana-mana secara gratis. Dan juga terlihat banyak petugas orang muda yang disebar untuk melayani para pengunjung dalam menjelaskan apa saja, padahal komunikasi di terminal tersebut sudah begitu jelas dan lengkap sekali. Sepengetahuan Den Vincent memang terminal Changi sungguh hebat segalanya sebagai airport internasional. Den Vincent boarding gate B2 untuk menuju Paris berangkat jam 00.10 menggunakan pesawat Airbus besar baru A-380 yang mampu menampung 580 penumpang. Kali ini merupakan pengalaman baru bagi Den Vincent menggunakan pesawat demikian besar yang hanya bisa singgah di beberapa airport tertentu saja di dunia karna begitu besarnya pesawat tersebut (Singapore Changi, Paris Charles de Gaul, Amsterdam Schiphol, Sydney, Melbourne, Munich, Los Angeles, dlsb.). Biasanya orang-orang pada umumnya tidak peduli dalam bepergiannya, entah naik Airbus atau Boeing dsb., tergantung ticketing sesuai tujuan saja. Ketika merencanakan bepergian ini, salah satu pertimbangan adalah mengincar jenis pesawat baru yang sering dipromosikan yaitu Airbus A-380 yang melalui rute Singapore-Paris, maka dipilih lewat Paris sebelum menuju Oslo-Norway.

Duduk di window seat K32 terlihat persis di depan sayap kanan yang demikian besar dan panjang dengan 2 engines yang besar sekali. Engine dari UK buatan Rolls Roice ini dari jarak beberapa puluh meter saja bisa berbahaya karna kerbau besar dapat terhisap, apalagi orang. Saking besarnya pesawat yang menghabiskan Rp 1 trilyun tersebut dalam pembuatannya tidak dari satu tempat saja, malah dibagi di beberapa tempat yaitu bagian depan di Perancis, bagian tengah Jerman, dan bagian belakang juga Perancis. Sayangnya, ketika bagian-bagian tersebut selesai timbul problem besar karna masing-masing menggunakan standard design perkabelan yang berbeda sehingga timbul biaya perombakan hingga ratusan milyar sebagai kerugian besar airbus. Ketika mulai lepas landas hampir tidak terasa karna demikan halusnya.....wouw ruarr biasa........... Saya memperhatikan ketinggian terbang rata-rata 12 km, biasanya pesawat terbang lainnya sekitar 10 km. Kecepatan terbangnya juga kurang lebih sama dengan pesawat Airbus atau Boeing lainnya. Bersyukur bisa ikut mencoba pesawat baru tersebut, dan tiba di Paris jam 07.20 dengan cuaca sedikit berkabut 16 derajat Celcius (dalam waktu dekat ini Den Vincent merencanakan ke Tokyo, kali ini mau mencoba cari rute yang menggunakan pesawat produk Boeing baru Dreamliner sebagai pesaing Airbus A-380. Sementara ini hanya rute HongKong - Tokyo yang memperoleh giliran pertama melaunch pesawat Dreamliner tersebut. Pesawat ini mengandalkan keiritan bahan bakar hingga 30% dengan badan pesawat terbuat dari jenis plastik tertentu sehingga ringan tapi kuat sekali).

Paris Charles de Gaul Airport memang sangat besar terbagi 3 terminal juga. Untuk komunikasi dari petunjuk-petunjuk yang ada terasa masih jauh lebih lengkap dan hebat Changi Airport yang segalanya memang comfortable (kenyamanan Changi Airport memang tidak ada duanya di dunia ini). Perjalanan dilanjut dengan berjalan kaki menuju Terminal 1 berangkat jam 11.10 dengan menggunakan pesawat Scandinavian Airlines menuju Oslo ibukota Norwegia. Sempat terbayangkan bahwa pesawat Scandinavian tentunya akan bagus dan memperoleh makan siang, maklum negara-negara Scandinavian merupakan 4 negara Eropa di utara yang GDP nya lebih besar daripada Eropa barat maupun timur. Ternyata dugaan saya meleset, pesawatnya jenis Boeing yang sudah lama dipakai persis budget airlines di Indonesia dan tidak mendapat lunch di dalam pesawat, memang makanan disediakan tapi harus bayar alias beli, padahal tiket pesawat dengan perjalanan ditempuh 2 jam 20 menit ini tidak murah lho. Suara engine yang sudah terasa tua, dan kualitas tempat duduk yang sudah cukup usang, penumpang sih bule semua dong :~). Tiba di Oslo jam 13.30 dengan cuaca terang 12 derajat Celcius, perut keroncongan juga, maka diisi dulu dengan pizza harga sekitar Rp 150 ribu per-orang, begitulah taraf hidup negara-negara Eropa yang begitu tinggi alias mahal terutama Eropa utara.

Dengan menggunakan taxi menuju kota Sarpsborg hampir 2 jam biaya Nok 2195,- (hampir Rp 3 juta,-) jam 17.00 tiba di Quality Resort Hotel (semalam Nok 890). Kota ini kecil sekali, boleh dibilang memang kota industri yang dihuni hanya 50 ribu penduduk. Malam itu terpaksa makan pizza lagi sampai mblenger dengan harga juga Rp 200 ribu lebih tapi termakan seperempat saja karna ukurannya sangat besar.

Besok siangnya diajak makan oleh pacar dengan dipesankan makanan yang namanya 'wok' (kalau tidak salah masakan dari Thailand) yang terdiri seperti salad dengan pilihan salmon, atau beef, atau chicken. Nah, makanan ini memang enak sekali (ber-5 orang habis Nok 280,-).

Keesokannya jam 10.20 berangkat lagi by train ticketnya Nok 195 menuju Oslo tiba jam 11.40. Dengan menyewa taxi Mercedes Nok 750 untuk diantar keliling kota Oslo menuju Vigeland Park, Oslo Dom Kirche, City Hall, Royal Palace, Nobel Centre, National Theatre, dll. kemudian naik pesawat Scandinavian Airlines jam 17.10 kembali menuju Paris tiba jam 19.30. Supaya bisa menikmati dan merasakan denyut kehidupan Paris, maka begitu tiba di Terminal 1, dengan shuttle train menuju Terminal 2 dan berganti 3 kali naik train ke Forrest Hotel de Ville di Corantine Cariou Avenue (semalam $ 230,-).

Hari Sabtu 24 September 2011 terpaksa harus pulang meninggalkan sejuta kenangan di Paris (tapi rahasia donk detailnya) karna Senin tanggal 26 September my darling mevrouw Verina ulang tahun, kan mau tidak mau dinner bareng dengan sun istimewa dong (begitulah suami yang satu ini patut dicontoh laa :~). Sabtu jam 12.00 dari Terminal 1 Paris Charles de Gaul Airport terbang kembali dengan Airbus A-380 menuju Singapura, dan tiba Minggu pagi di Changi Airport Terminal 3 jam 06.40, terus dilanjut pindah ke Terminal 2 jam 07.50 terbang dengan Silk Air ke Surabaya tiba jam 09.10 WIB......huhh.....capai en ngantuk juga............

 

(Mungkin anda bertanya, mengapa Den Vincent mau pergi jauh-jauh hanya untuk tujuan Norway? Apa istimewanya Norway? Karna kebetulan Norway di tahun 2011 telah dinobatkan sebagai negara paling damai di dunia. Untuk itulah Den Vincent penasaran banget gitu lhoh pingin lihat dan langsung merasakan bagaimana rasanya hidup dan bernapas di negara paling damai di dunia. Ternyata sama saja tuh dibandingkan dengan ke negara-negara lain mana saja.....hiks..........maklum Den Vincent cinta damai pol :~)

 

 

GO YE INTO ALL THE WORLD, AND PREACH THE GOSPEL TO EVERY CREATURE

 

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved