ADVENTURES OF  VERINA & VINCENT  IN EUROPE

 

ROME

 

Saint Paul Outside the Walls Basilica

 

Awal Oktober 2004, setelah terbang mengelilingi setengah bola dunia selama 14 jam, pukul 07.40 kami mendarat di Fiumicino Airport Rome. Udara dingin 18 derajat Celcius menyejukkan mulai terasa. Pagi itu petualangan langsung dimulai, mengingat waktu sangat berharga (apalagi saat itu nilai mata uang euro lebih tinggi 25% daripada US$).

Jam 09:00 keluar dari Fiumicino Airport Rome. Di seberang ada stasiun kereta api dengan membeli tiket 5 euro per orang menuju Stasiun San Paolo. Barulah di stasiun ini kami membeli tiket lagi berupa tiket terusan (harganya 4 euro) yang berlaku seharian naik turun metro, bus, maupun tram (jauh lebih irit daripada setiap kali naik transportasi membeli tiket sektoral). Dari stasiun ini kami jalan beberapa ratus meter menuju Basilica of Saint Paul Outside the Walls atau Fuori Mura (Basilika Santo Paulus di Luar Tembok), merupakan basilika terbesar kedua setelah Basilika Saint Peter, di sini ada Porta Santa (artinya Pintu Suci, yang dibuka oleh Paus setiap 25 tahun sekali yang dinamakan Tahun Jubileum). Di depan gereja terdapat patung Santo Petrus di sebelah kiri yang membawa kunci, dan Santo Paulus di sebelah kanan yang membawa pedang. Keduanya dikenal sebagai dua sejoli yang mempunyai karakter sangat berbeda, namun menghasilkan sinergi yang merupakan suatu kekuatan. Di dalam gereja ini, posisi kedua tokoh ini menjadi terbalik dalam lukisan, Santo Petrus di sebelah kanan dan Santo Paulus di sebelah kiri. Letak lukisan di atas patung, yang menggambarkan pengadilan terakhir keadaan di Surga yang berbeda dengan di dunia. Atau dapat dikatakan, apa yang menjadi pikiran dan penilaian manusia akan berbeda dengan pikiran dan penilaian Tuhan. Pada bulan Juli 1823 hampir seluruhnya dimakan oleh api. Kebanyakan bangunan, termasuk gereja, di Eropa dalam sejarahnya pernah dirusak, baik oleh bencana alam, kebakaran, ataupun dirusak oleh perang (mereka menyebutnya serangan oleh bangsa Barbar) dan karena itu rata-rata sudah pernah direnovasi, tinggal gradasinya aja, ada yang total, tapi ada pula yang parsial. Bagian depan dihias dengan mosaic besar, dengan 80 kolom (tiang) besar, sehingga sepintas terkesan seperti gaya istana raja-raja. Gereja ini dihiasi dengan berbagai karya seni yang tak ternilai harganya, antara lain mosaic yang berasal dari abad ke 5 ataupun abad ke 13 yang menampilkan Yesus dan para Rasul, tempat lilin dari abad 12 dan berbagai karya dari keluarga Vassalleto. Mulai dari dinding hingga atap bangunan penuh dengan lukisan dari mosaic yang memberikan nuansa gerejani. Di depan altar ada kuburan Rasul Paulus (ditandai oleh lampu merah menyala).

 

Basilica Saint Paul Outside the Walls

 

Porta Santa Basilica Saint Paul Outside the Walls

 

Interior basilica Saint Paul outside the Walls

 

The Tomb of Saint Paul

 

Near altar

 

Ceiling with 266 papal mosaics that surround the top of the Basilica

 

virtual San Paolo Basilica:  www.vatican.va/various/basiliche/san_paolo/vr_tour/index-en.html
 

 

Di depan basilika ada kolam pembaptisan yang kini nampak sebagai taman, sementara bekas kolam tidak kentara lagi. Pembaptisan dilakukan dengan cara membenamkan orang ke dalam air. Untuk baptis selam ini mereka harus menuruni 7 anak tangga yang menyimbolkan pelepasan 7 dosa pokok. Sejalan dengan waktu dan aspek kepraktisan mulai menjadi pertimbangan, hingga akhirnya cara itu tak dipakai lagi di Gereja Katolik. Salah satu yang menarik dalam basilika ini terpampang jelas gambar potret secara urut semua Paus, dari Paus Pertama (Rasul Petrus) hingga terakhir Paus Yohanes Paulus II. Hal ini menunjukkan tradisi Roma, bahwa segala sesuatu (event) yang pernah terjadi di Roma selalu tercatat dengan rapi dari jaman ke jaman, sekaligus menunjukkan bahwa Ajaran Katolik merupakan Ajaran Rasuliah yaitu berdasarkan tradisi dan ajaran yang berasal dari Rasul Petrus (murid Yesus sendiri, sebagai Paus Pertama) yang kemudian diteruskan para Paus hingga Paus Yohanes Paulus II yang sekarang ini.

Untuk mencapai Basilika San Paolo di Luar Tembok ini ada banyak cara, yaitu naik metro A menuju Stasiun Termini, dan kemudian naik metro B berhenti di San Paolo. Atau menggunakan bus 23, 170, 223, 673, 702, 707, 766 (bus-bus tersebut dari berbagai rute akan melewati Basilika Saint Paul Outside the Walls).

Di kota Roma ini ada 4 basilika utama (dan memiliki Porta Santa), yaitu St. Peter, St. John Lateran, St. Paul Outside the Walls, dan St. Mary Major.

Setelah itu kami naik bus menuju Bocca della Verita (Mulut Kebenaran), yaitu suatu patung atau mungkin lebih tepatnya topeng besar berupa kepala dengan mulut yang besar. Menurut legenda, untuk menguji seorang saksi yang kebenaran kata-katanya diragukan, orang meminta dia memasukkan tangannya ke dalam mulut patung ini. Bila ia berbohong maka tangannya akan digigit. Bocca della Verità ini ada di gang depan sebuah gereja yang bernama Santa Maria di Cosmedin yang dibangun sekitar abad 6. Nama Cosmedin mungkin diambil dari gelar "kosmidion" (dihiasi dengan baik) mengacu pada "Bunda kita yang dihiasi" karena di sini ada gambar Maria yang dihias dengan baik, tetapi mungkin pula berasal dari kata "Kosmidion", biara Constantinopel. Sesungguhnya inilah satu-satunya gereja Byzantium dengan budaya Yunaninya yang bertahan di Roma.

Di seberang gedung ini ada bangunan kuno yang terpelihara cukup baik yaitu kuil untuk pemujaan dewa-dewa, Dewa Etruskan dan Yunani. Orang Etruskan adalah suku yang sangat maju dalam keberadabannya di Italia sejak tahun 2000 SM. Budaya mereka kemudian tergusur oleh budaya Yunani, yang akhirnya dikalahkan oleh budaya Romawi. Ini membuktikan bahwa umat Katolik sebagai mayoritas bangsa Romawi saat itu sangat toleran terhadap penganut kepercayaan lain.

Dari sini kami terus berjalan kaki menuju Circo Massimo, tempat orang jaman dahulu mengadu ketangkasan mengendarai kereta berkuda seperti halnya Ben Hur, berarti hal ini ada pada abad pertama karna adanya Ben Hur ketika peristiwa kelahiran Yesus.

 

Palatine Hill adalah bukit yang merupakan cikal bakal bangkitnya kota Roma, sesudah jatuhnya Kerajaan Romawi, sejarah arsiteknya diteruskan abad 11 dengan bangunan-bangunan gereja, benteng, dan asrama untuk biara.

Hari sudah siang pukul 14.00 perut terasa keroncongan, langsung kami makan siang Chinese food di Restoran La Primavera Srl (del Sudario 38, Roma). Masakannya enak, kami memilih sistem satu paket terdiri 5 macam masakan seharga 12 euro per-orang dimana nasi dan air springnya gratis sesukanya.

Perjalanan dilanjutkan naik bus menuju Basilika Santa Croce in Gerusalemme. Gereja ini dibangun sekitar tahun 330 oleh Paus Sylvester (pada abad ke 4) dan mengalami renovasi dengan perombakan model pada abad-abad selanjutnya. Menurut tradisi yang lain ia dibangun oleh Konstantinus sebagai ucapan syukur atas kemenangannya melawan Maxentius dan didedikasikan untuk menghormati "Salib" karena sebelum mengalahkan Maxentius Konstantinus melihat penampakan salib yang memprediksi kemenangannya. Oleh karena itu dalam basilika ini ditemukan banyak reliqui yang berkaitan dengan salib:  jari telunjuk Santo Thomas yang dipakai menunjuk lambung Yesus, paku-paku untuk menyalibkan Yesus, mahkota duri yang dikenakan Yesus, bagian Salib Yesus dan salib si penjahat yang bertobat di sisi Yesus. Kesemua benda reliqui tersebut dibawa St. Helena dari tanah Israel ke Roma dan kini disimpan dalam Basilika Santa Croce in Gerusalemme.
Kemudian kami melanjutkan dengan naik bus menuju Basilika John Lateran, yang merupakan ibu dan kepala semua Gereja Katolik di dunia. Di tempat inilah dulu Paus selama ratusan tahun tinggal dan memimpin seluruh Gereja Barat sebelum akhirnya pada tahun 1929 pindah ke Vatican, dimana ada Basilika St. Peter. Gereja ini dibangun pada awal abad 4 di atas tanah bekas milik keluarga Lateran, yang kepala keluarganya Plautius Lateran dibunuh oleh Nero tahun 66. Tanah dan istananya kemudian diambil oleh kaisar. Entah karena sumbangan dari keturunan Lateran atau sumbangan kaisar kepada Uskup Roma, tempat ini lalu menjadi Katedral Uskup Roma. Kemungkinan besar Kaisar Konstantinus menyumbangkannya kepada Paus Miltiades pada tahun 313. Paus Sylvester (pengganti Paus Miltiades), memulai pembangunan basilika ini atas anjuran Konstantinus (314-335).

Pernah mengalami kerusakan karena kebakaran dan gempa bumi, termasuk karena serangan bangsa bar-bar, maka basilika ini terus menerus mengalami perbaikan, diperbesar dan diperkaya dengan berbagai dekorasi yang sangat berharga dengan nilai seni yang tinggi. Renovasi selanjutnya dilakukan pada abad 17 dan 18. Ada 5 pintu masuk ke dalam basilika, di tengah-tengah adalah pintu dari perunggu gaya Romawi, sedangkan salah satu pintu di sebelah kanan adalah Porta Santa.

 

Basilika Saint John Lateran

The Papal Archbasilica of St. John Lateran (Italian: Arcibasilica Papale di San Giovanni in Laterano), is the cathedral church of the Diocese of Rome and the official ecclesiastical seat of the Bishop of Rome, who is the Pope.
 

It is the oldest and ranks first among the four Papal Basilicas or major basilicas of Rome (having the cathedra of the Bishop of Rome)

 

It claims the title of ecumenical mother church among Roman Catholics.

The current archpriest of St. John Lateran is Agostino Vallini, Cardinal Vicar General for the Diocese of Rome

 

Last Supper in basilica Saint John Lateran

 

 

virtuil Saint John Lateran:  www.vatican.va/various/basiliche/san_giovanni/vr_tour/Media/VR/St_Peter_Apse/index.html

 

 

Di tengah-tengah gereja ada satu pilar yang sangat besar, dan di sekeliling gereja, sebagaimana gaya gereja-gereja di Eropa pada umumnya, dipenuhi dengan lukisan-lukisan dan patung-patung, di antaranya patung 12 Rasul  Yesus dan para pendiri ordo yang diletakkan di celah-celah (lekuk) ruangan. Di antara benda-benda berharga di sana, salah satunya yang menonjol adalah Tabernakel yang terletak di atas altar dengan ukiran-ukiran dari Giovanni di Stefano pada abad 14 yang mengabadikan kepala dari Santo Petrus dan Paulus. Di depan altar ada semacam tangga melingkar turun 1½ meter di situ ada makam Paus Martin V (1417-1431) yang dipenuhi dengan koin-koin dari lemparan orang sebagai kenangan akan kedermawanan paus ini. Paus inilah yang memulihkan keteraturan kepausan di Roma setelah paus kembali dari pembuangan di Avignon (1313), membuat banyak restorasi bangunan-bangunan di Roma termasuk atap Pantheon dan orang pertama yang menunjuk Swiss Guard (tentara Swiss) yang menjaga Vatican.

Keluar dari Basilika John Lateran, kita menyeberang jalan samping kiri dan masuk sebuah bangunan Kapel St.Laurence yang kaya akan dekorasi hasil kerja karya seni tinggi, dibangun pada abad 16.  St. Helena saat itu memiliki tangga Pilatus yang dipindahkan ke Roma, pada tangga ini terdapat tetesan darah Yesus dari mahkota durinya. Untuk ikut mengenang saat-saat kesengsaraan berat yang dialami Yesus ketika dihadapkan pada pengadilan Pontius Pilatus, di sana kita diajak 'napak-tilas' menaiki tangga yang dinamakan Scala Santa, dengan berjalan pada kedua dengkul kita dari tangga bawah hingga ke atas (depan altar suci).

Untuk mencapai Basilika John Lateran ini ada beberapa cara, yaitu naik metro A berhenti di San Giovanni, atau menggunakan bus 4, 13, 15, 16, 30, 81, 85, 87, 673, 714, 715.

Dari Basilika John Lateran, berjalan kurang lebih 1 km atau naik tram ke Colosseum, bangunan kuno terkenal untuk mengadu gladiator (seperti dalam film dengan pahlawan Maximus). Nama amphitheatre ini berasal dari Colossus, yakni patung Nero yang sangat besar. Bangunan ini dirintis oleh Kaisar Vespasianus tahun 72 dan diselesaikan oleh Titus (putranya) pada tahun 80, dengan kapasitas 50.000 penonton yang berada di sekeliling bangunan untuk menyaksikan pertandingan para gladiator (para budak yang dilatih khusus) yang seringkali terkesan kejam. Binatang-binatang liar yang menjadi lawannya dibawa dari luar kota Roma. Colosseum juga menjadi tempat pembantaian para martir Kristen, sekaligus sebagai bukti dari berbagai kemampuan teknik bangunan dan penemuan yang mengagumkan dari bangsa Romawi. Karena itu tidak heran bila bangunan ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak artis jaman Renaissance.

 

Perjalanan dilanjutkan ke Piazza Venezia (merupakan pusat kota Roma dan titik pertemuan jalan-jalan penting di Roma). Karena pemandangannya yang khas dan posisinya yang strategis sebagai pusat kota, maka tempat ini menjadi salah satu objek yang disukai para turis. Tampak menonjol adalah Monumen Victorius Emanuel II, bangunan yang dianggap sebagai the Altar of the Nation (Altar Bangsa) dan merupakan makam dari para prajurit yang tak dikenal, yang gugur dalam memperjuangkan negara dalam Perang Dunia I. Bangunan yang terbuat dari marmer berwarna putih ini merupakan "wedding cake" yang dipersembahkan kepada Raja Italia yang pertama, Vittorio Emanuelle II. Patung dan ukiran-ukiran yang menampilkan gaya kepahlawanan dan nilai-nilai militer menjadi ciri khas dari bangunan besar ini. Bangunan lain yang terletak di lokasi ini adalah Palazzo Venezia (termasuk bangunan pertama gaya Renaissance di kota Roma) yang sekarang digunakan sebagai museum yang mengoleksi karya seni dan barang-barang porselen serta perak dari berbagai jaman. Juga Basilika San Marco (Venice) yang dibangun pada abad 4, dengan altar dan lukisan dari Santo Markus.

 

Setelah itu dengan berjalan kaki kami menuju Imperial Forums (sebelah kanan dari Monumen Victor Emanuel), ada Gereja Santa Maria di Loreto dan Gereja Holy Name of Mary (abad 18). Di depannya ada Forum of Trajan yang didesign oleh Apollodorus dari Damascus yang dibangun tahun 107-113 (ini merupakan akhir akhir dari Imperial Forums yang dibangun).

Di situ ada lapangan dengan Basilika Ulpia beserta perpustakaannya, dan di belakangnya ada Temple of Trajan. Di salah satu sisi Basilika Ulpia dapat kita lihat Trajan's Column (tingginya 40 meter), sebagai pengabdian pada Ulpius Traianus. Di puncak atas kolom, sejak 1587 ditaruh patung Santo Petrus dari perunggu.

Foro Romano (Roman Forum) ini dapat dimasuki melalui Fori Imperiali. Di situ ada Temple of Vespasian (dibangun Domitian tahun 81) dan Temple of Concord (dibangun 367 sebelum Kristus). Di dekatnya ada Gereja San Giuseppe dei Falegnami (1598), yang di bawahnya ada Mamertine (Penjara Mamertinum). Menurut legenda, titisan Saint Peter membuat air mancur di tanah (tidak pernah kering) untuk membaptis orang yang ingin menjadi pengikut Yesus. Di situ ada Tugu Septimius Severus, dan di akhir via Sacra ada Arch of Titus (Tugu Titus).

Dengan naik bus, perjalanan dilanjutkan ke Fontana Trevi, tempat orang melempar koin dengan cara membelakangi Fontana, dengan harapan kelak bisa kembali ke Roma, memang bagaimanapun juga harus diakui bahwa objek wisata di Roma rata-rata bagus dan mengagumkan, terutama peninggalan sekian abad lamanya. Dekat daerah itu banyak wisatawan berkumpul, sehingga otomatis banyak juga toko-toko yang buka di sana, termasuk ada restoran Cina yang cukup enak dan tidak mahal, yakni Restoran Grand Dragon. Persis di sebelah Trevi Fountain (persis ujung jalan) ada es cream enak 3,5 euro (2 cope). Namun kalau mau lebih enak dan murah ada di seberang Trevi Fountain (2 euro).

Kalau jalan dilanjutkan, kita akan sampai pada Pantheon. Bangunan ini dibangun pada tahun 27 sebelum masehi untuk menghormati dewa-dewa. Tempat ini dibangun oleh Marcus Agrippa, menantu Kaisar Augustus, dan hingga saat ini interiornya masih tetap dipertahankan keasliannya. Pada tahun 609 tempat ini dijadikan gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Maria dan semua Santo yang menjadi martir. Maka di situ kita dapat melihat lukisan Bunda Maria pada dinding dengan ukuran besar. Kekhasan dari bangunan ini adalah kubahnya yang berlubang besar persis di tengah-tengah dengan diameter 9 meter. Kata orang kalau hujan deras sekalipun, bangunan ini tetap tidak kemasukan air, karena perhitungan yang cermat dalam membangunnya. Itulah kehebatan para pemikir dan arsitek Romawi.

 

The Pantheon

The Pantheon is a building in Rome, Italy, commissioned by Marcus Agrippa as a temple to all the gods of Ancient Rome, and rebuilt by Emperor Hadrian in about 126 AD.
The building is circular with a portico of large granite Corinthian columns (eight in the first rank and two groups of four behind) under a pediment. A rectangular vestibule links the porch to the rotunda, which is under a coffered concrete dome, with a central opening (oculus) to the sky. Almost two thousand years after it was built, the Pantheon's dome is still the world's largest unreinforced concrete dome. The height to the oculus and the diameter of the interior circle are the same, 43.3m.
 

Santa Maria ad Martyres - Pantheon

The Pantheon from the Greek world Pantheon means Temple of the Gods is a building in Rome which was originally built as a temple to the seven deities of the seven planets in the state religion of Ancient Rome, but which has been a Christian church since the 7th century. It is the best-preserved of all Roman buildings. It has been in continuous use throughout its history. Although the identity of the Pantheon's primary architect remains uncertain, it is largely assigned to Apollodorus of Damascus.

 

It is one of the best-preserved of all Roman buildings. It has been in continuous use throughout its history, and since the 7th century, the Pantheon has been used as a Roman Catholic church dedicated to "St. Mary and the Martyrs" but informally known as "Santa Maria della Rotonda." The square in front of the Pantheon is called Piazza della Rotonda.

 

Setelah makan kenyang di Grand Dragon, kami menuju Hotel Selene yang letaknya di Pomezia (daerah industri) dan sangat jauh dari kota lama Rome.

Keesokan pagi, kami pergi ke Catacombs of Saint Callixtus (atau San Callisto ini yang paling terkenal dari sekian catacombe), kita akan menyaksikan kuburan para martir di bawah tanah yang mengagumkan (dibuat 4 dan kadang 5 tingkat di bawah tanah, dengan luas area 90 acres) beserta ruangan-ruangan dengan meja kecil sebagai altarnya untuk tempat ibadah selama para pengikut Yesus saling menyebarkan Ajaran Kristus secara sembunyi-sembunyi. Tempat ini memang menakjubkan, apalagi bila kita bayangkan bahwa ini terjadi pada jaman abad ke 1. Ruangan-ruangan ini berada kira-kira 20-30 meter (yang diperbolehkan untuk turis hanya 3 tingkat) di bawah permukaan tanah dengan lorong-lorong yang berkilo meter panjangnya (total panjangnya lorong-lorong ini 17 kilometer, memang luar biasa) untuk tempat pelarian bila mereka dikejar-kejar oleh Tentara Romawi pada waktu itu (abad pertama, kira-kira tahun 50 setelah Yesus wafat dan naik ke Surga) hingga tahun 340 an sampai Ajaran Yesus menjadi agama resmi negara yaitu ketika Raja Constantine (Raja Romawi) dibaptis menjadi pengikut Yesus. Yang mengagumkan pula di semua ruangan bawah tanah ini temperaturnya tetap dingin dan stabil sepanjang tahun, baik dalam musim panas maupun pada musim dingin. Di beberapa ruangan pada langit-langit atau dinding yang banyak ditemukan gambar-gambar tangan tentang Last Supper, lambang-lambang Kristus, dsb. Ruangan-ruangan tersebut diselang-seling dengan ratusan ribu kuburan (totalnya pernah mencapai 160.000 jenasah) yang ditanam pada dinding kiri-kanan lorong secara tumpuk. Di sini dimakamkan jenasah 9 orang martir pengikut Ajaran Kristus awal dan 16 Paus (Pontianus, Antherus, Fabian, Lucius, Eutichian, and Pope Sixtus II) sekitar tahun 280 serta makam Santa Cecilia (santa permusikan). Jenasah Rasul Petrus dan Santo Paulus sempat disembunyikan di sini untuk pengamanannya waktu itu hingga akhirnya dipindahkan ke Basilika Saint Peter dan Basilika San Paolo. Di Catacombe ini disediakan secara gratis guide yang menguasai beberapa bahasa. Selain untuk menjelaskan sejarah catacombe, mereka juga membimbing arah perjalanan selama berada di bawah tanah tadi. Lorong-lorong yang begitu banyak dan berkelok-kelok sungguh membingungkan (seperti jalan tikus) yang memang dibuat sedemikian rupa supaya para tentara Romawi akan kesulitan untuk menangkap mereka.

Catacombe adalah bukti sejarah bahwa gereja pada mulanya adalah gereja para martir dan orang-orang Kristen yang telah membuktikan cinta dan kesetiaan kepada Kristus dalam hidup kesehariannya. "Hari ini Gereja kembali telah menjadi Gereja Para Martir" (Paus Johannes Paulus II). Kenangan akan asal mula dan kunjungan ke Catacombe membantu kita untuk memahami dengan lebih baik lagi arti dan nilai kesaksian para martir, yang ditawarkan oleh gereja kepada dunia di akhir milenium ketiga.

 

San Sebastian Catacombs

 

San Sebastian

 

Dari Catacombe San Callixtus, persis di pintu keluar ada ‘pertigaan/persimpangan’ jalan, yang dikenal sebagai jalan Appia Antica, yakni jalan yang dilalui Rasul Petrus ketika melarikan diri dari Penjara Mamertine di Roma, karena tidak tahan siksaan dan perlakuan orang Romawi, Petrus kemudian memutuskan untuk meninggalkan Roma yang diartikan sebagai meninggalkan penderitaan. Ketika Petrus tiba di suatu persimpangan jalan tadi (yang bercabang dua, persis di depan pintu masuk gerbang Catacombe), ia bertemu dengan seorang asing, yang kemudian disapanya dengan kata: "Domine, quo vadis?", yang kurang lebih artinya "Tuan, mau ke mana?". Orang asing itu kemudian menjawab: "Venio iterum crucifigi", artinya "Aku akan kembali ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya". Petrus terhenyak mendengar jawaban itu; ia merasa tersindir dan disadarkan kembali untuk balik ke Roma, karena tugasnya belum selesai. Kemudian orang tersebut lenyap dengan meninggalkan jejak kaki pada batu tempat berpijaknya. Diyakini bahwa orang asing tersebut adalah Yesus sendiri. Maka di dekat tempat itu dibangun kapel kecil yang dinamakan the Church of Domine Quo Vadis.

 

Via Appia Antica

The street where Saint Peter try to escape from prison

 

Church of Domine Quo Vadis

 

The foot of Jesus in the Church of Domine Quo Vadis

 

Petrus sendiri di akhir hidupnya dipenjara dan dihukum mati dengan cara disalib terbalik. Petrus bersama-sama dengan Paulus banyak berkarya di Roma, yang kemudian secara Ajaran Rasuliah terus berkembang menjadi Katolik turun temurun hingga sekarang ini ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, China, Rusia, Amerika Latin, dll.

Setelah kenyang makan siang di restoran Jing Yuan (belakang Vatican City), perjalanan dilanjutkan ke Musei Vaticani (Museum Vatican) dan Sistine Chapel yang terkenal lukisan masterpiece Michelangelo yaitu Penghakiman Terakhir. Untuk memasuki Museum Vatican, kita harus beli tiket 12 euro per orang. Masuk melalui Viale del Vaticano, melalui tangga spiral kita tiba di galeri lukisan-lukisan (Pinacoteca). Pinacoteca Vaticana ini terdiri dari 15 ruangan yang menyajikan berbagai goresan dari primitive hingga yang abad 18. Ruangan pertama adalah lukisan-lukisan primitif "Penghakiman Terakhir" (abad 11) oleh Giovanni dan Niccolo. Ruangan ke sembilan adalah lukisan dari Leonardo da Vinci berjudul "St. Jerome" dan ada lukisan yang belum selesai. Selesai ruangan ke limabelas yaitu ruangan berisi potrait-potrait, kita memasuki museum antik yang kaya akan koleksi seni klasik dunia, dimana banyak koleksi dari para Paus terdahulu (Clement XIV, Pius VI, Pius VII, dan Gregory XVI). Semua yang kita saksikan yaitu lukisan-lukisan dan ukiran patung dari batu marmer yang memang sungguh luar biasa, mungkin terindah dan terbaik di dunia yang tiada bandingannya.

 

Lukisan ceiling dan The Last Judgement pada altar Sistine Chapel, mahakarya Michelangelo

 

virtual Sistine Chapel:  www.vatican.va/various/cappelle/sistina_vr/index.html
 

Akhirnya kita memasuki Sistine Chapel (Kapel Sistina), didesign oleh arsitek Giovannino de'Dolci untuk Paus Sixtus IV sebagai komplex yang sangat penting dari sisi artistik, kepercayaan, dan sejarah. Kapel ini masih dipakai sebagai tempat pertemuan para kardinal untuk pemilihan paus baru, yang kemudian menyiarkan hasilnya kepada dunia melalui asap yang dikeluarkan (asap hitam berarti belum ada keputusan pemilihan, dan asap putih berarti sudah ada paus yang terpilih). Lukisan dinding di Sistine Chapel 1481-1483 dan lukisan pada langit-langit (ceiling) berlangsung 25 tahun berikutnya, melibatkan pelukis terkemuka Michelangelo, Pinturicchio, dan Signorelli; Botticelli, Ghirlandaio, dan Cosimo Rosselli.

Yang paling hebat tiada bandingnya adalah lukisan ceiling tahun 1508-1512 oleh Michelangelo, melukiskan cerita dari Alkitab (yang kalau dirinci ada 300 lukisan). Dengan perpaduan pahatan marmer dari Ignudi mempersembahkan gambar besar 'Seven Prophets and Five Sibyls' (7 Nabi dan 5 Sibyls).

Lukisan yang di tengah-tengah ceiling menggambarkan skenario Kitab Kejadian, dimulai dari atas adalah Nabi Yunus (Jonah):

- Penciptaan adanya terang.

- Penciptaan bintang dan tumbuh-tumbuhan.

- Allah memisahkan tanah dari air.

- Penciptaan Adam.

- Penciptaan Hawa.

- Jatuhnya dosa dan pengusiran dari Taman Eden.

- Pengurbanan Nabi Nuh.

- Banjir.

- Mabuknya Nabi Nuh.

Kemudian pada dinding altar oleh Michelangelo dilukis The Last Judgement (Penghakiman Terakhir), ini salah satu karya hebatnya sang maestro segala abad Michelangelo. Setelah puas memandangi dan menikmati lukisan masterpiece tersebut, kita memasuki Raphael Rooms. Di situ Paus Julius II menunjuk anak muda berumur 25 tahun bernama Raphael Sanzio di musim gugur tahun 1508 melukis dinding "Kebakaran di Borgo", "Sala della Segnatura" (ada lukisan "The School of Athens"), "Room of Heliodorus", "Room of Constantine" (lukisan ini setelah Raphael mati, diteruskan muridnya) dan di ruangan ini ada Chapel of Nicholas V. Setelah hati dan pikiran ini takjub yang tak habis-habisnya selama menyaksikan kehebatan para seniman jaman dahulu (berabad-abad yang lalu) di Museum Vatican dan lebih-lebih di Sistine Chapel dengan mahakarya Michelangelo, kami menuju Basilika Saint Peter yang letaknya bersebelahan dengan Sistine Chapel.

Roma merupakan pusat dan asal mula Ajaran Yesus ke seluruh dunia. "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku", kata Yesus kepada murid-Nya bernama Simon alias Peter (yang artinya 'batu karang'). Dan ternyata penyebaran 'Kabar Baik' Ajaran Yesus ke seluruh dunia yang terbesar memang dari karya Peter dimulai dari Roma.

 

Saint Peter seen from Museo Nazionale Castel Sant'Angelo

 

Saint Peter's Basilica towers above the surrounding buildings in this view from the Ponte San Angelo, the bridge that spans the Tiber River

Kota Vatican adalah negara kecil yang terpisah dari Roma, dengan kepala negaranya adalah Paus. Konon dahulu Roma juga mencakup Vatican, tapi karena dari sejarah gereja, bilamana dua kekuasaan dipegang oleh tangan yang sama (sebagai kepala negara dan kepala agama), maka akan terjadi kekacauan dan penyimpangan-penyimpangan, maka keduanya kini dipisah. Di sinilah tempat para martir, termasuk Santo Petrus, menghadapi ajalnya. Basilika Saint Peter dibangun pada tahun 324 oleh Kaisar Constantinus untuk menghormati ke 12 Rasul Yesus. Berbagai perubahan juga terjadi di sini. Di depan basilika ada lapangan besar berbentuk setengah lingkaran. Di tengah-tengah lapangan ada obelisk, yang merupakan bukti kejayaan Kaisar Nero. Kabarnya obelisk ini dibawa dari tempat asalnya Mesir sebagai simbol, bahwa dimana ada penderitaan dan kekejaman terbesar, di situlah terjadi kebesaran Tuhan dan kebangkitan bagi yang tertindas (yakni martir-martir yang dibunuh). Di dekat obelisk ini ada tanda seperti bintang; bila kita berdiri di titik itu, maka semua pilar bersusun tiga lapis yang mengelilingi lapangan akan tampak seolah-olah hanya satu lapis pilar. Ini membuktikan salah satu kehebatan para arsitek jaman Romawi. Di sisi obelisk terdapat 2 air mancur karya arsitek terkenal Bernini. Di lapangan inilah biasanya dilakukan berbagai upacara keagamaan, termasuk untuk acara audiensi Paus. Setiap hari Rabu diadakan Doa Angelus yang biasanya dipimpin langsung oleh Paus Yohanes Paulus II tepat jam 12:00. Doa berlangsung selama 30 menit.

 

Basilica Saint Peter

 

Basilika Saint Peter dari luar menampakkan 9 buah balkon, satu diantaranya tempat Paus biasa melambaikan tangan dan memberkati umatnya (Urbi et Orbi) pada hari Natal dan Paskah. Ada 5 pintu masuk, dengan atrium yang dihiasi oleh patung-patung besar. Di pintu tengah ada figur Santo Petrus dan Paulus, sebagai salah satu karya seni dari para pemahat. Pintu di sebelah paling kanan adalah Porta Santa. Pintu inilah yang dibuka oleh Paus setiap kali mengawali tahun Jubileum dengan menggunakan palu untuk upacara. Saat memasuki basilika, yang ada hanyalah rasa kagum, terharu, dan heran yang tidak habis-habisnya. Decak kagum tak lepas-lepas keluar dari bibir, rasanya perpaduan antara karya seni yang hebat, keanggunan, kemegahan, sekaligus ekspresi iman yang begitu kuat untuk memuji dan memuliakan Allah. Mengagumi tempat suci yang bukan sekedar untuk disakralkan dan jauh dari umat, namun justru begitu memasyarakat dan boleh didekati oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang non-Kristen. Terlihat juga pengunjung yang berasal dari Arab dengan memakai jilbab menyaksikan kebesaran Basilika Saint Peter yang mengagumkan ini. Begitu terbukanya gereja bagi manusia, yang secara konsekuen membuktikan filosofi yang dianut, bahwa Tuhan terbuka bagi siapapun. Seluruh gedung dan dekorasi bergaya Renaissance dan Baroque serasa turut memuji kebesaranNya, dikemas dalam selera seni yang tinggi, mencerminkan kesucian Gereja Katolik. Mulai dengan tempat air suci yang dibuat pada abad 18 dan patung perunggu Santo Petrus (abad 13), patung berikutnya adalah karya terkenal dari Michelangelo pada tahun 1499-1500, yakni "Pieta". Patung ini dibuat ketika Michelangelo berusia 24 tahun, satu-satunya karya yang memuat tanda tangannya. Ide yang dimunculkan adalah perpaduan antara kecantikan dan dampak emosional yang kuat serta kelembutan dari Bunda Maria yang sedang menggendong jenasah Yesus, anaknya.

 

Michelangelo's La Pieta which is made when he was 25 years old
In November 1497 the French cardinal Jean de Bilhères Lagranlos, ambassador of Carl VIII near Pope Alexander YOU, the incaricò to carve the group with the Mercy, hour in the Basilica of Saint Peter, with a contract stipulated in August 1498; the group realized in pyramidal position with the Vergine like vertical axis and the dead body of the Christ like horizontal axis, re-united through the drapery that hires monumental character, was inspired to the lignei groups realizes to you to north of the Alps, Vesperbilder sayings, that is images of the Vergine, and connects you to the liturgy of the Saint Friday. In this the scultorea technique of the finish of the particular came lead to the extreme consequences, much to give to the marble effects of traslucido and cerea morbidezza.
After an incident in 1972 when an individual damaged it with an axe, the sculpture was placed behind protective glass

 

Basilica Saint Peter:  www.vatican.va/various/basiliche/san_pietro/vr_tour/Media/VR/St_Peter_Apse/index.html

 

Di pinggir gereja ada kapel-kapel yang diberi nama para Santo, masing-masing mempunyai ciri khas sendiri dalam dekorasinya (Kapel Santo Sebastian, Kapel Sakramen Kudus, Kapel Gregorian, Kapel Santo Michael, Kapel Santo Clementine, kapel untuk paduan suara, kapel untuk presentasi, dll.). Pada Altar Utama (Papal Altar) tampak ada satu kursi singgasana, dengan keempat kakinya disangga oleh 4 Santo, yakni kedua kaki kursi depan disangga oleh St. Ambrose dan St. Augustine dari Gereja Roman serta St. Athanasius dan St. John Chrysostom dari Gereja Greek. Kesemua santo tersebut secara konsisten selalu mengajarkan sesuai doktrin teologi dari St. Peter. Ini memberikan arti bahwa gereja terbuka untuk dunia mana saja, baik Barat maupun Timur. Persis di bawah Papal Altar inilah kuburan Rasul Petrus yang berada di basement basilika. Latar belakang altar utama adalah ruangan dinamakan Chapel Cathedra, dimana di situ ada jendela kaca berbentuk bulat agak oval vertikal bergambar burung merpati sebagai lambang Roh Kudus.

Makam Rasul Petrus (murid Yesus yang sekaligus Paus Pertama), yang ditandai dengan adanya lampu merah menyala. Berjejer setelah makam Petrus terdapat 147 kuburan para Paus yang seluruhnya terbuat dari marmer. Termasuk di antaranya adalah kuburan Paus Yohanes Paulus I, Paus Yohanes XXIII, Paus Paulus VI, dll. Semua makam tadi berada di basement persis di bawah lantai Basilika Saint Peter yang sangat besar itu, memang sungguh luar biasa.

Di bagian kiri gereja tampak dua orang penjaga yang kabarnya merupakan prajurit Swiss (keamanan di Vatican menjadi tanggung jawab pemerintah Swiss). Mereka mengenakan pakaian kreasi Michelangelo dengan warna mencolok dan masih dipertahankan keasliannya sampai sekarang.

Berjalan kurang lebih 300 meter ke luar dari Vatican, ada toko souvenir 'Soprani', yang terkenal murah meriah dengan kualitas yang sepadan. Untuk mencapai Basilika Saint Peter ini ada beberapa cara, yaitu naik metro A berhenti di Ottaviano, atau menggunakan bus 62, 98, 46, 482, 881.

Sorenya kami menuju Basilika Santa Maria Maggiore (St. Mary Major Basilica) dengan menggunakan metro A atau metro B berhenti di Stasiun Termini, atau bisa juga menggunakan bus 4, 9, 14, 16, 27, 70, 71, 613, 714, 715.

Dari depan luar basilika, tampak bangunan bergaya baroque. Persis di tengah lapangan depan basilika, berdiri kolom marmer dari basilika awal Massentius. Obelisk kuno ini dibawa dan ditaruh ke situ oleh Paus Sixtus V. Masuk ke dalam basilika ini, kita akan kagum kemegahan bangunan dengan interior menampilkan baldacchino serba ukiran wah dan cantik semua. Ruangan utama dalam basilika ini adalah Sistine Chapel yang dipenuhi karya seni tinggi pada dinding dan ceiling. Ruangan bagus lainnya adalah Kapel Pauline dan Kapel Koor Musim Dingin. Ukiran kayu pada ceiling karya Antonio da Sangallo. Pada altar Kapel Pauline terpampang ikon Sang Perawan.

 

Basilica Santa Maria Maggiore

The Basilica was built in the 5th Century by Pope Sixtus III, it occupies the top of the Cispian Hill. The bell tower was completed in the middle of the 15th Century

 

The basilica was restored and extended by various popes during the Middle Ages, including Eugene III (1145-1153), Nicholas IV (1288-92), and Clement X (1670-76)

 

Altar Santa Maria Maggiore

Inside one of the major works is the splendid cycle of mosaics on the Life of the Virgin, dating from the V century, which still shows the stylistic features of late Roman art

 

Medieval period is also the style marble floor Cosmati, as can be seen in the tomb of Cardinal Rodriguez (1299), the right of the altar

 

Dome of Borghese chapel in Santa Maria Maggiore

More hieratic, and closer to Byzantine art are the mosaics of the triumphal arch, with scenes from the Infancy of Christ according to the apocryphal Gospels
 

 

The Borghese chapel
In the fourteenth century, during the pontificate of Nicholas IV was made ​​the mosaic apse, with the Coronation of Mary, the work of Jacopo Torriti, a monk Franciscan.

In the same period are the mosaics of the facade, designed by Filippo Rusuti.

 

Another chapel in Santa Maria Maggiore

 

virtuil Basilika Santa Maria Maggiore:  www.vatican.va/various/basiliche/sm_maggiore/vr_tour/index-en.html
 

Sorenya kami menuju Basilika Santa Maria Maggiore (St. Mary Major Basilica) dengan menggunakan metro A atau metro B berhenti di Stasiun Termini, atau bisa juga menggunakan bus 4, 9, 14, 16, 27, 70, 71, 613, 714, 715.

Dari depan luar basilika, tampak bangunan bergaya baroque. Persis di tengah lapangan depan basilika, berdiri kolom marmer dari basilika awal Massentius. Obelisk kuno ini dibawa dan ditaruh ke situ oleh Paus Sixtus V. Masuk ke dalam basilika ini, kita akan kagum kemegahan bangunan dengan interior menampilkan baldacchino serba ukiran wah dan cantik semua. Ruangan utama dalam basilika ini adalah Sistine Chapel yang dipenuhi karya seni tinggi pada dinding dan ceiling. Ruangan bagus lainnya adalah Kapel Pauline dan Kapel Koor Musim Dingin. Ukiran kayu pada ceiling karya Antonio da Sangallo. Pada altar Kapel Pauline terpampang ikon Sang Perawan.

 

Piazza del Popolo

The terrace overlooking the Piazza was added during its great renovation by Valadier in the first quarter of the 19th Century

An Egyptian obelisk of Sety I (later erected by Rameses II) from Heliopolis stands in the centre of the Piazza. Three sides of the obelisk were carved during the reign of Sety I and the fourth side, under Rameses II. The obelisk, known as the obelisco Flaminio or the Popolo Obelisk, is the second oldest and one of the tallest obelisks in Rome (some 24 m high, or 36 m including its plinth). The obelisk was brought to Rome in 10 BC by order of Augustus and originally set up in the Circus Maximus. It was re-erected here in the piazza by the architect-engineer Domenico Fontana in 1589 as part of the urban plan of Sixtus V. The piazza also formerly contained a central fountain, which was moved to the Piazza Nicosia in 1818, when fountains, in the form of Egyptian-style lions, were added around the base of the obelisk.

 

Via Conditi from Spanish Steps

 

Fontana della Barcaccia di Spanish Steps

 

Piazza Navona

 

Fountain of Neptune at Piazza Navona

 

Piazza di Spagna

 

Piazza della Rotonda

 

Piazza del Popolo

 

Trevi Fountain, is the largest Baroque fountain in the city and the most beautiful in the world. A traditional legend holds that if visitors throw a coin into the fountain, they are ensured a return to Rome.

The Trevi Fountain (Italian: Fontana di Trevi) is the largest — standing 25.9 meters (85 feet) high and 19.8 meters (65 feet) wide — and most ambitious of the Baroque fountains of Rome. It is located in the rione of Trevi.

 

The Trevi Fountain (in Italian, Fontana di Trevi) is the largest and most ambitious of the Baroque fountains of Rome. It marks the termination point of the Aqua Virgo, or virgin water. Legend holds that Roman engineers, with the help of a virgin, located a pure water source only 14 miles from the city. Construction of the fountain occured in fits and starts over nearly a hundred years. It was finally finished in 1762. This is the fountain about which "Three Coins in the Fountain", the Academy Award winning title song was written for the 1954 movie starring Clifton Webb and Dorothy McGuire. Tradition says that if you throw one coin into the fountain with your right hand over your right shoulder, you will return to Rome. Throw two coins and you will fall in love with a beautiful Roman girl (or boy). Throw three coins and you will marry your love in Rome.
 

virtual Redemptoris Mater Chapel:  www.vatican.va/redemptoris_mater/index_en.htm

 

 

GO YE INTO ALL THE WORLD, AND PREACH THE GOSPEL TO EVERY CREATURE

 

 

           

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.   Copyright@2000    All Rights Reserved