ADVENTURES OF  VERINA & VINCENT  IN EUROPE

 

PARIS 

 

 

Palais du Luxembourg

 

Keesokan pagi, kami memutuskan pindah hotel lagi yaitu ke Hotel Jean Bart (9, rue Jean Bart), lokasi dekat Taman Luxembourg. Setelah check-in, kami berjalan kaki cukup dekat ke Palais du Luxembourg. Tamannya besar sekali dengan pohon-pohon besar dan indah dilihat. Di tengah ada kolam air bundar besar menambah artistik pemandangan. Banyak orang duduk-duduk santai di kursi yang bertebaran yang memang disediakan. Di sisi lain dekat kolam, terlihat banyak mahasiswa yang sedang berdiskusi berkelompok serius sekali. Tampak pula di situ Gedung Senat Jardin Luxembourg. Di dekat situ ada Universitas Sorbonne, tempat kuliah orang-orang terkenal seperti Erasmus, Calvin, Martin Luther, Ignatius Loyolla, Secapramana. Keluar dari taman itu, kita bisa menyeberang jalan dekat bundaran menuju bangunan Pantheon yang sudah terlihat dari jauh. Pantheon adalah bangunan yang di dalamnya ada makam para pahlawan Perancis yang tak dikenal, dan untuk masuk ke dalam gedung megah itu kita harus bayar 7 euro. Di seberang Pantheon, tampak the University of Paris. Dan di samping Pantheon ada bangunan Gereja Saint-Etienne du Mont, kami hampiri dan masuk ke dalam. Ternyata gereja ini cukup besar dan indah sekali, dibangun pada awal abad 13. University of Paris tadinya berlokasi di sini, dimana universitas ini menjadi terkenal di dunia dengan budaya baratnya karna ada 2 guru besar yang terkenal yaitu Santo Bonaventura dan Santo Thomas Aquinas. Kemudian gereja ini dibangun tahun 1492, tetapi baru diselesaikan tahun 1622. Ketika kami masuk ke dalam gereja, para biarawan dan biarawati sedang berlatih main sandiwara untuk suatu pertunjukan. Mereka berlatih dengan serius sekali dan kadang diiringi musik macam-macam dan lagu-lagu yang mereka lantunkan secara baik sekali.

Setelah itu kami bermaksud melanjutkan perjalanan menuju Kapel Santa Catharina Laboure, namun saat itu agak kesulitan mencarinya, malah terdampar pada bangunan gereja yaitu Gereja Saint Sulpice. Gerejanya besar sekali dan bagus, ternyata merupakan gereja kedua terbesar di Paris setelah Notre Dame. Gereja ini dirancang oleh 6 arsitek selama 134 tahun. Di depan gereja ada lapangan yang cukup besar dan di tengahnya ada air mancur dengan monumen kotak diberi patung 4 kardinal. Ketika kami berada di sana, banyak mahasiswa arsitektur tersebar di beberapa lokasi gereja untuk melakukan kegiatan menggambar bagian-bagian gereja ini yang memang bagus dari segi arsitektur bangunannya. Salah satu ruangan di sebelah kanan dekat altar, ada kapel dan kuburan kardinal (lupa namanya), dan ada photo terpampang gambar Paus Yohanes Paulus II pernah mengunjungi tempat itu dan berdoa di situ.

Pukul tiga sore kami naik metro menuju Stasiun Vaneau, begitu keluar dari stasiun, persis di seberang jalan adalah Biara Vincent de Paul, dan di sebelahnya adalah Kapel Vincent de Paul dimana kita bisa menyaksikan jasad utuh Santo Vincentius de Paul dalam peti kaca relikwi yang ditaruh pada tembok di atas altar.

 

Kapel dan pastoran Santo Vincentius de Paul persis seberang Stasiun Vaneau, berjarak 400 meter dengan Chapel of the Miraculous Medal

 

Interior kapel Santo Vincentius de Paul, sebelah atas altar terlihat jasad utuhnya dalam peti kaca reliquary

 

Chapel of the Miraculous Medal, tampak sebelah kiri altar adalah jasad utuh Santa Louise de Marillac dalam peti kaca reliquary

 

Dengan berjalan kaki 100 meter setelah keluar dari Kapel Vincent de Paul menuju perempatan Au Bon Marche (supermarket besar terkenal di daerah itu), lantas belok ke kiri adalah jalan Rue du Bac. Dari perempatan tadi berjalan kaki lagi 100 meter akan ketemu nomor rumah 140, itulah Kapel Catharina Laboure. Begitu memasuki kapel ini, kesan pertama kami adalah kapel ini sungguh cantik dengan keserasian warna dan lukisan serta ornamen dinding di sekitar altar. Di sebelah kiri altar dapat kita lihat jasad utuh Santa Catharina Laboure dalam peti kaca relikwi. Suasana hening dan khidmat masing-masing hadirin berdoa secara khusuk. Di kapel ini juga disediakan barang souvenir terutama terkenal medali wasiat dari Santa Catharina Laboure. Santo Vincentius de Paul dalam karyanya bekerja sama dengan Santa Catharina Laboure, mendirikan secara khusus Konggregasi Misi Putera Puteri Kasih pada abad 17.

Dari situ kami melanjutkan perjalanan dengan naik metro dari Stasiun Vaneau ke Stasiun Abbesses. Dari Stasiun Abbesses berjalan kaki 200 meter kami tiba pada sebuah bangunan megah nan indah Sacre-Coeur (Basilika Hati Kudus). Karna bangunan ini letaknya di atas bukit, maka harus menaiki tangga yang cukup jauh (disediakan juga sarana angkutan semacam kereta metro dengan membeli tiket 1,1 euro). Berada di sekitar basilika, kita dapat melihat pemandangan kota Paris yang sungguh indah, baik untuk pagi, siang, sore, terlebih di malam hari. Bangunan apapun cukup terlihat dari sini, dan pada sore hari sering tampak kota Paris berkilauan emas, dan pada malam hari sungguh menjadi sangat indah dengan kilauan lampu di sana sini.

 

Sacre-Coeur, basilika termegah dengan atap kubah besar, dan dari sini pula kita dapat melihat panorama kota Paris dari ketinggian bukit Montmartre

 

Interior basilika nan megah

 

Masuk ke dalam basilika, memang besar dan indah sekali di dalamnya. Atap bangunan ini berbentuk kubah besar dan dihiasi gambar tentang cerita Alkitab tentunya. Keluar dari basilika dan kita turun ke bawah tanah, di sana ada kapel tempat kaul Santo Ignatius de Loyola bersamaan dengan 10 imam Yesuit lainnya. Di sekitar Montmartre ini (kita harus ekstra hati-hati karna banyak sekali copet) disediakan kereta api mini dan bus kecil secara gratis untuk keliling dekat situ seperti suatu kota kecil tersendiri yang bagus sekali untuk dilihat dan dinikmati. Juga di dekat basilika ada pasar seni, orang melukis dan dilukis, orang bermain musik, jualan souvenir barang-barang kesenian. Ada juga tempat dengan sarana anak bermain seperti 'merry go round', dll.

Puas berada di Montmartre, kami kembali ke Stasiun Abbesses untuk naik metro menuju China Town nya Paris. Di sana kami menikmati makan malam dengan nuansa hong-kong la. Dan tidak lupa membeli kartu telepon Latino yang 15 euro, kartu tilpon ini dapat kita pakai untuk tilpon ke Indonesia (menggunakan tilpon hotel dari dalam kamar dan ikuti petunjuk dalam kartu) selama 400 menit, murah sekali.

 

Disney Land Paris

 

Besok paginya kami sudah memulai lagi jam 08:00 naik metro ke Stasiun Chateau de Vincennes. Jalan 1 km melewati Istana Vincennes, tiba di Stasiun RER untuk menempuh jalur khusus ke Disney Land Paris. Boleh dikata hampir 70% suasananya sama dengan Dunia Fantasi Ancol, termasuk jenis-jenis permainannya. Cuma istana bonekanya lebih meriah, karena lebih kaya macam dan warnanya. Jam 14:00 ada parade yang meriah dengan berbagai model kereta yang dihiasi dengan berbagai macam fantasi yang menonjolkan kreativitas mereka, dilengkapi dengan atraksi yang cukup menarik. Parade berlangsung selama 30 menit. Lumayan buat isi video, oleh-oleh untuk anak-anak di rumah.

Pagi hari berikutnya kami manfaatkan keliling kota Paris menggunakan tiket terusan seharian, diawali tiba di Musee du Louvre, di sana ada lukisan asli Mona Lisa yang sangat terkenal dengan senyum misteriusnya. Museum ini dibagi menjadi 7 departemen, dari barang antik hingga abad 19 awal. Bangunan piramida diselesaikan oleh Leoh Ming Pei tahun 1989.

 

Arc de Triomphe du Carrousel dekat piramida pintu masuk Musee du Louvre

 

Piramida pintu masuk Musee du Louvre, tempatnya barang-barang antik dan berseni tinggi

 

Salah satu tujuan utama masuk Musee du Louvre adalah gambar Mona Lisa

 

Original painting Mona Lisa

 

Musee d'Orsay

 

Art sculptures in Museum d'Orsay

 

Puas dengan Louvre, kami berjalan kaki menyeberang jalan dan Sungai Seine menuju ke arah kanan hingga tiba di Museum d'Orsay (masuk membayar 7 euro), menyajikan lukisan-lukisan, patung-patung ukiran, dan barang-barang seni yang terbuat antara 1848-1914. Setelah itu jalan kaki kami teruskan menuju Museum Rodin (khusus mengetengahkan seni patung, juga harus bayar 7 euro). Di tengah perjalanan yang cukup sulit, kami mampir sebuah gereja Katolik (lupa juga namanya), dan kebetulan sedang ada pemberkatan perkawinan (orang bule donk). Saat itu kami menyimpulkan bahwa kebanyakan gereja Katolik di Paris besar-besar dan bagus-bagus.

 

Madeleine church

 

Interior Madeleine

 

Altar Madeleine

 

Setelah makan siang di Chinese Restaurant, kami habiskan keliling kota Paris dengan naik-turun bus segala jurusan. Siang itu kami melewati patung Joan of Arc di pusat Place des Pyramides. Kami mampir Gereja Madeleine, wow.......gerejanya megah besar sekali dan artistik dari luar (seperti bangunan istana) maupun di dalamnya, dibangun tahun 1814 sebagai dedikasi pada Santa Maria Magdalena. Juga kami mampir Opera House (dekat Lafayette), masuk sini bayar 7 euro.

 

Opera House malam hari

 

Interior Opera House

 

Sebenarnya kami sudah letih juga, tapi sikat terus naik bus keliling Paris melewati Place Vendome (di situ ada Hotel Ritz dimana Lady Diana menginap sebelum kecelakaan) dan tentunya mampir ke monumen tempat Lady Diana mati romantis yaitu sebuah jalan raya masuk ke bawah terowongan. Banyak turis ke situ silih berganti dan tak jarang yang membawa bunga bagus-bagus untuk ditaruh di monumen. Akhirnya kami habiskan waktu sore hari dengan jalan-jalan di pinggir Sungai Seine sambil menuju Menara Eiffel menikmati pemandangan serba indah dan romantis dengan cuaca agak mendung dan suhu cukup dingin. Tampak pula bangunan Ecole Militaire (Akademi Militer) yang artistik dari kejauhan.

 

Eiffel Tower

 

Eiffel Tower seen from Ecole Militaire

 

Tuileries Jardin, Luxor Obelisk at Place de la Concorde, Arc de Triomphe

The center of the Place de la Concorde is occupied by a giant Egyptian obelisk decorated with Hieroglyphics exalting the reign of the pharaoh Ramses II. It is one of three Cleopatra's Needles, the other two residing in New York and London. The obelisk once marked the entrance to the Luxor Temple. The viceroy of Egypt, Mehemet Ali, offered the 3,300-year-old Luxor Obelisk to France in 1831. The obelisk arrived in Paris on December 21, 1833.
Three years later, on October 25, 1836, King Louis-Philippe had it placed in the centre of Place de la Concorde, where a guillotine used to stand during the Revolution.
The red granite column rises 23 metres (75 ft) high, including the base, and weighs over 250 tonnes.
Missing its original cap, believed stolen in the 6th century BC, the government of France added a gold-leafed pyramid cap to the top of the obelisk in 1998.

 

Joan of Arc

 

Pukul 19.30 kami sudah tiba di Hotel Jean Bart untuk mengambil semua kopor, setelah itu naik metro ke Stasiun Paris Austerlitz. Pukul 21.56 kereta malam dengan posisi couchette (seperti kereta bima kita) berangkat menuju Port Bau (perbatasan Perancis-Spanyol).

 

Gare du Nord train station

 

Journey by TGV come back from Mont Saint Michel

Paris panorama

 

 

 

GO YE INTO ALL THE WORLD, AND PREACH THE GOSPEL TO EVERY CREATURE

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved