ADVENTURES OF  VERINA & VINCENT  IN EUROPE

 

 

BERLIN

 

210 foot Victory Column di Tiergarten Park, merupakan salah satu ikon kota Berlin

 

Tiergarten Park, taman terbesar di Berlin, tampak samar-samar Victory Column

 

Setelah makan pagi, pukul sepuluh kami berjalan kaki menyusuri jalan raya menuju daerah Tiergarten yang merupakan taman terbesar di Berlin. Taman ini begitu besarnya dan bersentuhan langsung dengan gedung Reichstag, maka di daerah itu banyak kantor kedutaan negara asing. Taman ini pernah rusak berat karna terkena bom perang dunia kedua tahun 1945, kemudian ditata dan dibangun kembali tahun 1949. Sekarang ini Tiergarten digunakan warga kota Berlin sebagai tempat yang nyaman untuk bersantai, dan lebih digemari sebagai tempat rekreasi serta membuat barbeque. Ke Tiergarten dapat menggunakan S5, S7, S75, S9. Sepanjang jalan terlihat serba bersih sekali dan rapi, kalinya pun bersih, hanya saja saat itu banyak daun rontok dari pohon dimana-mana. Udara terasa dingin sekali karna sesekali ada angin. Tibalah kami di Victory Column yang tingginya 210 foot di Tiergarten Park, tampak gagah dan indah di bundaran jalan raya. Di sekelilingnya adalah taman luas sekali.

 

Beruang di Tiergarten Park

 

Di Berlin bayang-bayang sejarah berbaur kental dengan realitas keseharian. Deretan batu-batu marmer hitam di taman peringatan menjadi refleksi tentang sebuah era kelam zaman Adolf Hitler, di saat jutaan warga Yahudi dibantai (holocaust).

 

Bundeskanzleramt

 

Kami teruskan naik bus dengan membeli tiket terusan berlaku seharian sekitar 4 euro (lupa persisnya). Tibalah kami di depan gedung Bundeskanzleramt, kantor Perdana Menteri Jerman. Dari situ kami berjalan kaki menyeberang lapangan yang luas sekali persis depan gedung parlemen Reichstag. Pemandangan di sekitar itu indah dan sangat luas dengan pohon-pohon yang rindang dan diatur rapi sekali dan artistik. Terlihat antrian panjang turis untuk memasuki Reichstag hingga ke tengah lapangan. Untuk masuk Reichstag tidak dipungut bayaran.

 

Reichstag 1933 dirubuhkan, gedung parlemen bersejarah dalam menentukan Perang Dunia yang lalu, peninggalan era kekaisaran Prusia 1701-1871

 

Reichstag tempat Bundestag atau parlemen nasional Jerman berkantor di Berlin. Ruangan dengan kubah transparan berukuran besar ini baru tuntas dibangun tahun 1999 mengikuti rancangan arsitek Sir Norman Foster dari Inggris. Bangunan Reichstag merupakan bangunan bersejarah yang dibangun tahun 1871. Reichstag juga menjadi salah satu tempat kunjungan wisatawan terfavorit di Jerman setelah katedral Kohln.

 

 

Tangga melingkar 2 arah di dalam kubah Gedung Parlemen Reichstag yang serba kaca mengesankan kehebatan arsitek Norman 1990

 

View from Reichstag, tampak kanan adalah gedung Bundeskanzleramt

 

 

Gedung ini di masa lampau untuk digunakan Hitler untuk membuat keputusan penting. Memasuki gedung ini persis di tengah-tengah, kita akan masuk ruang serba kaca sampai atapnya, dengan naik tangga datar melingkar naik ke atas dan di sisi lain barisan orang turun tangga datar melingkar ke bawah yang terkesan aneh karna tidak bertabrakan antara yang naik dan yang turun, arsiteknya hebat dah. Di lantai atas gedung ini kita bisa menyaksikan sejarah Jerman melalui photo-photo dan sarana lainnya. Pada masa lampau, di atas gedung ini bisa melihat kegiatan daerah Berlin Timur dan di situ ada gedung Kedutaan Rusia.

Di sebelah Reichstag adalah Brandenburg Gate yang dilalui boulevard terkenal Unter den Linden. Kami melewati Brandenburg Gate ke arah daerah timur. Saat itu di situ ada seorang tua yang memainkan komidi putar dengan musiknya.

 

Brandenburger Tor (Brandenburg Gate) sebelum dibangun tembok pemisah di tahun 1957

 

Reichstag Fire, burning of the German parliament building in Berlin on February 27, 1933, less than a month after Nazi leader Adolf Hitler became chancellor. The fire was used as a justification for the suspension of many constitutional guarantees and also as an excuse to attack the Communists. There is still debate over whether the Nazis were involved in this crime, of which they were the main beneficiaries. Three Bulgarians and a German were all indicted and tried in Leipzig, Germany, but only a Dutch communist, Marinus van der Lubbe, was convicted.

 

Brandenburg Gate saat ini di ujung Unter den Linden setelah tembok diruntuhkan, latar belakang adalah eks Berlin timur

 

The Brandenburg Gate (1789) and several palaces, including Sans Souci Palace (1745-1747) and the New Palace (1763-1769), both built by Frederick II, are among the architectural features of the city.

Berlin tak dapat dipisahkan dari Gerbang Brandenburg yang dibangun oleh Karl Gottfried Langhans pada tahun 1789. Dua tahun kemudian Johann Schadow menambahkan "Quadriga" di atasnya, berupa patung yang menggambarkan Victoria sedang mengendarai kereta yang ditarik empat ekor kuda. Quadriga pernah diangkut ke Perancis ketika pasukan Napoleon menduduki kota ini tahun 1806, tetapi simbol Berlin itu kembali ke tanah airnya tujuh tahun kemudian.

 

Komidi putar di Brandenburg Gate

 

Berjalanlah dari ujung timur Unter den Linden, dimulai dari Alexanderplatz sampai ke ujung baratnya di Brandenburger Tor (Gerbang Brandenburg), ibaratnya menapaki berabad lintasan waktu. Deretan gedung di jalan ini memiliki kekhasan arsitektur yang lengkap sejak era barok sampai neo-renaisans, dari tren elektrik yang menekankan penggunaan batu bata sampai art nouveau (seni baru).

 

Dekat Brandenburg Gate, tampak menara radio dan TV

 

Suasana sekitar Brandenburg Gate di sisi timur dari kejauhan

 

Setelah itu kami melewati hotel (lupa namanya, masih sangat dekat dengan gate tadi) yang konon harganya sekitar 4-5 juta rupiah semalam. Berjalan kaki diteruskan, di situ ada Kedutaan Rusia yang dimasa lampau tentunya sangat berarti dan sangat diperhitungkan oleh dunia barat. Tak jauh dari situ ada shopping plasa dan diteruskan lagi kita jumpai gereja kuno sepertinya Katolik (bersebelahan dengan menara radio dan TV yang tinggi sekali (seperti menara TVRI Jakarta). Memasuki gereja ini terkesan gereja Katolik karna banyak patung dan lukisan tentang Maria dan Keluarga Kudus. Ternyata kami kecele, setelah ditanyakan orang yang jaga di meja jualan souvenir (yang ternyata pendetanya), gereja itu reform, bukan gereja Katolik, horotoyoh bingung. Dan ternyata nama gereja itu adalah Gereja St.Marien alias Gereja Santa Maria.

 

Gereja St. Marien

 

Jalan kaki diteruskan lagi, ketemu Opera House (masih di Unter den Linden), dibangun sebagai Royal Opera tahun 1741-1743 dengan gaya klasik Prussian dan sedikit pengaruh gaya klasik Inggris. Pada tahun 1843 mengalami kebakaran dan rusak total. Dibangun kembali tahun 1952-1955 dan dipugar total pada tahun 1983-1986. Ke daerah ini dapat menggunakan S1, S2, S25; Bus 100.

 

Opera House

 

Neue Wache

 

Universitas Humboldt

 

Humboldt Universitaet

 

Di dekatnya ada Universitas Humboldt. Di sebelah sisi lain ada bangunan khusus untuk peringatan menghormati para pahlawan yang gugur dalam perang, namanya Neue Wache yang dibangun antara 1816-1818. Pada tahun 1969 sisa beberapa tentara tak dikenal dan beberapa tahanan tak dikenal dari camp konsentrasi dikuburkan di situ. Dan sejak 1993 digunakan sebagai pusat peringatan oleh Pemerintah Republik Federal Jerman kepada para korban perang dan tirani. Dan tak jauh dari situ ada gedung besar museum, dengan lapangan yang luas sekali dan indah pemandangannya. Di sisi lain berdiri megah sekali Berliner Dom, yaitu Katedral Berlin dengan kubah-kubah besar berwarna biru kehijauan. Di dalam gereja ini sungguh luar biasa bagus dan besar karya Raschdorff. Awal mula katedral ini dibangun pada tahun 1747-1750, kemudian digusur dan dibangun tahun 1894-1905 oleh perencana Raschdorff pada masa Kaiser Wilhelm II. Salah satu ruangan di dalam katedral ini adalah Kapel Sermon dengan altar emas menampilkan patung ukiran 12 rasul. Masuk ke dalam gereja ini harus bayar 7 euro. Ke Berliner Dom ini maupun ke Alexanderplatz dapat menggunakan S5, S7, S75, S9; U2, U5, U8; Bus 100, 148, 200.

 

Saint Hedwig's Cathedral atau Berliner Dom karya Raschdorff, sebelah timur dekat Brandenburg Gate

 

Friedrichstrasse tak pernah tidur. Keberadaan beberapa stasiun kereta bawah tanah di sepanjang jalanan ini membuatnya terjaga hampir 24 jam. Di sini pula deretan toko menawan berada, mulai butik perancang mode kelas dunia sampai butik mobil yang menjual kendaraan mewah. Dari penjual sosis goreng (makanan yang terkenak uenak di Jerman) di sudut jalan yang kelas empat euro sampai restoran elegan yang namanya direkomendasikan dalam buku-buku panduan perjalanan.

Bersimpangan dengan Friedrichstrasse adalah jalan raya utama yang menjadi ikon kota Berlin: Unter den Linden. Kedua jalan ini berada di kawasan Mitte yang disebut-sebut sebagai jantung kota Berlin.

 

Alexanderplatz dengan Weltzeituhr

 

Setelah itu kami menuju shopping-center Alexanderplatz. Keluar dari stasiun metro Alexanderplatz, terlihat seperti kawasan terbuka luas sekali dengan beberapa bangunan tinggi modern. Suasananya enak untuk jalan-jalan.

Menurut beberapa kenalan yang beberapa tahun sebelum penyatuan Jerman tahun 1990 yang pernah masuk ke Berlin Timur, mereka mengatakan sepanjang 1 km dari pintu perbatasan, tampak bangunan dan jalan raya yang hebat, besar, indah, megah. Namun begitu diteruskan lebih dari 1 km sungguh pemandangan yang memprihatinkan. Namun kini kami melihat sendiri bahwa semua kawasan di daerah 'eks Jerman Timur' sampai berkilo-kilo meter jauhnya juga sudah bagus. Banyak plaza dan mall baru sudah beroperasi walaupun tidak terlalu banyak terlihat orang berbelanja. Jaringan jalan raya dan bangunan rumah penduduk sudah bagus-bagus mengikuti standard rumah lainnya 'eks Jerman Barat' tentunya. Untuk membedakan suatu daerah itu tadinya eks Jerman Timur atau Barat, salah satu tandanya adalah kalau di kota-kota terlihat adanya tram berarti itu eks Jerman Timur. Sedangkan yang eks Jerman Barat memang sudah tidak diberlakukan adanya tram semenjak sarana metro (kereta bawah tanah maupun atas tanah) sudah demikian maju dan lengkap melewati semua kawasan.

 

Istana Charlottenburg dengan patung kepahlawanan Prussia

 

Taman luas di dalam area Schloss Charlottenburg

 

Keesokannya kami banyak keliling kota Berlin lebih banyak yang daerah 'eks barat' dengan naik-turun bus/metro, mengingat tenaga yang mulai terasa letih (walaupun tetap fit dan greng punya). Kami menuju Charlottenburg Palace (dapat menggunakan U2 atau Bus 309), dan di seberangnya ada Egyptian Museum (yang dibangun 1851-1859) dan Stulerbau. Saat itu kami hanya bikin photo di depan istana, karna secara kebetulan Ratu Elizabeth (dari Inggris) sejam kemudian akan mengunjungi istana Charlottenburg ini.

 

GO YE INTO ALL THE WORLD, AND PREACH THE GOSPEL TO EVERY CREATURE

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved