ADVENTURES OF  VERINA & VINCENT  IN EUROPE

 

 

PARIS

 

Eiffel Tower

 

Paris memang tempatnya untuk jalan-jalan. Suasananya serba mendukung dan menyenangkan, romantis, sarana lengkap tersedia, enak untuk dinikmati dimana-mana. Banyak sekali objek yang indah dan layak untuk dikunjungi dan dinikmati, seakan-akan tak ada habisnya. Di Paris saja selama seminggu mestinya tidak cukup, apalagi ditambah objek-objek di Cannes, Nice, Lourdes, Lyon, Avignon, Mont Saint-Michel, dll. Siang itu kami makan siang di Mandarin Royal Restaurant (5, Rue Ste-Genevieve-Versailles) berjalan kaki 400 meter dari gerbang luar Istana Versailles. Kami sempatkan mampir persis di seberang restoran tadi yaitu Notre Dame The Royal Paris Church of Versailles. Gereja Katolik ini dibangun pada abad 17 dimana peletakan batu pertamanya oleh Raja Louis 14 pada tanggal 10 Maret 1684. Gerejanya lumayan besar dengan stained-glass pada jendelanya bagus-bagus.

Setelah itu kami naik bus menuju Paris untuk keliling kota melewati object-object turis. Pukul lima kami memasuki Lafayette Departement Store. Sebelum masuk Lafayette, terlihat oleh kami bangunan gereja persis di ujung jalan, kami ke sana terlebih dahulu yaitu Gereja St.Lazare. Gereja ini unik banyak didatangi orang sampai antri khusus untuk pengakuan dosa.

Setelah selesai dari Lafayette, kami makan malam di Printemps De Jade Restaurant (55, Rue De Provence, Paris), kemudian dilanjut menuju Sungai Seine untuk cruise city tour naik Bateaux-Mouches (kapal semacam ferry khusus untuk turis) menyusuri Sungai Seine menuju Menara Eiffel.

 

Avenue des Champs-Elysees dari atas Arc de Triomphe jam 19.30 tahun 2000

 

Naik Batobus menyusuri Sungai Seine menikmati keindahan panorama Paris (2000)

 

Sepanjang jalan menyusuri sungai tampak suasana cantik, banyak bangunan-bangunan kuno yang bermandikan cahaya lampu fluorescent kuning mengesankan keanggunan dan didukung perawatan yang baik sekali, sehingga masih tetap dapat dijadikan objek turisme yang amat handal. Menara Eiffel yang sangat tinggi dan megah terlihat dengan permainan lampu dari atas hingga kaki menara. Place de Warove, dimana pemandangan Menara Eiffel dari titik ini sungguh cantik di kegelapan malam. Menara Eiffel terealisasi tahun 1889 dan menjadi simbol Paris di seluruh dunia. Dari lantai tiga, kita dapat menikmati kota Paris terutama di sore/malam hari.

Pada akhir abad 19, Menara Eiffel dibangun untuk kepentingan Paris World's Fair tahun 1889; sekarang menara ini menjadi simbol kota yang paling termashur.

 

Eiffel Tower view from Place de Warove

 

Avenue des Champs-Elysees, tampak Arch de Triomphe (gerbang kemenangan Napoleon Bonaparte)

 

Champ Elysees (malioboronya Paris) with background Arc de Triump

 

 Cabaret LIDO Show di Champs-Elysees, kabaret karya seni Paris terkenal di dunia, ticketing seharga Rp 1,5 juta per-orang (2004)

 

Sebelum mengakhiri 'city tour', malam itu kami menuju Avenue des Champs-Elysees. Menikmati suasana malioboronya Paris, toko/butik dengan rancangan designer terkenal dan merk-merk dunia bertebaran di sana untuk para artis papan atas tentunya. Juga kami melewati cafe restoran milik Alain Delon yang selalu dipenuhi pengunjung. Puas menikmati sekilas suasana itu, kami masuk nonton Cabaret Lido Show dengan harga tiket tiga juta rupiah untuk kami berdua. Cabaret Paris merupakan salah satu terbaik di dunia kan? Jangan berpikir bahwa nonton cabaret itu sama dengan nonton porno. Mereka menyuguhkan tontonan tarian secara profesional sekali dalam segala-galanya (pemilihan artis berbakat, gerakan tarian, kostum yang ditampilkan, kemerduan suara sang artis/aktor, dsb.). Memang dalam kesenian itu tidak dapat dipisahkan dengan keindahan tubuh, maka banyak tampilan yang terbuka dadanya, namun kita bisa menilai apakah itu untuk menonjolkan kepornoannya atau tidak dari alur gerakan yang mereka sajikan. Semua dikemas dengan sangat apik dan profesional sekali.

 

Le Panthéon
King Louis XV vowed in 1744 that if he recovered from his illness he would replace the ruined church of the Abbey of St Genevieve with an edifice worthy of the patron saint of Paris. He did recover, and entrusted Abel-François Poisson, marquis de Marigny with the fulfillment of his vow. In 1755, Marigny commissioned Jacques-Germain Soufflot to design the church, with construction beginning two years later.
The overall design was that of a Greek cross with massive portico of Corinthian columns. Its ambitious lines called for a vast building 110 meters long by 84 meters wide, and 83 meters high. No less vast was its crypt. Soufflot's masterstroke is concealed from casual view: the triple dome, each shell fitted within the others, permits a view through the oculus of the coffered inner dome of the second dome, frescoed by Antoine Gros with The Apotheosis of Saint Genevieve. The outermost dome is built of stone bound together with iron cramps and covered with lead sheathing, rather than of carpentry construction, as was the common French practice of the period. Concealed flying buttresses pass the massive weight of the triple construction outwards to the portico columns.
The foundations were laid in 1758, but due to the economic problems in France at this time, work proceeded slowly. In 1780, Soufflot died and was replaced by his student, Jean-Baptiste Rondelet. The remodeled Abbey of St. Genevieve was finally completed in 1790, coinciding with the early stages of the French Revolution.

 

The Pantheon Paris (Latin Pantheon, from Greek Pantheon, meaning "Every god") is a building in the Latin Quarter of Paris. It was originally built as a church dedicated to St. Genevieve, but after many changes now
combines liturgical functions with its role as a famous burial place. It is an early example of Neoclassicism, with a facade modelled after the Pantheon in Rome
Located in the 5th arrondissement on the Montagne Sainte-Geneviève, the Panthéon looks out over all of Paris. Its architect, Jacques-Germain Soufflot, had the intention of combining the lightness and brightness of the gothic
cathedral with classical principles. Soufflot died before his work was achieved, and his plans were not entirely followed. The transparency he had planned for his masterpiece was not attained. Nevertheless, it is one of the
most important architectural achievements of its time and the first great neoclassical monument.

 

Notre Dame de Paris (French for "Our Lady of Paris"), also known as Notre Dame Cathedral or simply Notre Dame, is a historic Roman Catholic Marian cathedral on the eastern half of the Île de la Cité in the fourth arrondissement of Paris, France. Widely considered one of the finest examples of French Gothic architecture and among the most well-known churches ever built, Notre Dame is the cathedral of the Catholic Archdiocese of Paris; that is, it is the church that contains the cathedra (official chair) of the Archbishop of Paris, currently André Vingt-Trois. The cathedral treasury is notable for its reliquary, which houses the purported crown of thorns, a fragment of the True Cross and one of the Holy Nails – all instruments of the Passion and a few of the most important first-class relics.
Notre Dame de Paris is often reputed to be one of the most prominent examples of Gothic architecture in both France and in Europe as a whole, and the naturalism of its sculptures and stained glass are in contrast with earlier Romanesque architecture. The first period of construction from 1163 into 1240s coincided with the musical experiments of the Notre Dame school.
The cathedral suffered desecration during the radical phase of the French Revolution in the 1790s, when much of its religious imagery was damaged or destroyed. An extensive restoration supervised by Eugène Viollet-le-Duc removed remaining decoration, returning the cathedral to an 'original' gothic state.

 

Sebagian bangunan di sekitar piramid kaca Musee du Louvre dibangun sekitar tahun 1200 dan dibangun kembali sebagai istana raja abad 16. Dan sejak tahun 1793 gedung ini diresmikan sebagai museum Louvre.

Selama pertengahan abad 19 Paris dirancang ulang di bawah pengarahan Baron Georges Haussmann, dan beberapa proyek besar lainnya juga berjalan untuk menonjolkan arti pentingnya kota tersebut. Arc de Triomphe, the Opéra, the Place de l’Opéra, the Place de l’Étoile (sekarang Place Charles de Gaulle), dan banyak jalan-jalan besar dengan pemandangan yang mengagumkan dibangun pada masa ini.

Bagian dari Place de la Concorde adalah Jardin de Tuileries, sebuah taman yang luas sekali bergaya Renaisans Italia yang mulai dibangun tahun 1564 atas perintah Katharina von Medici.

Beberapa jalan utama yang terkenal adalah Rue de Rivoli, Rue de la Paix, Rue de Faubourg-Saint Honoré, Avenue de l’Opéra, Boulevard des Italiens, Boulevard du Montparnasse, dan the Champs-Élysées yang dipenuhi dengan kafe dan butik terkenal kelas dunia.

 

Seine river in the evening

 

Sight-seeing by Batobus along Seine river

 

Notre Dame from Seine river

The stained glass windows of the Notre-Dame are very beautiful and a good part of them date from the 13th century when the cathedral was constructed. In this author's opinion, Notre-Dame's collection of stained glass is not as impressive as those at other French cathedrals, such as Chartres and Bourges, and in Paris the best place to enjoy an overall effect of stained glass is probably not Notre Dame but Sainte-Chapelle.
Nevertheless, Notre-Dame's stained glass windows remain an important and beautiful work of 13th-century Gothic art, with interesting details well worth exploring in more detail. The highlight - and the greatest survival of original glass - is the set of three beautiful rose windows, which shine like jewels over the west door and in the north and south transept.

 

Selesai makan pagi, kami berjalan kaki 7 menit menuju Stasiun Bussy-Saint Georges untuk naik metro ke kota Paris menuju Katedral Notre Dame di pinggir Sungai Seine. Di mana-mana terlihat orang bermesraan, dengan berbagai macam adegan dan berbagai taraf kesukaran en kehangatan. Namanya juga Paris, kota romantis. Pokoknya merata di segala usia. Kapal pesiar mulai dari yang sederhana hingga yang cukup mewah dipenuhi oleh turis-turis yang mengelilingi kota Paris melalui sungai Seine. Suasana romantis benar-benar terasa, dan harus diakui bahwa jalan-jalan di kota ini sungguh menyenangkan untuk digunakan berjalan kaki, tak habis-habisnya objek yang dapat dinikmati sambil berjalan-jalan, sehingga tidak terasa lelah walaupun harus berjalan jauh.

 

Seine river with Katedral Notre Dame

 

Notre Dame

In 1160, because the church in Paris had become the "Parisian church of the kings of Europe", Bishop Maurice de Sully deemed the previous Paris cathedral, Saint-Étienne (St Stephen's), which had been founded in the 4th century, unworthy of its lofty role, and had it demolished shortly after he assumed the title of Bishop of Paris. As with most foundation myths, this account needs to be taken with a grain of salt; archeological excavations in the 20th century suggested that the Merovingian Cathedral replaced by Sully was itself a massive structure, with a five-aisled nave and a facade some 36m across.

 

It seems likely therefore that the faults with the previous structure were exaggerated by the Bishop to help justify the rebuilding in a newer style. According to legend, Sully had a vision of a glorious new cathedral for Paris, and sketched it on the ground outside the original church.

 

It took until 1345 before the cathedral was completed, partly because the design was enlarged during construction.

The result is an overwhelming building, 128m long (420 ft) with two 69 meter tall towers (226 ft).

The spire, which reaches 90m (295 ft), was added in the 19th century by Viollet-le-Duc.

The Notre-Dame Cathedral has several large rose windows, the northern 13th century window is the most impressive. The massive window has a diameter of 13.1 meter.

 

Not the largest cathedral in the world, the Notre-Dame might be the most famous of all cathedrals. The gothic masterpiece is located on the Île de la Cité, a small island in the heart of the city.
The site of the Notre dame is the cradle of Paris and has always been the religious center of the city. The Celts had their sacred ground here, the Romans built a temple to worship Jupiter. A Christian basilica was built in the 6th century and the last religious structure before the Notre-Dame construction started was a Romanesque church.

 

Martir bilang agar membawa kepala penderitaan sejauh mungkin

 

 The stained glass windows of the Notre-Dame are very beautiful and a good part of them date from the 13th century when the cathedral was constructed. In this author's opinion, Notre-Dame's collection of stained glass is not as impressive as those at other French cathedrals, such as Chartres and Bourges, and in Paris the best place to enjoy an overall effect of stained glass is probably not Notre Dame but Sainte-Chapelle.
Nevertheless, Notre-Dame's stained glass windows remain an important and beautiful work of 13th-century Gothic art, with interesting details well worth exploring in more detail. The highlight - and the greatest survival of original glass - is the set of three beautiful rose windows, which shine like jewels over the west door and in the north and south transept.

 

Cathedral of Notre Dame, karya besar bangunan gothic ini dari Maurice de Sully yang dibangun tahun 1163 dan hampir selesai seluruhnya pada tahun 1345, di tempat ini Napoleon Bonaparte dinobatkan. Gereja ini merupakan salah satu katedral yang terkenal di dunia. Walaupun tergolong bergaya Gothic, namun sisa-sisa gaya Roman juga melebur di dalamnya.

Jaringan jalan kota Paris memperhitungkan titik nol kilometer ada di lapangan katedral ini. Dalam katedral ini memang semua ornamen patung dan lukisan terhitung bagus-bagus. Bangunan yang termasuk besar dan megah. Menara katedral ini memiliki 13 nada lonceng besar berdiri di atas the Ile de la Cite.

 

Artistic fountain at Place de la Concorde

 

Setelah itu kami berjalan kaki ke arah belakang katedral menyeberang jalan dan jembatan Pont Saint Louis, di sana ada es krim enak dengan resep kuno khas Perancis namanya 'bertillon' (hanya ada di siang hari). Saat itu hujan turun sangat deras, kami menunggu hujan cukup lama, dan terdampar di dekat situ ada Gereja Katolik lagi (lupa namanya). Wah bagus juga di dalamnya, interior gothic dan kaca stained-glass nya bagus. Karna masih mendung gelap dan hujan tidak berhenti, kami sedikit demi sedikit jalan diteruskan hingga tiba di Palais de la Cite. Masuk ke dalam area gedung pengadilan ini, kita akan menjumpai Sainte Chapelle yang bukan main uniknya (dibangun 1242-1248 untuk Raja Louis IX). Masuk ke dalam kapel kita harus bayar 7 euro per orang. Begitu masuk kapel, yaitu lantai satu dengan portal kembarnya, untuk penghormatan pada Bunda Perawan Maria. Lantainya dari marmer (di bawahnya merupakan kuburan) yang karna terlalu sering diinjak para turis berabad-abad, menjadikan reliefnya hilang. Naik ke atas melalui tangga sempit di sudut depan ruangan lantai satu tadi. Tiba di lantai dua, wow.........bukan main menakjubkan ruangan yang tidak besar namun lumayan tinggi dengan seni arsitektur gothic bangsa Perancis untuk upacara misa. Lebarnya 17 meter, dan tingginya 20 meter. Seluruh ruangan dipenuhi 15 jendela polychrome gothic stained-glass abad 13 dengan ukiran cerita dalam Alkitab, dan masing-masing kolom antar jendela diberi patung ukiran para santo. Bukan main indahnya suasana dalam ruangan itu dengan menikmati corak stained-glass berwarna merah maron semua.

 

Georges Pompidou Centre and Beaubourg Plaza

 

Jalan-jalan diteruskan pantang mundur, kami menuju Centre George Pompidou. Dalam gedung ini terlihat bola-bola hitam besar tergantung di hall depan sebagai lambang atom atau mengesankan ilmu pengetahuan, juga ada museum seni modern, dan kita bisa santai sambil menambah ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati orang bernyanyi dengan alat musik tertentu secara piawai (tidak ada yang asal-asalan). Di sana juga disediakan perpustakaan yang banyak diminati orang. Juga ada galeri lukisan, ada theatre, concert, dll. Kita bisa berjam-jam di sana tanpa ada yang mengusik.

Kemudian kami naik bus dan terdampar di Hotel de Ville (Gedung Balai Kota), tampak luar memang cantik apalagi bermandikan cahaya di malam hari menjadikannya lebih artistik. Karna hujan cukup deras, kami masuk ke dalam plasanya.

 

Louis XVI and Marie Antoinette at Saint Denis

 

Hari berikutnya, kami memutuskan pindah hotel ke tengah kota Paris agar segalanya tidak buang waktu perjalanan yang jauh. Akhirnya kami terdampar di Hotel Villa des Ternes (97, Avenue des Ternes), hampir dekat la Defense. Siang itu kami naik metro menuju Stasiun La Defense, begitu keluar stasiun, tampaklah bangunan-bangunan modern sangat megah dan indah, seperti La Grande Arche, gedung CNIT, dan pusat bisnis. Dan juga ada air mancur menari, cukup jalan-jalan di situ mengasyikkan melihat pemandangan megah dan serba modern.

 

Grande Arche de la Defense

 

Kami melanjutkan naik metro ke Place de la Concorde, sebuah istana yang dibangun 1757-1779, dan di depannya ada lapangan luas dibangun tahun 1795. Di tengah lapangan berdiri Obelisk bangsa Mesir setinggi 23 meter dari Kuil Luxor yang disumbangkan Mehmet Ali kepada Raja Louis Philippe pada tahun 1831. Menikmati pemandangan dari lapangan ini (ada air mancur artistik sekali) dengan banyak objek yang terlihat indah sekali dari situ yaitu: Menara Eiffel, des Invalides yang seolah bercahaya ukiran emas pada atap berbentuk kubahnya, Gereja Madeleine. Dari situ juga bisa kita lihat (merupakan ujung Avenue des Champs-Elysees) ke arah Arc de Triomphe ..........wah bagus sekali melihat pemandangan dari titik itu, maka tak heran sering photographer profesional seperti Den Vincent ini juga mengambil gambar dari posisi di situ. Dan di seberang salah satu sisi lapangan ini terlihat Hotel Crillon yang jaman tahun 1960 an pernah diinapi Presiden Soekarno. Konon dari hotel itulah Soekarno melihat tugu besar Obelisk dan muncul ide membuat Tugu Monas di Jakarta.

 

Monumen Lady Diana dekat terowongan jalan terjadinya kecelakaan dan mati romantis

 

Arc de Triomphe yang terkenal, dibangun oleh Chalgrin 1806-1836 pada pemerintahan Napoleon I. Kita dapat naik tugu ini dengan membeli tiket. Setelah tiba di lantai atas, di sana ada diorama sejarah dan perjuangan di kota Paris. Kemudian kita menuju lantai paling atas (terbuka), di sana kita bisa melihat kota Paris dari ketinggian yang cukup dan berada persis di tengah-tengah kota Paris. Avenue des Champs-Elysees terlihat jelas hingga samar-samar Place de la Concorde. Nun jauh di atas Bukit Montmartre terlihat bangunan gagah beratap kubah Sacre-Coeur (Sacred Heart Basilica). Udara dengan angin sangat dingin berhembus menusuk tulang membuat kami tidak tahan berlama-lama di sana.

Basilique du Sacré Coeur (Sacred Heart Basilica) berdiri di puncak bukit Montmartre, selesai dibangun pada tahun 1919, merupakan perpaduan gaya Romanesque dan Byzantine. Basilika ini dibangun sebagai penyembuh jiwa rakyat Perancis yang berduka akibat kalah perang melawan Rusia. Dari teras basilika ini kita dapat menikmati panorama kota Paris yang sungguh cantik, baik di siang hari maupun di sore dan malam hari.

Bangunan penting lainnya termasuk Palais de Chaillot, Palais Royal, Palais de l’Élysée (sekarang menjadi hunian resmi Presiden Perancis), Palais Bourbon (tempat pertemuan Dewan Perwakilan Rakyat), Palais de Justice, dan Pantheon.

Bangunan-bangunan monumental di Paris, dibangun dari sejarahnya yang panjang, pada umumnya mencerminkan status politis dan kultural kota tersebut. Di antara berbagai bangunan tua yang tergolong paling penting adalah Katedral Notre Dame di Île de la Cité (kawasan asal mula kota Paris), yang dibangun pada tahun 1163; Sainte-Chapelle, struktur bergaya Gothic abad 13 yang sangat mengagumkan; Louvre yang pernah menjadi istana raja; des Invalides yang dibangun sebagai rumah para prajurit oleh Louis XIV dan sekarang menjadi makam Napoleon; dan Place de la Concorde yang dibangun pada abad 18.

 

 

des Invalides - The tomb of Napoleon Bonaparte

 

Ceiling des Invalides

 

The tomb of Napoleon Bonaparte underground des Invalides

 

Kami naik metro menuju bangunan des Invalides, yaitu makam Kaisar Napoleon Bonaparte yang mati 5 Mei 1821, masuk gedung ini membayar 7 euro per orang). Bangunan ini tampil sebagai kompleks bersejarah yang membanggakan. Kubah bangunan ini adalah karya besar arsitektur yang dibangun oleh Jules Hardouin-Mansart. Makam Napoleon ada di lantai bawah di tengah lingkaran terbuka yang dapat terlihat secara megah perkasa dari kedua lantai. Di atasnya sebelah dalam ada altar yang mewah dan di belakangnya ada Kapel Napoleon.

 

Paris seen from Eiffel Tower, in the center is Place de Warove

 

 

 

GO YE INTO ALL THE WORLD, AND PREACH THE GOSPEL TO EVERY CREATURE

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved